
Bibi Tuti berbalik, melihat kekecewaan Diana dan berkata dengan lembut, "Di tubuh tuan ada bau bir. Mungkin ia baru saja selesai dari pesta dan sedikit lelah."
Diana mengangguk dengan serius dan tidak berbicara.
Saat ini, seorang pelayan datang dengan kotak hadiah di tangannya, dan bertanya kepada bibi Tuti, "Bibi Tuti, lihat ini. Supir itu tadi ingin membuang hadiah ini. Saya menghentikannya. Supir itu bilang kalau dia disuruh membuangnya oleh tuan, saya melihat bahwa semuanya dalam kondisi baik dan sangat mahal. Jadi saya tidak membiarkan dia untuk membuangnya. Apakah anda ingin bertanya lagi kepada tuan?"
Mendengar ini, bibi Tuti meraih kotak itu dan membuka tutupnya. "ini masih baru. Bagaimana bisa tuan ingin membuangnya?"
Meskipun keluarga Pratama memliki uang, Fred sangat hemat dalam kehidupannya. Dia tidak mungkin membuang barang yang masih baru dan bagus. Para pelayan terbiasa dengan kebiasaannya. Barang yang seperti ini tidak mungkin di buang olehnya.
Diana melangkah maju dan melihat gaun di kotak hadiah itu. Dia tidak bisa membantu, tetapi apabila dari teksturnya gaun panjang hijau tua itu tidak murah.
Bibi Tuti dengan hati-hati mengeluarkan gaun itu dari kotak. Diana melihat seluruh gaun itu. Gaun itu memiliki ekor yang tidak teratur dan tali bahu merupakan tali mutiara, membuat roknya sederhana tapi mewah.
Bibi Tuti memandangi gaun itu dan melihat Diana di sebelahnya, dia menghela nafas, lalu berkata. "Gaun ini tampaknya seukuran dengan Nona Diana."
Begitu Diana mendengar ini, alisnya mengkerut dan menatap gaun itu lagi. Itu memang ukuran yang bisa di pakai olehnya.
Apakah Fred membeli untuknya? Tapi mengapa dia membiarkan supir Rudi membuangnya?
Setelah terdiam beberapa saat, dia tiba tiba menyadari sesuatu dan menoleh untuk menatap bibi Tuti. "Bibi, berikan kotak itu padaku, aku akan naik ke atas dan bertanya padanya."
"Baiklah." Ucap bibi Tuti, dan menyerahkan kotak hadiah itu kepada Diana.
Diana memegang kotak itu dan pergi ke atas. Sesampainya di kamar Fred, Diana langsung masuk. Dia mendengar suara air di dalam kamar mandi. Diana meletakkan kotak itu dan membereskan dokumen di atas meja.
Setelah beberapa saat, suara air berhenti. Fred berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tubuhnya tanpa lemak. Setiap bagian dari dirinya kelihatan kuat dan sehat. Bahu lebar dan memiliki pinggang yang kecil.
Dia mengambil handuk dan menyeka rambutnya yang basah. Begitu dia keluar, dia melihat Diana yang sedang membereskan dokumennya. Matanya redup, dan kemudian matanya jatuh ke kotak hadiah di atas meja.
Dia menjadi dingin, "Siapa yang membawa ini?"
Mendengar ini, Diana dengan cepat berbalik, memandang Fred dan melihat kotak hadiah itu di tangannya. Diana ragu-ragu sejenak dan bertanya, "gaun yang di dalam kotak itu masih bagus. Mengapa kau ingin membuangnya?"
Wajah Fred dingin, "Tak ada alasan."
__ADS_1
Diana mungkin menebak sesuatu di hatinya. Dia menarik nafas dalam-dalam. Melangkah maju dan menatap Fred, "Apakah hari ini kau pergi ke villaku untuk menemuiku?"
"Tidak." Fred tidak berpaling, di wajahnya tidak ada sedikitpun gelisah.
Diana mengepalkan tangannya dan membuka mulutnya untuk menjelaskan. "Hari ini ibuku menyuruhku pulang untuk makan malam. Tak terbayang kan bahwa dia--"
Saat Diana mau menjelaskan, tiba-tiba ponsel Fred berdering. Diana melihat ke arah ponsel Fred.
"Linda" satu kata yang muncul di layar ponsel tersebut. Hati Diana menegang. Dia mengangkat matanya ke arah Fred.
Fred memandang matanya. Dua detik kemudian, dia menjawab telepon tersebut dan berjalan ke arah balkon.
Pada saat itu, hati Diana merasa kacau.
Bagaimana bisa Linda menelpon Fred? Dan dia bahkan mengangkat teleponnya.
Tanpa sadar, dia mengepalkan tangannya, dan mendengarkan suara dari balkon.
Diana mendengar suara Linda yang terkekeh dan berkata, "Fred, saya pikir anda tidak akan menjawab teleponku."
Fred berkata dengan santai, "ada apa?"
Setelah ragu-ragu sejenak, Fred menjawab dengan suara rendah, "Oke, aku akan pesan restoran. Sampai jumpa besok.
Dia tahu bahwa Diana sedang menguping pembicaraannya.
Linda sedikit terkekeh dan berkata dengan lembut, "Oke, sampai ketemu besok."
Ketika telepon ditutup. Fred menyimpan ponselnya. Begitu dia berbalik, dia melihat Diana mengerutkan kening dan melihat ke arahnya.
Fred kembali ke kamarnya, dan menatap Diana, lalu dia bertanya dengan suara berat, "tadi apa yang ingin kau katakan?"
Diana gelisah, dan dia tidak bisa mengatakan apa yang ingin dia jelaskan. "Tidak ada. jika kamu tidak menginginkan itu, maka aku akan membantumu untuk membuangnya."
Fred tampaknya tak percaya bahwa dia bahkan tidak punya penjelasan. Ada ledakan amarah di hatinya. Lalu dia berkata dengan dingin, "itu aslinya untuk Linda. Ukurannya salah, apabila kau mau, kau bisa mengambilnya."
__ADS_1
Setelah selesai berbicara, dia langsung berjalan keluar dari kamar.
Diana berdiri diam, seperti patung yang membatu.
Dia tidak menyangka bahwa itu adalah gaun yang akan diberikan Fred kepada Linda. Jika sesuatu barang yang tidak cocok oleh wanita itu maka di buang atau diberikan kepadanya. Memangnya dia menganggap dirinya sebagai apa?
Hati Diana seperti ditusuk oleh sesuatu yang tajam. Rasa sakit menyebar dengan cepat dihatinya.
**
Pada hari Minggu. Fred keluar pagi-pagi.
Diana sedang dalam mood yang tidak baik, dan dia dirumah sepanjang hari.
Pada jam sembilan malam, Fred masih belum kembali. Diana merasa gelisah di kamarnya. Dia tidak merasa ngantuk sama sekali. Dia turun dan langsung menyalakan Tv di ruang tamu.
Karena bosan dia mengganti beberapa saluran, tetapi ia tidak melihatnya sama sekali. Dia selalu secara tidak sadar memikirkan Fred dan Linda. Dan pikirannya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan.
Apakah mereka berkencan?
Apakah Fred menemani Linda sepanjang hari?
Kemana mereka pergi?
Semakin banyak berpikir ia semakin berantakan. Dia mengambil ponselnya dan membuka WhatsApp nya. Dia ingin bertanya sesuatu, tetapi dia tidak tahu harus berkata apa.
Ketika Diana sedang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Suara mobil tiba-tiba datang dari luar. Fred dengan segera mendorong pintu dan melihat Diana duduk disofa. Dia tertegun sejenak.
Diana berpura-pura menonton Tv, seolah tidak ada terjadi. Tapi tanpa sadar jantungnya berdetak lebih cepat.
Fred melangkah ke tangga, melewati sofa, dan bertanya dengan suara dingin, "Kenapa kau tidak istirahat?"
Diana menoleh dan melihat ekspresi pria itu, "Aku tidur siang sangat lama. Jadi sekarang aku belum mengantuk." Ucap Diana berbohong. Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa dia sedang menunggunya, tapi ucapan itu tidak bisa dikeluarkan dari mulutnya.
Fred mendengar kata-kata itu, menatap wajahnya selama beberapa detik, lalu berbalik dan melangkah ke atas.
__ADS_1
Diana memandangi bagian belakang pria itu. Hatinya tenggelam, dan dia menertawakan dirinya sendiri.
Dia tampaknya terlalu peduli tentang Fred. Tetapi Fred tidak peduli padanya.