
#Tulisan Berry di buku berharganya#
Hari ini
Setelah pulang sekolah, aku memberanikan diri untuk bertanya ke sahabat yang juga ku cintai yakni my Iren, melihat kejadian dimana tiba-tiba Nissa sahabat ku juga mengajak Iren keluar kelas karena ada sesuatu yang di bahas oleh mereka berdua dan begitu lama membuat ku bertanya tentang apa yang mereka bahas di luar kelas, dan aku memutuskan untuk tidak memperdulikannya sejenak dan memperhatikan kembali pelajaran. Beberapa saat setelah itu Iren masuk dan sudah duduk di sebelah ku namun aku tak ingin menanyakan nya langsung ke Iren dan menunggu waktu yang tepat.
Sepanjang pelajaran aku terus memikirkan dan terus bertanya-tanya apa yang di bicarakan Iren dan Nissa tadi, aku pun memutuskan untuk bertanya setelah pelajaran selesai nanti dan sambil menunggu aku pun memperhatikan pelajaran dengan serius agar nanti tidak ketinggala penjelasan dari guru ku.
Sepulang sekolah dan pelajaran pun selesai aku memberanikan diri untuk bertanya ke Iren secara langsung denga berani aku berkata seperti ini ke Iren "Ren tadi ngapain keluar bareng Nissa?”
“oh tadi Nissa kawatir dengan Iren, tanya kenapa Iren ngelamun terus waktu jam pelajaran, terus Iren jelasin kalau Iren lagi banyak pikiran karena Yanda ngajak Iren ketemuan kayaknya mau dengar jawaban Iren mungkin Yanda nya”
Aku pun dengan bodohnya tanpa sadar mengajukan diri ku sendiri untuk menemani nya bertemu dengan Yanda di kafe, dalam hati ku tadi setelah aku menawarkan diri ke Iren aku pun berbicara sendiri dalam fikiran ku.” Mengapa Ber kamu tawarin diri sih nanti Iren tau kalau kamu suka ke dia aduh bodohnya Ber Ber” tapi Iren pun tertawa karena aku menawarkan diri untuk menemaninya, nasib baik Iren ku mengizinkan ku menemani nya karena Nissa ikut juga jadi nya aku merasa sedikit tenang karena ada Nissa yang bisa menemaniku nanti bercerita kalau Iren sedang bersama dengan Yanda,
Lalu kami pun pulang dan sesampaiku di rumah aku terus kepikiran dan langsung bersiap untuk ke rumah Iren bareng Nissa karena Iren berkata menunggu kami di rumahnya seperti biasanya karena kafe dekat dengan ruamah Iren, aku pun bertemu dengan Nissa di persimpangan jalan sebelum ke rumah Iren terus aku jalan bareng dengan Nissa bersama ke rumah Iren.
Sesampai kami di rumahnya kami pun langsung menuju kafe itu, karena kata Iren Yanda uda lebih dulu sampai di sana dan uda menunggu Iren di sana.
__ADS_1
Terus kami berjalan bertiga menuju kafe. Tapi sepanjang jalan aku perhatikan Iren sangat cemas entah kenapa mungkin karena cemas mau ketemu dengan Yanda karena ia takut di benci oleh Yanda, tapi aku gak tau mau ngapain karena takut salah kata dan juga takut menambah pikiran Iren, aku pun terdiam hanya mendoakan saja dalam hati ku agar lancar dan semoga Iren menolak Yanda dan gak jadi pacaran dengan Yanda.
Tetapi Nissa yang menyadari kalau Iren sangat cemas pun mulai bereaksi dan mencairkan suasana dengan bercanda ke Iren dengan mengatakan kalau aku nembak Iren apa mau terima gak candaan Nissa yang membuat jantungku terasa mau copot karena Nissa yang selalu bercanda seperti itu kepada ku, terus ku perhatikan malah Iren yang menunduk karena di becandain Nissa, terus Nissa menjadikan ku bahan becandanya, tapi aku tak apa karena aku suda mengetahui maksud Nissa agar Iren bisa lebih tenang dan juga lebih percaya diri dan tidak cemas untuk berbicara nanti dengan Yanda.
Aku pun malu ketika Nissa mengatakan ku malu-malu, untuk menutupinya aku pun mencoba setenang mungkin dan mengimbangi candaan Nissa ke pada ku dengan bercanda balik ke Nissa dengan membalas perkataan Nissa “apa sih nis, kayak apa hayooo” dengan jawaban ku Itu aku pun melihat senyuman manis Iren ku dan tertawa membuatku ikut tersenyum dan senang dengan keadaan itu, karena menurut ku Iren sudah lebih tenang sekarang tidak secemas tadi sewaktu di jalan.
Nissa pun terus bercanda dengan kami berdua terutama kepada ku yang jadi bahan candaannya Nissa.
Perjalanan itu pun jadi momen penting bagi ku karena itu adalah saat yang mendebarkan bagi diri ku karena menunggu jawaban Irenku yang di tembak oleh orang lain yang membuatku merasah cemas kalau tiba-tiba Iren malah menerimanya bukan menolaknya meskipun Iren memang sudah menceritakan kepada ku dan juga Nissa kalau dia tidak mau dan tidak suka dengan Yanda, tapi aku masih saja cemas karena aku merasa setiap orang pasti bisa berubah perasaannya ketika sudah berduaan dan serius meski awalnya tidak mau tapi karena ada rasa kasihan pasti di terima itulah yang mengganggu pikiran ku dan membuat ku cemas.
Ketika kami memasuki kafe dan menuju meja tiba-tiba Nissa menarik ku ke meja terdekat sebelum mejanya Yanda, dan Nissa membiarkan Iren berjalan sendiri menuju mejanya Yanda.
Aku pun duduk berdua dengan Nissa dan memesan minuman kami duduk selang berapa meja dari tempatnya Iren dan Yanda.
Aku pun membaca buku yang ku pinjam dari kafe ini karena menurutku ceritanya menarik dan aku menawarkan juga ke Nissa ia mau baca buku apa, tetapi Nissa memilih sendiri dan kami pun membaca buku menungu pesanan kami datang.
Beberapa saat kemudian pesanan kami pun datang dan mulai menikmatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba Nissa menutup bukunya dan menapku dengan tajamnya, akupun heran dan sedikit cemas dalam hatiku bertanya ‘aduh kok tiba-tiba Nissa serius, ada apa gerangan ni apa aku ada salah sama Nissa ya???’
Aku pun mencoba tenang dengan pertanyaan Nissa menyangkut Iren
Aku pun sedikit bercanda dengan pertanyaan Nissa tadi agar ia sedikit tertawa tapi apalah daya ku yang lemah ini, Nissa langsung menanyakan langsung terang-terangan mengenai perasaan ku ke Iren
Aku kaget setengah mati dan kebingungan bagaimana menjawab pertanyaan Nissa
Tapi aku mengumpulkan keberanian dan langsung ku jawab dengan tenang karena Iren tidak ada di sini makanya aku berani mengungkapkannya dengan Nissa karna aku percaya kalau Nissa pasti akan mengerti dengan yang aku sampaikan tentang perasaan ku ke Iren kenapa aku gak pacaran dengan Iren sekarang meski aku suka sama Iren
Aku pun menjelaskan ke Nissa, gini Niss kalau boleh jujur ya, Berry tu sebenarnya lebih dari suka sama Iren terus lama-kelamaan Berry jadi takut kehilangan Iren biarlah Berry mendam aja perasaan Berry sendiri
Aku pun mengingat kata-kata ini hingga sekarang karena ini merupakan momen dimana aku mencurahkan perasaan ku kalau aku suka dengan Iren yaitu orang yang aku percaya satu-satunya yakni Nissa
Sebenarnya aku sempat berfikir kalau aku pacaran dengan Iren apa Nissa bakal marah karena kami udah sangat dekat menurutku, hingga kemana-mana kalau gak bareng rasanya gak pas aja
Aku pun mengurungkan keinginan ku untuk pacaran dengan Iren, biarlah waktu aja yang menyatukan kami nanti
__ADS_1
lanjut ke bab berikut nya
jangan lupa like dan komen juga vote sebanyak mungkin, semoga teman-teman semuanya sehat selalu