Jalan Seorang Introvert

Jalan Seorang Introvert
Bagian 16. lanjutan


__ADS_3

Setelah itu Nissa merasa senang dan seperti biasa lagi karena dia juga maunya kami tetap sama-sama selalu meski dia sudah tau kalau aku menyukai Iren lebih dari teman tapi aku yakin kalau Nissa bakal menjaga perasaan ku ke Iren.


Aku pun sangat senang karena Nissa mendukung dengan apa yang aku utarakan tadi ke dia dan ia mendukung ku dan juga Iren, meski aku tidak pacaran dengan Iren


Aku pun terharu dengan Nissa yang tak pernah sekalipun ku lihat meneteskan air mata meskipun ia di marahi guru atau apa lah masalah yang ia hadapi.


Tapi sekarang di depan ku ia meneteskan air matanya karena aku berkata akan menjaga mereka berdua karena aku sangat menyayangi mereka berdua.


Aku pun sedikit menggodanya mengatakan kok cowok nangis sih agar dia bisa berhenti menangis dan benar saja ia meghapus dan membalas candaan ku betapa senang nya aku ketika melihat Nissa tersenyum dan tertawa kembali dan bercanda kembali dengan ku.


Tiba-tiba setelah kami bercerita berdua, Iren datang dan menarik tangan Nissa dan langsung mengajaknya ke meja mereka duduk dengan Yanda, aku pun sedikit cemas karena belum tau jawaban dari Iren ke Yanda apa ia berpacaran dengan yanda atau tidak.


Aku langsung mengikuti Iren dan Nissa dari belakang menuju tempat Iren dan Yanda dengan memegang minunam Nissa dan minuman ku untuk ku pindahkan karena belum habis kan sayang kalau buang-buang minuman


Sesampai ku di meja merkeka aku pun duduk di samping Yanda yang menyambut kami dengan senyumnya dan menyapa kami dan mempersilahkan kami duduk.


Kemudian kami bercerita tentang tempat tinggal dan juga kesukaan kami masing-masing, aku yang masih penasaran dengan jawaban Iren pun masih menunggu kapan mereka membahas masalah yang mereka ceritakan tadi


Tiba-tiba Nissa langsung bertanya yang membuat aku sangat senang dan juga cemas karena Nissa langsung menanyakan nya.


Kemudian Yanda pun menjelaskan nya seperti dugaan ku sebelumnya memang benar Yanda dan Iren ku gak jadian, yeeeeeeeea


senangnya mendengar kata-kata Yanda yang membuat hatiku sangat tenang serasa melayang ke udara.


Tapi itu dalam hati ku yang berpesta sendiri hahahhahhaahha


Momen ini sangat ku nanti dan tak kan kulupakan selamanya meski bukan aku yang di tolak Iren hahahha


*Ini jadi hari yang ku beri jududul penolakan*


Kemudian setelah pulang kami bertiga kembali berjalan ke rumah Iren dan sepanjang jalan Iren menceritakan yang terjadi dengan nya dan Yanda yakni yang sangat ku ingat adalah ketika Iren menceritakan ketika Iren menolak Yanda dan kemudian Yanda yang salah arah ketika hendak ke kamar mandi membuat ku gak berhenti tertawa bersama Nissa yang hingga lemas dan duduk di trotowar jalan karena gak sanggup tertawa karena kejadian yang di alami oleh Yanda yang bisa-bisanya sampai salah arah mau ke kamar mandi terus Iren yang juga tertawa dengan senangnya membuat ku tambah bahagia dan tak berhenti tertawa hingga malam ini pun ketika aku menuliskan cerita ini, aku tertawa sendiri hingga tak terhenti sambil menuliskan kata-kata dan begitu menggelitik ku hingga aku menyelesaikan ceritaku hari ini


#Berry dihari penolakan #

__ADS_1


Setelah selesai menuliskan hal penting yang di alami Berry di hari itu ia pun menyimpan buku yang telah ia tulis tadi dan langsung kembali ke tempat tidurnya dan membaringkan dirinya dan mulai membaca buku yang tadi ia baca karena belum selesai ia pun melanjutkannya dengan sedikit tertawa dimana ketika ia membaca novelnya rupanya ada sedikit kemiripan cerita dengan yang di alaminya hari ini yakni ketika Yanda yang di tolak dan salah arah.


Berry pun tertawa kembali dan membayangkan cerita Iren ketika Yanda salah arah menuju kamar mandi.


Malam pun berlalu begitu saja dengan buku novel yang menemani Berry hingga ia tertidur nyenyak hingga pagi mulai menunjukkan cahayanya sekitar pukul 7 pagi dimana Berry seperti biasanya belum bangun karena ia selalu tidur larut malam.


Seperti biasanya ia pun terlambat bangun lagi seperti biasanya dan langsung bergegas dengan cepat menuju sepedanya dan berpamitan ke ibunnya dengan tergesah-gesah dan menaiki sepeda, langsung menuju sekolahnya wussssssss


Seperti biasanya pak satpam pun menunggunya seperti biasa, karena dia tau kalau Berry pasti akan datang telat lagi makannya pak satpam belum menutup gerbangnya, seketika terlihatlah sosok Berry yang dengan kencangnya mengayuh sepeda dan langsung masuk ke gerbang dan menyapa pak satpam “pagi pak” dengan senyuman datarnya dan langsung ke parkiran untuk memarkirkan sepedanya lalu menuju kelas dengan buru-buru


Pak satpam pun selalu tersenyum ke Berry karena hampir setiap hari yang selalu ia tunggu pasti Berry yang selalu menyapanya ketika masuk gerbang, pak satpam pun sudah sangat mengenal Berry karena ia sering di beri makanan oleh Berry ketika pulang sekolah entah itu kue atau pun minuman yang di beli Berry dari kantin untuk pak satpam.


Berry sangat baik di mata pak satpam karena di antara semua murid yang ada di sekolah cuma Berry yang sering berbagi dengan pak satpam maka dari itu pak satpam selalu tau jam ketika Berry hendak samapai di gerbang ia sering menunggu Berry setelah itu baru ia menutup gerbang karena Berry sudah sampai berarti itu adalah murid terakhir yang datang begitulah pak satpam menganggapnya.


Meski Berry telat datang ke sekolah tetapi ia tidak pernah masuk telat ke kelas, ia selalu tepat waktu 1 menit sebelum guru masuk ke kelas begitulah Berry orangnya.


Seperti biasanya


Berry yang duduk dengan tenang seperti biasanya di kursinya yang di hampiri oleh Nissa dan Iren yang merapatkan kursi ke meja Berry untuk gabung dan makan bersama dengannya


Mereka sering sekali ketika sedang makan bersama juga sering bercerita tentang berbagai hal apalagi mengenai buku yang sedang popular di internet dan juga berbagai buku yang sedang ada potongan harga untuk mrereka beli dan bertukar informasi mengenai info buku yang mereka ketahui masing-masing.


Ting ting ting (suara bunyi ponsel Iren)


Iren pun membuka pesan ternyata dari Yanda


#Isi pesan Yanda#


“hai Ren, lagi dimana sekarang?”


“Ia Yan, Iren di kelas ni lagi sarapan bareng Nissa dan Berry, ada apa ya Yan?”


“oh boleh gabung Ren soalnya Yanda lagi mau ke kantin ni”

__ADS_1


“oh boleh Yan datang aja ke kelas”


“ok Ren Yanda ke sana Ya”


“ok Yan”


Kemudian Iren pun menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan makannya


“Ren ada apa?” Iren yang sedang menyuapi makanan ke mulutnya pun menghentikannya sejenak dan menjawab pertanyaan Nissa dan menjelaskan kalau Yanda ingin ke kelas mereka dan bergabung dengan mereka


“oh gitu ya Ren, kayaknya nambah lagi ni sahabat kita !!!!” Nissa yang senang karena ia yakin karena Yanda orang yang baik menurutnya dan juga harapannya kalau bisa Yanda jadi sahabat mereka untuk selamanya untuk menambah cerita hari-harinya pikirnya Nissa


“Ber gak apa kan kalau Yanda gabung makan bareng kita di kelas kan?” tanya Iren karena Berry sedikit cuek dengan pembahasan mengenai Yanda yang ingin gabung dengan mereka.


“Ia gak apa kok Ren kan Yanda uda jadi teman kita” dengan wajah datarnya karen ia masih kurang nyaman denga Yanda karena ia merasa asing, sebab belum mengenal Yanda lebih jauh makanya Berry masih sedikit canggung tapi ia mencoba untuk bisa menerima Yanda bergabung dengan mereka.


Suasana pun jadi hening sejenak karena mereka sedang memakan sarapanya masing-masing,


“Tak tak tak tak Tak tak tak tak


Tak tak tak tak Tak tak tak tak” (bunyi sepatu Yanda yang datang menuju mereka)


Yanda pun menyapa Iren duluan dan menyapa Nissa dan Berry dengan memberi senyuman “Hai Ren, Nis, Ber, boleh gabung kan?” tanya Yanda


“boleh Yan duduk aja tu ada kursi ambil aja pindahin ke sini” Nissa mencoba untuk membuka pembicaraan dengan mempersilahkan Yanda duduk di samping Berry, dengan tujuan agar mereka lebih akrab lagi dan saling mengenal satu sama lain.


Iren yang merasa kalau Berry kurang nyaman dengan Yanda pun mencoba untuk menawarkan ke Yanda makanannya untuk di rasa oleh Yanda


“Yan mau rasa ni sarapan Iren enak lo” Yanda dengan senangnya mengambil sendok dan mengambil sedikit sarapan Iren dan memakannya, Yanda yang merasanya pun langsung mengtakan kalau makanan Iren enak.


Melihat Yanda yang memuji makanan Iren, tiba-tiba Berry pun mencoba menawarkan ke Yanda makanannya untuk ia rasa juga karena tidak adil menurutnya kalau Yanda hanya merasa makanan Iren saja, dengan senang dan sedikit kaget kalau Berry mau menawarkan makanannya ke Yanda.


Jangan Lupa lke nya ketika mampir di sini dan jangan lupa komen semoga sehat selalu :)

__ADS_1


__ADS_2