
Fred dengan tenang masuk ke kantin. Tiba-tiba, sepertinya sorotan lampu tertuju pada dirinya yang bersinar. Ada orang yang memang begitu, tidak peduli ke mana pun, pasti akan selalu dikenali - sama seperti Diana yang seperti itu juga. Fred melihat-lihat sekeliling, melewati semua orang yang melihat Diana yang berdiri tidak jauh darinya, dan juga sedang memandang kemari. Tatapan Fred tidak berhenti, langsung melewatinya, berjalan ke arah dekat jendela. Fred melihat tatapannya, seperti melihat orang asing saja, tidak ada reaksi sedikit pun.
Kedatangan Fred membuat staf yang sedang makan di kantin merasa aneh, karena selain waktu acara tahunan, Fred datang ke kantin membagikan hadiah ke semua orang. Selain itu, dia tidak pernah hadir di kantin lagi. Bukan karena makanan di kantin tidak enak, tapi karena Fred terlalu sibuk. Atau, kalau tidak, pasti keluar bertemu orang sampai-sampai orang bisa melihat dia di kantor saja terasa sangat menakjubkan. Ada manager departemen yang menemani Fred. Setelah mereka memesan makanan, mereka duduk untuk makan bersama.
Dari sudut pandang Fred, bisa dengan jelas melihat Diana yang berada di kantin. Diana tidak hanya membersihkan pintu masuk toilet, tapi juga harus menjaga kebersihan di dalamnya. Dan sekarang, orang-orang semakin banyak. Dia harus sering masuk untuk memastikan toiletnya dalam keadaan bersih, dan mengepel lantai di sekelilingnya juga. Yang harus dikerjakan bukan hanya toilet wanita saja, tapi toilet pria juga harus dibersihkan setiap 1-2 jam. Ini semua arahan dari pembersih toiletnya. Bibi kebersihan masih termasuk baik ke Diana. Waktu toilet pria harus dibersihkan, bibinya akan ke depan pintu, menanyakan dulu ada orang atau tidak. Setelah memastikan tidak ada orang, barulah Diana masuk untuk membersihkan. Karena Diana dihukum, jadi kalau pun bibinya mau membantu juga tidak berani, hanya bisa membantu sampai di situ saja.
Setelah setengah jam, orang-orang di kantin sudah berkurang setengah. Sekarang, toilet pria harus dibersihkan lagi. Bibinya sudah memastikan kalau di dalam tidak ada orang. Diana baru berani masuk untuk membersihkan. Baru saja Diana mau menutup pintunya, tiba-tiba ada seseorang yang mendorong pintunya. Dia pun kaget, lalu mundur ke belakang. Saat ia melihat, ternyata yang masuk ke dalam itu adalah Fred.
"Kamu... Kamu kenapa masuk ke sini?" ucap Diana heran.
Fred dengan cepat menutup pintunya, tatapannya tertuju padanya. Diana juga menatapnya, tiba-tiba dia melunak. Tidak perlu dibilang kesalahanya, otomatis Fred sudah pasti tahu.
Diana menatap ke bawah sambil berkata, "Maaf, saya sudah melakukan kesalahan."
Pria ini berkata dengan kecil, "Coba kamu bilang di mana saja salahnya."
Suaranya seperti biasanya. Diana juga tidak bisa menebak isi hatinya sekarang. Dia ragu sejenak, kemudian menjawab, "Saya tidak seharusnya mengambil keputusan untuk pria itu."
Dia walaupun mengirim pesan ke Fred, tapi dia sudah melangkah duluan, dia bukan lagi menanyakan pendapat Fred, melainkan hanya memberitahu. Fred mengangkat alisnya. "Terus?"
"Saya juga tidak seharusnya langsung memberikan dokumen itu ke pihak lawan." Diana satu tangannya memegang alat pel, satu tangannya lagi menarik sudut bajunya. Sungguh sangat tegang sekarang.
__ADS_1
Fred dengan ekspresi yang datar berkata, "Ada lagi?"
Selain dua hal ini, dia sementara ini tidak tahu apa lagi yang lain. Diana mengerutkan dahinya, tidak bisa bicara apa-apa lagi.
Ekspresi Fred terlihat suram. Dipikirannya terlintas adegan pagi tadi di depan lobbi hotel, di mana Diana dipeluk oleh perwakilan Perancis itu. Diana seharusnya tidak boleh melakukan hal itu, walaupun itu kerjaan.
"Apa lagi?" Diana menoleh ke arah Fred.
Fred merapatkan bibirnya. Dia tidak bisa berbicara yang ada di dalam hatinya. Tatapannya jatuh ke wajah Diana, sekarang kelihatan dia mengigit bibirnya, dan matanya tersirat keraguan.
Fred menarik nafas dalam, lalu berkata, "Setelah hukuman ini, minta maaf yang baik-baik ke Pak Kusuma, baru nanti balik kerja lagi."
Diana melihat Fred berbalik dan mendorong pintu, semakin menjauh. Diam-diam dia menghela nafasnya, dan berpikir kalau dia salah apa lagi?
...
Hari berikutnya, Diana juga membersihkan toiletnya seharian. Setelah itu, baru dia mendapatkan pemberitahuan dari Audrey bahwa dia tidak perlu bersih-bersih lagi. Hukuman yang tidak sampai 2 hari ini justru membuat Diana melihat banyak tipe orang di kantor ini. Rata-rata, semua orang sepertinya mempunyai ego yang tinggi, jadi kebanyakan orang melihat dia akan menertawakannya walaupun ada yang dalam hati juga.
Sejak awal Diana masih menganggap ucapan orang-orang ini mengganggu. Tapi setelah banyak orang yang membicarakannya, dia juga sudah kebal. Tidak ada rasa apa pun lagi. Ketika seseorang sudah tidak peduli lagi apa kata lain, kata-kata dari orang lain seperti angin yang berlalu.
Diana balik ke ruangannya sendiri, dengan segera menulis satu surat permintaan maaf untuk Pak Kusuma. Bella mendengar Diana sudah kembali, langsung mau menyindir Diana ke ruangannya. Pas keluar, ternyata langsung dapat tugas dari Fred: menyuruh dia pergi ambil pengumuman tentang dinas ke kota B, dan diumumkan ke semua departemen, biar mereka bisa mengatur waktu lapor kerjaannya.
__ADS_1
Bella dengan senang masuk ke ruangannya, melihat Fred sedang bekerja. Dengan pelan berkata, "Pak Fred, aku mau mengambil pengumuman dinas."
Fred hanya mengangguk dengan ekspresi dingin. Lalu, Bella mengambil dokumennya. Setelah Bella melihat sekretaris pendampingnya yang tertera di pengumuman, badannya langsung kaku. Dia mengedipkan matanya, dilihat sekali lagi. "Sekretaris Pendamping: Diana". Tangan Bella semakin kuat menggenggam kertasnya, ekspresinya menjadi suram.
Mana mungkin? Diana yang baru masuk ke sini beberapa hari langsung ditunjuk oleh Fred untuk jadi pendampingnya saat dinas.
Fred mendengar suara langkah kaki yang terhenti, ia menoleh ke arah Bella, melihatnya sedikit pucat, lalu ia bertanya, "Apakah ada masalah?"
Bella tersentak, lalu dengan sedikit senyuman bertanya ke Fred, "Pak Fred, dalam perjalanan bisnis kali ini, apakah Anda meminta Diana ikut ke kota B?"
Fred meletakkan pena di tangannya, badannya bersandar. "Iya. Apakah dia tidak boleh ikut?"
Bella tersenyum lebar. "Bukan tidak boleh, tapi saya merasa dia masih baru di kantor ini dan belum berpengalaman dalam hal seperti ini. Biarkan saya saja yang menemani Anda."
"Saya punya pertimbangan sendiri. Pertama, kita akan bertemu dengan pengusaha dari luar kota B, dan Diana punya keahlian dalam bahasa asing. Kedua, proyek fiesta ini juga harus disambut oleh pihak pemerintahan. Kita harus mengikuti segala jenis acara resmi. Diana didikan nya bagus sejak kecil, tentunya saya rasa dia sangat cocok untuk acara seperti itu."
Ucapan sederhana Fred membuat ekspresi Bella langsung berubah. Saat Fred sedang memuji Diana secara tidak langsung, ia sedang merendahkannya. Bella merasa sudah dilecehkan dua kali. Meskipun Fred tidak mengatakannya dengan jelas, Bella tidak bodoh.
Bella menggigit bibirnya, menekan emosinya, lalu berkata, "Saya mengerti, Pak Fred. Saya akan langsung memberitahukan yang lain."
Setelah selesai berbicara, Bella langsung keluar ruangan. Setelah menutup pintu, air matanya langsung mengalir. Diana baru beberapa hari di kantor dan sudah membuat kesalahan fatal, tetapi Fred masih menyuruhnya mendampingi dalam dinas. Ini pilih kasih!
__ADS_1