
Selama mereka duduk dan juga berbicara mengenai berbagi hal yang menarik mereka bahas, Iren yang biasanya selalu senang karena ada Berry yang ia sukai dan juga ia senang ketika Berry juga mengajaknya Bercanda namun kali ini Iren merasa kalau Berry lebih perhatian ke Lisa karena Lisa orang yang juga asik di ajak bicara dan juga nyambung sekali dengan Berry ketika mereka membahas mengenai tulisan, Iren merasa kalau Berry tidak menghiraukannya karena suda ada Lisa yang membuatnya nyaman.
Iren pada saat itu merasa sedih dalam hatinya melihat sosok Berry yang ia sayang lebih akrab dan juga nyaman berbicara dengan orang lain terutama cewek yang mempunyai paras yang cantik dan juga kelebihan dalam menulis membuat Iren merasa kalah jauh dan memikirkan yang bukan-bukan terhadap Berry.
Iren terus memperhatikan Berry dan Lisa yang terlihat bahagia di matanya dan ia pun sedih dan tak terasa ia meneteskan air mata yang mengalir di pipinya yang lembut dan bersih bagaikan kelopak bunga yang di basahi embun yang menetes jatuh ketanah dengan indahnya.
Rana dan Rania yang duduk di depannya memperhatikan Iren yang menangis dan kebingungan dengan pemandangan itu, mereka melihat Iren meneteskan air mata sambil tersenyum ke arah Berry dan Lisa yang sedang asik ngobrol, Rania pun memotret wajah Iren yang begitu manis dan cantik dengan aliran air mata dan juga senyuman yang manis membuat mereka berdua kagum sekaligus penasaran dengan Iren yang menangis.
Rana langsung bertanya ke Iren perlahan seperti berbisaik agar tidak mengganggu yang lainnya karena yang lain sedang serius mendengarkan Berry dan juga Lisa, Rana beranggapan kalau Iren sedang merasa sedih entah apa alasannya “kak kenapa nangis, kakak lagi sedih ya?” Rania menatap wajah Iren dengan wajah yang juga ikut sedih “oh endak dek, kok kakak nangis ya?” Iren mengusap air matanya dan tersenyum ke Rana dan bertanya ke dirinya sendiri seperti tidak terjadi sesauatu, Rana yang belum puas dengan jawaban Iren karena ia penasaran “kenapa tiba-tiba kak Iren nangis padahal kan kita lagi cerita seru” Rania berbicara sendiri dalam fikiranya dan melanjutkan bertanya ke Iren “Kak ayolah kasih tau Rana, Rana tau kalau kakak lagi sedih kan, sedih kenapa kak?” dengan sedikit memaksa Iren agar mau memberitahunya.
Iren yang tetap menyembunyikan kenapa Ia menangis tadi pun menjelaskan ke Rana “mungkin tadi masuk debu mata kakak dek , hahah” tersenyum ke arah Rana dan mengusap kepalanya yang sudah duduk di sampingnya, Rana yang sadar kalau Iren tadi menangis bukan karena debu yang masuk ke matanya melainkan ada hal lain yang menyebabkan Iren menangis menurutnya.
Rana terus mendesak Iren “ayo lah kak cerita ke Rana, Rana janji gak kasi tau siapa-siapa kak” Iren yang terus di desak oleh Rana pun menyerah dengan pertanyaan Rana dan Ia mengatakannya “nanti kapan-kapan kakak cerita ya dek, nanti kita ke kafe burdua aja mau kan dek, nanti kakak traktir, ok” Iren mencoba membujuk Rana agar ia mau melupakan kejadian tad.
“oh ia boleh kak, janji ya kak nanti traktir ya, terus nanti Rana bisa ajak kak Berry dan Rania gak?”
__ADS_1
Iren tersentak kaget karena Rana ingin megajak Berry juga “hahah jangan ajak kak Berry dek, Rania boleh kan kita sama-sama cewek dek jadi biar enak ngobrolnya karen ini kan antara kita cewek-cewek, heheh” Iren sedikit panik karena Rana ingin mengajak Berry juga.
Rana dengan polosnya tanpa bertanya lagi langung menyetujuinya “oh ok ka, jadi pembahasannya antara kita aja ya, hahahha”
Iren merasa lega dengan kata-kata Rana yang membuatnya sedikit terhibur dan juga sedikit melupakan kesedihannya yang sebenarnya ia tidak menyadarinya kalau ia sebenarnya cemburu dengan Berry yang sangat dekat dengan Lisa adiknya Yanda.
Di hari itu perasaan Iren yang sangat sedih pun membuatnya tidak banyak berbicara dengan yang lainnya, Nissa yang duduk di sampingnya karena dekat dengan nya sedikit mendengar pembicaraan Rana dan Iren yang ingin duduk di kafe.
Nissa yang mendengarnya pura-pura tidak open dengan pembicaraan Iren dan Rana, ia menunggu waktu yang tepat untuk bertanya nanti ke Iren.
Setelah itu Rania yang sudah selesai mengaturnya kemudian ikut berbaris dengan mereka dan “ceklek” suara bunyi kamera.
Mereka berfoto beberapa kali di kafe dan di beberapa suduk yang menurut mereka bagus dan mereka berfoto hingga selesai.
Rania yang terus melihat hasil foto yang tadi terus mengulang dan juga melihat foto ia apa bagus atau tidak dan Rana juga ingin melihat hasil foto tadi dan mereka saling rebutan kamera untuk melihat foto-foto tadi “sini dulu Ran kakak lihat dulu” Rana yang mencoba mengambil kamera dari tangan Rania yang dari tadi terus melihat foto-foto yang ada di kamera, Rania yang belum puas pun juga mempertahankan kamera yang di pegangnya itu “aduh kak, bentar dulu belum selesai ni lihatnya”
__ADS_1
Di situ mereka berdua pun saling rebut dan bersikeras untuk mempertahankan dan memperjuangkan kamera bagaikan harta berharag yang hanya itu saja yang ada di dunia ini.
Iren yang sedikit tertawa melihat mereka yang sedang rebutan kamera kamera pun mencoba menenangkan mereka berdua agar bisa damai dengan kamera itu “dek jangan rebutan gitu nanti jatuh kameranya, nanti gak bisa lagi lihat fotonya”
Berry mencoba untuk mengambil kamera itu agar mereka tidak rebutan lagi “sini dek kakak aja yang pegang ya” dengan memegang kamera itu dari arah atas di antara kedua tangan mereka, tetapi mereka tidak membiarkannya begitu saja dan terus memegangnya dengan erat.
Hasilnya Berry pun ikut dalam perebutan kamera itu dengan adik-adiknya, dan mereka meliah Berry yang terjebak dalam perebutan kamera itu pun menertawakannya terutama Nissa yang sangat antusia memprofokasi aga semakin seru “ayo dek Rania Rana pasti bisa jangan kasi ke kak Berry kameranya, ayo dek semangat kakak dukung kalian loh” sambil tertawa dengan pemandangan itu.
Iren yang merasa senang dan juga gembira karen Nissa yang memberi semangat ke Rania dan Rana untuk mempertahankan kameranya terus tertawa pelan menyaksikanya,
Yanda dan Lisa hanya bisa tertawa dengan pemandangan itu karena mereka merasa lucu melihat nya, karen kakak beradik yang saling rebutan karena satu kamera yang begitu berharga.
Berry yang merasa lelah karena adik-adiknya tidak mau mengalah karena kamera itu, Berry pun melepaskannya dan menyerah.
Jangan lupa like dan juga komen terus dukung
__ADS_1
semoga teman-teman sehat selalu