
Pov agus
Pukul 09.30. akhirnya aku selesai memijat Akang, Kemudian berpamitan, untuk segera kembali ke pondok.
Sesampainya di pondok, aku bergegas menuju kamar, untuk mengistirahatkan mataku. yang kurang tertutup tadi malam, karena berburu pocong jadi-jadian.
"Kang, bangun Kang!"
Pukul 11.00. aku ada yang membangunkan dari tidurku, dengan malas aku mulai membuka mataku yang tertutup. rasanya pengen marah, karena ini adalah kenikmatan yang paling nikmat di dunia. Yang di berikan allah cuma cuma. Jadi ketika ada yang mengganggu kenikmatan itu, rasanya kesal saja.
"Ada apa?" jawabku, sambil duduk mengumpulkan sisa-sisa arwahku, yang masih Tertinggal dalam mimpi.
"Ada berita penting, Kang!" jelas Kang Arif, yang duduk bersebelahan dengan dalari, menghadapku.
"Penting, apa?" tanyaku cuek. rasanya masih kesal saja, ketika diganggu.
"Dalari menemukan sesuatu, yang mungkin bisa membuat kita mengetahui suatu kebenaran!" Jelas kang Arif.
"Kebenaran, apa?" Tanyaku yang masih dengan muka bantal, masih belum nyambung diajak bicara.
"Mending Akang cuci muka dulu, gih. biar seger!" seru Kang Arif.
"Cerita aja, aku bisa mendengarkan, kok!" ucapku memejamkan mata sambil terduduk.
"Dallari di sekolah. tadi dia menemukan suatu kejanggalan, ada orang dari kampungku. yang membagi-bagi makanan begitu banyak. padahal aku tahu orang itu, keadaannya sama sekali tidak punya. bahkan kehidupan keluarganya saja. mereka sering dibantu oleh para warga sekitar."
"Terus apa hubungannya, dengan kalian membangunkanku" tanyaku yang masih belum sadar seutuhnya.
"Yah, Akang. Sebenarnya ngerti nggak sih. orang itu bisa jadi orang yang jadi pocong jadi-jadian. karena tidak mungkin dia memiliki uang sebanyak itu. apalagi sampai dibagi-bagikan dengan mudah." jelasnya membuatku membuka mata, lalu menatap ke arah Kang Arif. merasa tertarik, dengan apa yang ia jelaskan.
"Bentar aku cuci muka dulu, biar otakku konek" ujarku sambil bangkit, lalu menuju ke arah kamar mandi, yang terletak di samping pondok pesantren.
__ADS_1
Setelah mencuci muka, sekalian berwudhu. aku kembali ke kamarku, menemui mereka yang masih duduk terdiam menunggu. Namun ada yang membuatku merasa heran, karena di hadapan Mereka, ada banyak sekali jajanan. dengan cepat aku mengambil salah satu cemilan itu, setelah meminta izin sama mereka berdua. Aku memakan cemilan, agar Mulutku enak, ketika hendak menghisap asap rok0k.
"Siapa yang ganti nama, nih?" tanyaku sambil menyalakan sebatang rok0k, sisa tadi malam. Bahkan aku masih punya stok satu bungkus lagi pemberian dari Pak RT .
"Nggak ada Kang, Tadi kan sudah bilang, ini pemberian Sultan dari kampungku," jelas Arif, sehingga membuatku tersenyum. merasa lucu dengan Otaku, yang masih belum terkoneksi dengan benar.
"Terus Menurut kalian bagaimana?" aku bertanya, setelah mengerti apa yang mereka maksud.
"Kayaknya, kita bisa jadikan si Dadun, untuk awal penyelidikan kita. Siapa tahu saja ada hubungannya, dengan pocong jadi-jadian itu."
"Terus bagaimana kita menyelidikinya?"
"Yah, makanya kita datang ke sini, untuk meminta pendapat kang agus. Bagaimana cara menyelidiki si Dadun, ini?" Jelas kang Arif, sambil menatap tajam ke arahku. Mungkin dia merasa kesal, Aku tidak memahami maksud dan tujuan yang ia sampaikan.
"Hehehe. nanti aku ceritakan sama Akang terlebih dahulu, tentang kecurigaan kalian. aku juga tidak bisa menyimpulkan, atau bekerja sendiri, tanpa ada persetujuan dari guru kita." jawabku memberi mereka penjelasan.
"Lantas makanan ini, bagaimana, kang?" tanya Dalari.
"Ya sudah kita makan saja, lagian kita diberi ini. toh kita juga nggak tahu kan, ini dapat hasilnya dari mana. yang penting kita berbaik sangka aja, bahwa uang yang ia dapat, buat beli cemilan ini. Adalah uang halal." Jelasku memberi pendapat, karena ketika kita dikasih, barang yang belum tahu Dapat dari mana, kita boleh memakannya. Dan asal kita tidak mencari tahu, dari mana barang yang dikasih ke kita. Tapi kalau kita sengaja mencari, terus kita meyakini bahwa makanan itu, didapat dari cara yang tidak halal. maka kita juga harus menjauhinya, Karena itu adalah salah satu perbuatan dosa.
"Nggak apa-apa! jadi tumbal juga, Lagian kamu nggak guna ini!" Ledekku Sambil tertawa, membuat Kang Arif mencembungkan mukanya.
Akhirnya kami bertiga pun disibukan, dengan Memakan makanan yang diberikan oleh Dadun. yang menurut Arif, Dadun ini adalah orang yang biasa-biasa aja, baru sekarang Dia memiliki harta yang banyak, sampai bisa mentraktir orang-orang yang ada di sekolah. Mungkin ini yang disebut Sultan baru.
Setelah jajanan itu habis, mereka berdua pun berpamitan kembali ke kamar masing-masing. untuk mempersiapkan diri mengikuti pengajian ba'da dzuhur.
Selesai pengajian. aku bergegas kembali ke rumah Akang, untuk menceritakan penemuan baru, tentang pocong jadi-jadian, yang menimpa warga Kampung Cikadu.
"Oh, jadi seperti itu ceritanya, coba nanti sehabis magrib, kamu intip lagi! apa sebenarnya yang ada di kuburan itu." saran Akang, setelah mendengarkan ceritaku, yang ditemukan oleh dalari.
Setelah selesai mengobrol dengan Akang, akupun kembali ke pondok, melanjutkan aktivitasku. seperti biasa, setelah pengajian ba'da dzuhur. para santri, akan membuat makanan untuk mengisi perut, bisa juga disebut membuat makan siang, yang makanya agak ditarik ke dekat waktu Ashar.
__ADS_1
Setelah makan siang mendekati sore itu berakhir, tak lama Azan Ashar pun berkumandang, mengingatkan kita bahwa harus kembali menyembah-Nya, dan mengingatkan bagi Kami para santri, di waktu itu kita harus belajar kembali, mencari ilmu untuk bekal hidup di dunia dan di akhirat.
Setelah pengajian selesai, seperti biasa diisi. oleh acara main bola di sawah. ini biasa dilakukan setiap hari, hanya hari Sabtu dan Minggu saja yang libur. karena kebiasaan para santri kalau di hari itu, mereka akan pulang ke rumahnya, untuk mengambil bekal, serta bersilaturahmi sama orang tuanya. Sehingga ketika bermain bola, orangnya akan kurang.
15 menit sebelum adzan maghrib, aku mengingatkan mereka, untuk segera Berhenti melakukan aktivitas bermain bola. Segera mempersiapkan diri menghadapi pelajaran selanjutnya.
Begitulah kehidupan. jam pun berputar begitu cepat, pantas saja sayidina Ali berkata, waktu itu seperti pedang. kecepatannya yang tidak bisa terlihat, sama seperti waktu, walaupun kita merasakan pergantian itu, namun seolah kita tidak sadar, bahwa waktu itu berputar begitu cepat.
Selesai melaksanakan salat magrib. aku, dalari, Kang Arif, dan Kang Andi. sudah berkumpul, untuk bersiap-siap menuju kuburan, yang tadi malam, ada keanehan di sana.
"Emang nggak apa-apa! kalau kita nggak ikut pengajian, nanti akang marah?" tanya dalari memastikan.
"Insya Allah, nggak. kita selesaikan dulu tugas ini, biar kita bisa ikut kembali mengaji, seperti biasa." saranku menerangkan.
"Yah sudah, ayo kita berangkat! nanti keburu Gelap lagi. Dan bisa-bisa keduluan mereka!" saran Kang Andi sambil mengikatkan sarungnya di pinggang.
Akhirnya Kami berempat pun berjalan melewati Gang, menuju jalan besar. setelah berada di jalan besar, kita pun berbelok ke Jalan terobosan, yang menghubungkan antara Kampung Cisarua, dan Kampung Cikadu.
Tak lama di perjalanan, karena keadan yang belum terlalu Gelap, sehingga kami bisa berjalan dengan cepat, menyusuri jalan itu, dan dengan cepat pula. kami pun sampai di pintu gerbang pekuburan.
Terlihat samar-samar batu nisan, batu nisan. yang berjajar seperti bibit-bibit yang hendak tumbuh, mengingatkan kita, bahwa. suatu saat kita juga akan bergabung bersama mereka, disini.
Assalamu'alaikum ahlad-diyaar minal mu'miniina wal muslimiin. Wa inna insyaa alloohu bikum laahiquun. Nasalullooha lanaa walakumul 'aafiyah." Ucapku ketika masuk area pemakaman, mengucapkan salam kepada mereka. Mereka yang udah tenang dengan segala urusan haliyah dunia.
Perlahan kami langkahkan kaki, menuju Saung yang ada di tengah-tengah pekuburan. Sebenarnya tidak terlalu tengah-tengah juga, karena di atas Saung itu, masih ada tanah yang belum dipakai, dijadikan pekuburan.
Sesampainya di saung. kami memperhatikan area sekitar, mencari tempat untuk bersembunyi. agar ketika ada yang datang, keberadaan kami tidak diketahui.
Setelah lama mencari. Kami ada semak-semak yang rimbun, sehingga ketika kami bersembunyi di sana. Kami tidak akan ketahuan, karena area pekuburan yang di bawah Bukit, sehingga tanahnya tidak rata. Dibagia bagian atas saung itu, masih banyak rumput ilalang dan pohon-pohon yang belum ditebang. Karena biasanya para warga di sini, mereka memakai area tanah untuk menguburkan jenazah. Mengambil ke arah bawahnya.
Dan Kebetulan letak Saung ini juga, menghadap ke lembah. Ke arah pekuburan yang berjajar, memenuhi area itu. sehingga ketika kami bersembunyi di belakangnya, mungkin tidak akan ketahuan.
__ADS_1
Kami berempat pun, mencari posisi yang terenak, agar bisa mengintip dengan leluasa.
nyamuk-nyamuk pun sudah menghampiri, meminta jatah kepada orang-orang yang masih berkeliaran di area kebun. Karena Jam segini waktunya mereka mulai mencari makan, Mereka bernyanyi mengelilingi area muka. Namun kami semua tidak menghiraukannya, kami terfokus menunggu kejadian yang akan terjadi.