JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 38 KSATRIA


__ADS_3

Pov Fatimah


"Kalau berani, jangan main keroyok!" ujar Arfan sambil menatap dalari


"Siapa yang main keroyok? Melawanmu tidak butuh orang banyak!" jawab dalari yang masih melipatkan kedua tangannya.


"Yang b4nci itu kamu, beraninya main keroyok!" ucap Arfan sambil tersenyum sinis.


Dalari tidak menjawab, Dia hanya menggerakkan tangannya, memberikan isyarat, agar kedua sahabatnya sedikit menjauh darimya. Heru dan Nawir yang mengerti maksudnya, mereka mundur beberapa langkah, membiarkan dalari dan Arfan berhadapan.


"Kalian berdua. jangan membantuku!" Pinta Dalari sambil memalingkan pandangan ke arah mereka.


Bugh!!


Ketika Dalari lengah, Arfan dengan cepat mendaratkan satu tinjuan ke arah dadanya. sehingga membuat dalari terhuyung ke belakang, melihat dalari seperti itu, Arfan menyusul dengan satu tendangan, yang mendarat tepat ke tubuh dalari, yang sudah tidak seimbang, karena pukulannya. Tak ayal lagi dalaripun terjungkal ke belakang.


"Hahaha. segitu doang kemampuanmu?" ucap Arfan sambil bertolak pinggang, matanya yang merah terus menetap ke arah dalari.


"Kamu, itu! curang b4ng5at" bentak Heru, yang hendak menyerang Arfan, namun dalari Segera bangkit untuk menghentikannya.


"Heru. jangan ikut campur, biarkan aku yang menghadapi dia!" Cegah dalari menghentikan Heru, yang hendak menyerang Arfan.


Heru hanya mendengus kesal, sambil menunjuk muka Arfan, dengan gemas. namun Arfan hanya tersenyum sambil melebarkan tangan. Seolah menantang.


"Kalau berani, jangan curang b4ng5at!" ancam Heru menatap tajam ke arah Arfaan.


"Namanya juga berantem, Bos. gimana saja yang penting musuh TKO!" balas Arfan menurunkan jempolnya ke bawah.


"Awas!!!" ancam Heru, yang hendak menyerang, karena tersulut emosi dengan perkataan.


"Heru!!" bentak Dalari, dengan cepat dia memegangi pergelangan tangan heru, menyuruhnya untuk menjauh kembali.


"Ayo! mulai lagi. tadi baru pemanasan, kita satu sama." ungkap dalari sambil menepuk-nepuk bajunya, yang kotor terkena debu.


"Hahaha. Kata siapa satu sama, lu udah dua kali kena pukulan." jawab Arfan sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Buat apa banyak, kalau rasa pukulannya kayak digigit semut!" ledek Dalari membalas senyum sinis Arfan.


"B4ng5at!" Teriak Arfan sambil Mengayunkan kakinya, dari arah samping. hendak mengarah pinggang dalari.


Dalari yang sekarang sudah siap, dia tidak bergeming. menunggu kaki itu mengenai pinggangnya, setelah kaki Arfan mengenai pinggang. Dalari dengan cepat, mengunci kaki itu dengan tangannya, lalu menariknya ke belakang, sehingga tubuh Arfan condong ke arah belakang, hilang keseimbangan.


Bugh!


Pukulan Dalari mengenai paha Arfan. "Itu pembalasan karena kamu udah mencelakai sahabatku, sampai masuk puskesmas!"


Bugh!


"Itu karena kamu, sudah mengganggu wanita yang kujaga!" pukulan itu mendarat lagi dengan keras di pahanya.


Arfan tidak bisa berbuat banyak, karena ketika dihendak membalas serangan. Dalari dengan cepat  mengangkat  kaki Arfan keatas, Sehingga ruang geraknya terbatas.


Bugh!


Pukulan ketiga dalari, mendarat di pelipis kanan Arfan. "dan itu buat kamu, yang sudah membuat kami semua repot!"  Kemudian dengan kasar Dalari mendorong kaki Arfan yang sedang dipegangnya ke arah depan. sehingga membuat Arfan terjatuh, dengan posisi duduk, di topang dengan kedua tangannya, yang ke belakang, agar kepalanya tidak sampai membentur tanah.


Kuperhatikan dari pelipis Arfan, yang terkena pukulan,  Darah segar mengalir ke arah matanya.


Ditantang seperti itu, Arfan pun bangkit kembali, dengan cepat. Tak menghiraukan luka yang ada di pelipisnya, dia bersiap hendak menyerang dalari kembali.


Melihat situasinya yang semakin panas, dengan cepat kuhentikan mereka. agar tidak melanjutkan kembali perkelahiannya.


"Sudah, sudah. Tolong hentikan! kalian kayak anak SD saja." Teriaku sambil membagi tatapan ke arah mereka berdua.


"Perempuan ke samping saja! Biarkan kami para laki-laki. menyelesaikan persoalan dengan cara kami." ungkap Arfan sambil mendorong tubuhku, yang berada di tengah-tengah antara Dalari dan dirinya. Arfan mendorong ku dengan sangat kuat sehingga terjatuh. Membuatku meringis menahan rasa sakit di area sekujur tumpuan dudukku.


Melihat Aku diperlakukan dengan kasar, dalari tanpa berbicara lagi, dia menyerang Arfan dengan membabi buta, yang awalnya hanya menunggu serangan darinya.


Akhirnya perkelahian itu tidak terelakkan, mereka saling pukul, saling tendang, saling lempar, saling tindih. sampai-sampai baju putih Mereka, terlihat menguning terkena debu.


Dalari, yang berkelahi dengan penuh emosi, sehingga dia tidak tenang seperti awal, beberapa pukulan Arfan mengenai tubuhnya. Sehingga pertarungan itu menjadi seimbang.

__ADS_1


"Hentikan! hentikan! kalian jangan berkelahi lagi!" Teriakku dengan histeris, mencegah mereka.


Tapi mereka seperti udah kerasukan setan, mereka tidak bergeming, terus melanjutkan pertarungan. beberapa tendangan dan pukulan mengenai tubuhku, ketika memisahkan mereka.


Melihat aku berjuang dengan susah payah, memisahkan kedua orang yang sedang bertarung. Heru dan Nawir pun seolah tersadar, dengan keadaanya. mereka berdua ikut membantu, berusaha memisahkannya. namun tenaga mereka kalah kuat, dengan orang yang sedang emosi. mereka nasibnya sama sepertiku, terkena tendangan dan pukulan, bahkan beberapa kali mereka terjatuh.


Beruntung anggota-anggota OSIS. yang kebetulan pulang melewati jalan ini, cepat menghampiri. lalu memisahkan Arfan Dan dalari. menarik mereka agar menjauh.


"Kalian berdua bod0h!" bentak Ismi sambil membagi tatapannya ke arah Arfan dan dalari. yang seluruh tubuhnya ditutupi dengan debu Jalan. Hanya  menyisakan gigi dan matanya yang masih bersih tidak terkena debu.


"Kalian itu sudah mulai dewasa! masa, kelakuannya kayak anak SD. Menyelesaikan masalah itu dengan otak tenang! bukan dengan cara berkelahi, kayak preman saja!" Cerocos Kak Anis, anggota OSIS dari kelas 3.  memberikan nasehat dengan intonasi yang sangat tinggi.


Arfan dan Dalari hanya tertunduk, meratapi kesalahan mereka. tak ada jawaban, atau pembelaan, yang keluar dari salah satu mulut mereka. Mereka membisu seperti patung yang sedang dipajang.


"Kalau pihak sekolah tahu, kalian berkelahi seperti ini. Pasti kalian berdua akan dikeluarkan. dan kamu Arfan! bentar lagi kamu mau ujian, gimana perasaan orang tua kamu? kalau kamu harus pindah sekolah. dan kamu juga Dalari! kami semua tahu, kamu bersekolah di sini karena kebaikan Pak Chandra. kamu jangan sampai kecewakan beliau, Baru beberapa hari saja. Kamu udah membuat masalah!" lanjut kak Anis panjang lebar, menasehati mereka. karena perempuan pemikirannya sangat halus, sehingga bisa memberikan alasan yang sangat lugas.


Kak Anis dan kakak-kakak kelas lainnya. terus menceramahi mereka berdua, dan menanyakan akar permasalahannya. namun mereka tidak menjawab, sehingga melontarkan pertanyaan itu terhadapku, terlihat dalari mengedipkan mata, sambil menempelkan telunjuk di bibirnya. memberikan kode agar aku tidak menceritakan kejadian sebenarnya.


"Aku yang salah!" ucap dalari dengan tiba-tiba, sehingga membuat orang orang yang berada di sini, menatap ke arahnya. Padahal Aku tahu Dalari berbuat seperti ini, karena dia mau menyelamatkanku, dari gangguan Arfan.


Dengan lemas dia pun memaksakan bangkit, lalu menghampiri Arfan yang masih terduduk. kemudian dia mengeluarkan tangan, mengajaknya untuk bangkit. Arfan hanya menatap nanar ke arah dalari, lalu memegang uluran tangannya untuk bangkit.


"Maafin aku, Kak. aku yang salah!"  ujar Dalari seperti Ksatria, yang Berani mengakui kesalahannya.


"Iya. aku juga minta maaf, ini bukan sepenuhnya kesalahan kamu." jawab Arfan sambil mengulurkan tangan untuk bermaaf-maafaan.


"Tolong buat kalian yang ada di sini, tolong rahasiakan Kejadian ini, cukup kalian saja yang tahu!" pinta Arfan sambil membagi tatapan ke segala arah.


"Ya sudah kalian cepat pulang!" Seru Kak anis sambil menatap ke arah mereka berdua.


Dengan cepat Rohman, menggandeng Arfan, yang agak kesusahan untuk berjalan. membawa ke motornya, kemudian pergi meninggalkan kami, yang masih memperhatikannya.


"Kalian juga pulang! ngapain kalian masih keluyuran, padahal waktu pulang Sudah dari tadi?" bentak Kak Anis sambil menatap ke arah dalari dan kedua sahabatnya, yang masih berdiri menundukkan pandangan.


"Terima kasih, atas pertolongannya. Maaf sudah merepotkan!" ujar dalari mengajak Heru dan Nawir, untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Setelah melihat dalari pergi. Kak Anis pun mengajak teman-temannya, untuk melanjutkan kembali, perjalanan pulang ke rumah masing-masing. menyisakanku bersama Isni dan Ratna, karena Fitri pulangnya tidak searah dengan kami.


"Sebenarnya, ada apa sih? kok, mereka bisa sampai berantem?  Terus kamu lagi ngapain masih disini?" Isni mencecariku dengan pertanyaannya.


__ADS_2