Jatuh Cinta Dalam Semalam

Jatuh Cinta Dalam Semalam
Bab 29


__ADS_3

"Ma, nanti aku juga akan jual perhiasan dan tas-tas aku, nanti kita kumpulkan uangnya, lalu kita bisa membantu papa di dalam sana"


20 tahun ini, papanya memberikan dia kehidupan yang begitu nyaman, dia tidak bisa membalas nya, sekarang dia hanya bisa melakukan hal-hal begitu saja.


Mama mengangguk kemudian mendorong furniture nya ke samping, "Nak, masalah furniture kamu tida perlu khawatir, aku sudah menelepon pembelinya, nanti mereka akan datang mengambilnya."


"Baik", Diana segera membuka jas di badannya itu, lalu berbalik melihat mamanya, "oh iya ma, Lusa nanti aku mau melakukan perjalanan bisnis ke kota B untuk beberapa hari."


"Iya, kamu jaga diri ya disana, ya sudah kamu mandi dulu sana".


Kemudian Diana melangkah ke atas menuju kamarnya, saat melewati gudang dia tidak sengaja melihat barang kotak-kotak hadiah.


Dulu setiap tahun, tidak sedikit orang memberikan hadiah ke mereka, ginseng dan alkohol segala macam, karena kebanyakan dan tidak ke pakai, semuanya di letakkan digudang, sekarang gudangnya di bongkar, sepertinya mamanya akan menjual barang-barang itu.


Diana juga tidak pikir panjang, saat mau melewati nya, tidak sengaja melihat sebuah kotak berwarna Vanilla, kemasan dengan sulaman asli, agak berbeda dengan kotak emas, merah dan hitam dan yang lain.


Diana ragu sejenak, menghentikan langkahnya, dia mengambil kotak hadiah itu, belum sempat membukanya, kenangan tentang kotak itu langsung melintas dipikirannya.


Papa dulu mempunyai satu teman baik, yaitu merupakan seorang master dalam warisan budaya menyulam dengan tangan, Sherly, dulu sering berhubungan dengan keluarga Tanoe, Diana dan Tante Sherly juga memiliki hubungan yang baik, tapi setelah itu badan bibi Sherly menderita sakit yang semakin memburuk, demi menyembuhkan nya keluarganya membawa pergi ke pedalaman hutan, sebelum pergi, mereka masih sempat ke keluarga Tanoe dan memberikan satu hadiah sulaman.


Diana pelan-pelan membuka kotak itu, terlihat ada sebuah kantung kecil di dalamnya, ini merupakan sulaman khusus dari bibi Sherly untuk Diana, di bawah kain sutera nya ada sebuah sulaman bentuk tangan yang berharga.


Diana melihat sulaman yang begitu berharga, tiba-tiba berfikir, sulaman ini tidak boleh di jual, mungkin bisa dipakai lagi nantinya.


**


Sehari sebelum dinas, Diana seperti biasa lagi sibuk di kantornya, Bella sengaja memberikan tugas yang begitu sulit untuknya, sekarang selain dia dan Bella, Fred mempunyai seseorang sekretaris pria, tapi tiap hari tidak pernah kelihatan orangnya, Diana juga belum pernah bertemu, jadinya Bella melemparkan semua kerjaan kepadanya, dan dia terpaksa mengerjakan semuanya sendirian.


Surat pemberitahuan bahwa Fred akan segera melakukan perjalanan bisnis, beberapa departemen segera mensubmit dokumen-dokumen penting yang harus di setujui, Diana harus merapikan nya dulu, baru boleh satu-satu membawanya ke ruangan Fred.


Diana membawa dokumen yang sudah dirapikan ke dalam ruangan, Fred sedang menelpon, tidak berapa lama percakapannya sudah selesai


Diana mendekatinya, memberikan dokumen ditangannya itu, "pak Fred, ini dokumen dari setiap departemen".


"Letakkan saja disana". Ekspresi Fred seperti biasanya, tangan nya terus menerus membuka dokumennya, "Kamu buatkan aku satu pengumuman, beritahu kepada semua orang, saat aku tidak ada, semua kuasa pindah ke tangan Jeff dan Kusuma".


"Semua kuasa?", Diana sedikit ragu dan berusaha memastikan nya.


Walaupun dia tidak begitu mengerti tentang dunia bisnis, tapi bagaimanapun dia juga pernah bekerja di Tanoe indo sukses, dia tau seorang CEO biasanya tidak akan melepaskan kuasanya terlalu banyak ke orang lain, walaupun pergi dinas, juga akan ikut campur urusan proyek dan transaksi, dan kadang bisa melakukan meeting lewat telepon lalu melakukan persetujuan lewat internet.


Fred berhenti sejenak, menoleh kearah Diana, "iyaa, semua kuasa."


Mendengar kepastian dari pria ini, Diana walaupun dihati nya ada keraguan, dia juga tidak berani bertanya lagi, dia mengiyakan dan dia saat mah berjalan keluar, pria itu tiba-tiba memanggil nya.


"Diana".


Dia menghentikan langkahnya lalu membalikkan kepalanya.


"Ada beberapa hal, sebelum dinas, saya kira kita harus membicarakan nya dengan jelas dulu," Suara Fred begitu datar, sangat sulit ditebak maksudnya.


Diana menarik nafas dalam-dalam menoleh ke arah Fred, "pak Fred, silahkan".


Fred bersandar di kursinya, tatapannya tertuju kepada Diana.


"Tiga perjanjian, pertama, secara rahasia kita ada perjanjian pribadi, tapi secara umum kita adalah hubungan atasan dan bawahan, di depan orang lain tidak boleh ada Kesalahan".


Setelah Diana mendengarkannya, hatinya sekarang lebih lega, permintaan dari Fred tepat dengan isi hatinya, dia juga tidak ingin orang lain tau hubungan mereka.


Fred merasa ekspresi Diana berubah, lalu dia langsung bertanya, "Ada masalah?"


"Tidak ada, saya setuju" Diana segera menjawab, dia takut Fred akan membatalkan kata-katanya tadi.


Fred melanjutkannya kembali, "kedua, semua tindakan kamu harus memberitahu saya terlebih dahulu, saat sampai di kota B, jika tidak ada arahan dari saya, tidak boleh mengambil keputusan sendiri".


"Ketiga, kamu tidak boleh mesra dengan pria lain selain aku, aku tidak suka barang yang sudah di sentuh orang lain".

__ADS_1


Diana mengerutkan alisnya, melihat tatapan Fred, pipi nya memerah, barang? Mendengarkannya saja membuat Diana merasa dipermalukan.


Diana menarik nafas dalam-dalam, menekan emosi dihati nya, "baik pak Fred, saya setuju".


Fred melihat ke arah Diana, "jika kamu ada pendapat lain, boleh dibicarakan".


"Tidak ada, kalau tidak ada urusan lain, saya pergi dulu"


Setelah selesai berbicara, Diana langsung keluar dari ruangan Fred.


Ucapan Fred, setiap saat mengingatkan dia pada posisinya, dia pernah menganggap dirinya tidak sama dengan orang lain, tapi di mata Fred, tidak peduli keluarga Tanoe bangkrut atau tidak, dia hanya barang transaksi yang tidak berharga.


Yang Diana bisa lakukan sekarang hanya menjadi kuat, kuat sampai tidak butuh orang lain lagi termasuk Fred.


**


Hari berikutnya, sesampainya di kota B, saat turun dari pesawat, Diana langsung merasakan perbedaan udara di kota B dengan kota H, udara yang lembab membawa sedikit aroma.


Perjalanan bisnis kali ini hanya ada 3 orang, Fred, Diana dan supir, supir setelah mendarat langsung ke tempat rental mobil di kota B, dan Diana membawa Fred naik taksi ke hotel yang sudah dipesan.


Dimobil, Diana dengan segera membalas beberapa email, setelah turun dari mobil, langsung melaporkan proyek ke Fred


"Pak Fred, dua hari yang lalu aku sudah mengontak orang di kota B, dia bilang hari ini ada waktu untuk bisa bertemu kita, tapi untuk waktu pastinya harus tunggu hari ini, setelah di hotel aku memastikan nya, baru aku kabarin kamu lagi".


"Baik, atur saja".


Diana dan Fred tinggal di kamar yang bersebelahan, supaya kalau ada urusan apa-apa lebih cepat.


Sesampainya Diana di kamar, setelah meletakkan kopernya, dia langsung menelepon orangnya, setelah dua kali panggilan baru di jawab telponnya.


"Hallo pak Daniel, saya adalah sekretaris dari CEO pak Fred perusahaan Pratama jaya group, Diana, sebelumnya saya sudah pernah menghubungi anda, dan anda bilang kalau hari ini kita bisa bertemu, sekarang kami sudah sampai dikota B, kira-kira bisa bertemu jam berapa ya?".


Orang yang di telpon itu sempat ragu sejenak, "sekretaris Diana, jadi begini, malam ini kami tiba-tiba ada urusan, kalau mau ketemuan, paling kita hanya punya waktu setengah jam saja".


Setelah mendengarkannya, Diana menggenggam erat telepon di tangannya, dua hari yang lalu dia menelepon orang yang bertanggung jawab Daniel, masih senang dan mengatakan mau bertemu mereka, tapi Kenapa tiba-tiba menjadi hanya bisa bertemu setengah jam saja?


"Maaf sekretaris Diana, kami beneran ada urusan, setengah jam itu sudah sangat kamu usahakan.."


Diana melihat mereka menolak, cuma bisa mengiyakan, "Baik pak, anda atur waktunya, kami yang akan menemui anda".


Mau bagaimana pun, tanah itu ada di tangan mereka, jika Pratama jaya group serius mau, mau tidak mau harus merendahkan sikapnya, sampai detik ini, bukan masalah uang lagi, kalau tidak terlihat ikhlas maka semua akan sia-sia.


Walaupun hanya setengah jam, masih lebih baik dari pada tidak bertemu.


Setelah memastikan waktu dan lokasi dengan Daniel, Diana tidak menunggu lama lagi, langsung pergi ke kamar sebelah.


Dia mengetuk pintu kamar sebelah, Fred membukanya dan berdiri di depan pintu, hanya memakai sebuah kemeja dan kancingnya terbuka sedikit.


Diana tidak sengaja melihat ke arah dadanya, dengan segera mengalihkan pandangannya, "pak Fred, tadi saya udah telpon pak Daniel, dia bilang hari ini ada urusan mendadak, dia hanya bisa kasih kita waktu setengah jam saja".


Fred menatap nya kemudian mundur dua langkah, dan berjalan masuk ke dalam, "Ayuk ngobrol di dalam".


Diana ragu sejenak, lalu dia juga mengikutinya masuk ke dalam.


Setelah masuk, dia baru melihat, di atas ranjang tergeletak banyak sekali dokumen, semuanya berkaitan dengan proyek fiesta.


Fred duduk di ujung ranjang, lalu melanjutkan melihat datanya.


Diana dengan pelan berkata, "pak Fred, maaf, saya hanya bisa mendapatkan waktu setengah jam saja".


Fred menoleh ke arah Diana, dengan tatapan Santai, "ini bukan salah kamu, setengah jam saja sudah cukup".


"Kamu Kemarilah", Fred menunjuk ke salah satu dokumen, "proyek ini sudah dibahas dua kali sebelum aku datang, terakhir kali Kusuma yang datang langsung, Daniel adalah orang yang bertanggung jawab, sudah jelas tentunya dengan proyek kita, jadi setengah jam untuk kita itu sudah sangat cukup".


Diana duduk di pinggir ranjang, sambil melihat ke arah yang di tunjuk oleh Fred, dengan ragu berkata, "tapi saya rasa sikap Daniel terlalu merendahkan, walaupun dia setuju bertemu, aku rasa untuk bisa berhasil persentasenya sangat kecil".

__ADS_1


"Dia bukan kunci utama, ketemu dia itu hanya perantara saja". Fred menunjuk lagi ke dokumen lainnya, nadanya sedikit serius, "tujuan dari pertemuan kali ini adalah memastikan beberapa orang pemerintahan itu bisa yakin dengan kita".


Dokumen itu terlihat jauh dari Diana, dia memiringkan badannya juga tidak bisa melihat jelas dokumennya.


Fred saat mau melanjutkannya dan membalikan kepalanya, terlihat wanita disisi dia, bajunya sedikit terbuka.


Diana hanya berusaha menggapai dokumen itu, dan tidak tau kalau bajunya telah terbuka sedikit, Fred dengan segera mengalihkan tatapannya.


Setelah itu, hatinya sedikit gelisah, tidak bisa ditenangkan.


Fred duduk tegak, saat tangan Diana mau menggapai dokumennya, satu tangan nya menahan ranjang, saat sudah mau tergapai, keseimbangannya jadi miring, lalu dia terjatuh ke arah Fred, setelah dia sadar, seluruh badannya telah tergeletak di dada pria itu.


Fred menunduk, tidak sengaja melihat dadanya yang mengintip dari dalam bajunya, dengan segera perutnya mengencang, suhu tubuhnya mulai panas tidak karuan.


Diana melihat ekspresi Fred seperti itu, dengan segera mau berdiri kembali, "maaf aku---"


Belum selesai berbicara, tiba tiba ada tenaga yang besar menimpa dia.


Diana merasakan badannya menimpa dokumen-dokumen tersebut, belum sempat bereaksi, tatapannya langsung mengarah ke mata pria itu, "kamu sengaja?"


"Apa maksudnya?" Diana dikagetkan oleh reaksinya, dia bingung, tidak mengerti kenapa tiba-tiba ditimpa begini.


Diana mengulurkan tangannya sambil berkata, "Diana, aku sungguh tidak tau, kamu ternyata pintar menggoda orang".


"Akuuu...tidak". Pipi Diana memerah, dan segera mendorong nya.


Diana hanya mengambil dokumen itu, tidak sengaja terjatuh di atas badan pria itu.


Diana dengan sedikit tenaga mendorong dadanya, baru mengeluarkan tenaga, Diana merasakan ada yang keras di pergelangannya, ekspresi Fred langsung berubah drastis.


Diana menoleh ke gelang di pergelangan tangannya itu, dia pun sadar di gelannya ada sebuah bintang dan ada sebuah sisi yang tajam, saat tadi mengeluarkan tenaga, kayaknya tidak sengaja menusuk Fred.


Pantas saja ekspresi muka Fred langsung berubah.


Diana langsung duduk, "maaf, gelang aku sepertinya tidak sengaja menusuk dadamu".


Sambil berbicara Diana mengulurkan tangannya lalu membuka kancing baju atas milik Fred, ingin melihat daerah yang tertusuk.


Dada yang bidang itu, ternyata memang ada sebuah titik merah kecil, kelihatan ditengah nya ada sedikit kulit yang robek, dan terlihat ada sedikit darah disana.


Diana segera menoleh dan tidak mempedulikan hal lain, langsung mengambil sapu tangan dari sakunya, dengan pelan mengelap darahnya.


"Maaf, darahnya keluar sedikit..." Diana sambil berbicara sambil menoleh ke Fred, setelah melihat ekspresi pria itu dia langsung Tersadarkan.


Kedua tangannya menempel di dadanya, jaraknya begitu dekat, memang ada sedikit kemesraan sekarang, dia mau menjelaskan bagaimanapun tidak bakal jelas lagi.


Detik selanjutnya, dia langsung menarik tangannya, saat mau berdiri, Fred langsung menarik kedua tangannya.


"Aku tidak sengaja...", Detak jantung Diana semakin cepat, mukanya memerah.


Fred hanya merasakan dadanya memanas, dia mengigit bibirnya, lalu mendekat ke arah leher wanita itu, dengan suara yang dalam, "dasar siluman".


Dulu ada banyak wanita yang mau memeluk pria ini, dia selain tidak memiliki perasaan bahkan membencinya, tapi wanita ini semakin dia tidak sengaja, malah semakin membuat hati pria ini kacau dan semakin memanas...


Badai pun berlalu, keduanya pun telah tenang kembali, Diana hanya merasakan seluruh badannya sudah lemas, lalu dia melihat jam, untuk bertemu dengan Daniel sisa dua jam lagi, dia dengan segera berdiri, dan segera memakai baju yang disampingnya.


Fred duduk kembali, bersandar di kepala ranjang, menatap wanita itu, seperti merasa ada yang menatapinya, Diana menjadi sedikit gelisah, baru berdiri dan mau mengambil baju di lantai, kakinya lemas dan dia langsung terduduk di lantai.


Wajah Diana langsung memerah, belum sempat melihat tatapan pria itu, satu tangan yang kekar sudah di depan matanya.


Diana ragu sejenak, kemudian dengan cepat menggapai tangan itu.


Fred mengeluarkan tenaga dan langsung menarik nya, belum sempat berbicara pria ini langsung berkata, "jatuh di depan saya tidak masalah, tetapi diluar, kalau terjatuh itu kamu memalukan saya".


Diana mengigit bibir bawahnya, dengan cepat menarik tangannya, dan segera memakai bajunya.

__ADS_1


Setelah selesai dia langsung keluar dari kamar Fred, dan kembali ke kamar sendiri untuk mandi.


__ADS_2