JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 45 TITIK TERANG


__ADS_3

Pov agus


Mataku menangkap ada isolatif kecil, sangat kecil sehingga kalau tidak diperhatikan dengan jelas, itu tidak akan terlihat.


"Ini apa, ya?" Tanyaku sambil menunjukkan isolastif yang menempel di bungkus kopi, karena tidak menutup kemungkinan, bahwa kopi yang baru dibeli akan seperti itu.


Kang arif pun melepas isolatif,  yang ukurannya hanya sebesar ujung kuku. "Ini kayaknya isolatif" jelas Kang Arif sependapat denganku, kemudian dia memperlihatkan isolatif yang sudah ada di ujung jarinya.


Kang Arifpun memperhatikan bungkusan kopi yang satunya lagi, karena Pak RT ngasih kopi itu dua bungkus. dan ternyata kopi itu sama juga, ada isolatif yang menutupi bungkus kopi itu.


"Kok bungkus kopinya kempis? ujar Kang Arif merasa heran, sambil membagikan tatapan ke arah kami.


"Mungkin ada lubangnya, coba perhatikan lagi! siapa tahu saja kita bisa menemukan sesuatu di sana!" Seruku sama Kang Arif.


Dia pun mengikuti perintahku, mengecek dengan teliti bungkusan kopi. ternyata memang benar, ada lubang kecil, sebesar jarum yang ditutupi oleh isolatif tadi, sehingga angin yang ada di dalam tertahan, tidak keluar membuat kopi itu terlihat seperti baru belum diapa-apakan.


"Kurang ajar, berarti ini semua gara-gara si Bayu!" ucap Bapak Kang Arif yang terlihat sangat geram, setelah mengetahui kebenarannya.


"Sabar, Pak! kita tidak bisa menuduh sembarangan orang, sebelum kita mendapatkan bukti yang sangat nyata." jelasku menenangkan Bapak Kang Arif.


"Kita laporkan sama Pak RT. Jangan dibiarkan orang seperti itu, tinggal menetap di kampung kita!" jelas Bapak Kang Arif.


"Sabar Pak, bagaimana kalau Kang Bayu balik menuduh kita bersekongkol, untuk menjatuhkannya, karena cuma kita berlima yang mengetahui kebenaran ini. Aku lihat Kang Bayu sangat pintar memainkan peran, buktinya dia berani menakuti istrinya. Berani mencuri di rumah sendiri, sungguh sandiwara yang luar biasa" ujarku memberikan penjelasan, agar Bapak Kang Arif tidak tergesa-gesa ketika mau mengambil keputusan.


"Iya Pak, Sabar dulu! biarkan mereka berpikir, karena gara-gara mereka kita bisa mengetahui kebenarannya." jelas ibu kang Arif ikut menenangkan suaminya.


"Sebenarnya , saya sudah melangkah lebih jauh Pak, bahkan rencana mereka saya sudah mengetahui, ketika Kami berempat mengintip mereka berbicara di kuburan. Namun sayang mereka sekarang sudah pindah tempat, mencari persembunyian yang dirasa aman. jelasku sama bapak Kang Arif.


"Terus rencana mereka seperti apa, biar saya beritahukan sama warga lain, agar lebih Waspada!" tanya Bapak Kang Arif dengan serius.


"Mereka mau pindah tempat dari Saung pekuburan, ke Saung Pak Haji goni atau Saung Pak Ibrahim. namun melihat kecerdikan mereka Siapa tahu saja mereka berbohong, hanya untuk mengelabui kami. dan sebenarnya mereka akan berhenti melakukan perbuatannya, setelah mencuri di rumah Pak Haji Goni." aku menceritakan penemuanku kepada bapak Kang Arif.

__ADS_1


"Ayo kita beritahu semua warga, rencana si Bayu." saran Bapak Kang Arif dengan menggebu-gebu.


"Aku lihat Kang Bayu sangat pintar, jadi tidak semudah itu kita bisa menangkapnya." ujarku memberikan penjelasan, agar Bapak Kang Arif bisa mengambil keputusan dengan bijak, biar tidak salah mengambil langkah.


"Bukti sudah jelas, kopi itu dibolongin, mungkin dia memasukan obat tidur ke dalamnya!" Sanggah Bapak Kang Arif, masih kekeh dengan pendapatnya.


"Nggak bisa Pak, ini nggak bisa dijadikan bukti, seperti yang tadi saya bilang, bukti ini bisa berbalik sama kita, Kang Bayu bisa menuduh kita pelakunya." jawabku mengulang perkataan yang tadi diucapkan, agar Bapak Kang Arif bisa paham.


"Terus rencananya gimana, Jang? Bapak udah geram pengen menghajar si Bayu!" tanya Bapak Kang Arif.


"Pertama kita harus mengecek kebenaran kopi ini, Apakah benar bisa membuat kita tertidur, atau tidak. yang kedua kita harus berpikir, bagaimana menangkap basah Kang Bayu, soalnya setiap malam dia selalu bergabung ngeronda sama kita, aku yakin ini dilakukan lebih dari satu orang. Kalau sekarang kita menangkap Kang Bayu, pasti yang lainnya tidak akan ikut tertangkap!" Aku mengungkapkan Rencanaku.


"Cara mengeceknya seperti apa?" tanya Kang Andi yang sejak tadi hanya diam menyimak.


"Harus ada salah satu dari kita yang mencobanya, Apakah kita bisa tidur, apa nggak. Setelah meminum kopi ini." jelasku karena tidak mungkin dibawa ke laboratorium untuk mengeceknya. karena laboratoriumnya juga entah tahu di mana? Karena kita hidup di pedesaan yang sangat jauh dari kota.


"Terus siapa, yang mau jadi kelinci percobaannya?" tanya Kang Andi.


"Nggak tahu, aku juga bingung!"  jawabku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal.


"Kayaknya di dalam kopi ini, ada kandungan obat tidurnya, jadi efek samping buat orang yang meminumnya, akan tertidur dengan pulas, seperti para warga yang tertidur tadi malam." jelasku kurang menyakinkan.


"Sini! Ibu saja, yang meminum, kalau cuma tidur doang mah!" tawar ibu kang Arif, dengan sukarela menawarkan diri untuk menjadi kelinci percobaan.


"Sudah biar bapak saja! nanti, nggak apa-apa kan, kalau Bapak minum ini?" tanya Bapak Kang Arif memastikan. Mungkin beliau takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Insya Allah, nggak apa-apa! hanya mengantuk doang, dan tidur dengan pulas!" ujarku menjelaskan pengalaman yang ku alami, Setelah meminum kopi pemberian dari Kang Bayu.


Tanpa ada perkataan lagi, kopi pemberian dari Kang Bayu dibuka, lalu dicampurkan dengan kopi  yang ada dalam gelas Bapak Kang Arif, lalu dikucek dengan sendok yang sudah disediaka untuk kopi, kurang aduk atau untuk mencicipi kopi. Setelah kopi itu tercampur rata, kemudian Bapak Kang Arif pun meminumnya.


Dengan jantung yang berdegup kencang, Kami semua saling menatap  menunggu reaksi apa yang akan terjadi.

__ADS_1


"Gimana, Pak. sudah ngantuk belum?" tanya ibu Kang Arif, seolah tidak sabar menunggu kejadian selanjutnya.


"Enggak, Bu. bapak masih belum merasa ngantuk." Jawab Bapak Kang Arif sambil mengambil goreng uli yang ada di atas piring, kemudian memakannya.


20 menit berlalu, Bapak Kang Arif pun mulai menguap. lalu membaringkan tubuh di atas tikar, di bantali dengan tangan yang dijadikan penyangga di bawah kepalanya.


10 menit berlalu. terdengar dengkuran keras yang keluar dari mulut Bapak Kang Arif, beliau tertidur seperti kerbau yang habis membajak sawah.


"Bener-bener, tega si Bayu." ujar ibu kang Arif geram, setelah melihat suaminya tertidur dengan pulas.


"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang, Kang?" tanya Kang Arif sambil menatap ke arahku, lalu kembali menatap ke arah Bapaknya yang matanya tertutup.


"Kita harus mendatangi rumah Pak Firman, namun sebelum ke rumah Pak Firman. tolong Panggil dulu Pak RT terlebih dahulu. Ingat! hanya pak RT yang datang ke sini, jangan mengajak orang lain, karena kita tidak tahu, mana lawan, mana kawan." Pintaku sama Kang Arif.


Dengan gesit, Kang Arif bangkit dari tempat duduknya, lalu keluar dari rumah, untuk menjemput Pak RT.


20 menit berlalu, Kang Arif pun kembali ke rumah, sambil diikuti oleh pak RT, yang mengekor di belakangnya.


"Ada apa, Jang? terus ngapain kang Nanang, tidur jam segini?" tanya Pak RT setelah duduk dengan tenang, sambil menatap ke arah Bapak Kang Arif.


Aku pun segera menceritakan penemuanku, penemuan kopi pemberian Kang Bayu, yang bermasalah. Dan memberikan bukti bahwa kopi itu sudah di campuri dengan obat tidur,, dengan cara melubangi bungkusnya, menggunakan jarum lalu menutupnya kembali dengan isolatif, sehingga kopi itu terlihat baru. Kemudian aku pun menyerahkan bungkusan kopi yang sudah dibolongi, terus menunjukkan Bapak Kang Arif yang sudah tertidur, sebagai kelinci percobaan. Membuktikan bahwa dalam kopi itu ada obat tidurnya.


Mendengar ceritaku, Pak RT hanya menggeleng-geleng kepala, seolah tidak percaya dengan kejadian yang terjadi, sambil mengeratkan gigi menahan emosi yang sudah memuncak.


"Ayo kita tangkap si Bayu!" Ajak Pak RT, sama seperti bapak Kang Arif yang tidak berpikir terlebih dahulu.


"Bagaimana kalau Kang Bayu mengelak, kalau Kang Bayu memutar balikan fakta, seperti kejadian tadi. dia menyalahkan air yang dibawa oleh Pak RT?" Tanyaku Untuk menghentikan niat Pak RT.


"Kita ambil bekas bungkusan kopi, yang tadi malam. itu cukup buat bukti!" jelas Pak RT.


"Maaf, Pak RT. kayaknya semua bungkusan kopi tadi malam, langsung dibakar. sehingga tidak ada bukti yang kuat, hanya ada dua kopi ini saja, yang diberikan Pak RT. namun ini tidak kuat ,Bisa saja dia menuduh kita mengada-ngada, apalagi kalau melihat kejadian tadi pagi, ketika Pak RT dan Kang Bayu saling menyalahkan." jelasku

__ADS_1


"Terus rencananya bagaimana, Jang? saya mengikuti saran Jang Agus aja, karena ketika lagi emosi, kita tidak bisa berpikir dengan jernih!" tutur Pak RT mempercayakan permasalahan ini terhadapku.


"Pertama kita harus mendatangi dulu rumah Pak Firman, untuk mengecek lewat mana dia masuk ke rumah itu, supaya kita bisa mempelajari cara kerja mereka, karena saya yakin pak Firman orangnya sangat hati-hati, Buktinya dia mengikuti Saran saya, untuk menyimpan uang serapih mungkin. Jadi tidak mungkin pocong itu bisa masuk dengan mudah." jelasku.


__ADS_2