
Bella menahan emosinya saat teringat kata-kata dari Fred, emosinya langsung menuju ubun-ubun otaknya. Bagaimana bisa ia kalah dari Diana? Selain latar belakang keluarga, pendidikannya, dan kecantikannya, semuanya bisa diadu! Tapi kenapa ketika Diana datang, ia malah tidak dianggap penting lagi? Bagaimanapun, Fred termasuk senior di jurusan universitas yang sama, tapi masih saja ia kalah dari seorang wanita yang baru datang. Bella semakin emosi dan menggenggam kertas di tangannya. Tanpa berpikir panjang, ia berjalan ke ruangan Diana dan langsung mendorong pintu tanpa mengetuk.
Diana sedang duduk di kursinya sedang melihat surat permintaan maafnya. Mendengar suara, ia dengan cepat melihat ke depan dan Bella sudah berdiri di sana. Diana sempat ragu sejenak sebelum bertanya, "Sekretaris Bella, apakah ada urusan?".
Bella kelihatan sangat marah dan dengan sepatu hak tinggi melangkah ke depan meja Diana dan menampar dokumen pengumuman ke atasnya. Diana tiba-tiba kaget dan langsung berdiri setelah melihat pengumuman tersebut. Saat ia melihat sejenak tulisan besar di atasnya yang berisi jadwal rencana perjalanan dinas Fiesta, Diana langsung menyadari apa yang terjadi.
Sebelum Diana sempat menjawab, Bella langsung bertanya, "Diana, kamu hebat ya! Datang ke Pratama Jaya Group belum seminggu, sudah bisa membuat Pak Fred membawamu untuk pergi perjalanan bisnis! Atas dasar apa!?"
Diana tidak menyangka reaksi Bella akan sebesar itu. Dia menarik nafas dalam-dalam dan tidak ingin memperbesar masalah dengan lembut menjelaskan, "Mungkin karena Pak Fred melihatku yang baru datang, ingin membawaku untuk banyak belajar, makanya aku yang pergi. Dan juga, Sekretaris Bella, kamu lebih berpengalaman dan tahu banyak hal untuk menanganinya, jadi ketika Pak Fred melakukan perjalanan bisnis, dan meninggalkanmu di kantor, dia juga tidak perlu khawatir."
Diana sepertinya tidak marah sama sekali dan ucapan-ucapannya terdengar enak di telinga. Ini membuat Bella, yang emosinya sudah meledak tadi, tiba-tiba terdiam dan agak sedikit tenang. Seketika itu, Bella menatap wanita di depannya dan tiba-tiba menyadari perbedaannya dengan Diana. Diana, ketika pertama kali datang ke Pratama Jaya Group, tidak peduli bagaimana ia mempersulitnya, dan tidak pernah marah hingga saat ini. Ia bisa menahan emosinya dengan baik dan dengan lemah lembut menjelaskan segala hal. Bella akhirnya menyadari arti ucapan Fred. Watak seperti itu, pendidikan seperti itu, dan pesona yang tidak terlihat, terukir dalam tulang dan darah Diana. Orang lain bisa merasakannya tapi tentu saja tidak mungkin dipelajari dalam sehari semalam.
Bella kembali ke ruangannya sendiri dengan perasaan rendah diri dan kesedihan yang bercampur menjadi satu. Semakin dipikirkan, kesedihannya semakin mendalam. Mengapa ia terlahir dalam kehidupan biasa sementara ada yang lahir dari keluarga begitu hangat, kehidupan dan karirnya begitu lancar? Bella akhirnya mengerti ucapan dari Fred dan juga menyadari bahwa, meskipun keluarga Tanoe telah bangkrut, Diana bukanlah musuhnya. Bella mengigit bibirnya dan meremas kertas pengumuman dengan keras lalu melemparkannya ke lantai. Ia tidak peduli lagi dengan status Diana. Ia tidak akan membiarkan dirinya kalah dari Diana. Rasa kebencian itu menggumpal menjadi racun paling kejam dan memukul hatinya dengan keras. Dalam detik itu, ketidakpuasan Bella terhadap kehidupannya dan semuanya menjadi satu kebencian terhadap Diana.
Bella menoleh ke kertas di lantai dan tiba-tiba tersenyum sinis. Waktunya masih panjang dan ia ingin melihat siapa yang akan menang antara dirinya dan Diana.
Sebelum mengirimkan surat permintaan maaf ke Kusuma, Diana diam-diam mengirim pesan kepada Audrey untuk memastikan Kusuma berada di kantor. Setelah itu, dia menuju ke kantor Kusuma dengan surat permintaan maafnya. Ketika sudah berdiri di luar pintu, Diana menarik nafas dalam-dalam dan mengetuk pintu. Dari dalam ruangan terdengar suara, "Masuk." Diana mendorong pintu dan masuk dengan wajah awalnya masih tersenyum. Namun, ketika ia melihat seseorang duduk di sana, wajahnya menjadi kaku.
Jeff santai bersandar di sofa dan tidak menyadari bahwa yang masuk ke dalam ruangan adalah Diana. Saat melihat ke belakang, ekspresinya berubah dengan cepat dan ia segera membalikkan kepala mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Diana berusaha kembali tersenyum dan melihat ke arah Kusuma.
"Saya datang mencari Anda karena mau memberikan surat permintaan maaf," ujarnya dengan pelan.
Kusuma dengan ekspresi datar tidak mau menatapnya. Dia hanya berkata, "Hmm, kamu letakkan saja di situ."
Diana sesaat ragu tapi kemudian melangkah ke arah meja. Awalnya, ia ingin meletakkan surat permintaan maaf di atasnya tapi tiba-tiba terdengar suara yang mencoba mempermainkannya.
"Kalau begini, tidak ikhlas sama sekali. Jika ingin minta maaf, harusnya dibacakan secara langsung," kata Jeff.
Tangan Diana semakin erat memegangi surat dan ia tidak berbicara apa-apa, hanya menunggu arahan Kusuma.
Kusuma berhenti sejenak dan melihat ke arah Diana. "Kalau begitu, bacakan saja. Aku juga malas membaca."
__ADS_1
[Total kata: 753 kata]
Diana mengangkat alisnya, bertanya-tanya dalam hati apakah Fred ingin membicarakan hal tersebut. "Oh, begitu ya, Pak. Apa yang dapat saya bantu?"
Fred melepaskan senyum kecil. "Tidak perlu bantuanmu, Diana. Saya hanya ingin memberitahumu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita akan menyelesaikan masalah keluarga kita bersama-sama, tapi sekarang fokus pada pekerjaanmu dulu."
Diana merasa lega mendengar itu. "Terima kasih, Pak. Saya akan fokus pada tugas saya."
Fred melanjutkan, "Oh ya, satu lagi. Kamu sudah menyelesaikan permintaan maafmu dengan Ba Kusuma, bukan?"
Diana mengangguk, "Sudah, Pak. Saya sudah membacakan surat permintaan maaf itu."
Fred mengangguk puas. "Baiklah, itu baik untuk mendengarnya. Jika tidak ada yang lain, kamu bisa kembali ke tugasmu sekarang."
Diana mengangguk dan meninggalkan ruangan, merasa lega sekaligus bersyukur bahwa masalahnya dengan Kusuma selesai. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih teliti lagi dalam pekerjaannya dan tidak membuat kesalahan yang sama lagi.
Sementara itu, dia juga merasa gelisah karena Jeff masih belum menghapus video permintaan maafnya. Tapi dia akan menghadapi masalah itu nanti, setelah dia menyelesaikan tugas-tugasnya terlebih dahulu. Dia mendorong pikirannya untuk fokus pada pekerjaannya sekarang, meyakini bahwa dia akan menyelesaikan masalahnya dengan Jeff suatu saat nanti.
"Lesson Tanoe telah mengakui kejahatannya. Kini pengadilan sedang menghitung jumlah pastinya. Mungkin tak butuh waktu lama lagi untuk pengadilan memberikan hukumannya."
"Apa?" Muka Diana tiba-tiba memerah. Ia mengepalkan tangan dan memandang tidak percaya ke arah Fred. "Kamu bilang papaku sudah berbuat kejahatan?"
Fred dengan wajah tenang menjawab, "Kejahatan keuangan. Penggelapan pajak. Bukti sudah lengkap dan dia juga sudah mengakui."
Diana menarik napas dalam-dalam. Pikirannya kosong. Kata-kata Fred begitu menghentak di telinganya tapi tidak terasa nyata. Mana mungkin, dari kecil papanya selalu mengajarkannya untuk menaati hukum. Bagaimana mungkin ia melanggar?
Bibir Diana hampir pecah karena gigitannya tapi hatinya masih dirundung keraguan. Ia menarik napas lagi dan memandang Fred. Pelan ia bertanya, "Apakah ini benar?"
Ekspresi Fred tetap datar, "Iya."
Diana menarik napas lagi untuk menenangkan dirinya. Kemudian ia berkata, "Pak Fred, terima kasih sudah memberitahukan pada saya. Jika tidak ada urusan lain, saya pergi dulu."
__ADS_1
Meski ucapan itu tenang, di dalam hatinya terjadi perang dunia. Perasaannya kacau. Ia masih tidak percaya. Ia tidak memandang Fred lagi lalu langsung menuju pintu keluar.
Pukulan ini begitu transparan dan mematikan. Seakan ia dikhianati oleh orang yang telah ia percayai sejak kecil. Rasa lemas dan penasaran begitu bergejolak di hatinya.
Ia mendengar langsung dari mulut Fred bahwa berita itu pasti benar. Bagaimana ia akan memberitahu mamanya? Apakah mamanya bisa menahan kejutan ini atau tidak?
Diana melamun di dalam ruangan cukup lama sehingga ia tidak memiliki mood untuk bekerja. Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk segera memberitahu mamanya.
Diana pergi ke toilet di pojok dan menelepon mamanya. Telepon dijawab mamanya dengan cepat dan diam-diam air mata Diana menetes membasahi pipinya.
Diana masih tidak bisa menerima kenyataan tentang papanya yang telah melakukan kejahatan. Di ingatannya, papanya adalah pria yang baik dan jujur tapi kini ia dianggap sebagai penipu.
Mama nya kaget, dan langsung bertanya, "Nak kamu kenapa? Kok menangis? Apa ada yang mengejekmu?"
"Tidak mama. Aku mencari teman untuk mendapatkan info tentang papa…"
Diana mengigit bibirnya dan gemetar saat melanjutkan perkataannya, "Aku mendengar, papa benar-benar melakukan kesalahan keuangan. Aku tadi sudah cek internet, pasti ada hukumannya…"
Diana belum selesai berbicara ketika tangisnya semakin tidak tertahankan lagi. Namun di telepon, mamanya malah terdengar tenang.
"Nak, jangan menangis. Saat papa kamu dibawa untuk melakukan pemeriksaan, aku sudah menyiapkan mental."
Diana panik, "Ma, apakah kamu sudah dari awal tahu kalau papa melakukan kejahatan?"
"Di dunia bisnis nak, aku tidak begitu mengerti tapi aku tahu bahwa biasanya dalam keuangan di kantor ada sedikit kecurangan."
Diana tidak tahu harus berbuat apa. Ia mengerutkan alisnya dan berkata, "Ma, aku tidak pernah berfikir kalau papa akan melakukan kejahatan. Tapi, karena papaku adalah tulang punggung keluarga Tanoe selama 20 tahun, aku tidak bisa tidak peduli. Mungkin kita bisa membantu papaku hidup lebih tenang di penjara."
Mama nya hanya diam. Diana mencoba mencari alasan lalu mematikan teleponnya. Jantungnya terasa tertimpa batu besar sehingga dia kesulitan bernafas.
Ia tahu sudah merupakan hukuman bagi papanya yang melakukan kejahatan tersebut. Namun karena hubungan keluarga selama 20 tahun, Diana tidak bisa diam dan harus membantu papanya untuk hidup lebih tenang di penjara.
__ADS_1