Jalan Seorang Introvert

Jalan Seorang Introvert
Bagian 20. Pulang Sekolah


__ADS_3

Setelah pulang sekolah


Iren Berry dan Nissa pun pergi menuju ruangan yang di ceritakan oleh Berry tadi ke mereka, setelah itu mereka berjalan menyusuri lorong menuju ruang kelas itu, sesampai mereka di depan ruangan itu Berry pun membuka pintu dan langsung masuk dan mempersilahkan Iren dan Nissa masuk juga.


Alangkah kagetnya Nissa melihat suasan ruangan itu yang gelap dan berdebu sangat banyak dan peralatan-peralatan yang sudah tak terpakai sudah di tutupi oleh sarang laba-laba semuanya.


“yaaaaaah joroknya ruangan ni, kok bisa setebal ini debunya gimana mulai bersihinnya ni?????”


Nissa yang sangat kaget dengan ruangan yang sangat berdebu ini pun terdiam di depan pintu, kemudian Iren juga kaget dengan ruangan itu dan terdiam melihatnya tetapi tidak seperti Nissa yang hampir setengah mati melihatnya. Iren dengan tenang mencari sapu yang ada di dekat pintu dan mulai menyapu lantainya terlebih dahulu dan Berry pun mencoba mengangkat beberapa tumpukan buku yang terletak di lantai dan memindahkannya ke atas meja yang ada.


Berry yang melihat Nissa masih terdiam di pintu pun mengajaknya untuk masuk “Nis sini bantu Berry pindahin meja ini ke luar dulu biar nanti lebih muda kita bersihinnya, Nis sini dong”


Nissa yang mendengar nya pun menuju kearah Berry dan membantunya meski Nissa merasa takut dan geli karena sarang laba-laba dimana-mana sepanjang ia memandang sekelilingnya,


“iiiiiia Ber bentar Nissa ke sana ni, ihh aduhhh” suara Nissa yang sedikit ketakukan karena geli dengan laba-laba.


Beberapa meja sudah mereka keluarkan, Iren yang terus menyapu lantai pun lebih mudah karena meja-meja yang menghalangi sudah di pindahkan oleh Berry dan Nissa. Kemudian langkah kaki berbunyi dari lorong yang mulai mendekat kearah ruangan mereka yang sedang beres-beres di dalamnya.


Nissa pun yang mendengarnya sedikit takut karena menurutnya itu adalah hantu yang berjalan karena ruangan itu sedikit gelap karena belum ada lampu yang di hidupkan, masi siang tetapi kelihatan sedikit mencekam menurut Nissa


“Berrr suara apa tu coba dengar kan, tuh kan makin dekat”


Iren yang juga sedikit ketakutan karena Nissa yang sudah ketakutan duluan pun ikut ketakutan


“ia Ber suara apa tuh kok makin dekat ya aduh apa tu” dengan bersembunyi di belakang Berry yang menghadap ke arah pintu.


Berry pun terdiam sejenak dan mendengarkannya sehingga suasana menjadi hening sebentar, kemudian suaranya semakin keras dan tiba-tiba berhenti sejenak beberapa saat




__ADS_1









"Hai Ber" dengan suara sedikit keras dan tiba-tiba muncul


“iaaaaaaaaaaaaa” teriak Iren dan Nissa yang mendengarnya


“haaa aduh”


“kok teriak si Ber?” tanya Yanda


Ternyata Yanda yang berjalan tadi dengan seorang siswi yang ia bawa untuk membantunya karena ia memiliki kesukaan yang sama dengan Berry, Nissa dan Iren.


ia merupakan adiknya Yanda maka dari itu karena ia ingin adiknya juga bisa menyalurkan bakat menulisnya di organisasi yang di ketuai oleh Berry,


Yang mana Yanda sangat berharap kalau adiknya bisa nyaman dengan mereka di organisasi dan ada satu hal lagi yang membuat adiknya Yanda masuk ke organisasi itu.


Setelah Itu Iren dan Nissa yang masih ketakutan pun mencoba menenangkan diri mereka karen ternyata itu bukan hantu melainkan Yanda dan adik nya yang ikut membantu mereka untuk membereskan ruangan agar bisa segera di tempati.


Kemudian Nissa dan Iren pun sudah mulai sedikit tenang dengan situasi yang mencekam tadi, Yanda yang sebenarnya ingin tertawa karena melihat mereka bertiga ketakutan karena mengira yang datang adalah hantu.


Yanda sedikit tertawa melihat Iren dan Nissa yang masih sedikit ketakutan, terus ia mencairkan suasana dengan mengajak Berry untuk mengambil tangga untuk mengganti bola lampu yang ia bawa dari ruang guru yang di berikan Pembina organisasi ketika ia lewat tadi di depan ruang guru.

__ADS_1


Kemudian Berry pun mengambil tangga yang ada di sekitar ruangan itu dan membukanya dan meletakkannya di bawah lampu yang ingin di ganti dan Berry pun memegang tangga itu kemudian Yanda mulai menaiki tangga dan membuka bola lampu yang lama dan menggantinya dengan yang baru.


Kemudian Iren mencoba menekan sakelar lampu dan seisi ruangan menjadi terang tak seperti tadi yang sedikit mencekam bagi mereka terutama Nissa yang masih sedikit ketakutan dengan ruangan itu.


Mereka pun membersihkan semua sudut yang ada di ruangan itu dengan perlahan namun pasti hingga hari itu pun selesai mereka bereskan.


Hingga sore hari mereka pun pulang ke rumah masing-masing karena mereka sudah kelelahan dengan bekerja membereskan ruangan itu.


Sesampai Berry di rumahnya setelah ia selesai mandi dan sarapan di ruang tamu karena ia belum makan siang karena mereka tadi di sekolah hingga sore hari.


Suara dua orang gadis smp pun menuju ruang tamu yang baru pulang dari luar bersama Ibunya berbelanja di pasar terdekat, menghampiri Berry yang baru saja selesai sarapan.


Dengan nada ter engah-engah karena berlari saling menyusul satu sama lain, Rana dan Rania pun menarik kedua tangan kakak mereka satu di sebelah kiri dan satu lagi di sebelah kanan.


“kak kak kak, jadi kan Besok ke kafenya, jadi kan kak jadi kan kak?” Rania memaksa kakaknya agar segera menjawabnya dan di sisi lain Rana juga mendesak dengan mengatakan hal yang sama dan mereka ribut menunggu jawaban dari kakaknya.


Berry yang heran dengan kedua adiknya itu, kok bisa teringat dengan ajakan Berry tempo hari ketika dia sedang makan bersama dengan mereka.


Berry pun senang karena besok dia bisa mengajak mereka ke kafe untuk ketemu dengan sahabatnya Iren dan Nissa  yang ia janjikan bakal ia tunjukkan kalau mereka benar cantik seperti Iren dan Nissa


“Ia dek kakak kan uda janji, besok kita jadi perginya kok, ok kan nanti kakak juga ajak kak Iren dan kak Nissa” Berry pun tersenyum dan duduk kembali dan mengelus kepala kedua adiknya itu karena ia sering melakukan itu agar mereka lebih tenang dan nyaman dengan nya


Kemudian mereka pun pergi ke depan TV untuk nonton dan meninggalkan kakaknya karena mereka sudah mendapat jawaban dari kakak mereka.


Berry pun merasa lucu dengan sikap adiknya yang seperti itu yang juga kadang cuek dengannya kalau mereka sudah mendapatkan sesuatu. Terus Berry pun tertawa karena ia juga merasa kalau ia juga memiliki sikap seperti Itu


“hahahhahah” ia pun menertawakan dirinya sendiri dengan suara kecil


Berry pun kembali ke kamarnya dan mulai membuka novelnya dan membacanya sebentar karena novel yang ia baca sedikit lagi habis.


Setelah itu Berry melanjutkan kegiatannya bermain game tapi tidak begitu lama karena mengisi kejenuanya karena sudah selesai membaca satu novel dan tamat.


Bersambung jangan lupa like dan komen juga jangan lupa vavoritkan ya agar gak ketinggalan updatenya semoha sehat selalu bagi teman-teman

__ADS_1


__ADS_2