
Setelah beberapa kali menelpon Diana, akhirnya Diana menjawab panggilan nya.
"Halo ..."
Terdengar suara bercampur dengan suara hidung, yang menyedihkan, hati Fred tiba-tiba tertekan.
Fred berkata dengan suara berat, "Di mana kamu?"
Diana menarik nafas dalam-dalam dan mencoba membenarkan suaranya, pura pura tenang, "Saya tidak apa apa. Pak Fred, saya akan kembali lagi nanti."
Tangan Fred memegang ponsel dan tidak bisa menahan diri, wajahnya suram dan dingin, terlihat jelas tidak ada kesabaran terakhir, "Diana, beritahu aku dimana kau berada, jangan biarkan aku bertanya untuk yang ketiga kalinya."
Nada suara yang tidak bisa di intervensi, sehingga Diana tidak bisa menolak, dia mengigit bibir bawahnya, berbisik, "Aku di lantai paling atas."
"Oke, tunggu aku."
Terdengar suara laki laki yang dingin dan kuat dari ujung telepon, lalu dia menutup telepon.
Diana menggenggam ponselnya dan melihat ke seluruh kota H dari atap gedung berlantai 20. Dia sedang berada dalam suasana hati yang rumit dan sedih.
Ketika dia baru naik, kepalanya linglung, foto dan selembar kertas itu masih tertinggal di kepalanya seperti mantra.
Dia juga benar benar melihat apa yang di maksud dari foto itu. Dia diartikan sebagai wanita penghibur, dah bahkan lebih berlebihan, semua kontribusi untuk mengambil sebidang tanah menjadi miliknya...
Diana menutup rapat bibir bawahnya, dia masih dalam suasana hati yang tidak tenang, dia tidak tau siapa yang melakukannya, tetapi tidak ada keraguan bahwa mereka yang bisa melakukannya sangat kejam.
Tiba tiba ada suara langkah kaki tidak jauh di belakang, lalu ada bisikan, "Diana, apa yang ingin kamu lakukan?"
Sebelum Diana bisa berbalik, dia merasa seseorang datang dan menarik lengannya ke belakang, lalu dia langsung ter-sodorkan ke pelukannya yang luas dan kuat.
Sebuah suara yang dalam terdengar di kepalanya, bercampur dengan amarah yang jelas, "Diana, apakah kamu tidak tahan dengan kecurangan ini? Kuberi tau, melompat dari gedung tidak akan menyelesaikan apapun."
Pelukan pria itu dipinggang nya sangat erat untuk meremasnya di pelukannya.
__ADS_1
Diana tertegun dan menatap Fred. Jantung nya berdetak seperti drum.
Dia tidak berpikir untuk melompat, dia hanya menyegarkan diri dengan angin disini.
"Aku tidak.."
Dia baru saja mulai menjelaskan, detik berikutnya, Fred membungkuk dan menarik hingga jarak antara mereka lebih dekat.
Sejenak, saling memandang dengan empat mata, mengendus dan mendengar satu sama lain, dan wajah diana memerah dengan sendirinya.
"Aku akan menyelidiki nya. Aku akan memberimu keadilan, tapi kamu jangan menyerah."
Setiap kata seolah-olah dengan penuh makna, langsung mengenai hati Diana, hidupnya seakan tersedak, air mata akan mengalir dalam sekejap.
Dia tidak ingin menunjukkan terlalu banyak emosi di depan Fred, tetapi ketika dia mendengar kata katanya, dia segera melepas semua tindakan pencegahan dan kekhwatiran dan tanpa sadar menangis tersedu-sedu.
Dia merapatkan bibir bawahnya, mengangkat tangannya untuk menutupi matanya dan mencoba untuk tenang.
Fred berkata dengan suara yang dalam, "Jika kamu menyerah pada dirimu sendiri, maka aku tidak perlu membantumu, apakah kamu mengerti, Diana."
Diana menahan air matanya dan menganggukkan kepalanya. Dia menghapus air mata dari matanya.
Melepaskan tangannya dan mengambil napas dalam-dalam, "Aku tidak akan menyerah."
"Bagus." Fred memandangnya dalam dalam, lalu melepaskannya, mundur setengah langkah dan berkata dengan suara berat, "perbaiki suasana hatimu dan kembali ke kantor."
Melihat Diana mengangguk, dia berbalik dan berjalan menuju tangga yang berada di lantai paling atas gedung itu.
Diana melihat sosok pria itu pergi, menarik napas dalam-dalam dan menyesuaikan suasana hatinya.
Masih ada satu orang yang selalu berada di sisinya, percaya padanya, mendukungnya, dan dia tidak punya alasan apapun untuk menyerah.
Sepuluh menit kemudian, dia turun dan kembali ke kantor, sebelum dia sampai di pintu, dia melihat Bella berdiri di samping dan menatapnya dengan wajah mencibir.
__ADS_1
Wajahnya pucat, ketika akan bejalan mengelilingi nya, Bella tiba tiba berkata, "Sekretaris Diana, saya mendengar bahwa kali ini Pratama Jaya Group mengambil tanah di kota B, dan kamu memberi tidak sedikit kontribusi?"
Diana berhenti berjalan dan mengepalkan tangannya yang berada di sisi badan, sepertinya semua orang telah mengetahui.
Ketika Bella melihat ekspresi Diana, dia menjadi lebih puas, "Ada apa? Mengapa kamu menatapku seperti ini?"
Diana terpaksa menanggung amarah dan memalingkan muka, terapi tidak membalas perkataannya. Dia dengan cepat kembali ke kantornya dan menutup pintu secara langsung.
Bella yang berada di luar pintu terlihat sangat membencinya. Dia bergumam dengan tidak puas dan berbalik lalu berjalan pergi.
Disisi lain Fred sedang berdiri di depan jendela kantor dan melihat apa yang terjadi. Saat itu, ponselnya tiba tiba berdering, dan menjawab, "Katakan".
"Tuan Fred, hasil rekaman CCTV telah keluar. Hari ini, seorang bibi pembersih di perusahaan yang mengirim dokumen ke ruang rapat."
Fred mengerutkan kening, dan sesaat kemudian memerintahkan dengan suara dingin, "Bawa dia ke kantor untuk menemui saya."
"Baik pak."
Sebelum rapat di perusahaan, jika diperlukan, para pegawai akan diatur untuk menyiapkan dokumen yang diperlukan terlebih dahulu, tetapi hari ini ia tidak memerintahkan untuk mengirim dokumen apapun.
Dokumen ini, jika seseorang mengirimkannya, ia dapat menemukan orang ini melalui rekaman CCTV. tanpa di duga, orang itu adalah bibi pembersih di perusahaan.
Tidak sampai sepuluh menit, asisten Fred yang bernama Daniar, membawa bibi pembersih yang bernama bibi Tuti, ke keruangan Fred.
Ini adalah pertama kalinya bibi Tuti pergi ke ruangan Fred, ketika dia melihat Fred, dia bimbang dan tidak berani berbicara.
Wajah Daniar tanpa ekspresi, dan dia memerintah dengan suara yang dalam, "Hari ini, kamu pergi ke ruang rapat untuk mengirim dokumen, katakan yang sebenarnya."
Bibi Tuti mengangkat kepalanya dan dengan hati hati memandangi Fred yang sedang duduk dimeja nya, hatinya kosong dan gugup, "Saya... Saya tidak tau apa yang terjadi, tetapi seseorang meminta saya untuk melakukannya. Dia menghentikan saya di gerbang perusahaan dan memberi saya setumpuk dokumen itu, dan dia mengatakan bahwa saya harus mengirimnya ke ruang rapat. Jika sudah dilakukan, dia akan memberi saya sejumlah uang."
Fred tidak memiliki ekspresi berlebihan di wajahnya. Dia bertanya dengan suara dingin, "orang seperti apa? Apakah kamu melihat seperti apa dia? Apakah kamu memiliki cara untuk menghubunginya?"
"Dia mengenakan masker dan topi. Saya tidak melihatnya dengan jelas. Kira kira usianya sekitar 30an. Dia pertama kali memberi saya 1 juta, katanya itu adalah uang muka. Ketika saya menyelesaikan pekerjaannya, dia akan memberi saya 10 juta."
__ADS_1