
Pov bayu
Setelah menyampaikan Rencanaku. aku tidak berlama-lama di kuburan, karena takut ada warga atau orang yang mengikutiku. dengan cepat meninggalkan basecamp itu, kita berdua pergi berlawanan arah, aku kembali ke jalan yang tadi aku lewati, sedangkan dia mencari arah sebaliknya. agar ketika ada yang menguntit, salah satu dari kita ada yang selamat.
Setelah berada di dekat Jalan besar, aku memperhatikan keadaan sekitar terlebih dahulu, sebelum aku keluar dari persembunyian, takut ada orang yang memperhatikanku, sehingga bisa mengundang kecuriagan, kalau aku pulang dari area pekuburan.
Setelah dirasa aman, aku pun keluar dari tempat persembunyian, lalu berjalan seperti biasa, menuju ke pos ronda, untuk menjaga kampungku, sekaligus memantau situasi, setelah kejadian tadi malam. Apakah mereka masih menaruh curiga terhadapku.
"Pengantin yang sudah lama, tapi masih terlihat baru. Kemana saja kok baru nongol, nih?" ledek Pak RT sambil tersenyum, tak menunjukkan sedikit kekesalan setelah aku tadi pagi menuduhnya.
"Ah, Pak RT bisa aja, aku kan kerja terus, jadi nggak ada waktu untuk bermanja-manjaan dengan istri, selain sekarang ketika berada dirumah." jawabku sambil tersenyum mengingat kejadian tadi siang. Membanyakan pertempuran ranj4ng bersama istriku.
"Mantap goyang terus!" Timpal Seorang warga yang menyahuti, sehingga membuat warga lain tertawa mungkin itu adalah hal yang lucu.
"Kapan mau ke kota lagi, jang?" tanya Pak RT tidak memperpanjang pembahasan dewasa itu.
"Mungkin lusa Pak, soalnya sudah tidak punya uang padahal mencarinya berminggu-minggu tapi dipakai untuk tinggal berdua Baru beberapa hari saja sudah habis!" jawabku merendah, karena setelah melakukan eksekusi di rumah Haji Goni, aku berencana pindah dari kampung ini, mencari kehidupan di kampung lain, Kalau istriku mau aku akan mengajaknya. namun Kalau tidak aku bisa mencari istri lain.
"Iya namanya juga uang, mainan ular, cepat datang, cepat juga perginya!" Timpal pak RT.
"Hahahha. Pak RT bisa saja!" Ujarku yang merasa lucu, dengan omonganya karena apa hubungannya antara ular sama uang, ular adanya di lubang, sedangkan uang adanya di bank.
Melihat aku tertawa, para warga lainpun ikut-ikutan tertawa, karena merasa lucu dengan perkataan Pak RT. memang beliau lebih cocok menjadi pelawak, daripada menjadi pengurus kampung. karena mengatasi masalah sekecil ini saja, dia harus meminta bantuan orang luar.
"Oh iya, pak RT. mungkin besok saya tidak bisa ikut ngeronda, karena paginya harus pergi ke kota." Aku menjelaskan agar mereka tidak merasa curiga, ketika tidak hadir di tengah-tengah para warga.
"Oh begitu, emang mau berangkat jam berapa?" Tanya pak RT terlihat raut wajahnya yang penasaran.
"Paling, saya berangkat habis subuh Pak, biar bisa mencegat mobil, yang pertama berangkat. kalau berangkat agak siangan dikit, nanti saya tidak bisa berbelanja terlebih dahulu. untuk jualan Keesokan paginya." jawabku menjelaskan, karena warga Kampung sini, yang mereka ketahui, aku berjualan dikota.
"Kalau berangkat pagi, nyampe kota jam berapa?" Tanya Seorang warga yang tertarik dengan perjalanan hidupku.
__ADS_1
"Kalau berangkat habis subuh, nyampe sana paling zuhur. setelah duhur aku bisa pergi ke pasar terlebih dahulu, berbelanja kebutuhan untuk jualan Keesokan paginya. Biar malam bisa beristirahat terlebih dahulu, sebelum bekerja keesokan paginya." jawabku memberi pengertian.
"Sehari kalau jualan seperti itu, dapat keuntungan berapa jang?" selidiknya lagi.
"50 ribu sampai 100 ribu, bagaimana lancar-lancarnya saja, soalnya kalau jualan gak bisa ditebak."
Akhirnya aku dan para warga mengobrol ke sana kemari, tak ada kecurigaan seperti tadi pagi. Kami mengobrol tanpa ada judul yang dibahas, karena hanya untuk mengisi malam Agar tidak jenuh.
Malam ini pun aman terkendali, tidak ada kejadian-kejadian yang membuat mereka kesal. karena aku sebagai biang keladinya tidak beraksi.
Pukul 03.00. aku pun berpamitan pulang. berbarengan dengan para santri yang hendak kembali ke pondok. karena ketika kondisi aman terkendali seperti sekarang, mereka akan kembali lebih awal. Katanya biar bisa mengikuti pengajian sesudah sholat subuh.
Namun yang membuatku penasaran, Aku ingin tahu reaksi para santri yang sok itu, ketika besok malam, rumah orang terkaya di kampung ini, akan bernasib sama, seperti warga warga penakut lainya, yang kehilangan hartanya raib. berpindah tangan ke tanganku.
Setelah sampai rumah, aku pun segera mengetuk pintu, untuk membangunkan Istriku, yang berada di dalam. tak lama mengetuk-ngetuk, pintu rumahku terbuka, terlihat wanita cantik yang sudah berdiri, menyambutku dengan senyum manis di bibirnya.
*****
"Oh ya, Neng. besok Aa mau berangkat ke kota lagi, untuk mencari kehidupan buat menafkahimu." aku membuka pembicaraan, sambil mengambil sebatang rok0k dari bungkusannya.
"Kok buru-buru amat, kenapa mendadak seperti ini?" tanya Isma yang terlihat kaget, karena aku tiba-tiba hendak pergi ke kota lagi, padahal baru beberapa hari aku pulang.
"Nggak apa-apa! Neng. biar kita bisa nabung lagi" ucapku berbohong.
"Maafin aku ya! gara-gara neng. aa jadi harus bekerja keras lagi." Ujar istriku sambil menundukkan pandangan, tak berani menatap kearahku, mungkin dia masih merasa bersalah, setelah uang tabungannya habis, di maling oleh pocong jadi-jadian.
"Udah jangan dibahas terus, aku ikhlas kok! Asal bidadari Aa selamat." ujarku sambil menarik pergelangan tangannya agar mendekat.
"Terima kasih ya, A. Aku beruntung banget punya suami sebaik Aa." Ujar isma sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku pun mengelus lembut rambut panjangnya, lalu aku c1um ubun-ubunnya. tercium wangi sampo yang membuatku mabu kepayang.
__ADS_1
"Nanti aku ajak Neng untuk tinggal di kota, biar tahu bagaimana cara orang kota, bertahan hidup." tawarku mulai mengetes sejauh mana wanita yang ada di sampingku, untuk aku pertahankan.
"Serius, A. Emang nanti kerjaan Aa, nggak keganggu?" tanya Isma sambil melepaskan pelukanku, lalu menatap dengan Tatapan yang penuh arti, seolah matanya berbicara, bahwa dia tidak mau jauh hidup denganku.
"Benar, asal Neng mau saja!" jawabku dengan penuh cinta.
"Mau banget, A. kadang kalau kita jauh seperti ini, aku kangen terus. padahal kita menikah hampir sudah mau setahun, namun aku belum merasakan tinggal lama bersama." ujar isma.
"Ya nanti, kamu boleh tinggal di sana, biar kita bisa puas-puasan terus." jelasku memberi Harapan sambil mencubit hidung indahnya. karena memang benar, walaupun kami sudah lama menikah, isma tidak pernah lama tinggal sl denganku, karena aku terus melakukan pertunjukan sulap, di area trotoar mengais rezeki untuk menapkahinya.
"Bisa nggak, kalau Aa kerjanya jangan jauh-jauh, aku pengen selalu tingal selalu disampingmu. Biar aku bisa membantu sebisa mungkin." Rajuk isma memohon.
"Nanti ya, kalau sudah punya modal, kita buka toko grosir di sini, biar neng ada kegiantan untuk mengisi hari hari." Janjiku agar dia tidak merajuk terus.
Bukan apa-apa, aku menjanjikan seperti itu .karena aku sangat mencintai istriku, namun kalau dia tidak menerima pekerjaanku, Aku siap mencari penggantinya. Namun tak ada niat untuk menelantarkanya.
"Serius, A." tanya istriku sambil menatap nanar ke arahku, seolah dia tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
"Iya sayang!" ucapkan sambil mengecup keningnya.
Tak lama setelah itu, Isma pun mengajakku ke kamar. untuk melakukan kewajiban seorang istri terhadap suaminya. tak ada penolakan dariku, karena aku pun menginginkannya.
Setelah selesai melakukan pergulatan, aku pun duduk di tepi ranjang, sambil menatap tubuh istriku yang masih terkulai lemas.
"Mau kemana?" tanya Isma sambil menatap sayu ke arahku, Mungkin dia masih merasa lelah.
"Mau ke pos ronda dulu, takut para warga menunggu, soalnya aku belum izin sama mereka, kalau besok mau berangkat ke kota lagi." aku membuat alasan agar istriku tidak curiga, karena malam ini aku punya janji, utuk beraksi kembali.
"Jangan lama-lama! Ya, aa" Pinta istriku manja.
"Iya sayang!" ucapku sambil menc1umnya kembali.
__ADS_1
Aku segera mengenakan pakaianku, untuk segera pergi menumui rekan bisnis yang mungkin sudah menungguku.