JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 53 MISI SUKSES


__ADS_3

Piv Dalari


"Maafkan Aa, Neng!" Jawab kang Bayu sambil melirik ke arah istrinya dengan sudut mata.


"Kenapa Aa, Kenapa Aa?" tanya teh Isma seolah tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Kang Bayu, padahal namanya takdir tidak bisa dipungkiri.


"Bayu, kamu kemanakan harta para warga, yang kamu curi?" tanya Pak RT memulai interogasi.


"Masih ada Pak, saya cuma pakai untuk kebutuhan saya sehari-hari, dan membeli rumah di Kampung Sebelah, dan rumahnya pun masih ada. Sekarang tolong lepaskan saya. Saya berjanji sisanya nanti saya akan kembalikan, dengan cara menyicil. ucap kang Bayu memohon.


"Enak saja! kalau kesalahan bisa bebas dengan minta maaf, Semua orang pasti akan terus melakukan kejahatan." Celetuk Seorang warga yang tidak setuju, kalau Kang Bayu dibebaskan.


"Tolong kembalikan semua uang dan perhiasan warga, yang kamu curi! masalah dibebaskan atau tidaknya, biarkan pengadilan yang menentukan" ucap pak RT menengahi perdebatan mereka.


"Oh nggak bisa seperti itu Pak RT, kalau tidak bisa membebaskan saya, harta itu akan menjadi milik saya, karena saya tidak mencuri. Saya hanya mengambil hak saya, sebagai bayaran pertunjukan, dan lagian ngapain mereka harus takut segala, sama pocong bohong-bohongan!" Jawab Kang Bayu masih kekeh, dengan pendiriannya bahwa dia beranggapan tidak mencuri.


"Kalau tahu, kamu keras kepala mendingan tadi, kami membun*hmu saja!" ucap Seorang warga yang tidak suka dengan sanggahan Kang Bayu.


Kemudian warga itu melayangkan satu tendangan ke arah dadanya, sampai Kang Bayu yang sedang terduduk, terjungkal ke belakang. Kalau warga itu tidak dipegang, sama warga lainnya, dia hendak melakukan serangan yang kedua, menghajar Kang Bayu yang sudah terkapar.


"Udahlah A! jangan ngelawan terus! aku yakin Aa bisa berubah!" ucap teh Isma, yang tidak suka dengan sikap Kang Bayu yang begitu arogan.


"Biarikan saja Neng, Lagian Aa tidak salah, Aa cuma melakukan pertunjukan sulap, merekanya saja yang lebay, takut dengan makhluk tahayul!" Jawab Kang Bayu sambil membangkitkan tubuhnya untuk duduk kembali.


"Kurang ajar! kamu bay. bener kata Kang Salman mendingan kamu dibun*h saja! daripada hidup membebani orang lain!" ujar Seorang warga, sambil menggeleng-gelengkan, kepala seolah tidak percaya dengan sikap Bayu.


Para warga pun mulai merangseg, mendekati kang Bayu, merasa geram, dengan perkataan-perkataan yang diucapkan olehnya, seolah tidak mengakui dengan kesalahannya, sehingga membuat para warga yang sudah begitu tenang, sekarang emosinya terpancing kembali.


"Sudah! sudah!" tegas pak RT menghentikan niat warga.


"Nggak apa-apa Pak RT, harta saya tidak kembali, yang penting si Bayu ini bisa ma4mpus di tangan saya!" kata Seorang warga yang terus merangseg masuk ke dalam pos.


"A, Ayo A! minta maaf sama mereka! ayo!" Pinta teh Isma yang terlihat panik, setelah melihat para warga yang hendak menghakimi suaminya.


Kang Bayu hanya terdiam, seperti semula. terlihat wajah angkuhnya, seolah tidak mengakui kesalahan.

__ADS_1


"Tenang! tenang! oke saya akan kembalikan harta kalian!" ujar Kang Bayu seolah terpaksa.


"Di mana harta kami, kamu simpan?" tanya Seorang warga yang menatap tajam ke arah Kang Bayu.


"Nanti saya kasih tahu, asal kalian jangan melaporkan saya ke kantor desa!" Pinta Kang Bayu, masih tetap sama bernegosiasi.


"Oke, kami tidak akan melaporkan kejahatan kamu, yang terpenting harta kami kembali!"jawab Seorang warga yang nampak terlihat serius.


"Saya simpan harta itu di rumpun bambu, dekat pekuburan. kecuali barang-barang yang sudah saya jual, dan dibelikan rumah, itu semuanya sudah tidak ada." Jelas kang Bayu.


"Rumpun bambu yang sebelah mananya?" tanya warga itu memastikan.


"Kalau tidak percaya, kalian bisa menyuruh si Dadun untuk mengambilnya!" Jelas kang Bayu, mengingat tubuh dia yang sudah ambruk, tidak mungkin bisa berjalan jauh. Apalagi harus menunjukkan lokasi penyimpanan.


Para warga pun saling menatap, kemudian tatapan itu tertuju sama Pak RT, seolah meminta petunjuk dari tetua Kampung mereka.


"Kenapa menatap saya?" tanya Pak RT yang tidak enak mendapat tatapan dari semua orang yang ada di situ.


"Bagaimana nih, pak ?"ungkap Seorang warga.


Terdengar tarikan napas dari semua warga yang berada di situ, mungkin mereka baru sadar, dengan risiko yang harus ditanggung, setelah harta itu kembali. Karena tidak mungkin warga lain bisa terima ketika dia tidak mendapatkan hartanya kembali.


"Menurut saya, begini saja! ambil harta itu, lalu simpan di Jang RT! karena dari semua orang yang ada di sini, hanya Jang RT lah yang bisa dipercaya!"tutur Seorang warga yang terlihat sudah tua, memberikan pendapat.


"Setuju!" semua warga menjawab dengan serempak, menyetujui pendapat orang tua itu.


Setelah permusyawarahan berakhir, beberapa orang warga menggiring Dadun, untuk menunjukkan Di mana lokasi tempat penyimpanan harta mereka, harta hasil pencurian dari warga.


Aku kang agus Kang Andi dan Kang Arif menarik napas dalam, merasa lega. karena bisa membantu warga sampai titik darah penghabisan.


"Ayo!" bisik kang Agus, memberikan kode ke ketiga sahabatnya, untuk menjauh dari kerumunan warga, yang masih berkumpul menjaga Kang Bayu, agar tidak kabur kembali.


"Mau ke mana Kang?" tanya Kang Andi setelah merasa aman dari kerumunan warga, sehingga obrolan kita tidak ada yang mendengar.


"Pulang!" jawab Kang Agus singkat.

__ADS_1


"Loh, kok. Kita kan belum izin dulu?" tanya Kang Andi yang merasa heran.


"Nggak apa-apa, sekarang perjuangan kita sudah berakhir, biarkan mereka bersukacita, jangan sampai terganggu oleh kehadiran kita!" jawab kang Agus.


"Padahal kalau kita izin dulu, siapa tahu saja kita dapat piala penghargaan, atau Lencana pahlawan gitu!" Celetuk Kang Arif memberi saran.


"Hush! Nggak boleh gitu, kita menolong bukan untuk mendapatkan pengakuan orang, Lagian kita hanya perantara, yang menolong kita sebenarnya hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala!" sanggah Kang Agus yang tidak suka, dengan pengakuan atas semua kebaikan yang ia lakukan.


Kami berempat terus berjalan di tengah kegelapan malam, disinari dengan sinar rembulan yang menerangi lewat celah-celah pohon. berjalan menuju Jalan Setapak yang biasa kita lalui, untuk mempersingkat jarak antara Kampung Cikadu dan kampung pondok pesantren Nurul Hasanah.


Dari arah depan terlihat cahaya senter yang mendekat ke arah kita, mungkin itu rombongan orang-orang yang mengawal Kang Dadun, mengambil kembali harta warga yang dicuri olehnya.


"Siapa itu?" tanya orang yang membawa senter, sambil menyorotkan sinar senter itu ke arah muka Kami berempat.


"Agus, pak!" jawab Kang Agus sambil mengangkat tangan agar mukanya terlihat jelas.


"Oh, Jang Agus! mau ke mana?" tanya orang yang membawa senter sambil terus mendekat.


"Mau pulang pak, saya rasa, semua tugas saya sudah selesai di sini, salam buat semua warga, Maaf saya tidak bisa menemani membawa kang Bayu ke kantor desa." ujar Kang Agus menjelaskan.


"Ngapain buru-buru! padahal nginep saja! besok pagi baru pulang!" saran warga itu.


"Nggak apa-apa! Pak. biar saya bisa istirahat terlebih dahulu, sebelum mengikuti pengajian ba'da subuh. Dipondok pesanteren." jawab Kang Agus Mencari Alasan.


"Ya sudah kalau begitu, terima kasih banyak sudah membantu warga kami, semoga kebaikan para santri semua, dibalas oleh Allah." doa warga itu.


"Amin!" jawab Kami serentak.


Akhirnya kami semua  melanjutkan perjalanan, aku dan para santri lainnya melanjutkan perjalanan menuju arah ke kuburan, sedangkan pada warga melanjutkan perjalanan menuju arah kembali ke perkampungan, untuk menyetorkan harta warga yang sudah dicuri oleh Dadun.


Namun ketika aku berpapasan dengan Dadun, dia dengan cepat melemparkan sesuatu ke arahku, dengan cepat aku pun menadahkan tangan, agar benda itu tidak terjatuh.


"Kenapa?" tanya Kang Andi yang berjalan di belakangku, namun terlihat Dadun menggelengkan kepala, memberikan kode agar aku tidak bercerita.


"Kepeleset, Kang!" jawabku berbohong sambil memasukkan benda pemberian Dadun.

__ADS_1


__ADS_2