
Saat Diana ingin berbicara, ibunya langsung menggenggam erat tangannya lalu berkata, "Diana, kalau kamu benar benar tidak ingin melihatku sengsara, bukan berarti tidak ada solusinya."
"Solusi apa?"
"Dulu kamu sudah sampai mau menikah dengan Jeff, jika kamu balik lagi dengan dia, keluarganya pasti bisa menolong kita, Diana kamu pikir pikir, kalau kamu bisa baikkan dengan jeff---"
"Ibu! Aku dan Jeff sudah tidak mungkin!" Potong Diana dengan raut wajahnya yang serius.
Dahulu saat keluarga Tanoe sedang genting- gentingnya, Diana masih berharap dengan Jeff, tapi setelah ditolak dengan tanpa berperasaan darinya, dan masalah akhir akhir ini yang terjadi juga membuat Diana melihat tujuan Jeff yang sebenernya, Diana tidak memiliki kesan bagus lagi terhadap Jeff.
"Tidak ada yang tidak mungkin, kamu pikir pikir Diana, jika kamu baikkan dengannya, sekarang kamu juga tidak perlu susah-susah kerja, aku juga tidak perlu makan bubur setiap hari."
Diana menghela nafas panjang, lalu berkata, "Ibu, aku sekarang meskipun kerja setiap hari tapi sangat berbobot, aku akan berusaha mendapatkan uang untukmu agar hidup lebih baik, kamu percayakan semuanya padaku."
Ibu Tanoe mendesah, "Diana, aku hanya tidak ingin kamu terlalu susah."
Diana tersenyum, berbicara dengan nada tenang, "Ibu, berikan aku sedikit waktu lagi, keluarga kita pelan pelan akan membaik lagi, masih ada ayah, kita menunggu dia keluar, kita bertiga bisa berkumpul lagi."
Bawah mata ibu Tanoe memancarkan kerumitan, raut mukanya langsung serius, "Diana, kamu masih terlalu muda, tidak paham dengan betapa kejamnya masyakarat ini, sekarang tidak bisa berharap dengan ayahmu lagi, ada uang ada kekuatan baru tidak ada yang berani mengganggu kita, kamu mengerti kan?"
Diana terkejut dan menatap ibunya, "ibu, maksudnya apa tidak bisa berharap dengan ayahku? Dia sekarang ada di penjara, kesehariannya tidak sebagus dengan yang kita lalui, saat itu apakah tidak perlu saling memperhatikan, saling melalui kesusahan? Memang aku apa perlu cari orang yang punya uang, punya jabatan sebagai tumpuan gunung!"
Suara ibu Tanoe melengking, "Maksud aku bukan itu, sekarang keluarga tanoe sedang kesusahan, tidak tau berapa banyak orang yang menginjak injak kita, mencari tumpuan juga tidak ada salahnya, jika kamu sudah menangkap hati Jeff, kamu lihat siapa yang berani mengejek kita keluarga Tanoe?"
Diana mendengarkan, melepaskan tangan ibunya, mundur setengah langkah, lalu menatap ibunya yang didepannya, merasa semakin aneh.
__ADS_1
Ia mengigit bibir bawahnya, menghela nafas dalam-dalam, berbicara dengan nada tenang dan tegas, "Aku tidak akan baikkan dengan Jeff lagi!"
"Diana!" Muka ibu Tanoe memancarkan amarah, ingin mengatakan sesuatu, Diana langsung membalikkan badannya, dan bergegas pergi ke kamarnya.
Baru naik 2 anak tangga, air mata Diana keluar, ia tidak menduga, setelah keluarga Tanoe ada masalah, semua teman yang dulunya dekat dengan keluarga Tanoe menjadi berubah, terjadi perubahan terhadap semuanya, termasuk ibunya.
Ibunya masih tidak tau keadaannya seperti apa saat ayah ada dipenjara, dan ibunya kini menyuruhnya pergi mencari orang sebagai tumpuan.
Diana tidak mau, meskipun ayahnya sudah pernah berbuat sesuatu, tapi dia juga sedarah keluarga dengannya, ia juga tidak mungkin tidak mempedulikan ayahnya, dia juga tidak perlu tumpuan apa apa, dia hanya ingin menggunakan kemampuannya sendiri untuk mengubah keluarga Tanoe menjadi lebih baik, itu saja.
Pagi hari selanjutnya, Diana bangun, juga belum sarapan, meninggalkan yang untuk ibunya, lalu langsung pergi ke kantor.
Sesampainya di perusahaan, seperti biasa melakukan kesibukan, pergi menemani pertemuan dahulu, lalu laporan akhir lagi, Diana sama sekali tidak lelah.
Diana menelpon, setelah konfirmasi terus menerus makanan dan tempat duduk di tempat makan, menjamin biar tidak ada kesalahan, lalu mengambil papan ke ruangan Fred untuk mengingatkan jadwal selanjutnya.
"Pak Fred, siang ini akan makan-makan dengan direktur wu dari perusahaan wealth finance, berangkat naik mobil membutuhkan setengah jam dari perusahaan ke restoran tersebut, dan sebentar lagi berangkat."
Fred sedang membolak-balikkan dokumen, kepalanya tidak mendongak ke atas, dan merespons, "Okee."
Diana agak ragu ragu, mulai bertanya, "Pak Fred, masih ada hal lain yang bisa di bantu?"
Fred mendongakan kepalanya dan melihatnya, berhenti setengah detik, lalu berkata, "siang ini pergi makan makan bersamaku."
Setelah kembali dari kota B, pergi makan makan Fred selalu sekretarisnya yang menemani, dan Diana belum pernah menemani keluar, Diana diam diam agak senang, merespons dengan segera, "Baik."
__ADS_1
Setelah menunggu Fred membereskan pekerjaannya, mereka langsung berangkat, menuju ke restoran yang dituju.
Memesan waktu ketemuan ke asisten pihak sana adalah jam 11.30, Fred dan Diana baru sampai restoran, setelah nama yang memesan tempat pelayan yang menggunakan seragam datang dan mengantar mereka ke ruangan private.
Diana sambil jalan sambil bertanya, "Pak Fred, perlu aku sekarang menelpon asistennya direktur WU untuk menanyakan posisinya sudah dimana?"
Fred mau berbicara, pelayan di sebelahnya tiba tiba berkata, "Ruangan private no. 8 sudah ada tamu, sudah sampai tujuh atau delapan menitan."
Diana hanya mendengarkan, tidak berkata apa-apa, sepertinya, direktur Wu dari perusahaan Wealth Finance sudah datang terlebih dahulu.
Mereka mengikuti pelayan, membelok ke belokan sudut koridor, belum melangkah beberapa langkah, Diana melihat dua lelaki berdiri di depan pintu ruangan private yang tidak jauh darinya.
Fred juga melihatnya, dia cepat cepat menghampirinya, lalu menyapa, "Direktur Wu, sudah di depan pintu kenapa tidak masuk saja?"
Diana baru tau dua orang itu adalah direktur Wu dan asistennya, tapi raut wajah direktur Wu tidak bagus, sepertinya tidak senang.
Direktur Wu hanya mendengarkan, bermuka serius sambil jalan selangkah ke depan melihat Fred, berbicara tanpa sungkan, "Tuan Fred, aku dan kamu adalah teman lama yang sudah bekerja sama beberapa kali, kalau Pratama Jaya Group kalian ada yang tidak puas terhadap Wealth Finance kami, kenapa tidak langsung bicara didepan saya? Kenapa menggunakan cara seperti ini untuk merepotkan saya?"
Alis Fred mengkerut, dan langsung bertanya, "Direktur Wu kenapa berbicara seperti ini? Apakah ada kesalah pahaman?"
Diana yang ada di sebelahnya agak bingung, melihat situasinya tidak betul, dan tidak berani juga untuk tiba tiba berbicara di tengah pembicaraan mereka.
"Salah paham? Pak Fred, aku tidak punya waktu untuk menebak teka-teki denganmu, gaya kalian yang seperti ini, aku rasa, kerja sama kali ini tidak perlu!" Direktur Wu mengayunkan tangannya dengan keras, melangkah beberapa langkah seperti ingin pergi.
"Direktur Wu!" Fred mengejarnya, saat mau bertanya, asisten direktur Wu malah menghalanginya.
__ADS_1