JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
TAMAT


__ADS_3

Pov Dalari


Selesai mencuci piring, aku segera menyusul ketiga sahabatku, menuju lantai atas rumahnya Nasrul.


"Kerajinan amat sih! Pakai nyuci piring segala. padahal biarin saja, Soalnya Ibu juga nggak pernah mencuci!" ungkap Nasrul setelah melihat kedatanganku.


"Ya nggak enak lah! kalau harus merepotkan orang lain, Lagian piring itu bukan bekas makan orang lain. Jadi wajar dong kalau aku membersihkannya sendiri." jawabku sambil tersenyum, lalu duduk di kasur yang berada di kamar yang cukup luas.


Kamar bercat putih, dilengkapi kasur yang begitu empuk, dan di depannya ada sebuah TV, sebagai hiburan, jadi ketika mereka hendak menontonnya tidak harus keluar ruangan.


Mungkin beginilah kehidupan orang kaya, TV yang sangat langka itu, berada di setiap kamar rumahnya! sedangkan di rumahku, jangankan televisi. radio pun, orang tuaku tidak punya.


"Nanti malam, acaranya Jadi nggak?" tanya Nawir memulai pembicaraannya kembali.


"Jadilah! tadi aku izin sama ibu, tapi menurutnya ngeliwetnya jangan sedikit-sedikit, harus banyak, biar bisa ngumpul sama warga-warga lainnya." jawab Nasrul memberi pengertian, memberi tantangan kepada chef Nawir.


"Emang punya kuali yang besar?" tanya Nawir.


"Jangan khawatir! Ibuku punya 11 kuali yang ukurannya jumbo." jawab Nasrul terlihat sedikit bercanda.


"Mantap!" jawab Nawir sambil melongo, mengangkat kedua jempol tangannya.


"Ke mana ya? si Fatimah! biasanya dia suka main ke rumah kamu?" tanya Heru mengalihkan pembicaraan.


"Nggak tahu, mungkin malu Anda calon suaminya, di sini!" jawab Nasrul sambil melirik ke arahku, memberikan kode yang tidak aku mengerti.


"Maksud kamu apa?" tanya aku mau balas tatapan Nasrul.


"Hahaha!" gelak tawa pun terdengar keluar dari mulut mereka, yang dengan kompak meledekku.


"Oh iya, kapan kamu sekolah lagi, Rul?" tanyaku untuk mengalihkan suasana.


"Jujur dulu! kamu sebenarnya suka nggak sih sama Fatimah?" Nasrul malah balik bertanya, dia menetap lekat ke arahku, seolah pertanyaannya benar-benar serius.


Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan mereka, karena menurutku pertanyaan itu, hanyalah jebakan yang bisa menjadi bahan ledekan buat mereka.


"Kamu tahu, nggak! Fatimah itu sangat menyukaimu, Ingat nggak? waktu dulu kamu pas dia ngasih coklat? Terus  kamu ngasih apa sama dia?" Nasrul melanjutkan pertanyaannya, Setelah dia mendapat jawaban apapun dariku.


"Pepet terus nanti keburu diambil orang!" timpal Nawir sambil tersenyum.


"Bukan begitu, tapi aku malu?" jawabku yang sedikit pelan, tidak tahu harus menjawab apa.


"Ya! kamu jangan abaikan wanita yang peduli sama kamu! Karena wanita yang peduli sama kita, itu adalah wanita yang tulus menerimamu, mencintaimu apa adanya!" Timpal Heru bak motivator cinta yang sedang memberi motivasi.

__ADS_1


"Pernah satu hari, Fatimah menanyakan. Apakah kamu ada gestur yang menunjukkan, bahwa kamu menyukai dia?" cerita Nasrul menambahkan berita tentang fatimah.


"Nah sekarang kamu suka, apa nggak, sama dia? Apa kamu suka nya sama salah satu dari kita?" tanya Nawir yang mulai ngaco, terlihat sudut bibirnya yang terangkat.


"Nah! nah! kan mulai ngawur." jawabku aku sambil menetap ke arah Nawir, yang terlihat masih cengengesan tampa dosa.


"Oh iya, nanti kita salatnya ke masjid berjamaah, biar kamu bisa ketemu sama Fatimah!" ucap Heru memberi saran.


"Ya, bener! tapi kalau kamu mau ketemu Fatimah. Nanti kita ajak masak bareng aja, pasti dia tidak bisa menolak." saran nasrul memberi opsi lain.


"Emang kalian mau membantu?" tanyaku, karena sebenarnya aku memang ingin bertemu Fatimah, ingin memberikan gelang yang diberikan oleh Dadun.


"Pastilah! kita akan membantu, siapa yang tega melihat sahabatnya berjuang sendirian." jawab Nasrul sambil mengepalkan tangan, seolah pejuang yang sedang memberi semangat pada prajuritnya.


"Caranya gimana?" tanyaku meminta pendapat dari mereka, yang mulai aku percayai, bahwa mereka serius ingin membantuku, bukan menjadikan bahan leluconannya.


"Gampang! nanti aku yang atur waktunya, yang penting Heru harus bantu untuk memberitahu Fatimah, tentang Rencanaku." jelas Nasrul sambil melirik ke arah Heru.


"Siap, komandan!" jawab Heru sambil mengangkat tangannya lalu disimpan di kening.


"Terus aku tugasnya apa?" tanya Nawir yang sejak dari tadi hanya memperhatikan.


"Kamu kan sudah tahu tugas kamu apa!" jelas Heru


"Iya, apa?" tanya Nawir yang semakin penasaran.


Terdengar lagi suara gelak tawa, yang memenuhi kamar Nasrul. begitulah, ketika kita berkumpul, saling meledek, saling bantu, saling menyemangati, seperti saudara yang tidak akan terpisahkan.


*****


Pukul 21.00. kami semua yang berkumpul di depan rumah Nasrul, setelah memakan nasi liwet yang dibuat oleh Nawir sudah selesai. nasi liwet yang begitu nikmat, sehingga ada berapa orang yang masih terlihat menjilati bibirnya, merasakan kembali sisa-sisa kenikmatan itu.


Sesuai rencana yang telah kita sepakati sebelumnya, aku dan Fatimah duduk berdekatan, meski tidak jauh dengan orang lain, karena takut menimbulkan kecurigaan.


"Mau apa?" tanya Fatimah dengan suara yang begitu lembut, matanya yang lentik menatap Indah ke arahku.


"Aku mau, kita terus bersahabat selamanya! maaf kalau selama ini aku selalu membuatmu merasa jengkel." ujarku mulai mengungkapkan perasaan.


"Kenapa hanya sahabat?" tanya Fatimah seolah Dia meminta lebih dari itu.


"Karena sahabat, tidak ada yang namanya mantan sahabat, sahabat akan selalu ada selamanya, baik dalam suka maupun duka."  jelasku agar Fatimah tidak salah paham.


"Tapi kalau jodoh bagaimana?" Tanya Fatimah dengan suara lembutnya.

__ADS_1


"Amin!" jawabku dengan tidak sadar.


"Kok amin, sih! Emang kamu mau?" tanya Fatimah sambil menatap lembut ke arahku, dengan raut wajah yang begitu manja membuatnya semakin terlihat menggemaskan.


"Mau apa?" tanya aku pura-pura bod0h.


"Mau jadi suamiku!" Jelas Fatimah menjelaskan dengan serius.


"Masih jauh kali, kita saja masih baru masuk SMP, Masa udah ngomongin masalah pernikahan  tapi kalau jodoh. aku nggak akan nolak karena kamu adalah bintang yang paling terang, diantara bintang-bintang yang ada di angkasa."


Mendengar penuturanku seperti itu, terlihat pipi Fatimah yang memerah menjadi tomat, Mungkin dia malu dengan perkataanku yang seperti itu, atau apalah gitu, aku nggak bisa mengartikan mimik wajahnya, Karena aku bukan ahli anatomi tubuh.


Seketika suasana pun menjadi Hening di antara kita berdua. tak ada obrolan yang keluar lagi dari mulut, namun dengan perlahan, aku merogoh saku Celanaku, untuk mengambil gelang pemberian dari Dadun.


"Apa ini?" tanya Fatimah dengan sedikit mengerinyitkan dahi.


"Itu gelang pemberian dari Dadun, Namun sayang orangnya sekarang sudah diamankan oleh pihak berwajib. untuk mempertanggungjawabkan semua kesalahannya, kesalahan yang telah menggemparkan semua warga." aku menjelaskan.


"Wah, cantik banget gelangnya, aku suka!" Ujar Fatimah sambil terus memperhatikan gelang itu.


"Oh ya, gelang itu sebenarnya ada dua!" jelasku sambil mengambil gelang yang ada di tangan Fatimah, kemudian melepaskan pengunci ikatannya, sehingga gelang itu terbelah menjadi dua bagian.


"Keren banget!" hanya kata itu yang keluar dari Fatimah, lalu dia mengambil sebagian gelang pemberian dariku.


"Kita mengikat doa kita! dengan gelang ini. agar suatu saat kita bisa bersatu, bersama. dalam satu ikatan yang sah dan halal!" ujarku salmbil menatap Haru ke arah Fatimah.


Fatimah hanya menganggukkan kepala, terlihat matanya yang bening memunculkan cairan kebahagiaan.


"Fatimah! Fatimah!" teriak seorang bapak-bapak yang berdiri di pintu rumah samping rumah Nasrul.


Tak lama pria itu pun menghampiri, lalu menarik tangan Fatimah yang sedang duduk denganku.


"Kamu itu! nggak level berteman sama anak seperti ini. nanti bapak carikan jodoh yang sudah PNS! Bukan dengan anak gembel seperti ini." Ujar Bapak Fatimah dengan meninggikan suaranya, sambil terus menarik tangan anaknya.


Tak lama dia pun kembali, setelah mengantarkan Fatimah masuk ke dalam rumahnya.


"Eh Anak Kampung! Dasar orang miskin  tidak tahu malu. kamu jangan dekat-dekat dengan anak saya, nanti anak saya ketularan miskinnya!" Ancam Bapak Fatimah, sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.


~TAMAT~


NB: maaf kalau dalam cerita ini ada nama atau kejadian yang serupa, bukan untuk menyinggung, namun ini adalah hanya karangan fiktif Semata.


Ini adalah buku pertama saya. yang saya tulis, masih banyak penulisan kata atau kalimat yang tidak sesuai peubinya. Jadi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, ketika bnyak yang salah.

__ADS_1


"Terima kasih buat kalian yang sudah membaca buku saya, kita akan bertemu lagi di buku terbaru.yang berjudul. "dua penghianatan"


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


__ADS_2