
Tiba-tiba mobilnya berhenti, lalu seseorang mendorong pintu dan keluar dari mobil. Sosok yang tinggi bergerak menuju Diana. Diana sedikit terdiam dan langsung menciut.
Sosok tinggi itu berhenti di didepannya, menutupinya dari cahaya, yang membuat bayangan gelap didepannya.
Corak dari lelak itu sedikit kusam, dan dia melihatnya untuk beberapa detik, di dalam nada bicaranya seperti menyalahkan, "Apa yang kamu lakukan disini!"
Diana menurunkan bibirnya, emosinya menggelombang.
Bukankah dia berbelanja dengan Bella untuk makan malam? Bukankah dia menghukum Diana dengan sengaja? Jadi kenapa dia datang untuk Diana?
Pertanyaan ini lewat dihatinya tanpa bertanya, dia melihat Fred dengan keras kepala, badannya sudah melemah.
Setelah melihatnya dalam waktu yang lama, Fred melihat emosinya dalam matanya. Ada keluhan, tapi lebih keras kepala. Matanya yang berair dengan jelas tidak jatuh, membuatnya mengerat.
Melihat Diana tidak berbicara dan hanya diam saja, Fred mengerutkan alisnya, dan berkata dengan dingin, "Apa yang terjadi pada kakimu?"
"Tidak apa-apa" Diana menjawab dengan suara yang dingin, berjalan menuju mobil, tapi pergelangan tangannya ditahan oleh Fred.
"Jangan bergerak." Fred menyuruhnya dengan suara yang dalam, lalu membungkuk dan dengan pelan memegang lututnya.
Diana merasa kehangatan di lututnya, dan merendahkan kepalanya untuk melihat Fred yang dengan lembut melepaskan kain yang terikat dilukanya.
Saat dia melihat lukanya, mata Fred dengan jelas meredup, dan dia dengan cepat langsung menutupnya lagi dengan kain sutra, memegang perempuan yang ada didepannya dan memeluknya untuk berdiri.
Sebuah teriakan langsung keluar, Diana tanpa bobot, dan kedua tangan dengan alami berpalut di leher laki-laki itu.
"Kamu...."
Dia berkedip, sedikit bingung, dan Fred memalingkan kepalanya untuk melihat matanya.
"Luka perlu di obati secepat mungkin." Fred berkata, dengan mengambil langkah yang besar dan dengan cepat berjalan menuju mobil.
Wajah Diana memerah, dan dia menempel di leher laki-laki itu dengan erat, dan tidak bisa mengutarakan sepatah kata pun.
Keras kepalanya sudah menghilang, melihat ke sisinya, dia sudah tidak begitu marah.
Fred menggendongnya ke mobil dengan kelembutan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Hati Diana berdegup kencang dan bibirnya sangat ketat. Dia juga lupa dengan sakitnya untuk sementara waktu.
__ADS_1
Semua yang terjadi seperti dalam mimpi, Fred tiba tiba muncul, dan membawanya pergi....
"Bagaimana bisa luka seperti ini?" Suara yang dingin keluar dari Fred.
Diana menarik nafas dalam-dalam, dan menjawab dengan sejujurnya, "aku tidak sengaja jatuh di pabrik percetakan."
Fred mendengar dengan penuh amarah, dan amarahnya tiba tiba merasuki hatinya.
Fred melihat Diana, dan bertanya, "Bella menyuruh kamu pergi, dan kamu patuh padanya, sejak kapan kamu mendengar dengan patuh?"
Diana membeku sejenak, lalu berputar untuk melihat Fred, "Dia bilang kau yang menyuruhku untuk pergi."
Pada sesaat, mereka berdua melihat satu sama lain, dan tidak ada suara sama sekali didalam mobil.
Lalu Diana sadar kalau Fred tidak menyuruhnya untuk pergi ke pabrik percetakan.
Bella mengatakannya dengan sengaja. Dia membuat masalah di tengah dan membuat dia berpikir kalau itu adalah Fred yang dengan sengaja sedang Menghukumnya sebelum mengirimnya untuk praktek.
Tapi barusan saat dia menelpon Fred, Bella yang mengangkatnya. Bagaimana ini bisa dijelaskan?
Diana melihat kebawah, wajahnya mendingin, tidak melihat ke jendela mobil dan berhenti berbicara.
Tapi tiba tiba Fred sudah berputar dari sisi lain, mencapainya dan menggendong bahunya secara langsung.
Segera setelah dia melihat ke atas, dia melihat ekspresi Fred yang tidak dapat disangkal lagi. Laki-laki itu membungkkan badannya dan langsung menggendongnya.
Hati Diana berdegup kencang, tetapi ada sesuatu yang menyangkut dihatinya, yang membuat dia tidak bisa melepaskannya pada sementara waktu.
Setelah lukanya di obati dirumah sakit, itu sudah sangat telat. Fred membawa Diana ke mobil dan meminta supir Rudi untuk kembali ke villa.
Diana sekejap ragu, dan langsung berkata, "Aku mau pulang."
Fred mendengar itu, dan matanya sedikit tertuju ke luka yang ada dilutut nya, "Apa kamu ingin pulang karena khawatir dengan ibumu?"
Luka dikakinya bukan kecil. Jika dia pulang, dia tidak akan bisa menyembunyikan luka itu dari ibunya. Tapi Diana kasihan kepada ibunya jika dia tidak pulang.
Melihat Diana tidak berbicara pada waktu yang cukup lama, Fred meminta supir Rudi untuk jalan.
Dalam perjalanan, suasana di dalam mobil sangat dingin. Keduanya tampak marah, dan tidak ada yang berbicara satu kata pun.
__ADS_1
Saat sampai di pintu villa, Fred kelu dari mobil, melewati sisi belakang dari mobil, dan memeluk Diana, tapi Diana melepaskan tangan Fred, dan berkata dengan dingin, "Aku bisa melakukannya sendiri."
Fred bergerak sesaat, menaikkan matanya untuk melihat wanita itu, sebuah perasaan terpesona lewat dibawah matanya.
Ada beberapa lapis dari kain yang terbungkus diantara kaki kanannya yang terluka. Dia berjalan dengan sendirinya, bukan hanya berjalan dengan kesusahan, tapi juga akan menarik lukanya lagi.
Tapi dia memiliki sikap yang jelas dengan tekat yang jelas.
Fred melirik wajahnya dan menutupnya dengan tangannya, "Baiklah."
Setelah dia mengatakannya, tanpa berhenti untuk setengah detik, Fred langsung berjalan menuju gerbang.
Diana hanya mengambil dua langkah dan merasa berat. Dia sedikit menurunkan bibirnya dan melihat Fred yang sudah sampai di depan gerbang pintu, disaat dia sedang kesusahan dalam mengambil langkah kecil....
Setelah berjalan dalam jangka waktu yang lama, Diana masih belum sampai ke depan pintu, tapi kakinya sudah mulai sakit, Diana menyesalinya, seperti seharusnya ada katanya yang tidak perlu dia ucapkan.
Setelah berjalan beberapa waktu, Diana baru sampai di depan pintu, walau itu hanya terdapat 4 atau 5 langkah saja, tapi itu terasa lebih susah bagaikan mau menggapai langit.
Kenapa Diana memiliki keinginan mendadak untuk berjalan dengan sendirinya?
Dia ragu kaki mana yang harus di angkat duluan, dan sepasang sepatu kulit yang terang muncul didepannya. Segera setelah dia melihatnya, dia bertemu dengan Fred yang wajahnya sangat suram.
Tidak ada jejak fluktuasi di Fred, tapi dia menaikkan alisnya dan bertanya, "ada yang bisa aku bantu?"
"Tidak." Diana menjawabnya dengan dingin.
Diana melihat keatas dan melihat wajah Fred yang tajam.
Pandangan laki-laki itu jatuh pada wajahnya, melihat wajah kecilnya yang halus dan menampakkan kepucatan, Fred langsung mengerutkan alisnya dan berkata, "Diana, jangan keras kepala di depanku."
Awalnya saat melihat keras kepala perempuan itu, Fred sudah ingin meninggalkannya, tapi hatinya merasa tidak tega.
Semakin Fred melihat keras kepala Diana, amarahnya semakin menjadi, dan pada akhirnya dia tidak bisa menahannya lagi dan benar-benar tidak memperdulikannya lagi.
Fred langsung memutuskan menggendong Diana, membawanya melewati ruang tamu, dan melihat pelayan yang terkejut melihatnya, lalu dia berkata, "Antar semangkuk bubur sekarang juga."
"Baik."
Setelah itu Fred pergi berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1