JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 43 KENAPA BISA TERTIDUR


__ADS_3

Pov dalari


"Curiga sama siapa?" tanya Kang Agus sambil menatap penasaran ke arahku.


"Maaf tapi ini cuma perasangkaku saja, aku takut salah." ungkapku meminta maaf terlebih dahulu.


"Yah, curiga sama siapa?" ujar Kang Agus dengan mendesak


"Aku lebih curiga, sama Kang Bayu! soalnya suaranya Sama persis, dengan orang yang berada di kuburan, tapi maaf sebelumnya. itu cuma prasangka saja!" jelasku sambil menatap ke arah kau Agus.


"Tapi, Kenapa dia menakuti istrinya, kenapa dia mengambil uangnya, kalau Beneran itu Kang Bayu." tanya Kang Agus meminta penjelasan. Karena tidak mungkin seorang suami tega merampok istrinya.


"Wallahu a'lam, Kang. itu kan cuma melihat dari segi kemiripan suara, belum bisa membuktikan apa-apa!" jelasku


"Iya, sih. Aku juga curiga, karena sebenarnya Kang Bayu itu, bukan asli orang situ, dia ikut sama istrinya, teh Isma. yang asli warga kampungku." tambah Kang Arif menyampaikan pendapatnya.


"Sudah, nggak baik menuduh orang. yang penting kita terus berusaha, terus mencari kebenarannya, seperti apa!" ujar Kang Agus.


******


Pukul 20.30. kita sudah berkumpul di pos ronda Kampung Kang Arif. ditemani Pak RT serta warga-warga lainnya, yang sedang meronda menjaga kampung halamannya.


Namun kita tidak melihat Kang Bayu, menurut Pak RT, Dia sedang mengeloni istrinya, terlebih dahulu. sebelum melaksanakan tugas negara.


Kami semua mengobrol membahas rencana selanjutnya, ketika pocong jadi-jadian itu muncul kembali.


Pukul 22.00. Kang Bayu baru datang, terlihat di tangannya membawa plastik berisi kopi serta rokok.


"Pengantin baru, Kelonan terus." ledek Pak RT sambil menatap ke arah datangnya Kang Bayu.


"Ah, Pak RT. kayak nggak pernah merasakan pengantin baru saja!" jawab Kang Bayu sambil tersenyum.


Menurut keterangan yang kudapat, Kang Bayu Baru beberapa bulan menikah  dengan teh Isma.


"Hahaha. iya. paham! paham!" ujar Pak RT Sambil tertawa.


Kang Bayu pun bergabung, lalu mengeluarkan bungkusan kopi, kebetulan malam itu belum ada donatur yang memberikan kopi gratis, sehingga ketika Kang Bayu membawa kopi. kopi itu dengan cepat diseduh, untuk dinikmati, menemani malam yang semakin larut.


"Nih. buat di pondok." Ucap Pak RT sambil melemparkan dua bungkus kopi, ke arah Kang Agus. mengingat kopi yang dibawakan Bayu sangat banyak.

__ADS_1


"Ah, Pak RT. nggak usah ngerepotin, Ini juga udah cukup!" tolak Kang Agus malu-malu.


"Sudah. kantongin aja! lumayan kan, buat besok pagi-pagi. enak kalau ngopi!" ujar Pak RT memaksa kang Agus.


Dengan malu-malu Kang Agus pun, mengantongi kopi yang dilemparkan oleh Pak RT. ke kantong baju kokonya.


Kobi pun tersaji, setelah beberapa orang membuatnya, kami semua mulai menikmati kopi panas itu, untuk menghangatkan tubuh yang mulai terasa dingin.


"Uwaaahh, ngantuk banget!" ujar Pak RT sambil menutup mulut yang sedang menguap.


"Iya, padahal lagi ngopi, Kok bisa ngantuk, ya?" tanya Kang Agus yang terlihat menguap.


"Ya, kalau ngantuk. Kopi nggak bisa nolong." jelas Seorang warga sambil menarik sarung melewati kepala. untuk menghalau rasa dingin yang sudah menyeruak.


"Gantian, ya! saya tidur duluan, nanti bangunkan!" Ujar Pak RT sambil membaringkan tubuhnya di lantai pos ronda.


Tak lama terdengar dengkuran keras, yang keluar dari mulutnya, menandakan tidurnya sangat nyenyak.


"Aku, juga duluan ya, apalagi sehabis melaksanakan pertempuran. rasanya capek banget." ujar Kang Bayu sambil mengulum senyum, lalu Ia juga ikut membaringkan tubuh di samping Pak RT. tak lama terdengar juga suara dengkuran keras dari mulutnya.


"Aku juga duluan ya! Kalian bertiga. jangan tidur dulu!"  Timpal kang Agus, sambil memposisikan tubuhnya untuk berbaring.


"Bangun! bangun! kalian menjaga apa sih? jaga kok tidur!" teriak suara perempuan dengan riuh membangunkan kami.


****


Perlahan Ku Buka mataku, yang masih terasa berat. rasa kantuk yang menyelimuti jiwa, membuatku malas membuka mata.


Kukucek mataku untuk memfokuskan pandangan, terlihat suasana yang udah mulai terang, Mungkin sebentar lagi matahari akan terbit. Ibu ibu yang masih berdiri menatap tajam kearah kami.


Kami semua saling menatap, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bisa tertidur begitu pulas, sehingga azan subuh tak terdengar sama sekali.


Pak RT, Kang Bayu dan Kang Agus. Mereka perlahann membuka mata, diikuti dengan para warga lain,  yang sama sama tertidur di pos ronda, dengan heran mereka, menatap ke arah suara yang membangunkan kami semua.


"Kalian jaga, kok. tidur? selorog ibu-ibu dengan geram menatap ke arah kami semua.


"Ini, ada apa sebenarnya?" tanya pak RT yang roh halusnya sudah berkumpul.


"Ada apa! Ada apa! lihat tuh. rumah Pak Firman, di gondol pocong, semua hartanya Habis tak tersisa." ujar ibu-ibu yang tadi marah, membuat kami semua semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Kalau mau tidur itu, di rumah. jangan di pos ronda.malu-maluin aja! jaga, kok molor?" Hardik ibu-ibu lainnya yang sama menatap geram ke arah kami.


"Maaf, ibu-ibu  kami semua di sini ketiduran. Entah mengapa tadi malam, kita bisa tidur senyenyak itu, padahal malam sebelum-sebelumnya, tidak pernah tidur sepulas tadi malam." jelas Pak RT menenangkan ibu-ibu yang sudah emosi.


Kami semua yang bertugas menjaga Kampung, saling menatap, mengingat-ngingat kejadian apa yang sudah terjadi sehingga kami bisa tertidur sepulas ini.


"Apa jangan-jangan karena kopi?" ujar Seorang warga sambil menatap curiga ke arah Kang Bayu.


"Kenapa menatap saya seperti itu? saya juga ketiduran, dan mana mungkin saya meracuni bapak-bapak, dengan kopi. Lagian kopinya juga, itu kopi baru beli." jawab Kang Bayu tidak terima dengan tuduhan warga, dia memberi alasan yang masuk akal.


"Kalau bukan kopinya, berarti airnya yang bermasalah, tadi malam Siapa yang membawa termos air?" Tanya warga itu memastikan.


"Kok, nanya seperti itu, kan seperti biasa setiap malam, saya selalu menyediakan air panas, untuk ngopi." jelas Pak RT.


"Nah, tuh ada yang ngaku." ujar Kang Bayu sambil menatap sinis ke arah Pak RT.


"Pak RT,  kok bisa, setelah meminum air dari Pak RT, Kenapa kita bisa tertidur seyenyak ini?" selidik seorang warga.


"Bentar! bentar! jangan menuduh terlebih dahulu, kita harus berpikir dengan tenang, Jangan mau diadu domba, Mana mungkin saya berani melakukan hal gil4, seperti itu. Kalau mau berarti dari kemarin kemarin sudah terjadi." jelas Pak RT menyanggah tuduhan warga.


"Terus harus menyalahkan siapa?" tanya Seorang warga yang merasa bingung dengan kejadian aneh ini.


"Tadi malam siapa yang menyeduh kopi?" usul warga lain untuk menemukan titik temu masalahnya, setelah bingung mau menyalahkan siapa lagi.


"Tadi Malam, kita nyeduh kopi, sendiri-sendiri. jadi tidak mungkin, meracuni diri sendiri. semua orang bisa tertidur semuanya." 


Warga pun terdiam kembali  memikirkan kejadian yang begitu aneh, yang menimpa kami semua.


"Anak Santri! kalian di sini dibayar! dan kami membayar kalian bukan untuk tidur!" ujar seorang ibu-ibu, karena bingung harus menyalahkan siapa lagi, sehingga membuat pelarian dengan menuduh kami.


"Sudah! sudah! Jangan merembet ke mana-mana, sekarang kita melaksanakankan salat subuh dulu, nanti kita lanjut lagi pembahasannya!"sanggah Pak RT agar tidak keterusan.


Akhirnya semua warga pun sepakat, membiarkan kami melaksanakan salat subuh terlebih dahulu, yang sebentar lagi waktunya akan habis.


Kami berjalan menuju mushola terdekat , untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat manusia. aku dan ketiga sahabat santriku terus berpikir, bagaimana semua ini bisa terjadi, rasanya tidak percaya, atas semua yang menimpa. Kenapa bisa tidur segitu nyenyaknya? Padahal kita terbiasa bangun sebelum subuh, dan kalau orang yang sudah terbiasa bangun, sebelum subuh. mereka akan mempunyai alarm sendiri, sehingga tidak harus menunggu suara adzan untuk bangun.


Setelah menyelesaikan salat subuh, aku pun berpamitan sama Kang Agus, untuk kembali ke pondok duluan. karena harus membersihkan sekolah. namun ketika Kang Andi mau ikut izin, Kang Agus menolak karena pekerjaan Kang Andi bisa ditunda, beda dengan pekerjaanku yang harus dilakukan setiap hari.


Setelah aku mendapatkan izin dari Kang Agus, aku pun segera berlalu, menuju Jalan Setapak. yang melewati pekuburan warga, untuk kembali ke pondok untuk membersihkan sekolah.

__ADS_1


__ADS_2