JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 7 ADA APA DENGAN NAWIR


__ADS_3

Pov dalari


"Oh iya ke mana ya dia" Aku juga merasa bingung karena dari tadi sibuk dengan pekerjaan dan intrik-intrik sehingga tidak memperhatikan keberadaan tentang Nawir.


"Mungkin dia sudah masuk kelas" ujar Nasrul.


"Ya udah ayo buruan kita ke kelas" ajak Heru sambil percepat langkahnya.


"Nggak ada" ucap Heru setelah yakin tidak melihat Nawir di dalam kelas.


"Mungkin belum datang, Ayo kita duduk saja sambil menunggunya" ajakku pada kedua sahabatku.


Kita menunggu sampai akhirnya bel tanda dimulai pelajaran pun berbunyi, namun Nawir tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya, sehingga membuat kita khawatir.


"Kenapa dia nggak masuk ya, apa jangan-jangan Nawir sakit" tanya Heru yang tidak bisa kita jawab, karena kita  juga tidak tahu apa yang terjadi sama Nawir, sehingga dia tidak masuk sekolah.


"Coba nanti kita tanya, sama teman yang rumahnya berdekatan sama Nawir" saranku sambil menatap ke arah mereka berdua.


"Tapi kenapa ya, firasatku merasa nggak enak" Heru terlihat sangat khawatir, Entah mengapa mungkin karena beberapa hari ini selalu bersama, maka ketika tidak bersama sangat terasa perbedaannya, terasa ada yang kurang.


"Kamu jangan gitu ru, itu membuat kita takut aja" sanggah Nasrul" sambil menatap ke arah Heru seolah tidak suka apa yang dikatakannya.


"Beneran loh, hatiku tidak enak" ujar Heru meyakinkan pendapatnya.


"Ya sudah, nanti kita tanya sama temannya, kalian ada yang tahu nggak, siapa temen yang dekat rumahnya" Tanyaku menghentikan perdebatan mereka.


"Iya nanti kita tanya sama Fitri ,kata Nawir rumahnya tidak jauh dari dia, hanya terhalang tiga rumah" ujar Nasrul yang membuat mataku dan mata Heru saling bertautan seolah kami memiliki prasangka yang sama.


Bagaimana tidak, kok bisa Nasrul mengetahui rumah Fitri berdekatan sama Nawir, kalau Nasrul tidak menyelidikinya, itu yang ada di benak kita berdua.


"Sudahlah jangan menatapku seperti itu" Ketus Nasrul yang rasa tidak enak dengan tatapan selidik kita.


"Wah, wah, kayaknya kita ketinggalan jauh nih sama teman kita" ujar Heru sambil menyungingkan senyum kearah Nasrul.


"Ya Mas Rul semakin di depan" ucapku sambil di iringi gelak tawa kita berdua membuat Nasrul menekuk mukanya dengan sempurna.


"Ya sudah Buruan tanya sana" perintah Heru setelah menghentikan tawanya.


Nasrul hanya diam Mungkin dia masih kesal dengan ledekan-ledekan teman-temannya, sehingga dia tetap cuek dengan apa yang diperintahkan.


"Kenapa diam, Apa mau aku atau Dalari yang bertanya sama Fitri, tapi kamu jangan nyesel ya" ancam Heru sambil terus menutup mulutnya menahan tawa.

__ADS_1


"Iya Rul, mumpung guru pembimbing belum masuk, atau aku aja yang bertanya sama dia" kompor mulai kunyalakan sehingga membuat Nasrul mendelik kesal ke arah kita.


Dengan malas Nasrul bangkit dari tempat duduknya, lalu ia mendekati tempat duduk yang berdekatan dengan tempat duduknya Fitri, sebelum berbicara dia menoleh ke arah kita berdua seolah meminta dukungan dan doa, kita berdua mengangkat kedua jempol, seolah mengerti apa yang dia maksud, bahkan Heru mengepalkan telapak tangannya seolah lagi menyemangati seorang pejuang.


Meski Nasrul awalnya malu-malu, namun akhirnya terlihat mereka mengobrol, walau tidak saling tatap muka karena Fitri duduk di di bangku depan Nasrul.


"Lama banget, Padahal cuma nanya keadaan Nawir doang" gerutu Heru yang masih menatap ke arah Nasrul.


"Mungkin dia ngobrol pakai mukadimah dulu, seperti orang yang mau ceramah, jadi agak lama" ucapku asal.


"Bisa jadi" Heru membenarkan pendapatku sambil tersenyum.


Lama menunggu akhirnya Nasrul Kembali ke tempat duduknya, itu pun karena acara sudah dimulai, terlihat wajahnya yang sumringah seolah menggambarkan hatinya yang berbunga-bunga, berbada pas sebelum mengobrol.


"Lama amat" introgasi Heru dengan suara pelan setelah Nasrul duduk di sampingnya.


"Wah gawat, katanya Nawir kecelakaan, dia jatuh dari pohon" ucap Nasrul menjelaskan informasi yang ia dapat dari Fitri sambil melirik ke arah Heru yang duduk di sampingnya.


"Kenapa kamu senyum, Harusnya kamu empati dong mendengar teman kecelakaan" tanya Heru menyelidiki dengan tatapan sinis.


"Eeeeee emmmmm eeeeeee" Nasrul gelagapan nggak bisa menjawab pertanyaan heru.


Nasrul dan Heru pun terdiam seketika, lalu memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru Pramuka, yang berdiri di depan mengisi acara penerimaan siswa baru, Beliau memperkenalkan namanya "Anang"


Beliau menjelaskan bahwa besok akan diadakan Porsemi, perkemahan Sabtu Minggu, sebagai acara Puncak penerimaan siswa baru, jadi semua siswa harus berkoordinasi dengan teman-temannya, apa yang harus disiapkan, ketika seseorang mau melaksanakan perkemahan, membuat para siswa riuh saling bertanya sama siswa lain.


"Aduh mana aku nggak punya apa-apa, kan tinggal di pondok"  ungkapku khawatir.


"Tenang nanti kalau kamu disuruh bawa bawa, biar nanti aku yang menyiapkan"  jawab Nasrul menenangkanku.


"Wow, terima kasih banyak" ujarku sambil membalikan punggung Nasrul untuk memperhatikannya.


"Apa-apaan kamu, geli tahu" gerutu Nasrul.


"Nggak, aku cuma mau lihat, siapa tahu aja di punggungmu ada bekas patahan sayap" ujarku sambil tersenyum.


"Lebay" Ketus Nasrul.


"Terus bagaimana dengan keadaan teman kita" tanya Heru mengalihkan pembicaraan sehingga membuat kita terdiam sesaat, seoalah tertampar dengan perkataan heru, karena mengabaikan teman yang sedang kena musibah.


"Emang jatuh kenapa" Tanyaku menyelidiki dengan serius menatap ke arah Nasrul.

__ADS_1


"Katanya Kemarin pas pulang sekolah, dia memanjat pohon jambu, sehingga dia terjatuh, tapi tidak ada yang mengetahui jatuhnya seperti apa, namun kata Fitri lebamnya yang ada ditubuhnya, tidak seperti orang yang habis terjatuh, lebih mirip seperti orang yang habis dipukuli" jelas Nasrul, menjelaskan apa yang ia dapat dari hasil introgasinya.


"Wah kok gitu, apa jangan-jangan" aku menghentikan kan perkataanku sambil menutup mulut.


"Jangan-jangan apa, kalau ngomong jangan setengah setengah kalau berbicara" tanya Heru penasaran.


"Kemarin pas pulang sekolah, aku melewati Jalan Setapak supaya wajahku, tidak terlalu terpapar sinar ultraviolet, jadi aku memilih jalan itu, daripada melewati jalan gang besar. Namun aku tidak jadi, karena aku dicegat oleh tiga orang, Arfan, Epul dan Azis. ketiga orang itu menghalangi jalanku, bahkan Epul sempat memukul keningku, namun aku balas dengan menendang perutnya, sebelum aku berlari kabur dari mereka" aku menceritakan kejadian kemarin kepada kedua sahabatku.


"Selalu saja mereka biang keladinya, Lain kali kita buat perhitungan" geram Heru.


"Tapi kita jangan berprasangka buruk dulu, siapa tahu saja Nawir emang betulan jatuh dari pohon" ujarku menepis prasangka buruk terhadap geng OSIS.


"Kalau mendengar cerita kamu dan penjelasan Fitri. Aku yakin ada yang tidak beres" ujar Heru sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke meja.


"Aku sependapat sama kamu ru" ujar Nasrul.


"Udah jangan berprasangka buruk dulu, sebelum kita mengetahui kebenarannya seperti apa, Lagian mereka sudah berjanji tidak akan mengganggu kita lagi, kalau mereka mengganggu, kita bisa laporkan ke Pak Candra, mending kita jenguk saja sehabis pulang sekolah, kebetulan kan Hari ini hari Jumat, jadi aku tidak ada jadwal pengajian di pondok Setelah dzuhur" aku memberikan pendapatku kepada mereka.


"Ide bagus tuh, gimana mau gak ru, sebelum pulang kita jenguk Nawir dulu" tanya Nasrul menatap ke arah Heru.


"Kalian jangan nanya seperti itu, seolah aku ini tidak punya empati sama teman" gerutu Heru dengan kesal.


"Ya sudah nanti sepulang sekolah kita berangkat bareng kerumah Nawir" ucap Nasrul.


"Bentar, bentar, kayaknya ada yang aneh nih" ucap Heru yang merubah wajahnya dari muka masam ke mode senyum, sambil menatap heru.


"Iya kenapa kamu semangat banget jenguk Nawir" timpalku membenarkan perkataan Heru.


"Ya Karena Nawir sahabat kita, lagian walaupun baru sehari aku tidak bertemu, aku kangen sama dia" Bela Nasrul seolah tahu apa yang kita maksud.


Jawaban Nasrul membuat mataku dan mata Heru bertautan, seolah tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Nasrul, mungkin inilah perumpamaan peribahasa satu kali dayung dua tiga pulau terlampaui.


Akhirnya kita fokus kembali ke depan, setelah seseorang menenangkan para siswa agar tidak terus berisik, sehingga apa yang mau mereka sampaikan bisa terdengar jelas oleh para siswa.


Pak Anang menjelaskan kembali, apa saja yang harus dipersiapkan ketika kita mau berkemah, mulai dari tenda, perlengkapan kebersihan, peralatan masak dan benda-benda lainnya, yang berhubungan dengan perkemahan.


Setelah selesai pembagian tugas, apa aja yang harus dibawa, pertemuan sama pak Anang pun selesai, seperti biasa acara dilanjutkan dengan game, yang di isi oleh Arfan dan koleganya, dia sekarang sangat ramah, tidak seperti beberapa hari ke belakang, senyuman nampak di wajahnya ketika melihat ke arah Kita, menegaskan bahwa pertikaian kami benar-benar sudah berakhir.


Pukul 10.00 tepat, acara itu selesai dan kami pun diperbolehkan untuk pulang,sesuai rencana aku dan kedua sahabatku, untuk pulang bareng menjengku Nawir, kita berjalan bersama para siswa lainnya, yang searah menuju ke arah rumahnya Nawir.


Ini sangat seru karena ini pengalaman pertamaku, pulang sekolah bareng sama siswa-siswa lainnya,Biasanya aku pulang sendiri, karena para santri tidak ada yang sekolah, dulu hanya ada Bang Fahmi sekarang hanya aku yang mondok sambil sekolah.

__ADS_1


__ADS_2