Jalan Seorang Introvert

Jalan Seorang Introvert
Bagian 5. Makan Bersama


__ADS_3

Iren yang sedang sibuk dengan pekerjaannya untuk membantu mamanya yang sedang memasak sarapan untuk mereka dan juga untuk Berry yang di undang oleh mamanya sebagai rasa terimakasihnya karena pernah mengantar Iren pulang kala itu.


Waktu pun terus berjalan hingga semua persiapan yang di lakukan oleh Iren dan mamanya sudah selesai dan mereka pun sejenak istirahat di kursi yang ada di dapur kemudian mamanya Iren bertanya ke Iren tentang Berry untuk segera datang kerumahnya karena mamanya sudah menunggu Berry.


Seketika Iren pun mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Berry dengan mengetik pesan lalu mengirimnya ke Berry


#Di tempat lain yakni di rumah Berry#


Berry yang sedang berbaring di kasurnya dan sedang membaca novelnya di kejutkan oleh suara ponselnya sendiri yang berada dekat dengan nya, kemudian Berry pun membuka ponselnya dan melihat isi pesan yang ternyata dari Iren yang mengabarinya untuk datang ke rumanya karena mamanya uda nunggu, Berry yang sedang santai langsung berkemas dan mangambil tas kecilnya yang biasa ia bawa jika bepergian keluar rumah, dan menuju ke sepeda nya lalu menaikinya menuju rumah Iren.


Di perjalanan ia dengan senangnya mengayuh sepedanya dengan santai karena tidak begitu jauh dari rumahnya kalau ke rumah Iren pikirnya, padahal ia baru sekali ke rumah Iren dengan percaya diri nya ia menelusuri jalan dan masuk


lorong yang ternyata itu buka lorong rumahnya Iren kemudian ia terus mengayuh sepedanya dan menemukan rumah dengan pagar berwarna putih yang ia ingat hanya itu saja tanpa melihat nama lorong yang ia masuki tadi.


Setelah sampai di depan rumah yang pagarnya berwarna putih ia langsung memencet bel rumah yang ada di dekat pagar rumah itu, beberapa saat kemudian keluarlah seorang cewek yang tidak ia kenal, Berry pun langsung berfikir sejenak dan bertanya dalam pikirannya “apa itu mungkin saudaranya


Iren ya ?, ah langsung tanya aja lah” tanpa ragu Berry pun langsung Bertanya ke cewek yang berada di depan pintu yang tak jau dari pagar itu


“Permisi kak , saya temanya Iren kak, apa Irennya ada kak?”


Kemudian si cewek itu bingung dan terdiam mencerna kata-kata Berry yang ia pun tidak kenal dengan nya.


Si cewek itu dengan polosnya dan bingung langsung menjawab “Iren siapa ya bang, soalnya saudara saya gak ada yang namanya Iren bang?”

__ADS_1


Sontak Berry terdiam langung meminta maaf kepada cewek


tersebut “maaf kak, saya salah rumah, hahahhahah” dengan tertawa menutupi rasa malu nya dan si cewek tadi pun ikut tertawa karena melihat ekspresi wajah Berry yang lucu ketika tertawa dan mereka tertawa bersama hahahhahah,


Kemudia Berry langsung pamit ke cewek tadi dengan rasa malu yang tak terbayangkan baginya dan pamit “maaf kak ganggu waktunya, permisi ya kak” kemudian si cewek tadi tersenyum dan menjawabnya “ ia gak apa bg” dalam fikirannya ia pun terpesona dengan sosok Berry yang lucu tersebut dan menurutnya Berry itu ganteng juga dan bertubuh kekar.


Seketika Berry pun bingung dan mulai memperhatikan jalan


yang ia lalui dan mencoba mengingat kembali jalan yang ia lalui oleh Iren sewaktu mengantarnya pulang tempo hari, dengan teliti memperhatikan jalan dan ia pun keluar dari lorong tadi dan kembali ke jalan yang tadi ia lewati kemudian ia kembali dan mencari nama lorong yang ia pun lupa dengan nama lorong rumahnya Iren, setelah beberapa menit ia pun menghubungi Iren untuk menanyakan arah menuju rumahnya.


Ia pun mengetik pesan ke Iran dan berhenti di tepi jalan


yang aman dan mengetik pesan ke Iren, seketika Iren pun membalasnya dan mengarahkan Berry ke arah rumahnya, kemudian Berry pun bergegas untuk mencari nama lorong seroja dan ia pun ingan seketika jalan menuju rumah Iren dalam pikirannnya berkata "aduh Ber kan lorong seroja terus nanti belok kiri lorong pertam kali baru lurus yang pagarnya warna putih itu rumahnya Iren, hade hade Berry Berry” ia pun berbicara sendiri dengan dirinya di dalam fikirannnya sendiri


Beberapa saat kemudia ia Berry pun sampai di depan rumahnya Iren yang pagar warna putih seperti yang Iren katakan ketika ia mengantar Iren, kemudian Berry pun menyandarkan sepedanya di pagar rumahnya Iren dan menekan bel rumah Iren dan menunggu Iren membuka pintunya, sesaat kemudian Iren pun muncul dari balik pintu dan menyapa Berry dengan senyum yang sangat manis


menurut Berry, dan mempersilahkan Berry untuk masuk dan Iren pun membuka pagar rumahnya.


Berry dengan senyumannya pun membalas senyuman Iren dan menjawab “ia Ren” dengan santai karena ia merasa gugup dengan Iren karena jarang sekali ia di undang temannya datang ke rumah, karen ia memang jarang bergaul makanya ia jarang di ajak kerumah temannnya.


Iren mempersilahkan Berry masuk dan menuntunnya ke ruang


tamu untuk bertemu dengan mamanya yang suda menunggu nya sambil menonton TV yang ada di ruang tamu, dengan sopan Berry pun menyapa duluan mamanya Iren dengan

__ADS_1


sebutan Ibu “ ibu” seketika dengan spontan mamanya Iren pun menjawab Berry yang sudah menyapanya duluan “ ia nak mari masuk duduk sini kita makan terus keburu dingin nanti”


Berry yang gugup setengah mati pun perlahan menuju kursi dan tersenyum terus ketika di tawari makanan oleh mamanya Iren dan ia pun cuma bisa berkata “ia bu boleh” di sisi lain Iren yang sangat senang dengan kedatangan Berry ke rumahnya pun asik memperhatikan wajah Berry yang ia tau sedang


malu-malu dengan mamanya dan Iren pun tertawa kecil sendiri di balik senyumnya,


Mama nya  Iren pun menyuruh Iren untuk menuangkan nasi untuk Berry lalu Iren dengan senangnya langsung mengambil piring dan menuangkan nasi ke piring Berry dan meletakkan


nya di depan Berry


Mamanya Iren pun senang dengan suasana ini karen ia melihat kalau Berry itu orang yang baik dan juga ia melihat kalau Iren anaknya suka dan nyaman kalau dengan Berry


“Ehem” mamanya Iren sedikit mengoda Berry dan Iren yang


sedang makan dan langsung bertanya ke Berry "nak kalian pacaran ya?” dengan kagetnya Berry pun tersentak dan terdiam malu dan gugup setengah mati “eeeenngak bu Berry sama Iren cuma tema bu” dengan tertawa geli melihat ekspresi Berry mamanya Iren pun tertawa dan melanjutkan makannya dan berkata ke Berry "kalau pun pacaran sama anak ibu gak apa kok nak, yang penting di jaga Irennya ya”


Di sisi lain Iren yang wajahnya memerah karena menahan malu karena mamanya bertanya seperti itu ke Berry pun mulai menunduk dan tersenyum sendirin tanpa menoleh ke kanan dan kekiri, suasanya seketika itu pun jadi sangat tenang dan menegangkan bagi Berry dan Iren


kemudian mamanya Iren pun berkata kembali “ uda jangan malu-malu habiskan makannya dulu nak, ibu mau ke belakang dulu sebentar ya habiskan makanannya ya” sontak Iren dan Berry pun menjawabnya bersamaan “ ia bu, ia ma” mendengar jawaban itu pun mamanya Iren tertawa kembali dan langung ke belakang untuk mengambil sesuatu.


Jangan lupa Like dan Komentar terus favorit kan, semoga teman-teman sehat selalu


Terima

__ADS_1


__ADS_2