
Nissa yang kaget tanpa sadar ia
mengatakan hal itu, Nissa pun tanpa menutupinya langsung mengatakannya ke Iren
tenatang pendapatnya mengenani Berry ke dia.
“hahah ia Ren, kalau menurut
Nissa kan Ren, Berry tu suka juga ke Iren tau kenapa Ren?”
“kenapa Niss, kasih tau dong”
Iren sangat berharap
“soalnya dari sekian banyak cewek
yang dekatin Berry gak ada yang bisa narik hati nya Ren, cuma sama Iren aja dia
bisa sedekat ini malah bisa jadi sahabatnya lagi cewek lagi, kan itu buktinya kalau
Berry tu suka juga sama Iren karena mungkin dia bisa nyaman dengan Iren”
Nissa sambil tersenyum ke Iren
untuk meyakinkan Iren atas perkataannya bahwa Berry juga suka kapadanya.
Iren yang merasa senang dengan
itu pun mtersenyum malu dengan perkataan Nissa
“beneran Niss gitu ya, tapi kok
Berry gak kasih tau ke Iren ya kalau dia juga suka sama Iren”
Nissa yang mendenganrnya pun
tertawa keras karena perkataan Iren yang membuatnya geli sendiri
“hahahahahha Ren Ren, kalau Berry
uda kasih tahu ke Iren perasaannya nanti kalian pacaran kan, trus Iren knapa
gak kasih tahu ke Berry kalau Iren juga suka ke Berry? Hayo jawab dong Ren gimana tu”
Nissa yang terus menggoda Iren
agar suasanannya jadi lebih nyaman untuk mereka bercerita panjang kali lebar
“aduh Niss jadi malu Iren, kalau
Iren kasih tahu ke Berry Iren takutnya di tolak terus Berry gak mau temenan
lagi sama Iren itu yang buat Iren takut ngungkapin ke Berry kalau Iren suka ke
dia Niss”
“hah coaba Iren fikir, kira-kira
Berry berfikiran gitu juga gak ke Iren atau gimana Ren?”
Iren yang terdiam sejenak
memikirkan kata-kata Nissa yang membalikkan jawaban Iren jadi pertanyaan
buatnya
“emmm ia juga ya Niss, kalau
Berry kasih tau ke Iren pasti kami uda pacaran sejak lama terus gak jadi
sahabatan lagi gini kan Niss, pasti rasanya Beda nanti kalau menurut bayangan
Iren Niss”
“kan itu Iren tahu kalau Berry
ungkapi perasaannya ke Iren kan”
“tapi kok Iren gak bisa ya Niss
lihat Berry di dekatin cewek-cewek waktu pembukaan organisasi kita ya, rasanya
hati Iren sakit Niss”
__ADS_1
Iren yang membayangkannya pun
meneteskan air matanya yang membasahi pipinya namun ia teteap melanjutkan
ceritanya ke Nissa.
Nissa yang melohat Iren yang
meneteskan air matanya pun mengambilkan tisu dan mengusap air mata Iren yang
membasahi pipinya
“gak apa ren tenang aja Ren Nissa
yakin kok Berry pasti gak akan pacaran sama yang lain Ren”
Sambil memeluk Iren dan
menenangkannya dan Iren terus menangis di pelukan Nissa selama beberapa saat.
Kemudian Nissa kembali ke
kursinya dan kembali bertanya ke Iren
“Ren jadi gimana apa perlu Nissa
sampaikan ke Berry tentang smua perasaan Iren ke dia?”
“aduh Niss jangan dong nanti
takutnya Berry nolak terus menajauh dari Iren, itu malah buat Iren tambah sakit
Niss jangan ya Niss janji sama Iren ya”
Nissa pun melihat Iren yang
sangat berharap agar di sembunyikan.
“haaaaa, ya udah kalau gitu Ren,
Nissa gak bakal bicara apa-apa mengenai hal ini Ren, terus gimana keputusan
Iren”
masih bingung Niss apa Iren harus bilang atau enggak ya”
“Ren dengerin Niss ya Ren, kalau
emang Iren percaya ke Berry dampingin terus Berry **** kalaian gak ada hubungan
pacaran Ren, tapi rasanya pasti sakit Ren, kan gak selamanya Iren ada selalu di
sampingnya Ren, apa Iren siap gitu dengan kabar yang gak enak dari orang lain
missal ada yang bilang kalau Berry sekarang dekat sama yang lain, apa Iren siap
Ren?”
Kemudian Iren pun merasa kalau
perkataan Nissa itu ada benarnya dan mugkin itu rasanya memang sakit tapi Iren
menjawab dengan yakin
“ia Nis mending gitu aja ya, Iren
kuat kok demi kita bertiga tetap sama-sama terus mending Iren gak ngungkapin ke
Berry, tapi Iren tetap jaga perasaan Iren terus ke Berry sampai waktunya tiba
nanti, meski sakitnya nanti pasti ada kan Niss, hahahh”
Iren sambil tertawa sedikit
karena senang suda membuat keputusan yang jadi pedomannya ke depan.
Nissa sangat senang mendengarnya
karen ia yakin kalau mereka nanti akan bersama, karena mereka memberi jawaban
yang sama mengenai perasaan mereka .
Nissa tersenyum senang dengan
__ADS_1
itu.
“ia Ren tapi kalau emang nanti
Iren punya perasaan ke orang lain Nissa gak maksa kok kalau Iren harus jaga
perasaan Berry, itu lah ujiannya Ren kalau kita memilih untuk memendam rasa
suka kita ke seseorang meski kita uda dekat banget dengan orang itu”
“ia Niss Iren juga berusaha agar
bisa jaga semuanya Niss, makasih banyak ya Niss udah mau dengarin cerita Iren
samapi sepanjang ini terus uda luangin waktu untuk Iren, makasih banyak ya Nisss”
“heheh ia Ren sama-sama, gak apa
kok Ren kan Nissa juga lagi gak ada kerjaan hari ini Ren, kan kita sahabat Ren
uda sewajarnya saling bantu kalau ada yang lagi ada masalah Ren, toh nanti kan
pasti Nissa juga ada masalah pastilah nanti Nissa juga minta bantu ke Iren sama
Berry pastinya karena, Nissa uda nyaman terus Nissa juga uda punya kepercayaan
lebih ke Iren sama Berry karena Berry sama Iren juga uda percaya ke Nissa”
Sambil tersenyum dan ia juga
menahan air mata kebagahiannnya sama seperti waktu ia galiha tentang Berry
menceritakan perasaan sukanya ke Iren beberapa waktu yang lalu di kafe yang
sama juga
Kemudian pagi itu jadi cerita
yang membekas di hati Nissa karena ia sangat senang dengan semuanya membuat ia
mendapatkan banyak pelajaran karena Iren yang bercerita tentang perasaannya
karena Nissa pernah merasakan hal yang sama dengan yang Iren dan Berry alami
sekarang meski ia memiliki akhir cerita yang berbeda.
Iren merasa lega dengan semuanya,
sambil duduk menyandarkan badannya ke kursi, kemudian ia teringat dengan adi.
“Niss gak jadi cerita lagi bareng
adi kan Iren uda selesai ceritanya, Iren mau dengan kisah Nissa sama adi waktu
dulu kayaknya seru ya masa kecilnya dulu”
“oh ia Ren, bentar ya Nissa ke
tempat Adi dulu untuk gabung sama kita lagi”
Nissa berjalan ke arah meja Adi
yang sedang membaca dan mendengarkan musik dari ponselnya yang terletak di atas
meja
“Di yok gabung sana aja, kita
cerita-cerita lagi yuk”
“oh ia boleh Niss, bentar ya,
nanti adi kesana kok, tunggu aja di meja Niss”
Nissa pun tanpa berkata-kata lagi
ia menganggukkan kepalanya dan langsung kembali ke mejanya dan duduk di sebelah
Iren.
“Niss mana Adi, kok gak bareng?”
“oh ia tadi kata Adi dia nanti
__ADS_1
nyusul ke sini”