JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 26 TIDAK TAHU TERIMAKASIH


__ADS_3

Pov dalari


"Rafi, Rani. Rafi, Rani!" istri Pak Ujang, berteriak-teriak memanggil kedua nama anaknya, dengan panik.


Dia terus menyebut-nyebut nama anaknya, sambil berjalan cepat, menuju ke satu kamar yang paling ujung. letaknya bersebelahan dengan dapur. kemudian dia memasuki kamar itu, diikuti Kami bertiga.


"Rafi, Rani." ucap istri Pak Ujang yang suaranya terdengar Parau. memeluk kedua anaknya dengan erat, sesekali ciuman itu mendarat di pipi dan kening kedua anaknya, yang terlihat sangat ketakutan.


"Alhamdulillah, untung kita cepat memadamkan apinya." ucap kang Andi mengucap syukur, setelah melihat kedua makhluk kecil yang tak berdosa terselamatkan.


"Alhamdulillah," ucapku dan Pak RT dengan serempak menimpali, mengucap syukur atas keselamatan yang Allah berikan.


Setelah puas memeluk dan menciumi anaknya. istri Pak Ujang pun bangkit, lalu menuntun buah hatinya keluar dari kamar,  membawanya ke halaman depan rumahnya. untuk dipertemukan dengan Pak Ujang yang masih terduduk di tanah.


Setelah memastikan kedua anak kecil itu menemui bapaknya dengan selamat. aku dan Kang Andi hanya saling menatap, tanpa ada komando, kita berdua mencari sapu untuk membersihkan pecahan kaca, yang berserakan di lantai , agar tidak melukai orang.


Selesai merapikan pecahan kaca, aku dan Kang Andi menghampiri kembali tempat, di mana mereka berkumpul. terlihat Pak Ujang yang sudah mulai bisa berbicara, walaupun dengan ucapan yang terbata-bata, mungkin masih merasa syok atas kejadian yang menimpanya .


"Kalian semua harus bertanggung jawab, atas kejadian yang sekarang menimpaku," tiba tiba Pak Ujang mengacam, sambil menatap tajam ke arah Pak RT, sedangkan di pangkuannya, ada seorang anak laki-laki yang sedang terduduk sambil dipeluknya.


"Iya Kang, besok siang, kita musyawarahkan kesalahpahaman ini dengan warga lainnya," jawab Pak RT mencarikan solusi.


"Motorku, rumahku, dan kedua anakku. Hampir mati gara-gara perbuatan Pak RT!" Pak Ujang mendesak dengan kedua rahang terkatup sempurna.


"Ini salah paham Kang, dari tadi saya sudah melarang warga,  agar tidak main hakim sendiri. namun saya kalah jumlah, dengan masa yang begitu banyak!" Pak RT menjawab, kemudian menarik napas dengan berat, menghadapi peliknya permasalahan yang menimpa warga di kampungnya.


"Ngapain jadi RT, kalau ucapannya tidak didengar warga." jawab Pak Ujang dengan Ketus, tersenyum miring meluapkan kekesalan kepada orang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Untuk itu, saya mohon maaf. Karena keterbatasan kemampuan saya, tidak bisa memberikan rasa aman, dan nyaman kepada warganya." jawab Pak RT, masih terlihat tenang walau di pojokan seperti itu.


"Pokoknya saya tidak mau tahu, Pak RT. harus mengganti motor, dan rumah saya, yang sudah terbakar. Dan segera menangkap pocong-pocongan itu!" Pak Ujang, menumpahkan kembali semua kesalahan sama Pak RT. seolah pak RT yang melakukan semuanya, padahal dari tadi beliau terus berusaha menenangkan warga, agar tidak berbuat semena-mena.


"Insya Allah, Makanya besok Kang Ujang harus hadir! untuk musyawarah dengan para warga. Kita bersama-sama mencari solusi terbaik, untuk masalah yang menimpa Kang Ujang sekeluarga. Dan untuk menangkap pocong jadi-jadian, saya juga sudah berusaha dengan  memanggil ahlinya, yaitu mereka para santri dari Pondok Pesantren Nurul Hasanah." jelas pak RT sambil memperkenalkan Kami.


Mata Pak Ujang, melirik ke arah Kami bertiga. menatap satu per satu dengan teliti.


"Terus kalian kerjanya apa? lihat rumah saya! sebagian udah hangus. Itu gara-gara kalian yang tidak becus bekerja. Coba kalau kalian dengan cepat menangkap pocong si4lan itu, mungkin keluarga saya akan tetap damai." ungkap Pak Ujang, yang menumpahkan kekesalannya terhadap orang lain.


"Kang Ujang Harap tenang, jangan terus mencari kambing hitam. kalau tidak ada mereka, mungkin rumah Kang Ujang sudah hangus tak tersisa. seharusnya Kang Ujang intropeksi diri, mengapa para warga? bisa sampai menuduh Kang Ujang melakukan pesugihan pocong." ujar pak RT, yang mulai tak tenang melihat tingkah orang yang ada di hadapannya.


"Sudah A, jangan salahkan mereka. kalau tidak ada para santri ini, mungkin kedua anak kita, sudah hangus ikut terbakar." tambah istri Pak Ujang, mengingatkan. karena dia tahu apa yang Kami bertiga lakukan, berbeda halnya dengan Pak Ujang, yang pingsan, Saat kami memadamkan api yang hendak membakar rumahnya.


"Heh, Marni! itu sudah tugas mereka, menolong kita. karena mereka dibayar!" bentak Pak Ujang, sambil menatap tajam ke arah istrinya. sehingga anak yang ada di pangkuannya, meringis menahan ketakutan, melihat tingkah Bapaknya yang seperti itu.


"Masa? Santri ngomongnya seperti itu, tidak ada hormat-hormatnya sama orang yang lebih tua?" jawab Pak Ujang, sambil memberikan senyum sinis ke arah Kang Andi.


Ketika Kang Andi hendak membalas perkataan Pak Ujang, dengan cepat Kang Agus menahan lengannya. agar Kang Andi berhenti berbicara, tidak melanjutkan perdebatannya dengan Pak Ujang.


"Dengar ya, Ujang! kamu sudah benar-benar kelewatan, mereka datang ke sini dengan keikhlasannya, tidak ada bayaran yang saya janjikan, ketika mereka mau mengusir pocong itu."  ujar Pak RT membenarkan, terlihat beliau yang sudah nampak mulai terbawa emosi.


"Ngaku saja! Pak RT. paling kalian semua sudah bersekongkol untuk menjatuhkan keluarga saya, Mana mungkin ada orang yang mau menolong, tanpa ada bayaran." sanggah Pak Ujang tidak mau kalah .


"Kalau saya tahu sifat aslimu seperti ini, mendingan tadi saya biarkan warga beramai-ramai membakarmu hidup-hidup. kamu itu harusnya, intropeksi diri Ujang! kamu tidak pernah bergabung sama warga. tidak pernah ngeronda, tidak pernah ikut kerja bakti, makanya wajar mereka menuduhmu seperti ini. mencari kehidupan itu hukumnya wajib bagi seorang laki-laki yang mempunyai istri, tetapi kerukunan dengan warga juga harus dijaga!" Pak RT berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala, seolah tidak percaya dengan makhluk berkepala batu yang ada di hadapannya


Siapa yang tidak akan terpancing emosi, ketika kita menolong seseorang dengan mempertaruhkan nyawa, tetapi beginilah pembalasan kebaikan yang didapatkan.

__ADS_1


Situasi makin memanas, istrinya yang dari tadi terdiam, perlahan menghampiri Pak Ujang, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. namun, ketika hendak berdiri pak Ujang terjatuh kembali, tidak mampu menopang tubuhnya, mungkin beberapa luka di tubuhnya sangat parah.


Melihat Pak Ujang yang kepayahan, aku dan Kang Agus menggandengnya, membopoh pak ujang, masuk ke dalam rumah. Pak RT dan Kang Andi terlihat tidak suka menyaksikan dengan apa yang kita perbuat .


Sesampainya di kamar, kita membaringkan tubuh Pak Ujang di atas kasur, agar dia nyaman untuk beristirahat.


"Cepat sembuh ya, pak!" ujar Kang Agus sambil tersenyum mendoakan kesembuhan pak Ujang.


Namun tidak ada perkataan yang keluar dari kedua bibir Pak Ujang, dia hanya memalingkan pandangan, tidak mau menatap ke arah kita yang sudah menolongnya. melihat perlakuan orang yang ditolongi seperti itu, dengan cuek Kang Agus berlalu keluar dari kamarnya.


"Terima kasih ya, kang santri," ujar istri Pak Ujang  sambil menatap sayup ke arah kita berdua.


"Sama-sama teh, Semoga Pak Ujang lekas sembuh, dan keluarga diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini, saya izin pamit dahulu!" ucap kang Agus, meninggalkan istri Pak Ujang yang masih termenung menatap lantai.


Terdengar suara rintihan Pak Ujang yang sedang kesakitan dari dalam kamar, membuat istrinya dengan cepat menghampiri.


Setelah menutup pintu rumah Pak Ujang, yang sudah tidak bisa terkatup dengan sempurna. kita berdua menghampiri Kang Andi dan Pak RT, yang masih terduduk di tanah, sambil menikmati sebatang rok0k, menghilangkan kepenatan yang menimpa keduanya.


"Sekarang kita harus ngapain?  jang Agus." tanya Pak RT, seperti orang yang tidak punya pendirian, seharusnya beliaulah yang lebih tua, menentukan Ke mana kita akan pergi.


"Mungkin, kita bisa mengecek ke arah suara teriakan minta tolong" saran Kang Agus berhati-hati.


"Astaghfirullahaladzim! gara-gara si Ujang, bapak sampai lupa, tadi ada yang teriak minta tolong" jawab Pak RT sambil menepuk jidatnya, "Ayo kita ke sana" lanjut Pak RT, bangkit dari tempat duduknya.


Di perjalanan menuju rumah yang teriak minta tolong. Kami berempat terus bercerita, membahas kejadian yang baru saja menimpa keluarga Pak Ujang.


"Oh ya, jang Agus. kok, Jang Agus tidak marah? ketika si Ujang menyalahkan para santri, padahal Bapak tahu apa yang dilakukan Kalian bertiga untuk menolongnya, itu sangat luar biasa." tanya Pak RT, di sela-sela perbincangan, Mungkin beliau merasa heran dengan sikap cuek Kang Agus.

__ADS_1


"Di mata manusia. baik, dan buruk akan terus diperguncingkan, yang buruk akan terus disudutkan, sampai terpuruk. begitu juga yang berbuat baik, akan terus dicari kesalahannya. Makanya, teruslah berbuat baik, walaupun tidak dihargai, karena hidup bukan untuk dinilai orang lain.


__ADS_2