
Pov dalari
Pria yang disuruh membeli rokok oleh Pak RT, masuk ke dalam rumah Kang Arif, lalu menyerahkan barang yang ia beli.
"Di luar Ada apa, tang, Kok. warga pada berteriak begitu" tanya Pak RT, sambil menatap ke arah pak Tatang
"Gawat, Pak RT, ini gawat banget" jawab Pak Tatang dengan cepat.
"Gawat, kenapa"
"Warga mau nyerang rumah Kang Ujang, karena mereka yakin, bahwa semua teror yang ada di kampung kita, ini. semua gara-garanya" jawab pak tatang, menjelaskan, terlihat dia nampak panik.
Dengan cepat Pak RT pun, bangkit. setelah memberikan rokok yang dibelikan pak Tatang, ke Kang Agus. menemui warga untuk meminta kejelasan.
"Ada apa, kok. rame-rame seperti ini" tanya Pak RT, sambil menghadap warga yang terlihat tampak emosi.
"Ini semua gara-gara si Ujang, Pak RT. pak RT jangan Menutup Mata, lihat dia sekarang kaya raya" jawab Seorang warga dengan intonasi tinggi.
"Benar tuh ,Pak RT." Timpal semua warga dengan riuh.
"Sabar, sabar, kita nggak punya bukti, untuk menuduh orang" sanggah Pak RT, menenangkan warga.
"Buktinya sudah jelas, Pak RT. kemarin saja dia beli motor baru," jawab seorang laki-laki berbadan kekar itu.
"Sudah, sudah, saya harap para warga untuk tenang, tidak mengambil tindakan sendiri, Kita akan musyawarahkan besok" ujar Pak RT, terus menenangkan.
"Terang, tenang, bagaimana. kalau setiap hari kita diteror, uang kita habis, kalau Pak RT tidak mau ikut, kami tidak akan mengajak, namun jangan halangi kami untuk mengadili pocong sial4n itu."
Tanpa menunggu jawaban dari Pak RT, para warga mulai bergerak meninggalkan rumah Kang Arif, dengan panik Pak RT mengikuti mereka, sambil terus menenangkan, agar para warga tidak berbuat semena-mena.
"Ini, ada apa, Gus. Kok ribut-ribut" tanya Bapak Kang Arif, yang baru keluar dari kamar.
"Kurang tahu, Pak. saya pamit dulu untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya" jawab Kang Agus, yang sudah siap-siap meninggalkan rumah Kang Arif.
"Kalian hati-hati, jangan gegabah, apalagi menghadapi masa yang lagi emosi, itu sangat berbahaya" ujar Bapak Kang Arif, terlihat raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
__ADS_1
"Ya, Pak. Saya cuma mau lihat aja, terima kasih atas sarannya" ucap Kang Agus sambil mencium punggung tangan Bapak Kang Arif.
"Oh ya, nanti kalau mau tidur, kalian ke sini lagi aja" tawar Bapak Kang Arif, sambil berteriak melihat kami yang sudah pergi menjauh.
Kang Agus hanya mengangkat ibu jari, lalu Kami bertiga berlari menuju arah teriakan para warga, suasananya berubah menjadi ngeri, terdengar teriakan dan jeritan menjadi satu, membuat Kami bertiga menambah kecepatan lari, agar cepat sampai ke arah kerumunan warga.
Semakin dekat, maka semakin terdengar jeritan perempuan, dan teriakan orang yang sedang marah, terlihat ada kepulan asap hitam yang keluar dari halaman rumahnya. seperti sesuatu yang dibakar, menambah kengerian waktu itu.
Dengan perlahan kami mendekati arah kerumunan warga, terlihat di halaman itu, ternyata benar ada sebuah motor yang sedang terbakar, kaca rumahnya berserakan di teras. Pak RT dengan Karang kabut, terus menenangkan warga agar menghentikan aksi mereka. namun itu sia-sia , beliau yang kalah jumlah, ditambah emosi para warga yang sudah memuncak. sehingga hanya bisa menyaksikan kejadian yang sangat ngeri itu
"Kembalikan uang kami, yang Kau curi" bentak Seorang warga, sambil melayangkan tendangan ke arah laki-laki yang sudah terkapar lemas di tanah.
"Sudah bakar aja Jangan biarkan orang seperti ini hidup" kompor salah Seorang warga dinyalakan, sambil menuangkan bensin ke tubuh pria itu.
Namun dari depan rumah terlihat ada sosok perempuan yang berlari memeluk tubuh pria yang sudah terkapar.
"Kalau kalian, mau membunuh suamiku, maka bunuh aku juga, biar kalian puas" ucap wanita itu sambil terisak, membuat Siapa saja yang melihat, akan merasa semakin ngeri, namun berbeda dengan warga, dengan suara tertawa, mereka malah menyiramkan bensin ke tubuh wanita itu.
Ketika salah Seorang warga, hendak menyalakan korek, dengan cepat Pak RT menghalangi nya, lagi. sebagai usaha terakhir yang dilakukan oleh Beliau.
Mendengar penuturan pak RT, membuat para warga tertegun seketika, menyimak apa yang disampaikan oleh Pak RT.
"Ya sudah, ayo kita bakar rumahnya aja" ide Seorang warga yang sudah kalap, tanpa mempedulikan perkataan Pak RT.
Seperti bebek yang sudah dikomando oleh tuannya, para warga itu berhamburan menghampiri rumah, setengah badan itu. dengan cepat mereka menyiramkan bensin ke semua permukaan dinding yang terbuat dari susunan bata dan kayu.
Setelah cairan bensin merata dengan sempurna, salah satu dari warga itu menyalahkan korek, lalu melemparkan ke arah rumah yang sudah di siram oleh bensin. dengan cepat si jago merah melahap lalapannya, sehingga membuat para warga berteriak, kegirangan. dibarengi dengan sorak sorai, bahkan sampai ada yang bersiul, merasa bahagia melihat rumah itu terbakar.
"Toloooooooongggg! tolooooong! ada pocooooong," terdengar teriak suara perempuan dari sebelah timur, membuat para warga itu menghentikan tawanya.
"Tolooooooonggg pocooooong" suara itu terdengar lagi, membuat para warga berhamburan, menuju ke arah datangnya suara, tanpa memperdulikan lagi, rumah pak Ujang yang sudah mulai terbakar.
Mereka pergi meninggalkan area halaman rumah pak Ujang, tanpa merasa dosa. padahal kalau mereka sadar, bagaimana bisa, ada pocong, sedangkan yang mereka curigai sudah terkapar lemas tak berdaya.
"Apinya" teriakku mengagetkan Pak RT dan kedua dua sahabatku, karena cuma Kami berempat, yang masih berdiam tanpa memperdulikan teriakan minta tolong itu.
__ADS_1
Setelah mendengar teriakanku, mereka tersadar dari syoknya. sehingga membuat Kang Andi, dengan cepat berlari menuju arah samping rumah, diikuti aku dan Kang Agus.
Untung saja di samping rumahnya pak ujang, ada sumur dengan cepat kuambil ember yang berisi air. namun, Kang Andi menolaknya. "Jangan pakai air, nanti apinya tambah besar" teriak Kang Andi, mengingatkan. membuat mataku terbuka lebar, seolah tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Karena menurut pengetahuanku, api akan kalah dengan air.
"Pakai ini" teriak Kang Andi, melemparkan dua handuk yang, ia temukan di gantungan jemuran, aku hanya menatap ke arah kang andi, merasa heran dengan apa yang dia perbuat.
"Jangan bengong, kayak bebek gitu, masukkan handuk itu ke dalam air, lalu padamkan apinya, Aku mau cari benda lain untuk mematikan api" bentak Kang Andi, menyuruh.
Dengan cepat, aku pun mengikuti apa yang disarankan Kang Andi, memasukkan handuk ke dalam air, lalu membawa haduk ke arah di mana Abi sudah berkobar. tanpa pikir panjang, aku dan Kang Agus. mulai memukul-mukul api itu dengan handuk yang basah. Tak lama kemudian, Kang Andi menghampiri dengan membawa gedebok pisang, lalu ia juga melakukan apa yang kita berdua lakukan, memadamkan api dengan alat seadanya.
Dengan perjuangan penuh, dan semangat gigih. ditambah lagi pak RT yang sudah membantu. akhirnya api itu perlahan mengecil, lalu padam" Hanya menyisakan kepulan asap membuat nafas Kami berempat terasa sesak. Terlihat muka Kami berempat penuh dengan warna hitam.
"Sekarang, baru kita siram dengan air" ujar Kang Andi, sambil menuju arah samping rumah pak Ujang. mengambil air dari bak yang terbuat dari coran. Untung saja airnya penuh jadi kita hanya tinggal mengambil, lalu menyiramkan ke sisa-sisa pembakaran. agar bara api tidak menyala lagi ketika tertiup angin.
Setelah yakin bahwa api itu, benar-benar mati. Kami berempat kembali mendekati arah pak Ujang, yang masih tergeletak di tanah. sambil ditangisi istrinya.
Kami berempat berjongkok, duduk di tanah. agar bisa leluasa memperhatikan keadaan pak Ujang. dengan cepat Kang Agus, mengambil pergelangan tangannya, untuk mengecek, Apakah Kang Ujang masih hidup atau sudah tiada.
"A, bangun, A." Panggil istrinya, dengan suara terisak. membuat Siapa saja yang mendengarkan, hatinya akan terasa teriris.
"Tolong bantu, telentangkan!" ucap kang Agus meminta bantuan.
Tanpa ada jawaban, Kami bertiga dengan cepat membantu Kang Agus, menelentangkan pak Ujang, membenarkan posisinya yang meringkuk. dengan cepat Kang Agus mengambil kepala pak Ujang, menjadikan pahanya sebagai bantal.
Dengan perlahan Kang Agus, memijat aliran pernapasan dan aliran darah. lalu kembali membuka minyak wangi, untuk didekatkan ke hidung pak ujang, sehingga membuatnya, perlahan tersadar dari pingsannya.
Kang agus dengan cepat medudukan tubuh pak Ujang, agar jalan pernapasannya semakin lancar, pak Ujang hanya menatap sekeliling, memperhatikan area sekitar yang sudah porak poranda. terlihat sisa api yang masih membakar motornya, meski tidak sebesar ketika awal mula terbakar.
"Rumah kita, A." teriak istrinya yang masih terisak, sehingga membuat pak ujang, menoleh ke arah datangnya suara.
Terlihat pak Ujang, menggerakkan bibirnya. seolah ia hendak menyampaikan sesuatu, dengan cepat istri pak ujang, mendekatkan telinganya ke dekat bibir pak ujang. Agar dia bisa mendengar apa yang hendak disampaikan suaminya.
"Anak kuuuuuuuuuuuu" teriak istri pak Ujang, setelah mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya. dengan cepat dia berlari, menuju ke arah pintu rumah.
melihat istri pak Ujang pergi, dengan cepat aku dan Pak RT berlari, mengikuti istri Pak Ujang. di susul oleh Kang Andi yang mengekor di belakang kami. membiarkan Kang Agus dan Pak Ujang yang masih terduduk di halaman rumah.
__ADS_1