
Pov agus
Akhirnya Kami berempat menuju ke rumah Pak Firman, untuk mengecek keadaan rumahnya. siapa tahu saja kita bisa mempelajari apa yang terjadi di sana. meninggalkan bapak Kang Arif yang masih tertidur.
Sesampainya di rumah Pak Firman, kami pun disambut dengan baik, meski dengan keadaan seadanya, karena beliau masih trauma, masih mengingat kejadian tadi malam yang menimpa keluarganya.
"Bapak sudah mengecek, semua akses yang bisa masuk ke rumah?" Tanyaku mulai membahas inti permasalahan.
"Belum, jangankan untuk mengecek. tadi saja ke majelis taklim, rasanya sangat lemas, kalau tidak memaksakan!" jawab Pak Firman yang terlihat lesu.
"Boleh saya mengecek rumah bapak?" aku mau minta izin terlebih dahulu, sebelum melaksanakan apa yang akan kuperbuat.
"Boleh, silakan!" ujar Pak Firman.
Aku Bangkit dari tempat dudukku, diikuti dengan Kang Arif dan Kang Andi, sedangkan Pak RT Menemani pak Firman mengobrol.
Biar pekerjaan cepat selesai, aku membagi tugas dengan kedua sahabatku, Kang Arif mengecek isi sebelah kanan, sedangkan Kang Andi di sebelah kiri. aku mengecek bagian depan rumah Pak Firman.
Kami bertiga mengecek setiap inci dari rumah Pak Firman, mencari bukti, bahwa yang melakukan kejahatan itu adalah manusia.
"Kang! kang!" teriak Kang Arif yang berada di sisi kanan rumah Pak Firman.
Aku dan Kang Andi yang berada di sebelah kiri, dengan segera menghampiri Kang Arif, yang berteriak. bahkan Pak RT dan Pak Firman pun keluar dari rumah, untuk melihat ada apa, sampai Kang Arif berteriak.
"Ada apa, Rif?" Tanyaku yang sudah berada di sampingnya.
Kang Arif tidak menjawab Dia hanya menunjuk ke arah jendela, yang terlihat ada bocel bekas cokkelan benda tajam, mungkin untuk memaksa membuka jendela itu.
Dengan penasaran aku pun menarik jendela itu, untuk mengecek Apakah bisa terbuka atau tidak.
"Kok bisa terbuka?" tanya Pak Firman yang terlihat sangat heran.
"Berarti pocong jadi-jadian itu tidak menghilang, dia masuk lewat sini, mungkin karena para warga yang sudah lebih berhati-hati, ketika mereka mau tidur. sehingga geng pocong jadi-jadian itu, nekat masuk ke rumah bapak, dengan cara mencongkel jendela." aku menjelaskan penemuanku.
"Kurang ajar, Kalau tahu itu manusia, saya nggak akan takut!" jelas Pak Firman sambil mengeratkan gigi, merasa geram dengan perbuatan pocong jadi-jadian.
"Maafkan saya, kang Firman. saya tidak bisa menjaga ketentraman para warga saya." Ucap pak RT yang merasa pilu, melihat musibah yang menimpa warganya.
"Ini bukan salah Pak RT, ini murni keteledoran saya, yang tidak bisa menguasai diri, sehingga saya merasa takut, Dan Panik." jelas Pak Firman tidak mau menyalahkan orang lain.
"Terima kasih Kang, atas pengertiannya!" jelas Pak RT dengan suara pelan.
__ADS_1
"Iya, tapi semoga saja, ini kejadian yang terakhir yang menimpa keluarga saya, tak ada warga warga lain yang kecolongan seperti saya!" Ucap pak Firman.
"Amiiiiiiin!" jawab Kami serentak.
"Sekarang kita ke mana lagi, Jang?" Pak RT menanyakan kelanjutan dari Rencanaku.
"Sekarang kita pulang, untuk mempersiapkan strategi penangkapan pocong itu." jawabku.
"Ya sudah, mungkin segitu saja kang Firman, semoga keluarga akang diberikan kesabaran, kemudahan. dan harta yang hilang, diganti oleh Allah, dengan harta yang berlipat ganda." tegas Pak RT mendoakan keluarga Pak Firman.
Setelah semuanya selesai. Kami berempat berpamitan, dan berjanji nanti ketika ada perkembangan baru, kita akan memberitahukan Pak Firman, dan sesegera mungkin, menangkap biang keladinya.
Di perjalanan pulang, aku mengajak mereka, ke tempat, di mana kita dicegat pocong, Ketika pulang dari rumah Kang Bayu.
"Mau ngapain ke sini, Jang?" tanya Pak RT yang menatap heran ke arahku, ketika sampai di tempat kejadian perkara.
"Mencari bukti lainnya, Pak RT!" jawabku sambil memperhatikan pohon, di mana pocong itu menghilang.
Pak RT hanya manggut-manggut, meski beliau tidak mengerti apa yang aku maksud.
"Ayo, naik!" ajakku sama Kang Andi untuk memanjat pohon besar itu.
Kang Andi pun hanya mengangguk tanpa memberikan jawaban. dia mengikutiku, menaiki pohon yang tinggi menjulang.
"Ini, apa kang?" tanya Kang Andi sambil menunjukkan katrol yang biasa dipakai mengerek air sumur.
"Pantas saja, terbangnya terlihat seperti nyata, karena tambang yang ditarik, akan sangat mudah, ketika memakai katrol seperti ini." jelasku.
"Maksudnya, Kang?" tanya Kang Andi yang belum paham.
"Kamu ingat kan, pocong itu terbang ke sini, dan ternyata dia tidak terbang, dia hanya ditarik menggunakan tambang melewati katrol, dan mungkin mereka lupa, sehingga tidak melepasnya." aku menjelaskan penemuanku.
Kang Andi pun hanya manggut-manggut, Mungkin dia sedikit paham dengan apa yang aku maksud.
Setelah semuanya dicek dengan teliti, kita berdua pun turun dari pohon besar itu. lalu menjelaskan penemuan kita ke Pak RT dan kang Arif. sehingga membuat keduanya berdecak merasa kagum, dengan kecerdikan orang yang menyamar sebagai pocong jadi-jadian.
Setelah selesai, kita berempat menuju ke rumah Haji goni, untuk melihat keadaan di sana, mempelajari situasi dan kondisi tempat yang akan dijadikan target selanjutnya, oleh pocong jadi-jadian.
Setelah puas melihat keadaan sekitar rumah Haji goni. aku mengajak mereka bertiga untuk mencari tahu Saung Pak Ibrahim, karena menurut pengakuan orang yang mengobrol di pekuburan, mereka akan menempati basecamp baru, untuk dijadikan tempat persembunyian mereka.
Sesampainya di Saung Pak Ibrahim, kami tidak menemukan sesuatu, yang bisa membuat kami curiga. terlihat Saung itu, seperti sudah lama, tidak terjamah oleh manusia. mengingat Saung itu bukan Saung sawah, yang sering dikunjungi. ini adalah Saung kebun pohon jeng jeng, tanaman yang tidak membutuhkan perawatan ekstra, sehingga orang yang punya perkebunan, tidak selalu sering mengunjungi, Untuk mengecek tanamannya.
__ADS_1
Setelah selesai mengecek Saung Pak Ibrahim, dan tidak menemukan apa-apa. Aku curiga dengan Saung Pak Haji goni, dan mengajak ketiga orang yang menemaniku untuk berjalan menuju Saung Pak Haji goni, namun sama seperti Saung Pak Ibrahim. di situ juga tidak ada tanda-tanda yang membuat kami curiga, membuatku mengerinyitkan dahi, merasa bingung dengan apa yang harus kuperbuat, untuk mencari kebenaran Kang Bayu.
"Gimana, Jang?" tanya Pak RT yang menatap ke arahku dengan penasaran.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, bingung harus menjelaskan apa. karena aku tidak menemukan apapun, sehingga pikiranku merasa buntu.
"Ya sudah, kalau begitu. kita pulang saja terlebih dahulu, sambil memikirkan bagaimana langkah kita selanjutnya!" jelas Pak RT dengan bijaksana.
Aku pun mengangguk, tanda setuju. akhirnya Kami berempat pulang menuju area perkampungan, dengan membawa hati yang kecewa, karena tidak bisa menemukan barang bukti lainnya.
Pukul 11.00. akhirnya kita tiba di rumah Kang Arif, Pak RT tidak langsung pulang, karena penasaran ingin tahu, bagaimana dengan keadaan Bapak Kang Arif, yang ketika kami tinggal masih tertidur.
Ibu kang Arif yang sudah menunggu, dengan cepat membukakan pintu, setelah anaknya mengucapkan salam. terlihat raut kebahagiaan yang terlintas di wajahnya, seperti orang yang menunggu suaminya atau anaknya, yang pulang dari medan pertempuran.
"Kang nanang, ke mana, Bu?" tanya pak RT yang tidak melihat keberadaan Bapak Kang Arif.
"Ke air dulu, Pak. katanya mau mandi biar segar, soalnya tadi susah banget untuk dibangunkan." jelas ibu kang Arif.
"Tapi, Tidak apa-apa kan, Bu?" selidik Pak RT, mungkin merasa khawatir ada sesuatu yang terjadi kepada bapak Kang Arif.
"Alhamdulillah, tidak Pak, namun ya itu, bangunnya. susah banget!" jelas ibu kang Arif
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu!" ucap pak RT. kemudian mengambil gelas dan mengisinya dengan air. matahari yang terik, sehingga membuat tenggorokan kami merasa kering.
"Rif, Ayo bantu ibu!" ajak ibu kang Arif, sambil bangun dari tempat duduknya , lalu menuju ke dapur diikuti anaknya. tak lama mereka berdua pun kembali, dengan membawa sebakul nasi, dengan ayam goreng, ditambah sambal tomat yang begitu menggoda.
"Ayo makan dulu, tapi seadanya!" tawar ibu kang Arif.
"Nanti, bareng Kang Nanang saja, Bu." ujar Pak RT.
"Bentar saya panggilkan dulu, di WC kok lama banget?" Ujar ibu kang Arif sambil bangkit kembali, lalu menuju ke arah kamar mandi yang berada di sebelah rumahnya.
"Bapaaaaaakk!" terdengar suara teriakan dari arah samping, sehingga membuat Kami berempat langsung berlari menuju ke arah datangnya suara.
"Ada apa, Bu?" tanya Pak RT yang merasa panik.
Ibu kang Arif tidak menjawab, Dia hanya menunjuk ke arah dalam toilet itu, dengan cepat aku pun masuk ke dalam, terdengar dengkuran yang sangat keras, keluar dari mulut Bapak Kang Arif. dengan keadaan terduduk di lantai kamar mandi, tubuhnya masih dipenuhi dengan busa sabun.
Kang Arif mengambil handuk, lalu menutupi tubuh Bapaknya, yang tak tertutup sehelai benang pun.
Setelah tubuhnya ditutup, aku pun mulai membangunkannya. dengan perlahan namun pasti, Bapak Kang Arif pun membuka mata, lalu tersenyum seolah ada yang lucu.
__ADS_1
"Mantap obat tidurnya! sampai-sampai saya bisa tertidur di kamar mandi, dengan keadaan seperti ini." ujar Bapak Kang Arif sambil mengacungkan jempol tangannya, membuat kami semua yang berada di situ menggeleng-gelengkan kepala.