
Pov bayu
Agrrrrrrhhhhhhhhh!!!
Bugh! bugh! bugh!
Terdengar suara teriakan dan pukulan dari kamar yang dimasuki temanku, membuatku semakin panik, kutatap pintu kamar itu, namun tetap saja, aku tidak bisa melihat. karena keadaan pintu kamar yang masih tertutup.
"Mampus kamu pocong sial4n!"
Bugh! bugh! bugh!
Beberapa hantaman benda tumpul mengenai tubuhku, yang tidak terdeteksi sebelumnya. karena aku terus memperhatikan ke arah dalam rumah. Hantaman itu membuat tubuhku tersungkur ke arah samping. Namun dengan cepat, aku bangkit kembali lalu membalikkan tubuh, untuk segera berlari.
Awwwwww!!
Bugh!
Tiba-tiba kakiku ada yang menjegal, sehingga aku terjatuh kembali ke depan, terjatuh dengan posisi tengkurap, sehingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.
Aku heran kenapa bisa seperti ini, Padahal aku sebelum melakukan aksi, sudah mengecek semua area yang ada tempat ini, dan itu aman.
Bugh! bugh! bugh!
Beberapa tendangan mengenai tubuhku, yang masih tersungkur tengkurap di atas tanah.
"Hahaha. mau lari ke mana? Kamu bangs4t!" teriak seseorang sambil menendang kembali tubuhku.
Aku menarik napas dalam, untuk menguasai kondisi yang semakin terdesak, agar otakku bisa berpikir jernih. walaupun beberapa tendangan dan pukulan yang mengenai sekujur tubuh.
Kubalikkan tubuhku, lalu menatap ke arah atas. ternyata sudah banyak orang yang sudah mengerumuniku. makian makian pedas mereka lontarkan, di barengi dengan serangan-serangan yang mematikan.
Kualihkan semua kekuatan yang tersisa, untuk merogoh kantongku. mengambil semprotan cabai.
Prot! prot! prot!
Aku menyemburkan semprotan cabai, ke arah muka mereka. sehingga mereka kalang kabut, merasakan panas di area matanya.
__ADS_1
Dengan cepat ku bangunkan tubuhku, lalu mengeluarkan beberapa serangan ke arah orang yang sedang menggerumuni, mereka memegangi matanya, yang terkena serangan cabai. kesempatan itu, adalah kesempatan terbaik, untuk melarikan diri.
Beberapa orang pun terjungkal, karena serangan yang begitu mendadak, mereka tidak bisa berbuat banyak, karena mereka tidak bisa melihat. Terdengar suara rintihan kesakitan saling beradu.
"Hihihi!" aku keluarkan suara tertawa yang melengking, menirukan suara kuntilanak, agar nyali mereka menciut.
Setelah ada ruang untuk melarikan diri, aku dengan cepat melangkahkan kaki, keluar dari kerumunan warga. yang sedang memegangi matanya, namun Baru beberapa langkah meninggalkan kerumunan warga.
Bugh!!
Satu pukulan mendarat di pipiku, pandanganku yang terbatas, karena terhalang oleh topeng, sehingga tidak bisa dengan leluasa, memperhatikan area sekitar.
"Hahaha! jangan kabur pocong sial4n!" Ucap pak RT Sambil tertawa membuatku merasa geram.
"Awas, Pak! hati-hati nanti, dia menyembur kan bisanya!" terdengar suara warga yang mengingatkan, sekaligus memberi ide, agar aku menyemprotkan cairan cabai ke arah muka Pak RT.
Prot! prot! prot!
Aku semprotkan lagi cairan itu, ke arah muka Pak RT. berharap dia akan terkena rasa perih di matanya.
"Hahahhahha. nggak ada lagi mainan yang lebih bagus?" tantang Pak RT mencibir, membuatku semakin geram, namun sekaligus merasa heran, kenapa dia tidak merasakan perih di area matanya.
"Pantas saja senjataku tidak mempan, Dia memakai pelindung mata" gumamku dalam hati Namun aku tidak kalah cerdik. dengan cepat kulayangkan satu tendangan ke arah perut pak RT, yang masih tertawa.
Bugh!
Tendangan itu tepat mengenai perutnya, sehingga menghentikan suara tawa yang begitu angkuh.
"Hihihihi!" Aku mengeluarkan suara tawa yang begitu mengerikan kembali, untuk menghentikan mereka yang masih bermiat mengahajarku.
Namun setelah Pak RT terjatuh, tiba-tiba beberapa pukulan dan tendangan mendarat lagi di area tubuhku, Serangan yang datang dari berbagai arah. dari belakang, depan, samping. semuanya menyerangku dengan serempak, seperti b4nci yang tidak punya nyali untuk bertarung satu lawan satu.
Namun dengan cepat aku semprotkan lagi cairan cabai ke arah mereka, sehingga ada beberapa orang yang terkena semprotan itu, mereka memegangi mata ,sambil berteriak merasakan perih di area matanya.
"Dasar bod0h!" gumamku lalu mengeluarkan beberapa bom asap, untuk kamuflase pelarianku, supaya lebih aman.
Asap pun membumbung, menutupi semua tubuhku. mataku terus bergerak mencari celah untuk melarikan diri.
__ADS_1
Setelah menemukan celah, aku pun menabrak orang yang menggerumuni, yang terlihat lengah, orang yang terkena semprotan cabai, sehingga fokus mereka hilang.
Brraak!
Bugh!
Suara benturan tubuh, diikuti dengan suara terjatuhnya warga, yang tertabrak. lalu dengan cepat aku berlari menuju pohon yang sudah aku Tanami perangkap sebelumnya. Kebiasanku sebelum melakukan aksi pertinjukan, aku akan menaruh beberapa alat pentasku, di area rumah calon korban. Untuk melarikan diri, seperti sekarang dalam keadaan terdesak.
Kuambil tali yang kusiapkan sebelumnya, lalu mengaitkannya di area depan tubuh, untuk menerbangkanku ke atas pohon. Namun sayang tali yang kupegang itu malah terjatuh, tanda tali itu sudah terputus dari awal. biasanya aku naikkan batu atau benda yang lebih berat dari tubuhku, nanti ketika aku gerakan talinya, dengan sendirinya batu itu akan terjatuh, dari atas pohon. menarik tubuhku ke atas, sehingga terlihat seperti orang yang sedang terbang.
"Aduh!" hatiku mulai merasakan kengerian, karena semua alat-alat yang kusiapkan sudah rusak. Apalagi kalau mengingat temanku yang masih di dalam rumah. aku belum mengetahui keadaannya seperti apa, membuatku semakin panik, karena dengan tertangkapnya temanku, secara tidak langsung, aku juga sudah tertangkap. namun aku akan terus berusaha, sebelum titik darah penghabisan.
"Hahaha!" terdengar suara orang yang menertawai kebodohanku, kulepaskan tali itu lalu melihat ke arah datang suaraya.
"Agus!" Lirihku setelah melihat Siapa orang yang tertawa, melihatnya berdiri seperti itu, membuatku semakin merasa takut. karena aku sudah melihat kecerdikannya. Aku yakin yang menggagalkan semua Rencanaku sekarang adalah dia.
"Kenapa diam, takut ya?" tanya Arif yang berdiri di samping Agus.
"Hati-hati, Kang! nanti dia menyemprotkan cairan cabainya lagi!" ucap orang yang paling kecil mengingatkan.
"Tenang! tenang!" ucap seseorang yang baru, datang sambil memberikan kantong plastik putih, sebagai pelindung kepala.
"Sial4n!" gumamku dalam hati, karena tidak tahu harus dengan cara apa lagi, Aku melarikan diri.
"Kang Bayu Menyerahlah! akui semua kejahatan akang! karena dadun sudah tertangkap!" ucap Agus dengan suara pelan namun penuh penekanan.
Membuatku merasa heran, dari mana mereka mengenaliku, sedangkan aku mengenakan kain putih, dan topeng yang terbuat dari getah karet.
"Hihihihi!" aku hanya mengeluarkan suara tawa, untuk menguasai keadaan, menyembunyikan rasa takut sambil berpikir positif, agar aku bisa melarikan diri dengan selamat.
"Ya, Bay. kami semua sudah tahu kejahatanmu. sekarang, menyerahlah! jangan sampai kita menangkapmu, lalu menghakimimu sampai mampus!" teriak Seorang warga, semakin membuatku panik, karena semua rahasiaku sudah terbongkar.
Byur! byur! byur!
Ku lemparkan bom asap, mengelilingi area tubuhku. menjadikan benteng dari penglihatan warga, dengan cepat aku menanggalkan semua pakaian putihku, menyisakan baju hitam, untuk berkamuflase di kegelapan malam, kemudian aku menembus asap itu, untuk segera berlari membelah kegelapan.
"Fokus. jangan sampai si Bayu itu kabur!" teriak Seorang warga mengingatkan agar mereka tidak kecolongan.
__ADS_1
"Dasar bodoh!" Ujarku sambil terus berlari.