
Setelah sampai di ruamh Berry langsung mengantar adik-adiknya ke kamar mereka masing-masing karena mereka suda tak tahan ingin tidur dan berbaring di Kasur mereka, mereka langsung rebahan di Kasur tanpa melepaskan jaket yang mereka gunakan tadi ketika keluar dari rumah untuk makan bakso tadi.
Kemudian Berry pun membuka satu persatu jaket adik-adiknya itu agar mereka tidak kepanasan karena itu, setelah itu Berry pun keluar dari kamar adik-adiknya itu dan menuju ke atas ke kamarnya untuk melanjutkan kegiatannya yang biasanya ia lakukan yakni tidur bersama novelnya yang belum kunjung ia selesaikan tadi di tempat bakso.
Sesampainya di kamar ia langsung membuka jaket dan menaru tasnya di gantungan dan mengeluarkan isinya dan di letakkan di atas meja belajarnya yang sekat dengan tempat tidurnya.
Ia pun membuka kembali novelnya dan mulai mencoba membuka gerbang cerita agar ia bisa masuk kedalam ruangan itu.
Beberapa lama kemudian ia pun mulai mendalami novel itu dan ia terus membaca beberapa saat kemudian
Errr
Errr
Errr
Errr
Getaran ponselnya yang terletak di atas mejanya, seketika itu ia belum mau melihat ponselnya itu dan ia berpaling masuk ke dalam dunia novelnya itu kembali, tak lama berselang entah sudah berapa kali getaran ponselnya yang di atas meja membuat Berry penasaran dengan ponselnya yang sedari tadi bergetar sendiri di atas meja.
Berry menutup buku novelnya yang sudah ia baca sebagian dan mulai terganggu dengan ponselnya yang bergetar itu, dan Berry duduk menggambil ponselnya dan membuka ponselnya.
Berry melihat pesan yang begitu banyak dari nomor yang tak ia kenal dan tak terdaftar di ponselnya, Berry bingung dengan nomor itu, kemudia ia membaca pesan itu yang berisi sapaan dari seseorang “Hai kak lagi apa?”
Berry yang masih kaget dengan pesan itu pun membalas dengan cueknya agar ia bisa kembali membaca novelnya tadi “Ia baik kok” kirim
Kemudian Berry mengambil kembali novelnya dan duduk di kursi meja belajar nya dan mengambil buku hariannya yang hampir ia tulis setiap malam karena ia mulai kebiasaan dengan menulis ceritanya setiap hari meskipun itu bukan hal penting sekali dalam hidupnya.
Berry membaca kembali novelnya namun konsentrasinya tak seperti tadi dan ia pun langsung menutup dan mulai menulis buku hariannya yakni cerita kegiatan hari ini.
Pagi seperti biasa telat lagi dan bertemu dengan pak satpam yang sudah jadi teman setia ku setiap pagi
hahahha Berry, Berry. Aku sadar kalau telat itu gak baik, tapi mau bagaimana
lagi karena ini kebiasaan ku yang sangat sulit untuk ku ubah entah kapn itu aku
pun gak tau.
Senin ini setelah aku
masuk ke ruang kelas seperti biasanya aku selalu bertemu dengan Iren sebagai
teman yang sering menyapa ku setiap harinya ketika masuk kelas, Iren bagai kan
langit malam yang menenangkan bagiku setiap pagi karena kecantikannya yang
sangat ku suka meski itu bukan satu-satunya yang membuat ku kagum dan
menyukainya.
Pagi itu saat suasan
kelas yang tenang, tiba-tiaba datang seseorang memasuki kelas ku ternyata itu
anak baru yang baru pindah ke sekolah kami hari itu, dan kelas jadi pasar yang
__ADS_1
sangat ramai anggap ku yang sangat ribut terutama cewek-cewek yang histeris tak
karuan karena emang sih, anak baru itu cowok yang tampan dan juga bertubu kekar
tak seperti ku yang biasa saja hahah Berry Berry aku sendiri merenda pada waktu itu karena
entah mengapa aku bisa merasa begitu saat melihatnya.
Ternyata itu temannya
Nissa waktu smp karena ia pindah keluar kota ikut dengan keluarganya dan
membuat Nissa berpisah dengannya, tapi hari ini jadi hari yang sangat di tunggu
atau di nanti oleh Nissa, Rasa ku yang memperhatikan sesekali Nissa yang begitu
senang dan begitu memperhatikannya ketika memperkenalkan diri di depan kelas
waktu itu.
Terus ketika temannya
Nissa itu duduk di samping Iren, mungkin ini lebai menurut orang lain tapi ya
beginilah diri ku Berry yang jarang mengungkapkan sesuatu yang menyankut
perasaan dan suasana hatiku
Hahah rasanya lucu si kalau
teman ku yang paling ku sayang tapi kami tidak memiliki hungun apa-apa hanya
sahabat yang begitu dekat saja.
Rasa cemburu yang aku
rasakan menurut ku itu wajar saja karena aku lebih dulu mengenal Iren ketimbang
adi temannya Nissa.
Tapi meski begitu aku
tetap tenang hanya berkata dalam hati saja, tentang percakapan ku sendiri dan
fikiran liar sendiri tentang hal itu.
Jadi setelah itu aku
dan Adi nama temanya Nissa itu yang akrab tanpa sepengetahuanku, ternyata orang
nya baik dan juga cukup punya karisma dan jiwa kepemimpinan ketika ia berbicara di depan kelas.
Aku bersalaman
dengannya dan ia cukup rama kepaku dan aku merasa sedikit tenang dengan
__ADS_1
sikapnya itu, pelajaran untuk ku jangan berfikiran negative karena kecemburuan
yang tak berdasarmembuat ku jadi seorang peramal yang selalu menduga-duga hal
yang belum tentu itu akan terjadi.
Seketika itu entah ini
memang takdir yang sudah di tentukan, aku sekarang memiliki banyak teman meski
sikap lama ku terkadang masih mendara daging seperti jarang menyapa orang
duluan dan lain yang menurutku itu tidak baik.
Kejadian lucu yang
masih ku tertawakan hingga malam ini saat aku mengingat kembali kejadian waktu
Iren yang memberiku pertanyaan yang membuat aku kaget dan berani mengungkapkan
pendapat ku karena Iren bertanya tentang pendapatku.
Iren “Berry kalau
misalkan Iren suatu saat suka sama orang lain menurut Berry gimana ya”
Pertanyan itu membuat
sakit sih dalam hati, tapi enatah mengapa aku bisa sekuat itu untuk menjawab,
tapi belum sempat untuk menjawab Iren langsung meminta kunci dariku untuk
membuka ruangan eskul, ya jadinya aku mengurungkan niat ku karena belum sempat
mengeluarkan kata-kata eh ternyata Iren gak mau dengar pendapat ku, tapi gak
apa aku nunggu waktu yang tepat untuk itu.
Kami pun masuk ruangan
untuk membereskan ruangan eskul karena hari ini kami yang bertugas untuk
membersihkan ruangan eskul, yah aku dengan kesibukanku untuk mengatur buku dan
lain sebagainya, dan Iren bertugas membersihkan lantai dengan sapu hingga
selesai aku dan Iren pun cukup lelah karena hari ini kami hanya berdua yang
hadir krena anggota lain ada kegiatan maing-masing.
Aku dan Iren duduk
berdua di sofa yang ada di ruangan kami, ejenak aku duduk untuk bernafas dan
kemudian aku bangkit lagi untuk membuatkan minuman untuk ku dan Iren karena ku
__ADS_1
lihat Iren cukup lelah karena beres-beres tadi.