
Diana tiba- tiba menjadi tegang, langkah nya terhenti, lalu membalikan badannya ke arah Cessie, "Apa..apa maksud kamu?"
Sejak papanya dibawa oleh polisi, bilangnya mau melakukan pemeriksaan, tapi dalam sekejap sudah setengah bulan lewat, sekarang satu kabar pun tidak ada, selanjutnya Tanoe indo sukses bangkrut, dia tidak punya koneksi dan uang, hanya bisa menunggu kabar saja..
Ini pertama kali diana mendengar dari Mulut orang lain tentang kondisi papanya.
Cessie melihat Diana panik, dengan senangnya dia tersenyum, sambil melihat lihat ke arahnya, "saya lihat kamu hidupnya lumayan enak, tidak perlu mempedulikan makan, masih ada pekerjaan juga, tapi kamu pasti tidak tau seperti apa yang dijalani oleh papamu di penjara kan?"
Diana berdiri kaku sekarang, di otaknya terlintas kata kata yang di janjikan oleh Fred, "untuk ayah mu yang di penjara, saya akan memikirkan caranya, pakai koneksi untuk meringankan hukuman papamu juga....." Ucapan Fred waktu itu.
Fred sudah berjanji kepada nya, tidak seharusnya dia tidak melakukan apapun...
Diana mengigit bibirnya, lalu menatap ke Cessie, "emang nya kamu tau kondisi papaku sekarang?"
"Pasti tau dong!" Cessie tersenyum, dia tau apa kelemahan Diana, dia sengaja bertele tele dan tidak mau kasih tau.
"Sejak lesson Tanoe di tangkap sampai sekarang, sudah lewat lumayan lama, sepertinya hukuman nya sudah diputuskan, dan kehidupan di dalam penjara, seperti kamu pasti tidak pernah mengalami nya, dan juga tidak mengerti..."
Cessie sengaja mendengus dua kali, kemudian mendekati Diana, suaranya pelan saat berbicara, "saya sempat dengar, lesson Tanoe sejak masuk ke penjara, dalam setengah bulan ini, rambutnya udah putih semua, dan berat badan nya turun hingga beberapa kilo jadi sangat kurus, dulu di dunia bisnis kota H dia yang punya kekuasaan, sekarang di penjara satu kata pun tidak berani di ucapkan..."
Diana langsung gemetaran, dia dengan kaget melihat ke Cessie, dan menolaknya sambil berkata, "Bohong, kau pasti Bohong!"
Dia tidak percaya kalau papanya bisa sampai seperti itu, dia juga tidak percaya kalau papanya telah melakukan kejahatan.
"Aku berbohong?" Ekspresi Cassie berubah, dengan tatapan dingin melihat ke arah Diana, "terserah kamu mau percaya atau tidak! Kamu tanya saja sama yang lain, walaupun mereka tau juga tidak berani bilang ke kamu!"
Setelah Cessie selesai berbicara dia pun meninggalkan Diana, yang masih terpaku di sana, karna ucapnya tadi.
Diana walaupun tidak percaya dengan Cessie, tapi dia juga tau kalau penjara itu tempatnya seperti apa, terus sejak papanya ditangkap sampai sekarang, satu informasi pun tidak ada, dia juga pasti kepikiran terus...
Tapi Fred bukannya sudah berjanji mau membantu dia untuk urusan di penjara?
Hutang bank nya Tanoe indo sukses juga sudah di bantu bayar olehnya, tapi urusan penjara belum pernah mendengar dia membicarakan nya.
Diana mengigit bibir bawahnya, berusaha menekan ke gelisahannya, melihat dokumen di tangan yang belum di antar nya, lalu segera melangkah lah dia ke bagian ke uangan.
**
__ADS_1
Setelah Fred selesai meeting, hari ini juga sudah malam, dia langsung kembali ke villa, pas mau masuk pembantunya langsung mendekati dirinya, ekspresi nya agak kacau, "Pak, ada tamu yang datang..."
"Siapa?"
"Nona Diana, yang dulu di bawa bapak pulang itu"
Fred mengangkat alisnya, kemudian menyuruh pembantunya untuk pergi, "Oke, saya tau."
Lalu dia naik ke atas, hatinya ada sedikit keraguan, wanita ini, hari ini lumayan inisiatif untuk datang sendiri ke rumah.
Sesampainya Fred di atas, dia mendorong pintu kamar tidur, dan melihat cahaya lampu yang agak redup, kayaknya hanya lampu meja yang di hidupkan, dia berjalan masuk, sekilas mencari di kamar mandi, ranjang, tapi tidak ada wanita itu, terus ia melihat ke arah balkon yang gordennya tertiup angin, dia maju ke depan, barulah dia melihat Diana sedang duduk di sana.
Diana mendengar suara, langsung berdiri, setelah melihat Fred matanya terlintas sedikit kepanikan, "Kamu sudah pulang?"
"Ya" Fred melihat ke arahnya, "ada apa kamu nunggu saya di sini?"
"Ada yang ingin saya bicarakan" ucap Diana dengan serius, bahkan mukanya tidak terlihat senyuman sama sekali.
Kalo ada urusan, seharusnya dia bisa menunggu besok kerja, baru membicarakan nya, kenapa dia sampai harus datang dan menunggu di villa, kalau bukan masalah penting, pasti karena sengaja.
"Aku mau tanya urusan papaku yang dipenjara, sekarang dia bagaimana?"
"Kamu datang hanya untuk menanyakan hal itu?" Fred sudah membuka setengah kancing dari baju nya, dada yang bidang itu sedikit mengintip dari bajunya, dia berjalan ke depan dan menatap tajam ke Diana.
Diana menarik nafas, "iya saya sangat khawatir dengan nya, terus kamu juga kan sudah berjanji waktu itu, untuk mengurus masalah penjara nya, Saya tidak mau ayah saya menderita di dalam sana"
"Diana, kamu sendiri saja sudah susah, masih berharap orang lain tidak menderita, apakah tidak lucu?"
Kata- kata Fred terdengar begitu kejam, Diana mengepalkan tinjunya, menatap ke matanya Fred, dengan tegas berkata, "Saya tau, tapi waktu itu kamu sudah berjanji"
Fred mulai tenang, dan dia bertanya balik, "jadi, hari ini kamu datang untuk memenuhi kewajiban kamu? Agar aku juga bisa menyelesaikan janjiku?"
Diana menarik nafas lagi, dia sangat mengerti kata memenuhi kewajiban yang di ucapkan oleh fred, sebelum datang dia memang sudah menyiapkan mental nya, Fred termasuk orang yang jago berbisnis, pasti dia tidak mau rugi.
Diana membuang nafasnya, sambil berkata, "iya betul"
Suara pria itu sedikit berdengung di telinga nya, "Lesson Tanoe memang mempunyai satu anak yang sangat baik".
__ADS_1
Fred sambil duduk di kursi samping, dia berkata, "Mandi dulu"
Diana mengigit bibir bawahnya, dengan muka memerah, kemudian melangkah ke kamar mandi.
Dia sama sekali tidak ada bedanya dengan wanita panggilan, sudah beberapa kali dia menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan balasan.
Setelah 14 menit, Diana keluar dari kamar mandi, badannya memakai handuk besar, tanpa sengaja lekukan badannya terlihat, dan menimbulkan nafsu yang begitu membara..
Pelan-pelan dia berjalan ke arah balkon, Fred sedang duduk sambil meminum alkohol, pas berbalik dan melihat Diana, matanya menjadi sedikit gelap.
Ekspresi nya tetap santai seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa, tapi tatapan matanya mengikuti Diana...
Diana berdiri di depannya, mengulurkan tangannya, pelan pelan memegang bahu pria itu, "Mau di sini apa di kamar?"
Satu kata dari wanita ini, seperti melempar batu ke danau yang begitu tenang, gelombang nya mulai menguat.
Fred menarik nafas dalam, langsung memeluk Diana ke pangkuan nya.
Diana merasa pria macho yang mendekat kepadanya, walaupun sedikit tegang dia tetap berusaha berkata, "Fred, kamu akan bantu aku kan"
Fred terhenti, dengan pelan dia menggigit telinga Diana, "tentu, karna kita hanya saling mengambil kebutuhan saja".
Diana menutup matanya.
Iya, hubungan mereka memang hanya semata saling mengambil kebutuhan saja.
Tapi, hubungan yang dia anggap terlarang ini, malah bisa membawa sebuah rasa birahi yang begitu menggoda, dan yang memberikan rasa itu malah Fred yang begitu kejam dan dingin.
Setelah badai berlalu, Fred berdiri dengan sigap dia mengambil hp yang tadi ada telpon tapi belum sempat di jawab nya, memakai handuk dan berjalan ke arah balkon.
"Halo pak, proyek fiesta saya dapat buat keputusan, Minggu ini saya akan pergi ke kota B..."
Diana mendengar suara bisik- bisik, paling Sedang membicarakan urusan proyek fiesta, setelah dia mematikan telepon, lalu Fred berjan balik, melihat ke arah Diana, sambil berkata, "Minggu ini kita ke kota B, kamu persiapkan dulu".
Diana ragu sejenak, "hanya kita berdua?"
Bersambung!
__ADS_1