Jalan Seorang Introvert

Jalan Seorang Introvert
Bagian 12 lanjutan Hari Yang Sama


__ADS_3

Iren yang sedang berjalan dengan Berry dan Nissa pun sampai di depan kafe yang sering mereka kunjungi dan langsung masuk dan mencari meja yang telah Yanda beritahu sebelumnya ke Iren, dan Iren pun menuju ke meja tersebut bersama dengan Berry dan Nissa.


Sebelum sampai di meja yang ada Yandanya, Nissa berinisiatif untuk tidak satu meja dengan mereka berdua karena Nissa mengerti dengan keadaan yang ingin Yanda bicarakan ke Iren, Nissa pun menarik Berry untuk duduk selang dua meja dengan Yanda dan Iren.


Berry dengan pasrahnya tanpa memperdulikan apa maksud dari Nissa pun mengikutinya saja seperti air yang mengalir.


Kemudian Iren pun duduk dengan Yanda dan menyapanya dengan kebiasaan yang ia lakukan biasnsya yakni dengan senjatanya yaitu senyuman yang sangat hangat bagaikan pelukan yang membuat Yanda merasa senang karena ia tidak melihat ada Nissa dan Berry yang mengikutinya dari sisi mana pun.


“hai Yan, udah lama nyampenya, maaf Iren telat sikit!” kemudian Iren langsung duduk di depan Yanda sehingga mereka Berhadapan satu sama lain.


Yanda pun tersenyum dan mempersilahkan Iren untuk duduk dan menawarkan “mau pesan apa Ren jangan sungkan ya" Yanda sebisa mungkin agar suasananya lebih nyaman karena Yanda sanagat cemas menunggu Iren dan juga dengan jawaban Iren yang membuat Ia selalu gelisah dari tadi sejak menunggu Iren sendirian di kafe.


Iren yang sering ke Kafe ini pun tanpa melihat menu dan langsung menulis pesanan yang sering ia pesan ketika ke sini, yakni coklat kopi susu dingin itulah yang sering ia pesan ketika ke sini.


“Yanda uda pesan belum, biar sekalian Iren tulis pesanan Yanda?” Yanda pun memesan apa yang di pesan oleh Iren karena ia juga penasaran dengan yang Iren sukai.


Kemudian setelah itu Yanda memanggil pelayan dan memberikan pesanan yang ingin mereka pesan yang di tulis oleh Iren.


“kak seperti biasa ya coklatnya banyakin ya” dan tersenyum ke pelayan itu karena mereka suda sering di layani di sini “ok kak seperti biasakan”. Melihat itu Yanda sedikit bingung dengan sikap Iren yang sangat akrab dengan pelayan di kafe ini, dengan penasaran Yanda menanyakan ke Iren “Ren sering ke sini ya, soalnya Yanda perhatiin uda akrab ya sama orang di kafe ini ?” Iren sedikit tertawa “ haha, ia Yan karena kami sering duduk di sini kalau lagi buat tugas atau kalau hari libur kami sering ke sini karena di sini tempatnya enak, tenang gak terlalu berisik terus adem banyak buku yang bisa di baca kalau mau baca”

__ADS_1


Yanda sedikit heran “baca buku emang di sini ada buku ya?' tanya Yanda yang masih bingung karena ia juga sering ke kafe ini tapi gak pernah menemukan buku apa-apa, “ada kok Yan tu di dekat kasir kan ada rak buku banyak, kita bisa bebas minjam nya tapi gak boleh bawa pulang” Yanda pun baru mengetahui kalau di sini ada buku bacaan memang sih ia tahu kalau nama kafe ini yaitu bookcaffe yang tema nya serba buku sih.


Beberapa saat mereka pun berbicara dan bercanda agar suasana bisa senyaman mungkin untuk mereka bicara serius. Yanda berbicara tentang banyak hal dan juga memberitahu tentang dirinya dan semua yang ia suka dan apa hobi yang ia sukai ke Iren dan juga Iren sebaliknya karena ia mulai terbiasa dengan Yanda, karena Yanda juga orang yang mudah untuk bergaul dengan orang lain makanya ia adalah salah satu cowok terpopuler di sekolah karena ia memiliki banyak teman dari semua kelas.


Kemudian pesanan mereka pun tiba, di sisi lain Nissa dan Berry pun asik membaca buku dan saling ngobrol seperti


biasanya.


Tiba-tiba Nissa mendadak menutup bukunya dan bertanya ke Berry dengan nada yang cukup tegas “Ber Nissa mau ngomong serius ni masah Iren” Berry pun terdiam dan kaget dengan sikap Nissa yang tiba-tiba beruhah jadi serius, dalam fikirnya “aduh kok tiba-tiba Nissa serius, ada apa gerangan ni apa aku ada salah sama Nissa ya???”


Dengan tenang namun Berry mencoba sedikit tidak terlalu serius dengan Nissa karena ia biasanya selalu bercanda kalau menyangkut Iren.


“ia ada apa Nis, kok serius kali gitu, ketawa dong sikit” Berry berharap agar Nissa tertawa, tetapi Nissa langsung menanyakan “Ber kamu suka gak sama Iren atau gimana soalnya Nissa takut kalau kalian nanti saling membenci terus gak pernah jalan sama-sama lagi kayak gini" Nissa dengan seriusnya menatap ke arah Berry, Berry yang terdiam dengan pertanyaan Nissa pun mencoba untuk berfikir bagaimana ia menjawabnya.


kehilangan Iren, biarlah Berry mendam aja perasaan Berry sendiri” dengan nada yang sedikit serius dan juga agak cemas kalau nanti Nissa marah karena Ia suka dengan Iren


Difikiran Berry terlintas kalau Ia pacaran, nanti Nissa marah karena merkeka uda cukup lama berteman malah uda seperti bersaudara.


Tetapi bayangan yang terlintas di fikiran Berry hanyalah menurutnya sendiri yang menjadi tembok yang menghambat.

__ADS_1


Nissa yang tersenyum dengan jawaban Berry pun puas karen ia bisa menjaga keduanya agar tidak ada yang mangganggu mereka berdua meski pun tidak berpacaran. Nissa pun senang karena jarang sekali seorang sosok Berry mau mengutarakan perasaannya seperti ini kalau bukan karena ia percaya kepada Nissa.


“oh gitu ya Berr, kalau gitu jangan patah semangat kalau memang Berry sayang sama Iren jaga dia baik-baik ya jangan lupa juga Nissa juga di jaga kan Nissa juga teman Berry, hahaha” Nissa yang sedikit mengeluarkan air mata karena senangnya, punya teman yang sayang dengan nya juga.


“ia Niss kan Berry baru kali ini punya teman kayak Nissa dan Iren yang bisa buat Berry sangat nyaman kalau ada kalian berdua di dekat Berry rasanya Berry pengin bisa sama-sama terus samapai kapan pun.


Berry yang mencoba menghibur Nissa dengan mengodanya “aduh kok cowok nangis gitu kan gak seru lagi ceritanya ni hahha” Nissa yang mendengarnya pun sedikit tertawa dan menghapus air matanya


“haha mana ada cowok kan Nissa cewek yang lemah dan cantik manis lagi” dengan ekspresi tersenyum agar Berry tidak menggodanya lagi karena menangis “hahhah manis dari mananya, pahit tau kaya kopi” “biarin kan kalau di tambah gula bisa manis kopinya kayak Nissa kan gula manis jadinya, hahhahah”


Setelah itu mereka terus bercanda berdua dan melupakan Iren yang sedang berduaan dengan Yanda yang sedang asik juga bercerita tenatang banyak hal sebelum mereka pulang.


Kembali ke Yanda dan Iren


Iren yang sudah mulai nyaman berbicara dengan Yanda pun mulai menanyakan maksud Yanda ngajak dia ke kafe “oh ia  Yan jadi lupa Iren nanyainnya, ada hal apa yang Yanda mau omongin dengan Iren?” Yanda pun sedikit kaget ketika ia sedang minum “eheg” suara keselek kaget, “oh ia jadi lupa Yanda, gini Yanda mau tau jawaban Iren masalah perasaan Iren ke Yanda apa di terima atau enggak Ren”


lanjut bab berikut nya!!!!!


Jangan lupa komentar ya agar menjadi

__ADS_1


referensi untuk penulis agar jadi lebih baik lagi semoga sehat selalu


Terimakasih


__ADS_2