
Dengan tenang karena Iren sudah sedikit terbiasa ngobrol dengan Yanda pun langsung menjawab dengan kata maaf terlebih dahulu seperti yang di katakan Berry ketika ia cerita tentang Yanda yang menyatakan perasaannya tempo hari.
“maaf kali ya Yan, tapi jangan marah ya Yan karena Iren gak mau kalau nanti setelah ini Yanda jadi benci sama Iren”
dengan nada berharap agar Yanda bisa mengerti dengan apa yang ingin Iren sampaikan meski Iren setelah menyampaikan jawaban ke Yanda baru lah merasa sangat gugup setengah mati, tapi Iren mencoba untuk tenang agar ia bisa mengatur kata-katanya agar Yanda mampu mengerti dengan yang di ucapkan Iren
“ia Ren gak apa kok gak akan marah Yanda Ren, mana ada bisa Yanda Benci sama sama Iren”
Yanda pun merasa sangat tegang karena Iren meminta maaf duluan, terlintas di fikirannya dia bakal di tolak, tetapi Yanda tidak putus harapan karen itu masih dugaan dari fikiran buruknya saja.
Yanda yang masih berharap kalau ia di terima oleh Iren pun merasa sedikit ragu tetapi Yanda pun coba memikirkan hal terburuk kalau ia di tolak oleh Iren.
“jadi apa jawaban Iren?”
dengan memandang Iren dengan sangat serius tak henti pandangannya ke arah Iren
“gini Yan Iren minta maaf kali ya Yan, tapi kalau Yanda masih mau temanan sama Iren gak apa malah Iren lebih senang kalau kita bisa jadi sahabat dekat Yan, Iren gak bisa pacaran sama Yanda maaf kali ya Yan maaf kali”
Iren merpatkan tangannya meminta maaf ke Yanda.
Sejenak suasana hening dan Yanda pun terdiam dengan jawaban yang Iren ucapkan ke dia dan mencoba menenangkan dirinya sejenak dengan menundukkan pandangannya ke bawah agar Iren tidak melihat kalau ia mengeluarkan sedikit air mata karena jawaban Iren yang sangat menusuk hatinya karena di tolak boooooooom rasanya.
Kemudian Yanda pamit sebentar ke kamar mandi untuk menghapus air matanya tetapi ia tidak mengatakan ke Iren alasan ia ingin ke kamar mandi, dan ia langsung menuju kamar mandi alangkah kacaunya Yanda, ia pun salah arah karena ia tidak memperhatikan arah nya karena sangat sedih.
Iren yang melihatnya pun “Yan kok ke arah sana kan kamar mandinya di sebelah sana” Iren yang sedikit tertawa karen Yanda salah arah pun merasah bisa sedikit tenang karen kejadian lucu itu Yanda pun berbalik karena merasa malu dan ingin tertawa tapi ia tidak sanggup tertawa karen rasa sedihnya lebih kuat, dan ia pun menuju kamar mandi setelah di beritahukan oleh Iren
Sejenak Yanda di kamar mandi pun menghapus air matanya dan membasuh wajahnya dan mengeringkannya dengan tisu yang ada di kamar mandi dan memandang kaca dan berbicara sendiri dengan dirinya di kaca
“kenapa harus di tolak, kurang apa sih aku”
dengan perasaan kecewa dan melampiaskan kecewanya di kamar mandi dengan berbicara sendiri dan beberapa saat kemudian Yanda pun keluar dari kamar mandi dan menuju meja Iren dan duduk kembali.
__ADS_1
Iren yang sangat kawatir dengan Yanda pun merasa sedikit tenang karena Yanda sudah kembali dan tidak seperti tadi yang selalu menundukkan pandangangnya, sekarang ia sudah mulai menatap kembali Iren dengan senyuman yang ia paksakan agar menyembunyikan kesedihnnya dari Iren.
“Yan gak papa kan, Iren maunya kalau sama Yanda tu temenan aja karna yanda tu orangnya baik pasti nanti ada yang bisa nerima Yanda selain Iren, tenang aja”
Yanda pun mendengarnya sedikit tenang karena ia tak patah semangat karena di tolak oleh Iren yang mana kata-kata Iren ada bernarnya juga
Suara dalam fikiran Yanda “ia ya kan Iren memang belum pernah pacaran terus kan kami baru aja kenal dekat pun gak begitu akrab, terus langsung nyatai gitu, haha, ya ia lah di tolak kan Iren belum sepenuhnya percaya dan tau giama akunya, yes masih ada kesempatan semangat Yan”
ia memberi semangat ke dirinya dengan berbicara sendiri di dalam fikirannya
Kemudian Yanda pun sudah sedikit melupakan tenatang jawaban penolakan Iren ke dia, dan Yanda pun mencairkan suasana dan mencoba agar Iren menerimanya bukan sebagai pacar melainkan sebagi teman agar ia bisa selalu bersama dengan Iren dan ia juga berharap meski tidak seperti dulu lagi
Kemudian Iren pun merasah lebih nyaman dengan Yanda yang sekarang, karena Iren sudah menyampaikan perasaannya dan ia sudah tenang karena tidak seperti yang ia bayangkan selama beberapa hari ini sebelum ia menyampaikan perasaannya ke Yanda.
Kemudian Yanda yang menyadari kalau Iren tadi bersama dengan Nissa dan Berry bertanya ke Iren
“Ren kalau Yanda gak salah, Iren ke sini bareng Nissa dan Berry kan, mana mereka Ren?”
“oh ia sampai lupa, mereka di meja sana tu, boleh Iren ajak gabung gak Yan”
Iren sedikit cemas karena ia tidak enakan ke Yanda
“oh gak apa Ren ajak aja gabung sini kita cerita-cerita kan kita jadi teman sekarang, Yanda pengen ngobrol banyak dan lebih dekat sama Nissa dan Berry Ren, boleh kan?”
Iren yang sangat senang dengan kata-kata Yanda pun langsung menuju meja Nissa dan Berry dan langsung menarik Nissa dan mengajak Berry juga untuk duduk gabung dengan mereka berdua.
“Ber yok gabung sama Iren di meja sana aja” Iren dengan senangnya menarik Nissa yang langsung mengikutinya dan menarik tasnya langsung yang ada di sampingnya.
Berry yang sedang minum pun mengikuti mereka dari belakag dengan gelas minuman di kedua tangannya yang satunya minuman Nissa yang belum habis, kemudian Berry duduk di sebelah Yanda dengan wajah datarnya seperti biasanya ia cuek dengan Yanda karena ia belum terlalu kenal dengan Yanda
Iren pun mencoba memperkenalkan Berry dan Nissa ke Yanda meski mereka sudah saling kenal meski Berry tidak terlalu peduli dengan Yanda karena ia sedikit cemburu dan tidak suka dengan Yanda karena mendekati Iren yang mana Berry juga menyukai Iren.
__ADS_1
Mereka pun saling bercerita beberapa hal mengenai tempat tinggal dan lain sebagainya agar mereka bisa akarab meski sedikit sulit karena mereka bertiga belum terbiasa dengan Yanda.
Hingga Nissa yang penasaran dengan percakapan Yanda dan Iren tadi pun sedikit menyinggung tentang Yanda
“gimana Yan uda dapat jawabannya, pasti udah dong?”
Nissa dengan nada sedikit ngeledek Yanda dan menatap ke arah Iren dan Yanda.
Iren yang mendengarnya pun langsung terhentak dan kaget dengan pertanyaan yang Nissa sampaikan ke Yanda
“Nis kok gitu nanya nya ke Yanda” dengan wajah sedikit cemas karena pertanyaan Nissa
Yanda dengan tenangnya bersikap tegar untuk menjawab agar tidak terlihat seperti cowok lemah, menjawab dengan tersenyum
“oh gak apa kok Ren, Yanda aja yang jelasin ya, gini Nis Iren maunya cuma temenan aja kalau pacaran, Iren gak mau, gitulah jawaban yang Iren katakan ke Yanda tadi”
Nissa yang sudah menduganya pura-pura sedikit kaget seperti tidak tahu apa-apa
“oh gitu ya Yan, yang sabar ya, yaudah sekarang kita temanan aja jangan sungkan kalau nanti ketemu kita atau mau ngajak kita main ajak aja nanti kita kabarin kalau kita bisa ikut, ok Yan”
Mendengan jawaban Nissa, Yanda pun tersenyum dan merasa senang karena dia bisa berteman juga dengan teman Iren agar ia bisa dekat dengan Iren meski tidak ada hubungan pacaran antara ia dan Iren.
Mereka pun menghabiskan waktu di kafe itu hingga sore hari…….
Waktu pulang dari kafe mereka berpisah dengan Yanda karena berbeda arah dengan mereka, sepanjang jalan Nissa terus bertanya ke Iren tentang kejadian tadi di kafe ketika Iren menolak Yanda.
jangan lupa komentar dan likenya ya
terimakasih yang sudah mendukung agar tetap semangat dan sehat selalu
Terimakasih :)
__ADS_1