JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 56 RENCANA MALAM MINGUAN


__ADS_3

Pov Dalari


"Seger banget ya!" ungkap Nawir sambil meletakkan kembali botol berisi minuman cola.


"Iya! yang sering aja Rul!, kamu ngundang kami, seperti ini!" ucapku sambil tersenyum


"Kalau mau, kalian bisa tinggal di sini, jadi Kakak atau Adik gitu!" tawar Nasrul sambil tersenyum.


"Wah, Wir! itu kesempatan buat kamu, ngorong-rong harta keluarganya Nasrul!" ujar Heru sambil memicingkan mata ke arah Nawir


"Enggak lah! buat apa harta, karena menurutku. harta yang paling berharga adalah keluarga, hahaha!" jawab Nawir yang diakhiri dengan tertawa, menirukan film yang tayang seminggu sekali.


"Oh ya, rencananya Nanti malam kita ngapain ya! biar malam Minggunya nggak suntuk." tanya Nasrul sambil membagi tatapan.


"Itu terserah yang punya rumah, kita sebagai tamu hanya mengimbangi saja!" jawabku sambil tersenyum.


"Jujur! aku kangen liwet kamu Wir!" ungkap Nasrul sambil menetap ke arah Nawir.


"Boleh, mau ngeliwet di mana?" tanya Nawir antusias.


"Diepan rumahku saja, biar banyak orang yang ikut, siapa tahu saja kamu ke depannya. bisa bukarestoran!" saran Nasrul sambil tersenyum.


"Restoran Dari mana, kamu itu! ada-ada saja. di kampung begini restoran mana laku!" cibir Heru.


"Ya laku saja sih! Kalau ada mah! Lagian kalau buka di kampung, nggak akan ada saingan!" jawab Nasrul sambil mendelik ke arah Heru.


"Ada ada saja kamu Rul!" Ungkap nawir sambil mendelik.


"Kalian gak mandi dulu? tanya ibu Nasrul yang baru saja menghampiri, karena beliau sibuk di toko grosirnya.


"Kayaknya Heru takut luntur, Bu!" Jawabku sambil melirik ke arah Heru membalas ledekannya tadi.


Heru hanya mendengusus kesal, diejek seperti itu, dia membalikan muka, menunjukkan sifat culas, tidak mau dibalas ledekannya.


"Mending kalian mandi dulu, setelah mandi, Baru makan! barusan Ibu, sudah gorengkan telur dadar!" Seru ibu Nasrul.


"Kalau begitu saya pulang dulu, nanti Setelah mandi saya ke sana lagi!" ujar Heru yang rumahnya berdekatan dengan Nasrul.


"Ya sudah! sana pulang, nanti ke sini lagi setelah kita beres makan." usir Nawir.

__ADS_1


"Kalian jahat, Kalau ada temen baru, temen yang lama dilupakan!" Ketus Heru sambil mengambil tas, lalu ia pergi.


"Nanti kalau mau makan, ke sini lagi saja!" Suruh ibu Nasrul.


"Siap Bu! tadi aku hanya intermezo saja!" jawab Heru tersenyum, sambil mengangkat jempolnya.


Sepulangnya Heru. aku dan Nawir diberikan handuk, untuk membersihkan badan di toilet pribadi rumah Nasrul.


"Mau mandi di mana?" tanya Nasrul.


"Di mana aja! yang penting mandinya pakai air!" jawabku sekenanya.


"Di rumah boleh, di ****** juga boleh! kebetulan aku punya ****** pribadi, airnya langsung dari pegunungan."  saran Nasrul.


"Boleh tuh! Biasanya air nya dingin banget, bisa membantu kita segar kembali." ucap Nawir dengan semangat.


Kita pun diantar oleh Nasrul yang berjalan menggunakan tongkat, ke belakang rumahnya. menuju kamar mandi, terlihat suasana yang begitu Asri, sawah yang membentang seluas mata memandang, bagaikan permadani hijau yang dihamparkan.


Kamar mandi yang letaknya di belakang rumahnya, itu memiliki kolam yang sangat luas, di hiasi oleh ikan-ikan emas yang berwarna warni, memenuhi semua kolam.


"Gini ya! kalau orang kaya, ikannya banyak, tapi nggak pernah dimakan!" ungkap Nawir sambil memperhatikan ikan yang sedang berenang.


"Kenapa? Kamu mau? kalau mau, boleh, ambil aja!" seru Nasrul dengan serius.


"Ya sudah sana mandi duluan!" seruku menyuruh Nawir, untuk membersihkan badan paling pertama.


Dengan malas nawir pun mengambil handuk, yang ada di tanganku, lalu ia masuk ke kamar mandi, yang terbuat dari bambu seperti gubuk atau Saung.


"Mandinya jangan lama-lama, kayak perawan aja!" Teriakku dari luar.


"Sabar napa! kenapa tadi, nggak mandi duluan saja!" Dengus nawir dari dalam kamar mandi.


Mendengar jawaban Nawir, Aku dan Nasrul hanya saling melempar senyum, karena aku berbicara seperti itu tidak serius, aku hanya mencandainya.


10 menit berlalu, akhirnya Nawir pun keluar dari kamar mandi, tibalah giliranku untuk membersihkan badan.


Setelah selesai membersihkan badan, kita pun kembali masuk ke rumah Nasrul, untuk makan siang terlebih dahulu, sebelum melanjutkan obrolan kita kembali.


"Sudah nimbul saja!" seloroh Nawir ketika melihat di ruang makan, ada Heru yang tersenyum.

__ADS_1


"Enak saja! kalian mau makan enak, sedangkan aku makan asin di rumah!" jawab Heru yang sudah mengambil piring, bersiap untuk menyantap makan siang, yang agak sore.


"Izin dulu napa, sama yang punya rumah!" ujar Nawir menunjukkan wajah tidak suka.


"Buat apa izin? Orang Aku yang punya rumah, ini!" Jawab Heru yang tak mau kalah.


"Udah selesai mandinya? Ayo makan dulu!" tawar Ibu Nasrul, sambil mengambilkan kami piring, lalu menyimpannya di meja makan.


"Oh begini ya? rasanya jadi orang kaya! makan aja harus pakai meja!" ujar Nawir sambil melamun, membandingkan dengan keadaan rumahnya


"Kayak apa, Wir? awas saja kamu bilang Ibu kayak orang!" Timpal ibu Nasrul balik bercanda, tangannya sibuk membagikan piring.


"Orang kaya, Bu! Bukan kayak, seperti!" jawab Nawir sambil menutup mulut takut salah ucap.


"Ya sudah jangan bercanda melulu, ayo makan! nanti ngobrolnya dilanjut kembali, ibu mau ke toko dulu, membantu Bapak Nasrul." Ucap Ibu Nasrul sambil berlalu kembali pergi menuju toko grosirnya.


Kami berempat hanya menjawab dengan anggukan, lalu mengisi piring masing-masing dengan nasi, ditambah lauk yang serba ada, mulai dari telur dadar, mie goreng, sayur dan ikan asin.


"Kamu tiap hari makannya begini?" Tanyaku yang merasa keder dengan lauk makan yang begitu banyak. Karena menurutku, ketika makan dengan lauk sebanyak ini, rasanya akan campur aduk.


"Ini mah belum seberapa, kalau Ibu lagi senang masak, bisa penuh nih, meja makan!" jawab Nasrul yang memulai mengisi piringnya dengan nasi.


"Pantes aja! pas main ke rumahku, di disuguhin ikan asin, sampai kamu begitu lahapnya, ternyata makanannya di rumahmu, seperti ini!" Timpal Nawir sambil menyiapkan nasi yang ada di tangannya.


Akhirnya Kami berempat pun, Makan siang dengan sukacita, menyantap makanan yang suguhkan oleh keluarga Nasrul, dan ini makanan yang luar biasa.


Selesai makan, seperti kebiasaanku di rumah Pak Chandra. aku merapikan piring-piring kotor, bekas makan ketiga sahabatku, lalu membawanya ke wastafel untuk aku cuci.


"Biarin. nanti Ibu saja! yang nyuci piringnya!" tolak Ibu Nasrul yang muncul kembali.


"Nggak apa-apa, Bu! insya Allah cucian saya bersih, karena saya udah terbiasa melakukannya Di rumah Pak Chandra!" jelasku agar ibu Nasrul tidak meragukan kemampuanku.


"Bukan begitu, kamu kan tamu. masa kamu harus mencuci piring!" balas Ibu Nasrul dengan raut wajah yang tidak enak.


"Nggak apa-apa, Bu! lagian cuciannya nggak begitu banyak, aku yang seharusnya nggak enak, sudah menumpang makan, terus merepotkan juga!" jawabku sambil terus membasahi piring-piring kotor itu, agar ketika digosok dengan busa sabun bisa merata.


"Ya sudah! kalau begitu, tapi Ibu nggak nyuruh ya!" jawab ibu Nasrul yang terlihat mengalah, namun dia tidak mau disalahkan.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya, lalu pandanganku fokus kembali ke arah piring-piring yang hendak aku cuci.

__ADS_1


"Biarin aja sih, dal. Ayo! kita ke atas!"  Nasrul mengajakku untuk berkumpul di lantai atas, karena rumah Nasrul yang begitu mewah, sehingga memiliki dua lantai.


"Duluan saja, nanti aku nyusul!" jawabku tak menghiraukan ajakannya.


__ADS_2