
Di hari yang sama sebelum pulang sekolah Iren teringat tentang sesuatu yang menggangu pikirannya beberapa hari
yang lalu sebelum libur, Iren yang berjalan menyusuri lorong sekolah bersama Nissa membuka ponselnya yang berbunyi
Iren pun segera membuka dan membaca isi pesan yang ada ternyata dari Yanda yang mengajaknya sepulang sekolah untuk duduk di kafe.
Iren pun teringat kalu ia belum memberi jawaban ke Yanda tentang pertanyaan yang Yanda sampaikan tempo hari, tanpa ragu Iren pun menjawab boleh ke Yanda setelah pulang sekolah nantinya.
Setelah itu Iren pun memikirkannya sepanjang pelajaran sekolah dan berkhayal yang tidak-tidak setelah ia memberi
jawaban ke yanda nantinya ia berfikir kalau Yanda akan marah ke dia kalau ia menolaknya.
Nissa yang memperhatikan Iren yang gelisah dan termenung mencoba untuk mengajaknya keluar kelas sebentar dan meminta ijin ke gurunya bersama dengan Iren juga ia ajak.
Kemudian Nissa ke belakang dan menarik tangan Iren dan langsung mengajaknya keluar kelas dan menanyakan ke Iren “ada apa Ren kok dari tadi Nissa perhatiin Iren melamun aja terus keliatannya gelisah gitu?” sambil mengajak Iren duduk di kursi di dekat lorong sekolah
Iren yang bingung dengan pertanyaan Nissa karen ia bisa tau kalau ia sedang banyak pikiran tanpa ragu langsung bercerita tentang masalah yang sedang ia fikirkan.
“ia Nis Iren tadi di ajak Yanda ketemuan di kafe setelah pulang sekolah nanti, kayaknya dia mau tau jawaban Iren masalah perasaan Iren ke dia, tapi Iren masih takut kalau nanti Yanda
marah besar ke Iren karna Iren kan gak suka sama dia terus Iren pun gak ada perasaan apa-apa ke Yanda, makanya dari tadi Iren gelisah terus bingung nantigimana ya reaksi Yanda ya?”
Nissa yang tersenyum pun mencoba menenangkan Iren yang sedang cemas dan mengelus bahu dengan lembutnya berkata
“tenang Ren kalau masalah Itu gampang kok” Iren pun mulai sedikit tenang dengan perkataan Nissa karena mungkin Nissa bisa kasi jalan keluar ke dia, menurut pikirannya
Nissa menyambung kata-katanya tadi agar Iren lebih merasa tenang, “Iren benarkan gak mau kalau pacaran sama Yanda?”
tanya Nissa sedikit memastikan kembali mengenai perasaan Iren ke Yanda “ia Nisa Iren emang gak ada perasaan ke Yanda meskipun dia orangnya baik ke Iren, Iren cuma anggap dia kayak teman biasa aja Nis” mengetahui jawaban itu Nissa senang mendengarnya “kalau gitu nanti coba waktu pulang sekolah nanti hubungi aja Yanda Ren, nanti bilang aja kalau Iren perginya sama Nissa, kalau boleh, bilang gitu ke Yanda, nanti kabarin aja ke Nissa kalau jadi ya, biar Nissa ke rumah
__ADS_1
Iren terus temanin Iren ke kafe ketemu Yanda”
Iren pun sekarang merasa tenang dengan Nissa karena ia mau menemaninya bertemu dengan Yanda sepulang sekolah nanti.
Setelah selesai ngobrol sedikit panjang berdua dengan Iren, Nissa pun mengajak Iren kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran kembali.
Iren kembali duduk di sebelah Berry yang juga penasaran dengan Iren kenapa ia tadi keluar bersama dengan Nissa,
setelah itu pelajaran selesai Berry pun penasaran dan bertanya ke Iren dengan wajah datarnya “Ren tadi ngapain keluar bareng Nissa?” Iren menjawab tanpa berpikir panjang “oh tadi Nissa kawatir dengan Iren, tanya kenapa Iren ngelamun terus waktu jam pelajaran, terus Iren jelasin kalau Iren lagi banyak pikiran karena Yanda ngajak Iren ketemuan kayaknya mau dengar jawaban Iren mungkin Yanda nya” Berry pun dengan spontan mengajukan diri untuk ikut menemaninya
nanti bertemu dengan Yanda karna Berry pun penasaran dengan jawaban Iren
“Berry ikut juga boleh Ren?” Iren pun tertawa dan sedikit kaget dengan Berry yang menawarkan dirinya untuk menemaninya
nanti, Iren pun senang karena Berry sangat peduli dengan nya menurut pikirinanya Iren.
“boleh Ber soalnya Nissa juga ikut nanti” dengan begitu mereka semuanya pergi bersama dan keluar kelas untuk
sekolah dan ia langsung mengirim pesan ke Yanda
Di tempat lain Yanda yang mendengar suara ponselnya berbunyi lalu membuka nya dan melihat isi pesan dari Iren,
alangkah kagetnya Yanda kalau Iren akan di temani oleh temannya yakni Berry dan Nissa
Sejenak Yanda pun jadi ragu ingin bertemu dengan Iren tapi ia pun tidak bisa menyalahkan Iren karen ia tidak
mengatakan kalau ia hanya ingin berdua saja dengan Iren duduk di kafe nantinya.
Yanda pun menyetujuinya meskipun ia sedikit kecewa karen Iren membawa temannya nanti yang membuat ia sedikit takut.
__ADS_1
Setelah itu Iren pun menunggu Nissa dan Berry yang sedang menuju rumahnya untuk berangkat bersama ke kafe untuk
bertemu dengan Yanda
Yanda yang sudah berada di kafe pun menghubungi Iren kalau ia sudah sampai dan memberitahu nomor meja tempat ia
duduk di kafe.
Berry dan Nissa pun sampai di rumah nya Iren dan langsung berjalan menuju kafe yang biasa merkeka kunjungi dimana di
situ Yanda sudah menunggu mereka terutama Iren yang ia tunggu.
Sepanjang perjalanan Iren yang sangat cemas karena takut dengan reaksi Yanda setelah ia tolak nantinya dan ia berfikir bagaimana nanti kalau ia menolaknya dan apa Yanda akan membencinya selamannya terus-terusan sepanjang perjalanan Iren gelisah
Seperti biasanya Nissa yang cepat menyadari kalau Iren yang sedang cemas pun mencoba mencairkan suasana agar Iren
merasa sedikit tenang dengan bercanda dengan Iren dan menggodanya “Ren kalau Berry nembak Iren gimana ya, apa Iren mau terima gak?” dengan tertawa liciknya Nissa
pun melirik ke arah Berry untuk menggodanya juga “hahahaha” Iren pun malu dengan pertanyaan yang Nissa berikan ke dia dan ia pun menunduk dan terdiam melihat Iren, dengan cepat Nissa mencoba menggoda Berry “Ren coba lihat Berry kayaknya malu-malu tu, kayaknya Berryyyyyy!!!!!!!”
langsung Berry membantahnya “apa sih Nis, kayak apa hayooo” Berry mencoba untuk tidak takut agar ia bisa
menyembunyikan perasaan malu nya “hahhaahah” Iren pun mulai tertawa karena melihat Berry yang mencoba untuk menggoda Nissa balik
Nissa yang terus-terusan menggoda Berry dan Iren agar suasananya menjadi tidak membuat Iren merasa cemas akan hal yang belum tentu terjadi, karena Nissa tau kalau Iren adalah orang yang sangat takut untuk menyakiti orang lain makanya ia sebisa mungkin untuk membuat Iren tenang
agar nanti Iren mampu berbicara dengan baik ke Yanda dengan sopan dan membuat Yanda mengerti dengan kata-kata Iren dan tidak membenci Iren meskipun itu akan menyakitkan baginya karena jawaban yang akan Iren utarakan adalah penolak dirinya.
lanjut di bab selanjutnya
__ADS_1
jangan lupa like dan komen terus vote, semoga teman-teman semuanya sehat selalu