JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 31 KANG AGUS


__ADS_3

Pov agus


Namaku Agus salira. Aku adalah salah satu santri di pondok pesantren Nurul Hasanah. rumah orang tuaku yang jauh, mengharuskanku hanya bisa pulang setahun sekali. atau kalau ada acara-acara penting saja di rumah.


Aku mondok di pesantren ini. lumayan udah lama banget, hampir lewat dari satu dasawarsa. Akang udah beberapa kali menyarankan untuk pindah dari sini, menurutnya agar pengetahuanku, dan pemahamanku bisa luas, pengalamanku bisa bertambah. namun aku belum mengiyakannya, karena ada rasa kekhawatiran, ketika harus keluar dari zona nyaman.


Di pondok ini. meski jauh dari orang tua, aku tidak merasa kesusahan, banyak warga tetangga pondok pesantren, yang peduli bahkan menganggapku menjadi anaknya. sehingga untuk masalah makan, aku tidak terlalu khawatir. jadi ketika aku pindah dari pondok pesantren Nurul Hasanah, aku takut memulai sesuatu, dari awal lagi. Namun meski begitu, tidak menutup kemungkinan. suatu saat aku akan pergi meninggalkan tempat, yang sudah membesarkanku. untuk mencari wawasan dan pengalaman di pondok lainnya. tapi untuk sekarang Biarkan saja, aku menikmati hasil perjuanganku selama 8 tahun lebih.


Ketika mendengar Kang Arif bercerita tentang pocong jadi-jadian. aku hanya tersenyum mendengar cerita itu, karena sebenarnya pocong jadi-jadian, hanya ada dalam dongeng Semata, belum pernah aku mendengar pocong jadi-jadian itu adalah ilmu pesugihan. yang aku ketahui, dulu. Kejadian ini pernah menimpa kampungku, setelah diselidiki ternyata itu hanya orang iseng, yang malas bekerja. Sehingga mereka mencari keuntungan dari ketakutan orang lain.


Apalagi setelah melihat kejadian semalam, kejadian rumah salah seorang warga yang didatangi pocong, ternyata ada satu akses yang bisa masuk ke rumahnya. ini mengingatkanku pada waktu itu. waktu di mana kampungku di teror pocong jadi-jadian. yang berbeda hanyalah cara dan gayanya saja, yang sekarang lebih modern. karena mungkin kejahatan ini terus dipelajari, sehingga cara kerjanya lebih elegan, lebih mirip dengan pocong aslinya.


Setelah berpisah, sama Kang Andi dan Kang dalari. Aku terus berjalan, menyusuri jalan besar, menuju rumah Kang Arif.


Panggilan "kang" biasanya di Sunda itu adalah untuk memanggil orang yang lebih tua dari kita. namun ketika di pondok, kita semuanya saling memanggil Akang, karena ini adalah bentuk dari kata saling hormat menghormati. yang muda harus hormat sama yang tua, dan yang tua harus sayang sama yang muda. sehingga panggilan Akang untuk umur yang ada di bawah kita, itu adalah pembelajaran bagi mereka, agar mereka mengerti Bagaimana cara menghormati.


Sesampainya di pekarangan rumah, terlihat Bapak Kang Arif yang sedang membetulkan pintu, yang di dobrak anaknya tadi malam.


"Assalamualaikum, Pak!" sapaku sambil mencium punggung tangannya.


"Waalaikumsalam, Eh, jang Agus, teman-temannya pada ke mana?" tanya Bapak Kang Arif merasa heran, ketika melihatku hanya datang sendirian.


"Sudah pulang duluan, pak. mereka punya acara masing-masing, yang tidak bisa ditingalkan." jawabku menjelaskan.


"Ya sudah, sana masuk! Bapak mau betulin dulu engsel pintu yang rusak." tawar Bapak Kang Arif.


Aku tidak menjawabnya, namun sebisa mungkin aku membantu bapak Kang Arif, membetulkan pintu. diselingi dengan obrolan obrolan yang terjadi tadi malam. karena Bapak Kang Arif, tidak bisa pergi ke mana-mana, mengingat anaknya yang lagi sakit.


Setelah selesai pintu itu dibetulkan, dengan kerja sama. akhirnya pintu itu bisa tertutup dengan sempurna, seperti awal sebelum didobrak oleh Kang Arif.


Tak lama Kang arif pun keluar, membawa 3 gelas kopi, bersama goreng ubi, di atas nampan. Lalu disimpannya di ruang tamu.

__ADS_1


"Ayo ngeganjel perut dulu, nasinya mungkin belum matang" tawar Bapak Kang Arif sambil merapikan pekakas kerjanya. kemudian mendekati tempat di mana kopi itu tersaji.


"Udah baikan, rif?" Tanyaku menatap kang Arif yang duduk di hadapanku.


"Alhamdulillah, Kang. Lagian aku tidak sakit, cuma kaget saja!" jawab Kang Arif, sambil tersenyum malu mengingat kejadian semalam.


Kami bertiga pun menikmati kopi dan goreng ubi, sebagai permulaan makanan yang masuk ke perut di hari ini, diselingi dengan cerita-cerita yang meneror Kampung Cikadu.


Pukul 07.30. Setelah makan pagi, dirumah kang arif. aku pun berpamitan, kepada keluarganya, untuk pulang terlebih dahulu, ke pondok pesantren. melaporkan Apa yang sebenarnya terjadi di kampung Cikadu ini, sama Akang Oman.


Tadinya aku hendak pulang sendirian, namun Kang Arif memaksa untuk ikut pulang kembali ke pondok. Meski aku sudah melarangnya,  menyuruh dia beristirahat terlebih dahulu.


Melihat keseriusannya. Aku pun tidak bisa berbuat banyak. akhirnya kita berdua berpamitan, sama kedua orang tua Kang Arif. dan berjanji, Nanti malam. akan kembali lagi ke sini, untuk membantu warga sebisa mungkin.


Pukul 08.00. aku dan Kang Arif tiba di pondok pesantren, terlihat salah seorang santri yang menghampiri, memberitahu bahwa aku dipanggil ke rumah akang. meski rasa kantuk yang menyelimuti jiwa, namun aku tetap melangkahkan kakiku ke rumahnya.


"Assalamualaikum" ujarku, ketika sampai di depan pintu rumah orang yang menjadi Guruku di pondok.


"Ngopi, Gus?" tawarnya, setelah melihatku terduduk.


"Udah, kang. terima kasih! akang mau ngopi?" aku balik bertanya, sambil tetap menundukkan pandangan.


"Boleh" jawabnya singkat.


Aku pun bangkit, dari tempat duduk. menuju dapur menyiapkan kopi untuk Pak Kyai, setelah kopi itu jadi, aku membawanya kembali ke ruang tamu, di mana beliau sedang menunggu.


"Tolong ambilkan! goreng ulinya. Sayang nggak ada yang makan." perintah Akang Oman.


Aku pun mengangguk, lalu kembali ke dapur, untuk mengambil apa yang beliau minta. lalu menyimpannya di meja.


Setelah semuanya dirasa Cukup, aku pun duduk kembali di hadapan beliau, tanpa berani mengangkat kepala. Entah mengapa bisa seperti itu, padahal kita sering mengobrol, karena beliau sering minta dipijit. namun aku tetap tidak berani menatapnya, bahkan jangankan menatap, meliriknya saja aku tidak sanggup.

__ADS_1


"Sudah makan?, kalau belum makan dulu sana kedapur!" tanya Akang, sambil menyeruput kopi yang masih panas.


"Alhamdulillah, sudah juga Kang"


"Ya sudah, nger0kok mau?" tawarnya sambil mendekatkan bungkusan rokok ke hadapanku.


Aku hanya menggelengkan kepala- tanda menolak tawarannya, walaupun aku sering merok0k. namun tidak berani, Ketika Harus merok0k di hadapan beliau.


"Oh iya, kenapa dalari bisa ikut ke kampung Cikadu?" tanya Akang, sambil memukul-mukul asbak, dengan rok0k yang ada di tangannya.


"Maaf kang, Agus. yang mengajaknya untuk ikut, berkah dalari ikut, kecurigaan Agus, tentang pocong jadi-jadian itu semakin kuat." jawabku sedikit berbohong, karena takut beliau Akang memarahi dalari.


"Kecurigaan bagaimana?" tanya Akang, sambil menatap penasaran ke arahku.


Aku pun mulai menceritakan kejadian itu dari awal berangkat, sampai kejadian, ketika kami dicegat pocong. aku ceritakan semua sama guruku, tidak ada satu pun yang terlewat.


"Iya, dari awal Akang juga sudah curiga, ini bukan pocong pesugihan. Sekarang yang jadi permasalahannya, siapa orang yang tega berbuat keji, seperti itu. memanfaatkan kelemahan orang lain, sebagai keuntungannya."  jelas akang.


"Terus rencana kita, selanjutnya bagaimana, kang." Tanyaku meminta pendapat.


"Sekarang kita belum bisa berbuat banyak, kita harus terus memantau kejadiannya seperti apa. sambil mencari tau dalang dibalik semua teror itu" saran Akang Oman.


"Berarti, saya harus kembali lagi ke kampung Cikadu?" tanyaku memastikan.


"Iya, kamu harus terus memantau keadaan di sana. insya Allah, nanti akan ada petunjuk yang mengarah, siapa pelaku sebenarnya."


"Aku boleh, mengajak orang-orang yang tadi malam aku ajak." tanyaku memminta pendapat kembali, mengingat  Akang terlihat keberatan ketika aku mengajak dalari.


"Boleh, namun kamu harus bisa memastikan keselamatan mereka. dan mereka juga harus ikhlas menjalankan kewajibannya. kewajiban saling menolong sesama manusia. Dan ini bisa menjadi pelajaran berharga buat mereka ke depannya." jelas akang, Mungkin pandangan beliau berubah, ketika aku menceritakan keberanian dalari, yang melempari pocong dengan batu.


Obrolan pun berlanjut, dengan pembahasan tentang kejadian-kejadian janggal, yang menimpa warga Kampung Cikadu. apalagi sambil mengobrol akang meminta dipijat, karena sudah seminggu aku belum memijatnya. membuat obrolan kami semakin alot.

__ADS_1


Aku memijat Akang. ini adalah salah satu kebahagiaanku yang luar biasa. karena aku bisa menatapnya, meski hanya dari belakang, menatap sosok yang aku kagumi dengan pribadinya yang luar biasa.


__ADS_2