
Kebiasaan anak sekolah pada umumnya yakni pagi hari masuk sekolah dan siangnya pulang sekolah begitulah kebiasaan yang sering di lakukan hingga ia lulus SMA atau SMU.
Pada umumnya banyak kisah yang terjadi yang menjadi kenangan indah yang tak akan terlupakan untuk di ceritakan ketikan berkumpul bersama dengan teman dan juga ketika suatu saat nanti teringat sesuatu tetang masa lalu yang indah dan lucu kala itu, untuk di tertawakan sendiri maupun bersama teman.
Hari Berry
Kebiasaan yang di lakukan Berry setiap paginya seperti biasa
datang telat dan juga menyendiri di kelas dengan teman setianya yakni novel dan juga sarapan dari ibunya, namun sekarang Berry mulai berubah dari yang penyendiri mulai berinteraksi dengan beberapa temannya meskipun kebiasaan
menyendirinya masih tetap ia pertahankan.
Iren merupakan satu-satunya orang yang mulai akrab dengan
sosok Berry yang penyendiri, yang mana Iren sekarang mulai sering berbicara dengan Berry mengenai hobi mereka yang sama-sama menyukai novel, ini merupakan permulaan kedekatan sang penyendiri dengan wanita cantik yang mungkin mengubah sikapnya dari yang biasanya ke biasa-biasa saja sih.
Waktu Istirahat yang di lakukan Berry biasanya hanya sendiri
sekarang mulai ada yang menemaninya meskipun awalnya ia malu-malu dengan sosok Iren yang sangat manis menurut pandangannya, namun itu memang benar karena sejak awal masuk sekolah Iren sudah banyak di dekati oleh laki-laki di sekolah, tapi sikap Iren yang sedikit pemalu dan lembut malah lebih cocok dengan Berry yang orang nya santai dan juga memiliki hobi yang di sukai Iren.
#Pulang Sekolah#
Berry yang seperti biasanya selalu cepat dalam membereskan peralatan sekolah lalu menuju parkiran untuk mengambil sepedanya untuk pulang, sebelum ia ke parkiran ia singgah sebentar ke kamar mandi untuk membuang sesuatu, kemudian ia langsung menuju kamar mandi dengan tergesah-gesah, beberapa saat kemudian setelah ia keluar dari kamar mandi, ia menuju parkiran dengan wajah kaget, ia melihat dari kejauhan ada siswi yang masih menunggu di parkiran, dengan penasaran ia pun mendekatinya, alangkah kagetnya ia melihatnya.
"aduh ternya Iren, kok belum pulang Ren?"
"hahah kok kaget Ber!!!!, belum di jemput sama mama,
katanya lagi ada kegiatan di kantor makanya sedikit telat jemputnya!"
Dengan wajah tersenyum Iren menjelaskannya ke Berry dengan seksama Berry pun menjadi pendengar setianya Iren, kemudian Berry pun menemaninya beberapa saat di kursi yang ada di sekitar parkiran dimana kursi itu di payungi oleh pohon besar yang sangat rindang dan nyaman dengan angin
yang berhembus perlahan membuat suasana menjadi romantis.
Kemudian Berry pun terfikir sesuatu, dengan gugup Berry pun
bertanya ke Iren dengan nada pelan
"Ren?"
__ADS_1
"Ia Ber, ada apa?"
"masih lama gak di jempunya?"
"kurang tau juga Ber, coba Iren tanya ke mama dulu ya?"
"oh ia"
Iren membuka ponselnya dan mengetik chat ke mama nya untuk bertanya, beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi dan membaca pesan dari mama nya. Kemudian ia beritahukan ke Berry “kata mamanya sekitaran satu jam lagi lehih kurang ia di jemput”. Dengan kaget Berry pun spontan mengatakan ke Iren "pulang bareng Berry aja yok", Iren yang sedang memperhatikan handponenya pun menatap Berry dan bertanya karenan ia kurang mendengar apa yang Berry katakan barusan.
"ia ada apa Ber, maaf tadi gak kedengaran!"
Berry dengan gugup dan salah tingkah berpikir dua kali untuk
mengatakan nya kembali, kemudian Iren pun bertanya kembali ke Berry dengan penasaran dan menapat Berry, dengan berani dan gugup setengah mati Berry mengulang kembali perkataannya ke Iren
"Pulang Bareng yok Ren" dengan wajar menunduk dan
takut menatap Iren
Iren yang terdiam sejenak mendengarkan ajakan Berry pun
Saat itu suasana heningpun terasa mencekam bagi Berry yang
menunggu jawaban dari Iren dan merasah gelisah setengah mati rasaanya, Iren pun membuka ponselnya dan membaca isi chat dari ibunya yang mengatakan memberi ijin untuk nya pulang bersma Berry, dikarenakan ibunya tahu kalau rumahnya Berry dekat dengan rumah nya, kemudia Iren pun mengatakan ke Berry dengan nada pelan.
"Ber apa gak ngerepotin ngantar Iren ke rumah?"
"Enggak kok Ren kan gak jauh dari ruamh Berry juga
sekalian jalan, hahah!!!"
Dengan senangnya Berry pun menjawab dengan semangat seperti mendapatkan hadia uang seratus juta, dengan sekejap Berry pun menaiki sepeda antiknya yakni Ontel dan mempersilahkan duduk Iren di belakangnya, dengan malu-malu bercampur senang Iren pun menaiki sepeda Berry dengan hati-hati.
semangatnya Berry mengayuh sepedanya dengan perlahan seperti biasanya dengan hati-hati karena ada Iren yang menemaninya di belakang, hembusan angin menerpa dengan lembut melewati Berry yang sedang gembira dan juga merasa gugup dengan situasi yang sedang ia alami sepanjang perjalanan menyusuri tepian jalan yang ramai namun terasa sepi dalam fikiran Berry yang terus mengayuh sepedanya.
Dalam perjalanan Iren yang merasa nyaman pulang bersama
dengan Berry merasa tidak enak karena sudah merepotkan Berry yang rela mengantar kan nya pulang kerumah, namun berbeda dengan yang di fikirkan oleh Berry yang menawarkan tumpangan ke Iren ia malah merasa senang dapat membantu Iren yang mana sebenarnya Berry suka dengan Iren sejak pertama bertemu dengan Iren namun ia bisa menyembunyikan rasa sukanya ke Iren dengan cara berkata tidak jika di tanya oleh orang lain tentang perasaan suka nya ke setiap orang karena sikapnya yang santai membuat orang percaya dengan perkataannya dan juga dari ekspresi yang di perlihatkannnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Berry pun bertanya dengan sedikit
memalingkan wajahnya ke belakang bertanya ke Iren untuk menunjukkan arah rumahnya dimana, agar Berry bisa langsung mengantarnya ke rumah.
"Ren dimana rumahnya bisa arahin ke Berry?
"oh ia sampai lupa, ruamah Iren di lorong sederhan Ber
lurus terus nanti ada belokan pertama masuk lorongnya di situ rumah Iren!!"
"oh ok Ren!!!"
Dengan perlahan Berry pun memperhatikan nama lorong yang di katakan Iren padanya dengan hati-hati ia pun memperhatikan dan menemukan nama lorong sederhana dan langsung menyusurinya lalu masuk ke lorong belokan pertama seperti yang di katakan Iren sebelumnya, lalu Iren pun dengan pelan mengatakan ke Berry ciri-ciri rumah nya yang ada pagar warna putih itu rumahnya, dan Berry pun berhenti di depan rumah yang pagarnya berwarna putih dengan perlahan Berry pun mengerem sepedanya, menurunkan kaki kiriya untuk menjaga keseimbangan agar Iren bisa turun dengan aman dari sepedanya.
Iren dengan senangnya menghela nafas dan berdiri di samping Berry dan berterimakasih ke Berry sudah repot-repot mengantarkannya ke rumah, dengan senyuman yang sangat manis dan juga suara yang pelan membuat Berry sangat senang bisa memandang wajah bak bidadari menurut pemikirannya. Dengan perlahan dengan menyembunyikan ekspresi nya yang kagum dengan menjawab dengan wajah
datar dan malu-malu ke Iren.
"Ia gak apa Ren!!!"
Berry dengan perlahan memutar sepedanya dan langsung mengayuh sepedanya perlahan tanpa pamit ke Iren karena terlalu senang dan gugup dengan Iren. Iren yang masih berdiri di depan rumahnya menyapa Berry dengan teriakan “hati-hati
di jalan ya Berry “ dengan senangnya Berry pun melambaikan tangannya ke atas memberikan isyarat “ia” ke Iren dengan tidak memalingkan wajahnya sedikit pun ke belakang, agar terlihat keren seperti di anime-anime jepang ( hahah)
Dengan senangnya Berry pun semangat mengayuh sepedanya untuk menyusuri jalan kenangannya dengan Iren yang sangat indah selama beberapa saat. Iren yang senang di antar oleh Berry dengan perlahan masuk ke dalam rumahnya dengan wajah tersenyum sendiri dan masih memikirkan kejadian saat ia boncengan dengan Berry mebuat ia senang bukan main karena Iren belum pernah senyaman ini ke laki-laki selama ia di sekolah lama nya meskipun banyak yang mendekatinya namun belum menemukan rasa nyaman seperti yang ia rasakan dengan Berry.
Iren pun masuk ke rumah dan langsung ke kamarnya dan
berbaring dengan wajah tersenyum sendiri memikirkan kedekatannya dengan sosok Berry yang penyendiri.
#Cinta tak memandang siapa yang ia tuju, akan muncul tanpa di duga keberadaannya namun tak menentu akan kemana ia singgah dan untuk siapa ia bersandar.#
Berry yang telah sampai di rumahnya dengan perlahan menyandarkan sepedanya di depan rumahnya dan langsung menuju kamarnya dengan senangnya ia juga tersenyum sendiri seperti yang di alami oleh Iren juga, kemudian Berry pun mandi dan langsung berbaring di kasurnya dengan membaca novel yang belum di selesaikannya di sekolah tadi dengan serius ia membuka novel dan membacanya dengan suasana yang tenang namun pikirannya masih terbayang dengan sosok Iren yang belakangan ini sering terfikirkan oleh nya.
Seketika ia pun bertanya dalam hatinya "apakah perasaan ini yang menggangguku selama beberapa hari ini” dengan wajah memandang ke plafon kamarnya dan memikirkannnya dengan seksama dengan tersenyum sendiri menertawai dirinya yang tanpa sadar ia mulai berubah.
Kebiasaan Berry yang membosankan pun menjadi sedikit berubah dimana ia sekarang semakin sering terseyum dan juga gelisah dengan keadaannya yang belum perna dekat dengan wanita.
Jangan lupa like dan vote, komentar untuk episode
__ADS_1
selanjutnya ;)