Jatuh Cinta Dalam Semalam

Jatuh Cinta Dalam Semalam
Bab 36


__ADS_3

"Aku tidak bisa kalah", Ryan tampaknya telah mendengar lelucon besar, ia marah dan tertawa, sambil menggertakan kedua tangannya.


Fred berdiri di depan Diana, tatapan nya dingin menatap ke arah pria di depannya, "Tuan, jangan membuat situasi nya terlalu memalukan, kalau tidak semua orang akan terlihat buruk".


Ryan mencibir, sopan santun dan ramah pada awalnya sudah hilang, lalu terlihat wajah arogan yang sebenarnya, "Fred, setelah kamu masuk ke genggamanku, apakah kamu pikir kamu dapat kembali dengan selamat? Wanita kamu mau, tanah juga kamu mau! Kau terlalu serakah".


Fred mencibir lalu berkata, "sepertinya saya benar-benar berlebihan kepada kamu tuan Ryan, saya pikir anda adalah seorang pria yang memegang omongan nya, tapi ternyata tidak".


Mendengar cibiran Fred, wajah nya Ryan berubah seketika, setelah jeda beberapa detik, dia tertawa terbahak bahak, "Aku tidak peduli dengan pria sopan seperti mu, aku katakan sekali lagi hari dengan jelas, tanah itu tidak akan kamu dapatkan, wanita ini juga harus kamu tinggalkan di sini!"


Setelah Ryan berbicara, dia melambaikan tangan pada pria berbadan besar di depannya dan berjalan langsung ke samping.


Diana ketakutan melihat situasi ini, hatinya dingin, dan pria bertubuh besar di sebelahnya menerima instruksi dan langsung mengulurkan tangan nya pada nya, Diana buru-buru bersembunyi.


Detik berikutnya, Fred melangkah maju dan meraih bahunya.


Diana tiba-tiba di tangkap oleh pria itu, matanya tertutup ketakutan, dan detik berikutnya, 'jepret' terdengar di atas kepalanya.


Diana mengangkat matanya dengan panik, dan melihat tangan Fred yang lagi memegang pergelangan tangan besar itu dengan erat.


Sebelum dia bisa bereaksi, dia merasa bahwa Fred mendorongnya menjauh, dia mengambil beberapa langkah ke belakang, kemudian ia melihat Fred menendang pria berbadan besar itu dengan kakinya.


Diana hanya merasa perutnya tidak nyaman ketika melihat mereka, gerakan seperti yang Fred lakukan itu sudah pasti ia pernah belajar ilmu bela diri.


Setelah itu Fred menarik tangannya dengan keras, tetapi tubuhnya mundur setengah langkah, pria berbadan besar itu terus melangkah maju, dengan kekuatan yang sangat besar ia menabrak tembok dan terjauh di lantai, Fred segera memegang kedua tangan pria berbadan besar itu, "masih berani melawan?".


Jarinya berubah menjadi warna putih dan tendon di punggung kedua tangan membengkak, menunjukkan bahwa ia siap mengerahkan segala tenaga nya, tidak ada keraguan sama sekali bahwa ia bisa mematahkan pria berbadan besar itu.

__ADS_1


Orang-orang di ruangan tercengang, dan Ryan tidak bisa percaya untuk apa yang sedang ia lihat, ia sampai tidak bisa berkata-kata.


Bagaimana Fred bisa dengan mudah merobohkan pria bertubuh besar itu?.


Diana berdiri miring di belakang Fred, dan menatap pria itu, jantung nya berdegup kencang, dia benar-benar lupa bahwa mereka masih berada di sarang harimau, di matanya hanya ada pria yang gagah ini.


"Ryan, jika ada sesuatu yang tidak bisa kukatakan dengan baik, aku tidak keberatan melakukannya dengan kekerasan, bahkan jika itu sekarang di kota B, selama perusahaan Pratama Jaya ingin ikut campur, maka itu tak akan terlambat.


Fred mendorong pria besar itu ke samping, mengangkat kakinya dan mengambil setengah langkah ke belakang, suaranya dingin dan pecah, "kami bersedia untuk menyelesaikan masalah dengan semua cara yang tidak melawan hukum, namun jika kamu ingin menyelesaikannya dengan kekerasan, aku Fred akan menyelesaikannya sampa akhir!".


Karena mereka berada di kota lain, mereka tidak ingin membuat hal-hal begitu tidak terkendali, tetapi ini sudah tidak berarti bahwa dia akan mentolerir tanpa syarat.


Fred menoleh, memandang Diana yang berada di belakangnya, lalu mengulurkan tangan padanya, dengan ekspresi datar, "Kemarilah".


Hati Diana berdegup kencang, dia mengulurkan tangannya tanpa ragu, dan meletakkan tangannya di telapak tangan Fred.


Setelah selesai berbicara, dia dengan tegas berbalik, sambil memegang pinggang Diana dan melangkah Keluar, dan pelaya yang berdiri di depan pintu segera melangkah ke samping untuk memberikan mereka jalan.


Jika ada yang bertanya pada Diana apa hal tergila yang pernah ia lakukan selama masa hidupnya, dia pasti tidak akan ragu mengatakan bahwa hal yang terjadi ini adalah kejadian yang gila di dalam hidupnya.


Dari lantai dasar, angin dingin di luar membuat Diana terbangun, Fred melepaskan nya, Kemudian ia merasakan kedinginan di sekujur tubuhnya, Fred membuka ponselnya untuk menelpon supir Rudi untuk menjemputnya.


Apa yang terjadi tadi adalah seperti mimpi bagi Diana, tetapi pada saat ini Diana tidak punya waktu untuk memikirkan nya.


Setelah Fred selesai menelpon supirnya, dia berbalik dan melihat Diana yang memegang lengannya karena kedinginan, dia mengerutkan keningnya, mengangkat tangannya, lalu melepaskan jas nya dan di berikan kepada Diana.


Fred kini hanya mengenakan kemeja putih, kemeja itu langsung menonjolkan kegagahan tubuhnya, otot-otot mononjol di bawa kain hanya bisa di lihat dari garis-garis kemeja itu.

__ADS_1


Tidak heran jika dia bisa menaklukkan pria berbadan besar di dalam ruangan itu.


Ketika Fred memandangnya, diana salah tingkah, dan pipinya secara tidak sadar memerah.


Diana dengan cepat mengenakan jas di tubuhnya, jas itu sangat besar ukurannya, ujung jas menutupi pinggulnya secara langsung, dia membungkus pakaiannya dengan erat untuk menghalangi angin malam yang begitu dingin, dan kini tubuhnya menjadi hangat.


Fred memperhatikan Diana, lalu mengulurkan tangannya untuk meratakan lipatan-lipatan jas itu, perasaannya menjadi hangat.


Supir Rudi sudah datang, Fred melangkah ke dalam mobil dan Diana mengikutinya.


Fred memberi perintah tanpa ekspresi, mobil baru saja mulai berjalan, dia menoleh memandang Diana, ia mengangkat alisnya lalu bertanya, "Apakah kamu tidak takut?"


Diana tau persis apa yang sedang Fred tanyakan, Dia tertegun, sebuah kalimat tersangkut di tenggorokan nya, dan dia ragu-ragu untuk mengatakannya.


Fred tampaknya sadar akan keraguannya, dia mengangkat dagunya, matanya berhenti di wajah Diana, "Katakan saja".


Diana diam-diam meremas jarinya, matanya mengelak, "Dengan kamu yang berada di sisiku tadi, membuat aku tidak takut".


Suara Diana tidak keras, tapi itu seperti batu di tengah danau yang menyebabkan riak, dan jantung Fred berdegup kencang, entah mengapa ia ingin memeluk Diana.


Dia melangkah maju, menekannya ke arahnya, dan Diana terjepit di sudut, ketika Diana mengangkat wajahnya tatapan mereka bertemu.


Fred merasakan kekeringan di mulutnya, dan kekeringan itu sangat mengintimidasi.


Dia telah mengalami banyak adegan yang menegangkan seperti malam ini, tetapi ini adalah pertama kalinya seorang wanita yang berada disisinya, yang mempercayainya, bergantung padanya, dan bahkan bergerak maju dan mundur bersamanya disaat menghadapi pria berbadan besar tadi.


Jantung Diana berdegup kencang, dia melihat keinginan muncul dari mata Fred.

__ADS_1


Ketika suasananya begitu dekat, tiba-tiba ponsel Fred tiba-tiba bergetar.


__ADS_2