Jatuh Cinta Dalam Semalam

Jatuh Cinta Dalam Semalam
Bab 69


__ADS_3

"Tuan Fred, mohon maaf, anda sudah bertemu secara privat dengan direktur Wu berkali kali, jelas sudah tau kalau pinggang dan kaki direktur Wu dalam kondisi tidak bagus, tidak bisa duduk, dan lagi sengaja memesan meja berbentuk Tatami, bukannya ini sengaja membuat direktur Wu kesusahan?"


Setelah selesai berbicara Asistennya, langsung membalikkan badan, mengikuti langkah direktur Wu, dan melangkah pergi.


Alis Fred mengkerut, terus menatap direktur Wu dan asistennya yang berbelok dan menghilang, raut wajahnya menjadi dingin.


Diana baru menyadari, ia mendongakkan kepalanya melihat Fred, sangat khawatir.


Diana yang memesan tempat makan ini, ia sama sekali tidak tau kalau kaki direktur Wu ada masalah.


Diana belum selesai mengatur kata-katanya, Fred sudah menatap ke arahnya, "Kamu yang memesan tempat makan ini?"


Diana mengigit bibirnya, menatap ke Fred yang dingin, lalu menganggukkan kepala.


Diana mengepalkan tangannya, memberanikan diri mendongakan kepala ke arahnya, dan menjelaskan, "Aku tidak tau kalau kaki direktur Wu ada masalah, sekretaris Bella hanya bilang ke saya untuk memesan tempat makan, belum bilang soal lainnya.."


Mata Fred menghitam, terlihat menekan emosinya, ia membungkuk sedikit, bersuara dingin, "Diana, kamu tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi, masalah ini sudah terjadi, tidak perlu Mencari-cari alasan."


Suara Fred dalam dan bertenaga, setiap kata katanya memukul hati Diana, Diana mengangkat kepalanya, melihat Fred sudah melangkah pergi keluar, dan langsung merasa ini tidak adil.


Beberapa menit kemudian, Diana mengatur suasana hatinya, keluar dari restoran, dan menyadari Fred sudah pergi.


Perasaan kehilangan yang mengacaukan hatinya, Diana belum makan, dan langsung pulang ke perusahaan, lalu kebetulan bertemu dengan Bella yang baru selesai makan di lift.


Bella bertemu dengan Diana, bertanya yang sengaja menertawakannya, "Bukannya kamu keluar dengan pak Fred pergi makan makan? Kok cepat sekali sudah pulang?"


Diana melihat wajahnya yang tertawa, mengepalkan tangannya secara diam diam, Diana menahan amarahnya dalam hati, dan bertanya balik dengan dingin, "Sekretaris Bella, direktur Wu perusahaan Wealth Finance bukannya tidak suka dengan makanan mentah, iya kan?"

__ADS_1


"Aku menemani pak Fred dulu, dia yang memesan steak daging sapi, ingin yang panas, ia yang bilang sendiri suka dengan makanan yang agak mentah, jadi aku memberitahukan kamu, kenapa memangnya?"


Suka steak sapi dengan tingkat suhu kematangan tertentu dan dia suka atau tidaknya dengan makanan mentah adalah dua hal yang berbeda, Bella memberitahukan Diana kalau direktur Wu suka makanan mentah, orang orang normalnya terpikirkan makanan Jepang, dan semua dekorasi restoran adalah ciri khas Jepang, sebagaian besar perlu duduk berlesehan.


Diana menghela nafas dalam-dalam, dan bertanya lagi, "Kaki direktur Wu ada masalah, kamu tau tidak?"


Bella mengangguk-anggukkan kepalanya, mengaku tanpa bersalah, "Tau kok."


Bella tertegun dua detik, dan melihat Diana dengan sengaja terkejut, "Ada apa? Kamu tidak tau? Aku kira kamu sudah tau!"


Diana mengigit bibirnya, menggenggam erat sudut bajunya, tidak bisa berkata satu kata pun.


Diana belum lama datang ke Pratama Jaya, tidak begitu paham semua informasi kerja sama perusahaan Pratama Jaya, dan Bella hanya memberitahukannya sebagaian informasi, yang sudah menyesatkan Diana.


Tapi Diana juga tidak menemukan kesalahan Bella, Diana yang memesan restoran, belum memahami semua segi informasi pihak tersebut adalah kesalahannya, Diana tidak bisa menyalahkan orang lain.


Diana mengangkat matanya, menatap Bella yang di depannya, bersuara dengan nada dingin, berusaha terlihat santai dan berbicara, "Sekretaris Bella, kalau kamu ada masukan untuk saya, bisa langsung saja bicara ke saya, tapi harap kamu lain Kali tidak menggunakan cara seperti itu terhadap saya."


Bella hanya mendengarkan, raut wajahnya berubah, dan tersenyum dingin, "Terhadap kamu? Diana, kamu kira kamu siapa?"


"Aku bukan siapa siapa, tapi tidak mungkin selalu bertanggung jawab atas penganiayaan ini."


Diana menatap Bella dalam-dalam, setelah beberapa detik, membalikkan badan dan pergi dengan tegas.


Diana dari keluarga Tanoe yang dulunya berduit kini berubah menjadi sekretaris Perusahaan Pratama Jaya seperti sekarang, sudah bisa menahan diri dan rendah hati, tapi juga tidak pernah menganiaya orang, kalaupun sampai batas akhirnya, ia juga tidak akan menaruh perasaan.


Diana kembali ke kantor, baru sadar kalau ada beberapa telepon yang tidak terangkat, dalam telepon ada satu nomor yang sudah menelepon 5 kali, Diana melihat dan tertegun, langsung menelepon balik.

__ADS_1


Biasanya ada pihak kerja sama yang menelpon, kalau tidak ada orang yang terima, satu ada dua kali terus tidak telepon lagi, dan menghubungi lagi di lain waktu, nomor ini dalam beberapa menit sudah menelepon 5 kali, ada urusan penting atau tidak.


Telepon terangkat, Diana berbicara terlebih dahulu, "Halo, kantor CEO Pratama Jaya Group."


"Halo, saya adalah asisten Tuan direktur Liu dari perusahaan angin ribut, Minggu lalu Tuan direktur Liu kami dan wakilnya ada janjian untuk bertemu, diskusi kerja samanya bagus, tapi belum diputuskan, dengar dengar Taun Fred sudah kembali dari perjalanan bisnisnya, Tuan direktur Liu kami ingin membuat janji Waktu ketemuan dengan Tuan Fred untuk berdiskusi."


Diana menggeser papan disebelahnya, melihat lihat daftar jadwal pengingat dan merespons, "Aku tanya Pak Fred dahulu, nanti kamu akan ku kabari lagi."


Diana baru selesai berbicara, langsung ada suara, "Tuan Fred sudah tau! Wakilnya bilang akan mengabarkan tuan Fred secara privat, janjian bertemu di Pratama jaya."


Diana agak ragu ragu, melihat haru lusa kebetulan ada waktu di sore, langsung mengulurkan tangan mengisi jadwal, "Baik, kalau begitu dijadwalkan besok sore jam 3 sampai jam 4 bertemu di Pratama Jaya."


"Baik, terima kasih."


Setelah selesai menelpon, Diana membereskan jadwal, dan merencanakan menunggu Fred kembali untuk memberikan daftarnya.


Saat melirik sudah sampai waktu kerja sore, Diana membereskan dokumen yang diberikan dari setiap departemen untuk disetujui, sekaligus mengantarkan jadwal keseharian ke ruangan sebelah.


Fred sudah kembali, bertemu dengan Diana yang masuk, melihat Diana sekilas, tidak melakukan apa-apa dan berhenti, raut wajahnya serius dan dingin.


Mungkin gara gara marah masalah tadi pagi.


Hati Diana bimbang, ia dengan sangat berhati-hati menaruh dokumen, berbicara seperti menyelidiki, "Pak Fred, ini adalah dokumen yang perlu disetujui, direktur Wu sana--"


Diana belum selesai berbicara, Fred langsung mengangkat secangkir kopi yang kosong di sebelahnya, lalu berkata, "Buatkan aku secangkir kopi."


Diana mengigit bibirnya, mengerti kalau dia tidak ingin mendengarkan pembicaraannya ini, lebih baik berhenti, mengambil gelas itu dan berbalik badan pergi keluar dari ruangan.

__ADS_1


Diana tidak begitu jelas tentang perusahaan Wealth Finance dengan Pratama Jaya ingin melakukan kerja sama yang seperti apa, tapi dilihat dari respon Fred, sepertinya masalah ini agak serius.


__ADS_2