
Pov dalari
"Bukannya itu Dadun?" Ungkap Nawir yang terus memperhatikan ke arah Fatimah.
"Iya bener, itu Dadun." jawab Heru membenarkan.
"Wah, sainganmu berat dal! orang semisterius itu susah ditebak!" jelas Nawir sambil memicingkan mata ke arahku.
"Maksudnya?" tanyaku sambil mengerinyitkan dahi, tidak mengerti apa dengan yang Nawir ucapkan.
"Ya, saingan mendapatkan hatinya Fatimah!" jawab Nawir sambil terkekeh, membuatku menghembuskan napas dengan kasar.
Fatimah pun berpisah, karena mereka beda kelas. Dadun yang berada di kelas 3. sedangkan Fatimah yang berada di kelas 2. ruang kelas 3, sama ruang kelas 2. itu bangunannya terpisah.
Setelah berpisah dengan Dadun. Fatimah terus berjalan menuju ruang kelasnya, yang satu bangnan dengan kelasku. namun ketika menoleh ke arah dimana aku dan sahabatku duduk, dia tersenyum lalu berjalan menghampiri.
"Santri, peletnya manjur." ucap Nawir sambil terkekeh, setelah melihat Fatimah yang berjalan mendekati.
"Apaan sih, Wir. dari tadi kamu meledekku terus!" dengusku dengan kesal, namun Nawir hanya menyunggingkan senyum.
Namun ketika Nawir hendak menjawab ocehan ku, Heru sudah terlebih dahulu, mengajaknya untuk pergi masuk ke kelas.
"Eh, kalian mau ke mana?" tanyaku dengan keras, ketika ditinggalkan seperti itu.
"Sukses!" ucap mereka sambil mengangkat jempol, memberiku semangat. namun entah semangat apa yang mereka berikan, semangat untuk berbuat dosa kah?.
"Hai, assalamualaikum!" sapa Fatimah sambil memberikan senyum termanisnya.
"Waalaikumsalam" jawabku kemudian membalas senyumnya.
"Barusan aku sudah mengobrol sama Dadun, kebetulan tadi kita bertemu di pertigaan. sekalian saja aku utarakan maksud kamu, yang kemarin." ungkap Fatimah tanpa ditanya terlebih dahulu. Dia sudah memberikan keterangan.
"Terus, dianya mau?" tanyaku dengan penasaran.
"Katanya mau, nanti siang. dia minta kita untuk menemuinya lagi. menurutnya, agar Dadun bisa tahu gelang seperti apa yang kamu inginkan!" jelas Fatimah sambil menatapku.
"Terus nanti Bagaimana, kamu memberitahu, bahwa Dadun mengobrol dengan suara asli, atau tidak." Tanyaku sambil menatap ke arah Fatimah.
"Gampang! kamu lihat jariku saja! ketika jariku bergerak-gerak, berarti itu suara aslinya. kalau nggak berarti itu bukan, Bagaimana mengerti, tidak?" jawab Fatimah menjelaskan.
__ADS_1
"Gerakannya seperti apa?" aku bertanya kembali.
"Seperti ini!" Fatimah menggerak gerakkan jarinya. membuatku tersenyum lucu melihat tingkah lakunya.
Digoda seperti itu, akhirnya dia sadar, lalu memicingkan mata, sabil menyilangkan rahangnya, merasa tidak suka karena aku kerjain.
"Ya sudah, nanti ketika waktu istirahat, kita temuin saja di kelasnya, bagaimana?" usulku memberikan saran sambil terus tersenyum.
"Ide bagus tuh, emang dia menyuruh kita menemui dadun dikelasnya. ya sudah, nanti aku tunggu."jawab Fatimah, kemudian dia bangkit dan Beranjak Pergi Meninggalkanku.
Setelah Fatimah pergi, aku pun beranjak bangkit dari tempat duduk, segera memasuki kelas, untuk menunggu pelajaran pertama dimulai.
Pukul 10.00. bel tanda istirahat pun berbunyi, aku dan kedua sahabatku merapikan alat-alat tulis masing-masing. Lalu memasukkannya ke dalam tas.
Setelah semua rapi, aku meminta izin kepada mereka, bahwa aku akan menemui Dadun, bersama Fatimah.
Setelah mereka mengizinkan, aku pun menuju ruangan kelas 2, di mana Fatimah sudah menungguku, di depan ruang kelasnya.
"Ayo!" ajak Fatimah setelah aku berada di hadapannya.
Hanya anggukan kepala kuberikan sebagai jawaban dari ajakannya. lalu kita pun pergi menuju bangunan, di mana Kelas 3 belajar. agak sedikit ragu ketika memasuki kelas itu, mengingat Arfan dan kronco-keronconya juga, berkelas sama dengan Dadun
Mata Fatimah memindai semua sudut, untuk mencari keberadaan Dadun. terlihat ada seorang siswa yang duduk di pojok, mengangkat tangan. dengan cepat Fatimah pun menghampiri.
Setelah sampai didekat Dadun, kita berdua pun duduk menghadap ke arahnya. aku yang sejak dari tadi tidak berani menatapnya, Entah mengapa suasananya menjadi mistis, seperti di film-film horor. Sesekali kuperhatikan semua sudut ruangan, mencari keberadaan Arfan dan teman-temannya. Namun tidak ada tanda-tanda yang membuatku merasa khawatir.
"Ini Dun, orang yang mau dibuatkan gelang!" ujar Fatimah dengan berhati-hati, seperti Kuncen yang sedang menghadapkan calon Abdi baru ke sang raja siluman.
Dadun tidak menjawab, Dia hanya menatap ke arahku, dengan tatapan yang sangat tajam, sampai tembus ke ulu hati. Spontan jantungku tiba-tiba berdetak, lebih memburu. seperti orang yang ketakutan. dengan cepat aku tundukan muka, agar tidak terus bertatapan dengannya.
"Mau gelang Seperti apa emangnya, dal? tanya Fatimah memecah suasana canggung gitu
Kutarik napas dalam, beberapa kali. lalu kau hembuskannya dengan pelan, untuk menenangkan Irama jantungku yang tak beraturan.
"Kira-kira gelang seperti apa ya, Kak. yang cocok buat kita berdua." ujarku mengarang, karena sebelumnya tidak di briefing terlebih dahulu.
"Oh, mau kapelan." tanya Dadun.
Dengan cepat aku melirik ke arah jari Fatimah, yang berada di atas meja, namun jari itu tidak bergerak. Menandakan itu bukan suara asli Dadun.
__ADS_1
"Iya kak, soalnya kemarin ketika melihat gelang di tangan Kakak, itu terlihat unik dan sangat luar biasa!" jawabku mengungkapkan kekaguman.
Dadun hanya tersenyum, tanpa mengeluarkan suara. Mungkin merasa bangga, dengan apa yang ia buat. karena setelah aku berbicara seperti itu, dia memperhatikan gelang akar berbentuk ular, yang melilit di tangannya. Begitulah seorang seniman, ketika karyanya dikagumi.
"Kamu suka?" tanya Dadun, terlihat Fatimah menggerakan jarinya sehingga aku dengan cepat menyimpan suara asli itu, mengunci di memori otakku, agar nanti tidak harus memperhatikan Fatimah lagi.
"Banget! Kak. ini luar biasa, ini dari akar, kan?" Tanyaku terus memujinya.
"Iya, ini terbuat dari akar pohon teh, karena selain kuat dan mudah dibuat, terus ketika di haluskan akan mengeluarkan warna seperti ini! Warna yang sangat cantik." ujar Dadun, jari Fatimah pun mulai bergerak. namun aku tetap merasa suara Dadun, tidak ada mirip-miripnya dengan orang yang mengobrol di kuburan.
"Wah, hebat banget Kak, Kok. bisa ya? akar seperti itu, dibuat gelang sebagus ini?" pujiku lagi, agar dia terus berbicara seperti itu.
"Gampang, yang penting ada kemauan, semua orang itu pasti bisa, yang penting ada jiwa seni di dalam tubuhnya" jelas Dadun diakhiri dengan gerakan jari Fatimah.
"Terus kira-kira gelang apa? yang cocok untuk kita berdua? Dan boleh nggak? nanti aku belajar untuk membuat gelang, soalnya aku suka, dengan kerajinan tangan seperti ini" Tanyaku mengulang kembali pertanyaan yang awal.
"Coba lihat tangan kalian!" pinta Dadun.
Aku dan Fatimah pun mendekatkan tangan, memperlihatkan ke arah Dadun. dengan cermat dia memperhatikan pergelangan tanganku, Yang pendekatan dengan pergelangan tangan Fatimah.
Lama mengamati, namun dia tak kunjung memberikan pendapat apapun. sehingga membuat aku dan Fatimah saling menatap, merasa heran dengan sikapnya.
"Mau, nggak, kalau gelangnya terbuat dari tanduk?" tiba-tiba Dadun berkata seperti itu, membuatku menatap heran ke arahnya.
"Emang bisa, tanduk dibikin gelang?" Tanyaku seolah tidak yakin dengan jawabannya.
Dadun tidak menjawab. Dia hanya menatap tajam ke arahku, sehingga dengan cepat aku menutup mulut, merasa gugup diperhatikan seperti itu.
"Pertanyaan bod0h!" gumamnya dengan pelan, namun aku bisa mendengar.
"Wajarlah, Dun. dalari bertanya seperti itu, dia kan bukan orang seni, sama seperti aku yang heran, masa, Iya. tanduk bisa dibikin gelang?" Bela Fatimah, agar Dadun tidak jadi marah.
Akhirnya dia pun tersenyum, seperti orang yang punya kelainan ganda. Tiba tiba sikapnya bisa berubah dengan cepat.
"Kira-kira, berapa harganya, Kalau gelang yang terbuat dari tanduk?" Tanyaku memberanikan diri menatapnya.
"20.000"
Gulg!
__ADS_1
Aku menelan saliva, merasa terkejut dengan permintaan harganya. karena uang sebesar itu, cukup buat bertahan di pondok selama dua Minggu, gajih aku dari Pak Chandra hanya Rp30.000 per bulan. Dan dengan Rp20.000 itu bisa membeli setengah gram emas 18 karat.