JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 33 DIKUBURAN


__ADS_3

Pov dalari


Semakin lama, keadaan pun semakin gelap. sehingga mata kami tidak bisa menangkap keberadaan teman-teman yang ada di samping, kami dengan sabar terus menunggu, dengan perasaan masing-masing.


Adzan Isya sayup-sayup terdengar, dari arah kampung rumah warga. menandakan waktu Isya sudah masuk, namun di kuburan ini, belum ada perubahan, belum ada tanda-tanda yang membuat kami curiga.


Kami tetap menunggu meski keadaan sudah lewat waktu isya. dan kami mulai merasa bahwa kejadian kemarin itu, adalah kejadian beneran. kejadian di mana kita bertemu dengan hantu yang asli, bukan hantu jadi-jadian.


"Belum ada tanda-tanda?" bisik Kang Andi, sambil meregangkan otot-ototnya yang sudah kaku, karena kelamaan terduduk.


"Sabar aja, nanti kalau sampai tengah malam belum ada tanda-tanda, kita baru pulang!"  jawab Kak Agus sambil berbisik juga.


Tepat pukul 22.00. akhirnya mata kami menangkap  ada seberkas sinar yang memancarkan cahaya, menerangi area pekeburan, yang hanya terlihat batu nisanya. Cahaya yang berasal dari pintu gerbang pekuburan, mata kami tidak berkedip, sama sekali. Takut kehilangan momen mendebarkan itu. terus menatap arah sinar yang semakin lama, semakin mendekati Saung, yang ada di hadapan kami.


Aroma bau bangkai, dan kembang kamboja pun, tercium memenuhi rongga hidung kami. seolah menyambut makhluk astral yang baru datang  membuat bulu Kudukku berdiri. Kami hanya bisa saling menatap, di tengah-tengah kegelapan, yang tak terlihat apa-apa. Hanya cengkraman tangan, yang saling mengemgam seolah saling menguatkan, agar tidak panik, dan siap menerima kemunginan apapun, meski kemungkinan itu adalah hal yang terburuk menimpa kami.


Sstelah sinar itu masuk. Di dalam Saung tak ada pergerakan sama sekali, hanya tercium bau rok0k, yang sedang dibakar. Mata kami terus mengawasi area saung, yang hanya kelihatan atapnya saja, itu pun tidak jelas. hanya siluernya yang bisa kami pandangi.


Tak lama berselang lalu, Muncul kembali seberkas sinar, dari arah pintu gerbang pemakaman, dan menuju Saung yang sedang kami intip, dimana sudah ada seseorang disitu.


"Sudah lama menunggu?" tanya seseorang yang kayanya baru datang.


Suara itu terdengar jelas, karena keadaan malam yang sudah sunyi. bahkan suara seweliwir anginpun, bisa kita tangkap denan jelas.


"Baru saja nyampe, A." jawab suara seseorang, yang terdengar pita suaranya belum pecah.


"Syukurlah kalau begitu, Kamu ke sini tidak ada yang mengawasi?" tanyanya lagi, menunjukan orang yang sangat hati hati.


"Tenang, aman A. Oh iya, malam ini kita mau mentas di mana?" Remaja itu balik bertanya.


"Kayaknya, sekarang kita sudah tidak aman, untuk pentas dikampung ini. mungkin kita harus pindah ke kampung lain,  agar ruang gerak kita, tidak dipantau. Dan mereka belum memyadari kehadiran kita. tapi sebelum pindah Kita harus melakukan pentas yang besar, terlebih dahulu. sehingga mereka sebagai penonton, kita tidak kecewa. Dan memberi kesan yang baik saat perpisaahan."

__ADS_1


"Pentas puncaknya di mana, A?"


"Di rumah Haji goni, pasti hartanya sangat banyak, sehingga sebelum kita mencari lapak baru, kita bisa libur terlebih dahulu, sampai orang-orang lupa dengan keberadaan kita."


Obrolan itu terdiam beberapa saat, tak ada suara yang keluar dari arah Saung itu.


"Oh iya, terus rencana kita, mau ngapain sekarang?" Tanya suara remaja itu.


"Kayaknya untuk beberapa hari ini, kita libur terlebih dahulu. sebelum situasinya benar-benar aman, Sambil terus mencari lokasi baru. Dan untuk base camp juga kita harus berpindah. karena tempat ini sudah tidak aman, pasti orang orang yang bertemu kita kemarin di sini, satu saat meraka akan kembali."


"Mau pindah ke mana, A?"


"Kamu, ada ide. Kita pindah ke mana?"


Suasana pun hening kembali, mungkin mereka lagi berpikir, mencari tempat baru. Untuk dijadikan base camp.


"Bagaimana kalau Saung sawah, Haji goni. letaknya yang di pinggir kali, mungkin akan aman, tidak mungkin ada orang yang berani datang kesitu.


"Terus di mana, A."


Tak ada jawaban dari orang yang dipangil Aa itu, hanya bau rok0k yang tercium, dibawa semilir angin datang dari lembah.


"Saung Pak Ibrahim, yang dekat kebon, kayaknya itu aman. Karena kebun itu, berbatasan langsung dengan hutan." Suara remaja itu memberi saran kembali.


"Sebenarnya tidak ada tempat seaman disini, namun melihat kejadian kemarin, aku jadi was was, apa lagi sampai ada orang yang berani memgambil rokok kita."


Kami berempat terus memperhatikan obrolan-obrolan, dengan seksama. Seolah tidak ingin ada satu pun obaran mereka yang terlewat. 


Setelah menyepakati basecamp baru mereka, yang akan dijadikan tempat berkumpul sementara. Mereka pun dilanjutkan dengan ngobrol ngalor ngidul, yang tidak ada artinya. mendengar obrolan mereka rasanya sangat ngeri, karena mereka ngobrol bukan di tempat yang seharusnya. mereka mengobrol di tengah-tengah kuburan, yang tidak ada satupun orang yang lewat kesini. Apalagi obrolan itu, sesekali diselengi denga suara tawa, yang begitu aneh. Ketika mengobrol mereka terdengar seperti laki laki. Namun ketik tertawa suaranya berubah menjadi suara prempuan.


"Ayo! kita tangkap mereka!" bisik Kang Andi dengan pelan, memberi koda untuk menyerbu mereka.

__ADS_1


Namun Kang Agus menempelkan telunjuk di bibirnya, agar tidak ada pergerakan yang mengundang kecurigaan.


"Oh iya, sebelum kita pindah. Aku pengen membalaskan dendamku dulu ke anak kecil, yang sempat melempari ku dengan batu di jalan." terdengar obrolan mereka mulai serius kembali


"Iya kita harus balas dendam, sama sumua orang-orang yang menganggap remeh, keberadaan kita. Sekarag kita fokus saja, bagai mana kita menyingkirkan para santri sial4n itu. Karena gara-gara mereka, usaha kita jadi terganggu. warga warga semakin berani, dan semakin Waspada. membuat ruang gerak kita semakin sempit."


"Terus kapan kita mulai lagi?"


"Nanti aku kabarin, aku mau melihat dulu situasi dan kondisinya seperti apa, serta mencari kelemahan para santri-santri itu.


"Iya kita harus membuat mereka merasa malu, telah meremehkan kita."


"Ya Sudah, sekarang Ayo kita pulang, nanti kalau sudah terbaca situasinya, Aku akan segera menghubungi kamu."


Tak lama setelah obrolan itu selesai. terdengar kaki yang mengunjak tanah, lalu sinar itu muncul kembali. Menerangi  setiap sudut area pekuburan, bahkan cahanya itu mengarah kearah tempat kami bersembunyi. Dengan cepat kami semua membaringkan tubuh agar tidak tertangak sinar senter itu.


Setelah puas memantau keadan sekitar, Cahaya itu perlahan menjauh, kembali ke gerbang pemakaman. sehingga membuat kami bisa menarik nafas lega.


"Tadi siapa ya?" tanya Kang Andi.


"Nggak tahu, kan kita gak melihat mereka, Namun dengan kejadian barusan, kita bisa simpulkan. bahwa mereka ini umurnya beda jauh, terdengar dari cara memanggil sebutannya." Ungkap Kang Agus memberi pendapat.


"Terus kita ke mana sekarang?" bisik kang Andi.


"Kita tunggu dulu sebentar, sampai keadaannya benar-benar kondusif. takut-takut mereka masih ada di sekitar sini, saran kang Agus, sambil menarik otot-ototnya yang terasa tegang, terdengar suara sendi seolah lepas dari engsel.


20 menit menunggu akhirnya kami pun, bangkit dari tempat duduk. dengan perlahan kami berjalan menaiki Bukit, untuk menghilangkan jejak. Dan kalau masih ada orang yang disaung tidak menimbulkan kecurigaan.


Setelah sampai diatas bukit. kami pun keluar dari semak belukar, menuju ke arah Jalan terobosan. setelah berada di Jalan terobosan. kami menuruni bukit, untuk menuju rumah Kang Arif.


tak ada gangguan seperti malam kemarin, ketika melewati gerbang pekuburan, hanya terdengar suara jangkrik dan belalang yang sedang mencari makanan.

__ADS_1


"Terus, Apakah kejadian tadi harus memberitahu pak RT?" Tanya Kang Arif dengan pelan. takut ada orang yang menguping pertanyaanya.


__ADS_2