
Pov dalari
Setelah aku menginjakkan kaki di lantai papan, yang terbuat dari kayu. semua mata tertuju ke arah kita, menatap dengan Tatapan yang penasaran, tidak mengerti sebenarnya apa, yang sedang dilakukan oleh Kang Agus.
"Ini sebenarnya ada apa Jang?" tanya Pak RT, yang menatap heran ke arah kang Agus.
"Maaf Pak RT, saya lancang berbuat seperti ini, namun perlu kita ketahui. bahwa dengan jendela yang bisa terbuka seperti itu, kita bisa simpulkan, bahwa pocong itu masuk ke dalam rumah, melewati jendela." ujar Kang Agus menjelaskan.
"Loh, kok bisa?" tanya Seorang warga, seolah tidak percaya dengan apa yang baru disampaikan.
"Bisa! buktinya teman Saya, bisa masuk kerumah, lewat jendela." jawab Kang Agus, menunjukkan bukti.
"Maksudnya, bagaimana sebenarnya, Jang. Jangan membuat orang tua semakin bingung" tanya Pak RT.
"Jadi begini maksudnya. pocong itu masuk ke dalam rumah, lewat jendela. terus dia mengambil harta kekayaan teh Isma. Saya rasa yang melakukan ini manusia biasa, bukan orang yang melakukan pesugihan. dari awal saya sudah merasa sangat janggal, Kok bisa pocong mematikan lampu. Bukankah tangan pocong itu diikat." kang Agus memperjelas pernyataannya.
"Tapi kemarin, pas pocong itu mencuri uang saya. pocong itu masuk rumah saya, lewat papan lantai yang bolong. awalnya yang keluar asap tipis, namun lama-kelamaan asap itu berubah menjadi tebal, setelah asap itu mulai menghilang, baru terlihat sosok pocong itu muncul, menakuti kami sekeluarga. sehingga kami tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa berlari ke kamar, menyelamatkan diri dari gangguan pocong itu." jelas Seorang warga yang menyanggah pendapat kang Agus
"Wallahualam, namun yang terjadi di sini, seperti itu adanya, Pak." Balas Kang Agus.
"Terus kalau benar pocong itu masuk lewat jendela, bagaimana pocong itu, bisa membuka kunci slotnya?" tanya Seorang warga, yang masih merasa penasaran.
Kang Agus pun tidak menjawab, namun dia mengambil senter yang ada di tanganku, terus memperhatikan jendela dengan teliti, diterangi oleh cahaya senter, agar bisa lebih jelas memperhatikannya. setelah memperhatikan dengan teliti, terlihat Kang Agus termenung, seolah memikirkan sesuatu.
Karena setelah diperhatikan, jendela itu, tidak ada tanda tanda yang bisa dijadikan bukti, jendela itu terlihat mulus, tanpa ada sedikitpun goresan, menandakan jendela itu tidak terbuka dengan cara dipaksa.
"Bagaimana Jang?" tanya pak RT, seolah tidak sabar ingin segera mendapat penjelasan.
"Untuk saat ini, saya belum bisa menjelaskan. Bagaimana pocong itu bisa membuka kunci jendela, namun saya yakin pocong itu masuk ke rumah Teh Isma, melewati jendela ini. jawab Kang Agus, sambil menghela nafas dalam., Melepaskan beban masalah yang sedang ia hadapi.
__ADS_1
"Makanya jangan sok, tahu! kami aja yang sudah tua, bingung memecahkan masalah ini, apalagi kamu yang masih bocah ingusan, dan belum punya pengalaman sama sekali." ujar seorang warga yang meremehkan kemampuan Kang Agus, terlihat bibirnya yang memberikan senyum miring.
Melihat dirinya disudutkan, Kang Agus hanya menundukkan kepala, menanggapi masalah yang sangat rumit ini. perlahan Dia mendekatkan tempat duduknya, kedekat tempat duduk teh Isma. yang terlihat masih syok Atas kejadian yang menimpanya.
"Maaf teh, Apakah tadi malam, sebelum tidur. Teteh mengecek terlebih dahulu, semua kunci yang ada di rumah ini" tanya Kang Agus, sambil menatap teh Isma, seolah meminta pertolongan.
"Dicek, A. namun jendela yang barusan, saya tidak mengeceknya. karena jendela itu tidak pernah saya buka, sama sekali. biasanya saya hanya membuka jendela kamar dan jendela ruang tamu" jawab teh Isma, menjelaskan.
Mendengar penuturan teh Isma, Kang Agus kembali termenung, seperti lagi mencari jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya.
"Coba! mohon bantuannya, kepada para warga yang sudah pernah merasa kehilangan, atau pernah diganggu oleh makhluk jadi-jadian itu. tolong, cek kembali rumahnya! Siapa tahu saja, masih ada bukti bukti yang masih tertinggal di sana." Jelas kang Agus, setelah berpikir agak lama.
Para warga hanya saling menatap sama keluarganya, saling bertanya, dengan orang-orang yang pernah didatangi pocong jadi-jadian itu, menanyakan apa kejadiannya sama, seperti kejadian sekarang.
"Halah! orang ngebual aja, dipercaya!" seloroh Seorang warga, yang mengangap bahwa ucapan Kang Agus itu hanya mengada-ngada.
"Pasti dia mengada-ngada, pak RT. namanya juga anak kecil, imajinasinya sangat tinggi." pria itu masih tetap menyangga.
"Kalau kamu merasa bisa, tolong bantulah kami, dengan ide-idemu, sehingga semua warga bisa cepat keluar, dari masalah ini. jangan hanya menyanggah pendapat orang lain, tanpa bisa memberikan solusi yang tepat" ujar Pak RT, dengan nada keras.
Membuat pria itu, terdiam seketika. merasa takut, ketika Melihat pak RT yang nampak begitu marah.
"Kita udah sebulan lebih menghadapi masalah ini, jadi tidak ada salahnya. kita mengikuti saran yang diberikan oleh Jang Agus, Walaupun dia masih anak anak, tapi ilmunya kita tidak usah meragukan lagi. sekarang siapa saja yang merasa pernah didatangi pocong? tolong pulang ke rumahnya masing-masing! cek kembali apakah ada kejanggalan di sana!" tutur Pak RT, memberikan saran terhadap warganya.
Akhirnya para warga yang pernah merasa didatangi pocong jadi-jadian itu, mereka pergi meninggalkan rumah Teh Isma, untuk mengecek kembali keadaan rumahnya.
Setelah lama menunggu, akhirnya satu persatu dari warga itu, kembali berdatangan. mereka menjelaskan bahwa yang mereka alami, sama persis seperti kejadian yang dialami oleh teh Isma. dirumah mereka ada akses masuk kerumahnya, tanpa mereka sadari, sebelumnya.
"Nah, bener kan! Dengan apa yang dikatakan, oleh jang Agus, ternyata pocong itu bisa masuk lewat celeh celah yang tidak kita sadari. Oh iya jang terus kesimpulannya bagaimana? tanya Pak RT, setelah mendengar satu persatu penjelasan dari warga.
__ADS_1
"Menurut hemat saya, yang harus kita lakukan ke depannya, adalah mencari orang yang bisa memberikan akses, sehingga pocong itu bisa masuk ke rumah. Saya tidak menuduh seseorang, namun saya yakin ada orang dalam, yang terlibat." ujar Kang Agus, membuat Pak RT dan para warga yang sudah mulai bersimpati terhadapnya, manggut-manggut. tanda mereka mengerti apa yang disampaikan olehnya.
"Jadi menurut Jang Agus, pocong itu bukan pocong jadi-jadian, melainkan orang yang menakut-nakuti warga, terus mencuri harta orang yang berhasil dia takuti" tanya Pak RT, meminta pendapat terhadap Kang Agus.
"Wallahualam, Pak. Untuk saat ini, saya belum bisa memastikan. seperti yang di tanyakan oleh Bapak. namun untuk sekarang, Saya berharap semua warga, lebih berhati-hati. sebelum tidur tolong cek dulu semua kunci yang ada di rumah, dan simpanlah harta kekayaannya di tempat yang dirahasiakan, tidak boleh ada yang tahu, di mana harta itu disimpan!" Jelas kang Agus, memberi peringatan sama seluruh warga.
"Loh, kenapa bisa seperti itu, kang?" tanya Seorang warga yang mulai antusias.
"Tadi sore Kang Arif bercerita, bahwa orang-orang yang menyimpan uang di dalam Alquran, itu terbebas dari gangguan pocong. namun kenyataannya sekarang Teh Isma, kehilangan uang itu di dalam Alquran. Jadi intinya pocong itu bisa tahu, di mana kebiasaan warga Kampung ini menyimpan uang. Sehingga mereka mudah mencarinya. dan saya mohon, untuk seluruh warga. Supaya ini menjadi peringatan. tidak boleh menyimpan benda apapun, di dalam Alquran, walaupun benda iitu suci. kecuali memang benda-benda Yang diperlukan, seperti menyimpan lipatan kertas, untuk tanda bacaan kita sampai mana. itu tidak apa-apa. namun ketika benda itu tidak ada manfaatnya sama sekali, Jangan disimpan di dalamnya. Alquran itu harus bersih dari benda-benda seperti itu, karena itu adalah salah satu cara untuk memuliakan Alquran!" Jelas kang Agus panjang kali lebar, Mengakhiri pembicaraannya.
Setelah mendengar penjelasan Kang Agus, para warga pun kembali riuh. membahas kejadian-kejadian yang menimpa terhadap Kampung mereka. aku dan kedua kakak kelasku di pondok. Akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan rumah Teh Isma, berencana kembali ke rumah Kang Arif.
Namun Pak RT menolaknya, beliau memaksa Kami bertiga, untuk menginap di rumahnya. Walau dengan terpaksa, kami pun menyetujui saran Pak RT. apalagi kalau mengingat dengan keadaan yang sudah larut malam, rasanya tidak enak saja, jika harus mengganggu keluarga Kang Arif, yang mungkin sudah tertidur lelap.
Setelah berpamitan kepada para warga, Kami berempat pergi meninggalkan rumah Teh Isma. berjalan di jalan besar. yang hanya diterangi oleh senter kecil, yang terpancar dari korek Kang Agus dan Kang Andi. karena senter Pak RT tertinggal di rumah Kang Arif, ketika menenangkan warga, yang hendak pergi ke rumah Pak Ujang.
Diperjalanan. Kami berempat terus mengobrol, membahas kembali, tentang kejadian-kejadian yang baru saja kami alami. namun langkah kami tiba-tiba terhenti, setelah mencium aroma bangkai yang sangat menyengat, menusuk ke rongga hidung. bahkan Kang Andi, sampai terbatuk-batuk mau muntah, tidak kuat mencium bau itu.
Kami berempat hanya saling menatap, menanggapi keanehan itu. Dan melanjutkan kembali perjalanan, tidak memperdulikan lagi, keanehan yang baru saja terjadi.
Baru beberapa langkah kami berjalan, sekarang tercium kembali aroma yang sangat asing di indra penciuman kami. Aroma bunga yang suka berada di atas pekuburan pekuburan.
"Ini, Ada apa, Jang?, tanya pak RT yang terlihat panik.
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala, tanda ia juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Belum Hilang Rasa kaget yang menimpa kami, tiba-tiba di tengah jalan, Keluarlah asap tipis, yang mengepul dari tengah-tengah jalan semakin lama asap itu semakin tebal, membumbung ke atas. Kami berempat tidak ada yang berbicara, menatap fokus ke arah kepulan asap itu. namun asap itu lambat laun menghilang kembali, meninggalkan sosok putih yang berdiri, menghadap ke arah Kami berempat.
"Pocooooong" teriak Pak RT, sambil menunjuk arah bayangan putih itu.
__ADS_1