JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 35 ventrilouquis


__ADS_3

Pov dalari


"Kenapa kok, raut wajahmu berubah begitu?" tanyaku yang merasa heran dengan perubahan sikap Heru.


"Gara-gara pocong si4lan itu. pamanku, rumahnya terbakar. anaknya hampir terbunuh. Untung saja ada para santri yang menyelamatkan." ungkap Heru, terlihat matanya yang memerah, seolah merasakan apa yang pamannya rasakan.


"Pak Ujang?" tanyaku memastikan.


"Iya, kok kamu tahu?" jawab Heru merasa heran.


"Kalau kamu mau percaya, yang berusaha menyelamatkan, mematikan api di rumah Pak Ujang. itu adalah aku, dan para santri lainnya." jawabku menceritakan.


"Hah, kok bisa?" tanya Heru seolnya tidak percaya.


"Ini adalah Pertolongan Allah, melalui pemlantara kami. jadi kejadiannya seperti ini." aku menghentikan perkataanku, melihat situasi.  Kelas yang masih napmapk sepi.karena mereka masih berada di luar, atau belum nyampe ke sekolah.


"Jadinya seperti apa?" tanya Heru menatapku dengan penasaran.


Setelah melihat situasi yang aman untuk bercerita. aku pun mulai menceritakan kejadian yang menimpa warga Kampung Cikadu, diawali dengan pak RT yang datang ke rumah Akang Oman. untuk meminta pertolongan agar membantu warga di kampungnya.


Hingga empat Santri yang ditugaskan, untuk menyelidikinya terlebih dahulu. Untuk membatu warga kampun. aku terus menceritakan kejadian-kejadian, dan kejanggalan-kejanggalan yang menimpa warga kampung Cikadu, namun aku tidak menceritakan semua, hanya poin-poin pentingnya. kecuali bagian cerita, ketika menyelamatkan keluarga Pak Ujang. Aku menceritakan semua, tidak ada yang terlewat. sehingga membuat mereka berdua berdecak kagum dengan apa yang kami perbuat.


"Terima kasih ya sudah menyelamatkan pamanku" ungkap Heru setelah mendengar semua ceritaku.


"Aku tidak menyelamatkan pamanmu. itu adalah Pertolongan Allah, yang diberikan untuk keluarga pak Ujang." aku mengembalikan semua ungkapan rasa syukur itu, terhadap Dzat yang pantas untuk menerima-Nya


"Iya lagian warganya. mereka tidak berpikir terlebih dahalu, main serobot aja. padahal Mang Ujang itu, orangnya pekerja keras. dia berangkat dari subuh, sampai pulang tengah malam. untuk mencari nafkah buat anak istrinya, namun semua itu hilang karena gara-gara warga tapi tidak sepenuhnya salah. Karena Kalau tidak ada kejadian pocong si4lan itu, mungkin keluarga mang Ujang tidak akan terganggu." ujar Heru panjang kali lebar.


"Sabar yah, ru. Allah memberikan ujian dan cobaan, tidak Di Luar Batas Kemampuan makhluk yang diujinya." jawabku memberikan pengertian.


"Ya, Sekali lagi terima kasih, mungkin Pamanku belum sempat mengucapkannya. Oh iya, tadi mau minta bantuan apa?" tanya Heru kembali ke pembahasan awal.


"Tapi. kalau kalian mau bantu, harus janji terlebih dahulu. kalian bisa menjaga rahasia, bukan apa-apa. ini menyangkut orang yang banyak, ketika kalian tidak bisa menjaga rahasia, maka akan fatal akibatnya." Pintaku memberikan pengertian terlebih dahulu, agar semua rencana yang kang Agus susun tidak berantakan.


"Jangan ragukan kesetiaan kami," ungkap Nawir

__ADS_1


"Benar! Dan kamu harus tahu. Aku walau bagaimanapun, ingin membalas perlakuan pocong jadi-jadian itu. Yang menimpa pamanku." tambah Heru meyakinkan.


"Ada yang kenal Dadun?" Tanyaku sambil menatap ke arah mereka berdua.


"Aku tahu, tapi tidak terlalu dekat. Karena dulu pas waktu SD, aku satu sekolah dengannya. namun dia orangnya pendiam, jadi tidak begitu banyak orang yang bisa mengenalnya. Emang kenapa dengan Dadun?" Jelas Heru sambil bertanya.


"Aku pengen mendengar suaranya?" Ungkapku dengan penuh kehati-hatian.


"Kenapa  kok kamu ingin tahu dengan suaranya, apa jangan-jangan kamu suka dengan suaranya, yang bisa menirukan suara perempuan." jelas Heru.


"Kok bisa?" Aku pun terperanjat kaget.


"Iya, walaupun dia pendiam, namun keahliannya banyak. apa lagi di bidang seni rupa dan pentrilokuis. bahkan dia pernah jadi juara, pembaca dongeng tingkat 3 di kabupaten." jawab Heru membuatku semakin tertarik.


"Wow, hebat." ucapku berdecak kagum, mendengar keahlian orang yang disebutkan.


"Iya, tapi dia Jarang bersosialisasi, pendiam gitu orangnya. Emang Kenapa sih dengan si dadun itu?" tanya Heru semakin penasaran.


"Bisa gak, Kamu ajak dia ngobrol, Aku pengen dengar suaranya. karena ini ada hubungannya dengan pocong jadi-jadian itu." pintaku sama Heru.


Aku kira Tugasku akan mudah, hanya mendengarkan suara orang. namun setelah mendengarkan penjelasan Heru, membuatku berpikir berulang kali.


"Terus kamu tahu suara aslinya yang mana?" tanyaku sambil menatap ke arah Heru meminta jawaban.


"Nggak tahu, karena aku juga jarang, bahkan nggak pernah sama sekali mengobrol dengannya. aku tahu keahliannya dikasih tahu sama teman yang pernah dekat sama dadun" penjelasan Heru membuatku mengucak-ngucek kepala.


"Kamu kenapa sih,  kayak orang bingung banget?" tanya Nawir yang sejak tadi memperhatikanku.


"Tadi malam. aku mengintip markas pocong jadi-jadian itu, yang ada di tengah-tengah kuburan. Namun sayang kita tidak bisa melihatnya, hanya bisa mendengar suaranya." jawabku memberikan penjelasan.


"Terus hubungannya, sama si Dadun?" tanya Heru yang masih merasa bingung.


"Kemarin. dia ngasih belanjaan sama si Fitri, sampai  sekantong plastik yang besar itu penuh. kalau ditaksir itu harganya kira-kira habis Rp50.000an." ujarku menjelaskan, karena waktu itu. uang Rp50.000 sangat besar nominalnya. kalau dibandingkan dengan uang jajan kami di sekolah saja biasanya hanya Rp1.000 per hari. kalau anak orang orang yang menengah ke atas biasanya antara Rp2.000, kecuali Nasrul yang Rp10.000 sehari. sama dengan uangku yang diberikan bapak untuk seminggu di pondok.


"Terus kenapa kalau dia ngasih jajanan yang banyak, hubungan dengan suaranya."  Nawir yang masih merasa pusing, dengan apa yang kujelaskan. begitu juga Heru menatap lekat ke arahku, seolah meminta penjelasan.

__ADS_1


"Menurut Kang Arif. Dadun itu keluarganya sama kayak kita, kurang mampu. Masa kalian gak ngerti, itu sangat mengundang kecurigaan, ketika dia membagi belanjaan begitu banyak, dengan cuma-cuma." jawabku memberikan pendapat, agar mereka berdua paham, denga maksud dan tujuanku mendengarkan suara Dadun.


"Bingung, hehehe!" ucap Heru menggaruk kepala.


"Jadi begini. kita curiga sama Dadun, Nah untuk membuktikan kecurigaan kita. maka kita harus mengetahui suara Dadun, dan suara Orang yang ada dikuburan itu sama, apa tidak, ngerti!" Tanyaku mempersingkat penjelasan.


"Coba bilang dari tadi, nggak usah berbelit. mungkin Otaku tidak sepanas sekarang." ungkap Nawir yang terlihat lega, setelah mengerti apa yang ku jelaskan.


"Halah, kok kayak punya aja!"  ledekku sambil terkekeh.


"Punya apa?"


"Otak!" jawabku sambil tersenyum.


"Kurang asem." dengus nawir kesal, diikuti dengan suara tawa yang keluar dari Mulutku dan Heru.


"Gimana bisa bantu nggak?" Aku mengulang pertanyaan, setelah menghentikan suara.


"Nanti kita lanjutin ngobrolnya, sekarang kita belajar dulu. sambil berpikir, Bagaimana caranya." Jawab Heru, setelah mendengar bel berbunyi. menandakan jam pelajaran pertama akan segera dimulai.


Murid-murid yang ada di luar pun, berhamburan memasuki ke ruangan kelas masing-masing. dan begitu pula yang berada di kelas, mereka merapikan tempat duduknya. bersiap menerima pembelajaran, yang akan diberikan. apalagi ini adalah pelajaran pertama setelah masuk ke MTS Nurul Hasan.


Pukul 10.00. bel tanda istirahat pun berbunyi, menandakan pelajaran kedua sudah berakhir. mengizinkan untuk para siswa, untuk melepas penat. Setelah belajar dua mata pelajaran berturut-turut.


Aku dan kedua sahabat-sahabatku, sama ikut berhamburan, keluar mengikuti siswa-siswa lainnya menuju kantin.


Setelah sampai di kantin. kita pun mengambil beberapa gorengan, untuk dibawa ke kelas kembali. karena ketika makan dikantin, merasa was-was. takut bertemu dengan para senior, lalu kami diganggu. Bukan nya kami takut, namun menghindari masalah saja.


Ketika aku hendak membayar jajanku,  kedua sahabatku menahannya, tidak membiarkanku mengeluarkan uang. karena menurut pengakuannya, mereka sedang mempunyai uang banyak. Setelah dikasih oleh orang tua Nasrul, karena mereka menemani anaknya di puskesmas.


"Biarkan aku saja yang bayar. mumpung aku punya duit, nanti kedepannya, aku tidak malu. ketika aku merepotkan kalian." ungkap Nawir, sambil mengeluarkan uang Rp20.000. menurut pengakuannya uang itu pemberian dari ibu Nasrul.


"Jadi, kalian dikasih Rp20.000?" Tanyaku sedikit menyesal, karena aku hanya dikasih Rp10.000. padahal seharusnya aku yang membantu keluarga Nasrul, yang sedang kena musibah. namun manusiawi ketika orang mendapatkan lebih, sedangkan kita tidak, pasti ada rasa sesal.


"Nggak apa-apa! Kamu dikasih Rp10.000 juga. tapi kamu luar biasa, bisa membantu menyelamatkan keluarga pamanku." Ujar Heru sambil mengangkat kedua jempolnya.

__ADS_1


__ADS_2