
Pov dalari
"Untuk sekarang, biarkan ini menjadi rahasia kita semua. karena kita belum tahu siapa orang yang tadi datang ke Saung itu. Takut takut mereka curiga, lalu membatalkan rencananya. jadi kita harus menyelidikinya terlebih dahulu, dengan pasti sebelum memberikan keterangan" jawab kang agus.
"Tapi, aku dengar tadi suaranya. cuma dua orang kang dan mungkin itu bukan orang sini, soalnya aku mendengar suara itu, sangat asing." Jelas kang Arif memberi pendapat.
"Yah, bukan seperti itu. berjaga-jaga itu lebih baik, daripada rencana kita semua kacau. dan yang paling penting, kita sekarang sudah mendapat satu jawaban. Pocong itu adalah manusia iseng. Yang jadi permasalahan sekarang bagaimana, kita mencari tahu siapa orang yang tadi mengobrol, dikuburan." Jelas kang Agus.
Lama di perjalanan ,tak terasa. akhirnya kita sampai di salah satu pos jaga, yang kemarin mencegat kami. namun sekarang kita bisa melewati Pos jaga itu, dengan mudah. Tak ada pertanyaan pertanyaan yang menghalangi, bahkan sambutan yang hangat mereka Tunjukkan. Mungkin karena mereka sudah paham, dengan kita. Apalagi ditambah Kang Arif, yang berada di tengah-tengah kita, sebagai warga asli kampung Cikadu.
Setelah melewati penjagaan, akhirnya kita sampai di pos ronda. di situ banyak orang orang berkumpul, ditemani singkong bakar. Entah mengapa ketika ada ronda, mereka hanya berkumpul di pos. Padahal maling itu, biasanya mencari tempat tempat yang sunyi.
Sesampainya di pos, kami pun disambut oleh Pak RT. Dengan menawarkan kopi dan singkong bakar.
"Maaf Pak RT, datangnya telat, soalnya tadi di pondok ada acara." jelas Kang Agus berbohong, supaya tidak menimbulkan kecurigaan.
"Nggak apa-apa! Terima kasih sudah mau datang ke sini." ujar Pak RT ,sambil tersenyum kemudian memberikan sebungkus rok0k ke Kang Agus.
"Nggak usah repot-repot, Pak. Rok0k yang malam aja, masih ada." Tolak kang Agus, namun Pak RT tetap memaksa, akhirnya rok0k itu di kantongi oleh Kang Agus. Karena dia masih punya rok0k sisa semalam.
Kami mengobrol bersama warga-warga lainnya, membahas tentang kejadian-kejadian yang meneror Kampung mereka.
Malam ini tak ada gangguan, seperti malam sebelum-sebelumnya. Karena banyak teriakan-teriakan yang meminta pertolongan, namun malam ini Aman, damai dan tentram. seperti malam-malam biasa. Bahkan aku saja bisa tidur dengan pulas, tanpa ada gangguan apapun. apalagi setelah dua malam waktu tidurku terganggu. malam minggu mengikuti acara porsemi disekolah, dan malam tadi aku nge ronda bersama warga. Ketenangan ini membuktikan kebenaran obrolan orang yang tadi di kuburan. Bahwa Malam ini mereka tidak melakukan aksinya.
"Bangun, bangun!" ujar kang agus membangunkanku dan kedua santri lainnya.
"Yah ada apa, kang?" tanyaku sambil mengucek-ngucek mata, agar pandangannya bisa terfokus.
"Ayo kita pulang, kayaknya malam ini aman." aja kang agus, sambil bersiap-siap merapikan sarungnya, di selempangkan di pundak.
"Terus mau ngapain, ini masih tengah malam?" Gerutu Kang andi sambil menunjukkan jam yang ada di tangannya.
"Yah justru itu, karena masih malam. kita harus cepat kembali pulang ke pondok. Biar kita bisa mengikuti pengajian ba'da subuh. malu, kemarin kita udah nggak ikut ngaji." Jelas kang agus.
__ADS_1
Dengan males aku, kang andi, dan kang arif. bergegas merapikan sarung kami. Ada yang diikat ke pinggang, ada pula yang dijadikan sweater, karena cuaca serpertiga malam yang mulai dingin. kami bersiap-siap untuk kembali ke pondok, mengikuti saran Kang Agus, biar bisa mengikuti pengajian ba'da subuh.
Setelah berpamitan sama warga yang masih terjaga, kami semua berangkat menuju jalur yang tadi malam kita lewati. Jalan terobosan yang melewati gerbang pemakaman. untung saja tadi sorr sebelum berangkat Kang Andi membawa senter yang bagus, bukan senter yang dari korek.
Dengan senter itu kita sangat membantu, karena bisa berjalan dengan cepat, sehingga kami berempat dengan cepat bisa sampai di pondok.
Sesampainya di pondok, Aku dan kang bagus bergegas menuju wc untuk mengambil air wudhu. kang arif kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur, karena menurutnya waktu subuh masih lama. sedangkan kang andi, dia ijin pulang ke rumahnya terlebih dahulu sebelum mengikuti pengajian subuh.
Setelah melaksanakan dua rakaat tahajud, dan dua rakaat hajat, melihat waktu subuh masih lama, aku pun segera bergegas menuju sekolah, untuk melaksanakan Tugasku sebagai pembersih sekolah, agar nanti pagi bisa tenang.
Pukul 06.00. setelah pengajian subuh selesai, aku dipanggil kang agus, ke kamarnya.
"Yah ada apa, kang?" tanyaku yang merasa heran ,karena tidak seperti biasanya, dia memanggilku.
"Ada tugas buat kamu!" Seru kang agus
"Tugas apa?" tanyaku penasaran.
"Kamu cari tahu! bagaimana suara Dadun, dan bandingkan dengan suara orang yang mengobrol di kuburan, tadi malam. Apakah suara mereka Ada kemiripan?" perintah kang agus
"Yah itu, terserah kamu. yang penting kamu bisa mendengar suaranya!" Ujarnya tidak memberikan pilihan.
Aku pun hanya menarik napas dalam, mau menolak rasanya tidak enak, hanya anggukan kepala sebagai persetujuan atas perintahnya.
"Tapi, kalau tidak bisa, jangan marah!" ungkap ku meminta keringanan.
Pukul 06.30. aku berangkat menuju ke sekolah, namun sebelumnya terlebih dahulu, seperti biasa mampir ke rumah pak chandra. untuk mengisi perut. sebagai penyemangat mengawali hari.
Selesai sarapan, aku melanjutkan tujuanku untuk mencari ilmu di mts nurul hasanah. Sambil berjalan otakku terus berputar, memikirkan bagaimana aku bisa mengetahui suara Dadun, karena aku yang murid baru, belum terlalu paham dengan kakak-kakak kelas, hanya kelompok Arfan yang aku bisa kenali suaranya, karena kami sering berdebat.
Sesampainya di sekolah, terlihat kedua sahabatku sudah menyambut dengan senyum. Kemudian kami pun berpelukan, rasanya kangen banget. Padahal baru dua hari tidak bertetemu.
"Bagaimana keadaan nasrul?" tanyaku sambil menatap kearah mereka berdua.
__ADS_1
"Alhamdulilah lukanya tidak infeksi, namun dia, tetap harus beristirahat terlebih dahulu, karena luka jahitannya belum kering." Jelas heru bak dokter spesialis.
"Kayaknya, kita harus melakukan perhitungan sama mereka. karena gara-gara mereka, sahabat kita sampai masuk Puskesmas." saran Nawir dengan menggebu-gebu. Ingin membalaskan rasa sakit yang diderita sahabatnya.
"Caranya bagaimana? Wir. kita ini kalah jumlah, kalah tenaga, kalah segala-galanya?" tanya Heru pesimis.
"Pakai ini!" ucap Nawir sambil mengetuk-ngetuk jidat samping dengan telunjuknya.
"Sudahlah! kalau mereka nggak ganggu, kita nggak usah cari gara-gara. cukup Nasrul aja yang jadi korban. Aku gak mau kalian menjadi korban selanjutnya." sanggahku menghentikan mereka. agar tidak keterusan melanjutkan permusuhan dengan para senior itu.
"Kamu mah, nggak setia kawan dal, Masa teman sampai masuk rumah sakit, kamu gak ada simpati-simpatinya sih!" ucap Nawir sambil menatap tajam ke arahku.
"Bukan begitu wir, benar apa yang dikatakan Heru, kita kalah segala-galanya, dari mereka. aku nggak mau ada korban selanjutnya." aku menjelaskan, sambil menatap ke arah Nawir, agar dia paham dengan maksudku.
"Ya sudah kalau kalian nggak mau bantu, biar aku saja yang membalaskan dendam ini." ungkap Nawir dengan Ketus.
"Benar wir, apa yang dikatakan dalari. kita jangan mencoba mencari masalah, biarkan yang lalu telah berlalu." Heru juga memberikan pendapat yang sama denganku.
"Iya, iya, tapi. kalau aku membalas kekejian mereka, kalian Jangan menghalangi. cukup memberi dukungan saja." Ungkap Nawir yang terlihat kecewa, karena kedua sahabatnya tidak sepemahaman dengannya.
"Tenang, kita bukan ngalah kok, sama mereka, kalau salah satu dari kita ada yang diganggu lagi, kita akan bersama-sama menghadapi mereka. namun kalau mereka tidak mengganggu kita, Biarkan saja. kita masing-masing hidup, kita ya kita, mereka ya mereka." jelasku sambil menepuk-nepuk pundak Nawir memberikan pengertian.
"Benar kita sekarang Diam bukan berarti takut, tapi menghindari masalah." tambah Heru sambil mengacungkan jempol.
"Oh iya, Sekarang aku butuh bantuan kalian, berdua." ujarku mulai mengeluhkan tugas, yang diberikan Kang Agus.
"Bantuan apa? kita berdua siap membantu!" jawab Nawir dengan antusias. Dia tidak membahas lagi tentang balas dendam.
"Terima kasih, Emang kalian berdua adalah sahabat terbaikku!" ucapku tersenyum bahagia sambil membagi tatapan ke arah mereka berdua.
"Kita belum membantu, kamu sudah bilang terima kasih aja!" jawab baru sambil tersenyum, mungkin merasa lucu dengan tingkahku.
"Kalian pernah mendengar pocong jadi-jadian?" aku mulai bercerita, dengan langkah awal. menanyakan sejauh mana pengetahuan mereka tentang pocong jadi-jadian itu.
__ADS_1
"Pocong jadi-jadian di kampung Cikadu?" tanya Heru terlihat dia merekatkan gigi, seolah ada sesuatu yang membuat Dia terlihat sangat marah.