JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 23 KANG ARIF KENAPA


__ADS_3

Pov dalari


"Padahal nggak harus bohong, kalau Akang yang nyuruh, semampuhku, pasti aku akan bantu," ucap kang Andi, setelah mendengar cerita yang sebenarnya.


"Ya, Sekali lagi, aku minta maaf,"  Kang Agus meminta maaf, untuk yang kesekian kalinya, mengakui kesalahan sudah tidak jujur dengan semua ini.


"Terus rencananya sekarang, bagaimana?" tanya Kang Andi, yang masih menghisap rok0k.


"Rencana yang pertama, kita cari dulu si Arif, setelah ketemu, nanti kita ke rumah Pak RT sini, untuk memberitahu, bahwa. kita diutus oleh Akang" jawab Kang Agus sambil ngambil sebatang rok0k, yang digelatakan ditanah oleh Kang Andi. Rok0k yang didapat dari kuburan.


"Ya sudah, ayo! kita berangkat, biar gak terlalu malam," ajak Kang Andi sambil bangkit dari tempat duduknya, sambil menepuk nepuk celananya yang terkena debu,  aku dan Kang Agus pun mengikutinya bangkit.


"Emang sebelah mana rumah Kang Arif?" Tanyaku, penasaran, Karena aku belum pernah main ke rumahnya.


"Kalau nggak salah, sebelah timur,  dulu Rumahnya dekat warung, kalau salah, ya. kita tanya sama warga sini, hehehe." jawab Kang Agus ngelucu, tapi dingin kaya coolkas"


Kami bertiga kembali melanjutkan perjalanan, menuju rumah Kang Arif, yang melewati jalan besar. namun ketika hendak masuk ke perkampungan, terlihat banyak warga, yang sedang berjaga, dengan senjata yang lengkap.


"Jangan panik" bisik kang Agus, setelah melihat warga yang menatap tajam ke arah datangnya kami.


Kita berdua hanya mengangguk, tanda siap  dengan apa yang Kang Agus perintahkan. setelah sampai di portal, yang terbuat dari bambu. benar saja kita bertiga diberhentikan.


"Diam,di tempat!" teriak Seorang warga, sambil mendekat ke arah kami.


"Mau ke mana, malam-malam seperti ini" tanya Seorang warga, sambil menatap tajam memperhatikan dengan teliti.


"Saya, temennya ang Arif pak dari Pondok Pesantren nurul hasanah, saya ke sini mau menemui Pak RT, soalnya guru saya memberi perintah, untuk mewakili beliau untuk menemui Pak RT" Jelas kang Agus, yang nampak kalem, tidak Gentar sedikitpun.


"Oh, kalian muridnya ustad Bahrudin" tanya orang orang itu, dengan memelankan intonasi suaranya, setelah tahu siapa Kami sebenarnya.


"Iya, Pak. maaf kalau kedatangan kami, membuat para warga merasa khawatir" jawab Kang Agus, sambil menyelami bapak itu.


Aku dan Kang Andi, mengikuti apa yang dilakukan oleh Kang Agus. menyalami semua warga yang sedang berjaga, menjaga kampung halamannya yang sedang diteror.

__ADS_1


Setelah selesai bersalaman, Kami bertiga diajak oleh Seorang warga, bertemu Pak RT, di rumahnya.


"Waalaikumsalam, Ayo! masuk."  ajak Pak RT, setelah warga yang mengantar memperkenalkan Kami bertiga.


"Terima kasih, Pak." jawab Kang Agus, sambil membungkukkan badan menghormati orang yang lebih tua.


"Terima kasih, kalian sudah datang ke sini," ujar Pak RT, Setelah semua duduk dengan rapi.


"Sama-sama, Pak. maaf saya kesini, mewakili guru saya, yang tidak bisa hadir memenuhi janjinya, beliau ada acara yang tidak bisa ditunda" jawab Kang Agus bernegosiasi.


"Nggak apa-apa, kami tahu, kang ustad pasti sangat sibuk." jawab Pak RT memaklumi.


"Maaf, kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi, yang menimpa warga Kampung Cikadu, ini." tanya Kang Agus, mulai membuka pembahasan pokok.


"Sebenarnya Kejadian ini, terjadi sebulan yang lalu, namun seminggu terakhir, Kejadian ini hampir setiap malam, banyak warga yang kehilangan uang, setelah melihat pocong jadi-jadian itu," Pak RT, menjelaskan kejadian yang menimpa warga kampungnya.


"Apa aja, yang diambil pocong itu" selidik kang Agus, bertanya lagi.


"Awal-awalnya, cuma uang, sama benda-benda berharga lainnya, namun. tadi malam warung pak marno, yang kena musibah. dia, bukan hanya kehilangan uang, namun beberapa bungkus rokok juga raib, ikut hilang. padahal itu di lemari yang dikunci rapat," lanjut cerita Pak RT membuat, Kang Agus manggut manggut.


"Pernah, malahan sering, bahkan. malam Kamis kemarin, kita sempat rame-rame memburunya. namun sayang sekali, pocong itu, selain bisa menghilang, dia juga bisa terbang, membuat semua warga lari ketakutan, apalagi ketika melihat penampakan aslinya yang seram" jelas Pak RT.


"Terus kira-kira, menurut Bapak, ini orang yang mengilmu, apa hanya orang iseng" tanya Kang Agus, meminta pendapat.


"Kayaknya orang yang mengilmu, soalnya kalau manusia biasa, Mana mungkin bisa terbang, Mana mungkin bisa menghilang, pernah sekali ada orang yang mau menangkapnya. Namun sayang pocong itu tidak bisa dipegang, seperti menangkap bayangan" jawab Pak RT sambil menarik nafas, terlihat kelelahan menghiasi raut wajahnya, mungkin banyak waktu dan tenaga, yang terbuang untuk menghadapi teror ini.


"Kalau seperti itu, boleh. untuk malam ini saya menginap di kampung Cikadu, pengen tahu sebenarnya yang terjadi," pinta Kang Agus, setelah puas bertanya sama Pak RT.


"Boleh, Boleh banget, kalian mau nginep dimana, nginep di sini aja, biar kita bisa menjamunya" tawar Pak RT, dengan raut muka berseri-seri, seolah mendapat door prize di tengah-tengah kesedihan.


"Sebenarnya, Kami bertiga ke sini, awalnya 4 orang, bersama Kang Arif. namun, ketika lewat pemakaman warga yang di Kebon, itu. ada kejadian aneh, sampai-sampai Kami berlari menyelamatkan diri, namun Kang Arif entah lari ke mana, kami belum mengetahuinya, Jadi mohon maaf sebelumnya. Kalau boleh Saya mau mencari Kang Arif terlebih dahulu ke rumahnya, siapa tahu saja, dia udah pulang" Jelas kang Agus.


"Kejadian aneh seperti apa" tanya Pak RT, dengan penasaran.

__ADS_1


Kang Agus pun, mulai bercerita dari awal perdebatan, antara melewati jalan terobosan, atau jalan besar, ketika hendak menuju Kampung ini. sampai akhirnya kita berada di rumah Pak RT. kang agus bercerita tidak ada yang terlewat sedikitpun.


"kalau bisa, tolong cerita ini dirahasiakan, soalnya saya merasa ada kejanggalan, namun belum bisa memastikan apa, itu. mohon bersabar, dan jangan lupa terus berdoa, Semoga saja ada pertolongan Allah, untuk menyelamatkan kita semua dari teror ini" kang Agus, mengakhiri ceritanya dengan peringatan.


"Insya Allah, saya akan jaga cerita ini" jawab Pak RT.


"Terima kasih, kalau bapak berkenan seperti itu, sekarang saya mohon pamit dulu, mau mencari Kang Arif, mungkin nanti setelah ketemu, saya akan bergabung bersama warga, ikut meronda" Jelas kang Agus, sambil mencium tangan Pak RT.


"Bentar, tunggh dulu. kan, kalian belum ngopi, air juga belum disuguhin" tahan Pak RT, karena keasikan membahas tentang teror di kampungnya, sampai-sampai lupa belum sempat menjamu.


"Hehehe, nggak usah, Pak. Terima kasih, sudah di akuin aja, kami semua udah senang. kami pamit dulu, Pak. Assalamualaikum" ujar kang Agus sambil keluar dari rumah Pak RT, diikuti dua pengawal setianya.


Kami bertiga pergi meninggalkan rumah Pak RT, menuju rumah Kang Arif. tak lama di perjalanan, Karena antara jarak rumah Kang Arif dan Pak RT lumayan begitu dekat.


Setelah lima menit berjalan. akhirnya kita sampai di sebuah rumah panggung, terbuat dari kayu,  halamannya luas, disinari dengan bohlam yang berwarna kuning, sehingga membuat suasana semakin terasa mistis. namun yang membuat aneh,  Pintu rumah itu terbuka dengan lebar. Tapi kami tidak melihat ada orang di dalamnya.


"Assalamualaikum"  kang Agus mengucapkan salam, setelah berada di depan pintu.


Mata kami memindai ke dalam rumah, yang agak buram karena kurangnya penerangan, Lama menunggu, akhirnya terdengar papan lantai yang Terinjak, dari salah satu kamar. keluarlah seorang ibu-ibu yang terlihat panik, ndak tahu apa yang terjadi, sampai-sampai beliau, terlihat seperti itu.


"Waalaikumsalam, Maaf siapa ya," tanya ibu itu, matanya dengan cermat memperhatikan ke arah kami.


"Saya Agus, Bu. temennya kang Arif, dulu pernah main ke sini" Jelas kang Agus, sambil mencium punggung tangan Ibu kang arif.


"Ya Allah, maaf ibu lagi panik, tadi si Arif datang-datang mendobrak pintu, sampai kunci rusak. Dan sekarang dia belum sadar, Sekali lagi maaf, Ibu bukan lupa" jelas ibu itu dengan nada cepat, menadakan benar benar panik.


"Ya Allah, Bu. sekarang Kang arifnya di mana" tanya Kang Agus yang ikut panik.


Ibu kang arif dengan cepat, mengajak Kami bertiga, untuk masuk ke dalam rumah, menuju-kamar di mana Kang Arif berada.


Setelah berada di pintu kamar, tidak semua orang bisa masuk. karena kamar itu sangat kecil, hanya Kang Agus yang ke dalam, sedangkan aku dan kak Andi melihat dari ambang pintu.


Kang Arif terlihat  matanya terbuka lebar,  dengan tatapannya yang kosong, seperti patung yang tidak merespon keadaan sekitar.

__ADS_1


"Dari tadi, ibu tanya dia, tapi tidak menjawab-jawab," jelas ibu kang Arif, dibarengi suara tangis, terlihat sesekali mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


"Sabar, bu." jawab bapaknya Kang Arif, yang dari tadi terus mengusap-ngusap punggung anaknya, yang tidak berekspresi sama sekali.


__ADS_2