
Pagi itu Iren bangun sedikit telat karena ia semalam telat tidur karena ia masih kepikiran mengenai perasaannya yang tak menentu karena terus memikirkan Berry yang akan di dekati oleh para cewek-cewek yang akan masuk nanti ke organisasi membuat Iren jadi kepikiran terus akan hal tersebut.
Pagi itu Iren bangun dan langsung mandi dan menyiapkan sarapan terlebih dahulu dan membantu mamanya yang sedang memasak di dapur. Kemudian setelah selesai, Iren sarapan terlebih dahulu dan ia juga membawa sedikit makanan untuk Nissa nanti sewaktu duduk di kafe.
Saat sedang sarapan di mejah makan, ibu nya Iren menanyakan ke Iren kenapa ia pagi ini sudah serapi ini tidak seperti biasanya kalau ia mau pergi biasanya menjelang siang, ini kok pagi sekali mama Iren yang sedang penasaran ke anaknya, kemudian mamanya Iren menanyakan secara langsung ke Iren “mau kemana nak sepagi ini, kan hari ini libur gak biasanya jam segini uda rapi?” Iren pun lupa meminta ijin dan juga memberitahu ke mamanya kalau ia mau ke kafe untuk bertemu dengan Nissa yang ia ajak semalam melalui ponselnya “oh ia, maaf ma, Iren belum minta izin ke mama ya, kalau Iren mau ke kafe nanti jam 9 ma, mau ketemu sama…..”
seketika mamanya Iren pun memotong perkataan Iren dengan langsung sambil bercanda “oh mau ketemu Berry ya nak, boleh kok mama ijinin kalau ketemu sama Berry hahahha” mama Iren sedikit tertawa ke Iren, Iren jadi malu karena mamanya berkata seperti itu dengan malu dan juga wajahnya sedikit memerah langsung menjawab mamanya sambil tersenyum malu-malu “ih mama ada-ada aja lah, enggak kok ma, Iren mau ketemu sama Nissa ma boleh kan ma” Iren masih malu-malu, dan mamanya pun mengizinkannya untuk ke kafe setelah ia selesai makan nanti.
Setelah itu Iren menunggu Nissa yang belum memberi kabar kepadanya kalau ia akan berangkat ke kafe. Iren pun mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke Nissa kalau ia akan berangkat terlebih dahulu ke kafe karena mamanya mau pergi ke pasar dan bareng dengan mamanya untuk di antar ke kafe.
Setelah itu ia Iren berangkat bersama mamanya kemudian mamanya menyalakan motor dan menaikinya dan di ikuti oleh Iren yang duduk di belakang mamanya, dan mereka menuju kafe telebih dahulu karena sebelum menuju pasar mereka terlebih dahulu menjumpai kafe itu, sepanjang perjalanan mamanya Iren terus bertanya tentang Berry ke Iren tentang berbagai hal dan sesekali mamanya menggoda Iren menanyakan tentang hubungannya dengan Berry apa mereka sekarang sudah pacaran atau belum.
Iren yang masih kebingungan tentang pertanyaan dari mamanya pun sering menjawab kalau ia tidak tau dan tidak ingin menjelaskan perasaannya yang sebenarnya ke Berry karena ia tidak mau kalau mamanya berharap berlebihan ke Berry karena ia pun belum memiliki hubungan yang serius dengan Berry karena Iren sampai sekarang tidak mengetahui apakah Berry menyukainya atau tidak.
__ADS_1
Iren dan mamanya pun tiba di depan kafe dan mereka berhenti karena Iren akan turun di sini, setelah itu mamanya Iren pergi ke pasar dan Iren masuk ke kafe dan duduk di meja biasanya mereka duduk. Iren pun duduk di kursi dan memesan minuman yang basa ia pesan ketika kesini, dan ia membuka ponselnya dan melihat belum ada balasan dari Nissa dan Iren pun duduk menunggu Nissa sambil membaca buku yang ada yang ia ambil di rak buku yang telah di sediakan.
Sejanak Iren duduk di kafe sendirian hingga beberapa saat kemudian ada seorang laki-laki tampan yang mendekati mejanya Iren karena ia memiliki tujuan untuk mendekati Iren.
Iren yang masih fokus dengan bacaan cerita yang sangat menarik tidak menyadari kalau ada seorang laki-laki yang mempunyai gaya yang keren dan juga sangat ganteng telah berdiri di dekatnya dan sedang memperhatikannya.
Kemudian laki-laki itu pun memanggil Iren dengan suara pelan karena ia melihat Iren yang sangat serius membacanya.
“hai boleh gabung gak” laki-laki itu pun duduk di depan Iren yang sedang serius membaca karena ia tidak menyadarinya kalau itu adalah orang yangtidak ia kenal sebelumnya dan laki-laki itu pun tidak mengenal Iren sebelumnya karena ia melihat Iren sedang sendirian duduk ia pun menghampirinya karena ia sedang mencari buku yang sering ia baca di kafe ini setelah beberapa kali killing dan melihat tamu lain yang ada di meja yang sedang membaca buku ia pun menemukan Iren yang sedang seriu dengan buku yang sedang ia cari karena ia menyukai buku itu karena ceritanya sangat menarik.
Hingga pesanan Iren pun sampai dan ia menghentikan bacaannya dan kaget dengan sosok laki-laki yang sudah duduk di depannya dan ia bingung dengan laki-laki itu yang sudah ada di depannya.
Iren bingung dengan laki-laki itu dan ia melihat kalau laki-laki itu terus memandanginya dan tersenyum ke arahnya membuat Iren malu untuk bertanya ke laki-laki itu.
__ADS_1
Kemudian laki-laki itu menanyakan kembali ke Iren untuk mengenalkan dirinya terlebih dahulu ke Iren “maaf ganggu, nama saya Adi, boleh gabung duduk di sini kan?” Iren yang tadinya menunduk malu, mengangkat wajahnya dan menjawab pertanyaan laki-laki tadi “oh ia boleh kok, nama saya Iren, salam kenal” Iren yang bingung dengan maksud laki-laki itu yaitu Adi, menyambung kembali perkataannya ke Adi “ada apa ya tadi, kalau gak salah tadi mau nanya sesuatu ya?” Adi yang tersenyum ke Iren ternyata Iren mendengar kalau tadi ia menyapa Iren.
Adi menyampaikan maksudnya ke Iren secara langsung tanpa basa basi “oh tadi lagi cari buku yang sering saya baca, tapi gak ada di rak buku terus karena kelihatan tamu yang duduk di meja ramai makanya tadi keliling dulu cari bukunya mana tau ada di meja, ya ketemu deh ada di Iren ya tadi namanya?” adi terus tersenyum ke Iren yang sedang memperhatikannya berbicara.
Kemudian Iren pun kaget karena ada juga yang membaca buku yang sama dengan yang ia baca, terus Iren yang belum selesai membacanya pun menyuguhkan ke Adi untuk di berikan ke Adi “oh Adi mau baca buku ini juga ya, kalau gitu ni ambil aja Di, Iren uda selesai bacanya di nih” Iren yang belum selesai membacanya buku itu di ketahui oleh Adi karen tadi Adi sempat melihat dari belakang halam yang di baca oleh Iren ketika ia berada di belakang Iren untuk memastikan buku yang di baca Iren adalah buku yang ia cari.
Kemudian Adi menolak karena Iren sudah terlebih dahulu mengambilnya dana di pun bertanya ke Iren tentang cerita di buku itu karena Ia sudah setengah jalan dalam membaca buku itu dan ia pun melihat bacaan Iren tadi sudah hampir setengah dan ia menanyakan pendapat Iren tentang buku itu “gak apa kok Ren baca aja dulu, oh ia kan Iren uda hampir setengah kan baca bukunya, terus menurut Iren jalan ceritanya bagus gak?” Iren yang sedikit tertarik untuk membahas cerita yang baru saja di bacanya langsung menjawabnya “oh ia boleh ni, kalau jalan ceritanya sih bagus Iren suka baca cerita yang gini jalan cerita yang tentang kepribadian seseorang tu menarik karena ada manfaat yang kita dapat dari ceritanya terus kita juga bisa menerapkan yang baiknya di kehidupan kita kalau menurut iren sih gitu bukunya menarik”
Iren pun tersenyum dan mulai terlihat terbiasa untuk berbicara dengan Adi meski baru kenal sebentar karena menurut Iren Adi itu enak di ajak untuk ngobrol membahas cerita, terlintas di fikirannya kalau ia dulu pernah merasakan hal yang sama seperti ini.
Kemudian Iren mencoba untuk mengingatnya, dan ia teringat dengan sosok Berry yang membatnya memiliki perasaan yang sangat takut kehilangan akan diri Berry, dan ia pun menyadari kalau ia juga merasakan hal yang sama ke Adi seperti ini lah dulu hal yang pernah Iren rasakan ketika pertama kali bertemu dan ngobrol dengan Berry
Iren mencoba untuk tidak memikirkan hal itu karena itu membuat nya merasa sakit, dan ia pun mencoba membiasakan perasaannya ke Adi hanya sekedar teman saja
__ADS_1
Tapi itu sangat sulit baginya karena ia terbayang dengan sosok Berry terus-terusan