
Fred sangat susah untuk di tebak.
Perubahan emosinya, ekspresi nya dan juga apa yang akan dilakukan selanjutnya, Diana sama sekali tidak bisa menebaknya.frws berdiri dengan muka dinginnya, Diana mengira dia masih marah.
Lalu Fred mengulurkan tangannya dan memegang kepalanya. Pikiran yang ada di dalam benaknya sekarang adalah adegan dimna dia sedang berusaha memikirkan sesuatu di dalam ruangan makan, tetapi siapa sangka bahwa Fred akan menciumnya di detik berikutnya.
Ketika Diana bangun, Fred sedang duduk dan sambil bekerja di teras.
Diana kemudian bangun dan pelan-pelan turun dari ranjang dengan menahan rasa sakit di tubuhnya.
Diana berjalan masuk ke kamar mandi, dan segera mandi, setelah selesai, Diana memakai baju dan berjalan keluar, lalu mendengar Fred sedang meeting melalui video call.
Fred duduk di teras dengan posisi sedikit miring ke arah kamar, dan sekita tatapannya berhenti di tubuh Diana, setelah itu dia melanjutkan berbicara ke layar laptopnya, selain itu, di kantor masih ada urusan lain.
Di laptopnya terdengar suara pria, Diana tau itu adalah asisten Fred yang misterius.
"Jeff belakangan ini menerima beberapa tamu dari di reksi perusahaan lain. Secara diam-diam dia juga bertemu dengan beberapa bis, sepertinya ada beberapa proyek. Aku telah memeriksanya dan menemukan beberapa masalah di proyeknya. Dan juga berencana proyek perluasan area pameran yang sebelumnya masih belum menemukan lahan yang cocok, tetapi Jeff merencanakan untuk mengambil sebuah lahan demi proyek itu, di daerah kota S, tapi penawaran harganya tidak masuk akal, dan juga terdapat masalah sengketa".
Diana berdiri di ujung ranjang sambil mengeringkan rambutnya, terdengar jelas pembicaraan mereka.
Ekspresi Fred tetap datar, kemudian berkata, "Bagaimana dengan reaksi Kusuma?"
"Pak Kusuma tidak melakukan apa-apa. Selain proyek yang dulu itu, sekarang di tangannya tidak ada proyek apapun. Tetapi dia juga tidak terlihat tertekan, justru setiap hari di kantor malah terlihat santai. Jeff di kantor sudah mulai berulah, harusnya Kusuma tau semuanya".
Setelah mendengarkan, Fred mengerutkan dahinya dan terdiam beberapa saat.
Dari laptop terdengar ada suara lagi, "Pak Fred, sepertinya lahan dia kota S terlibat sengketa yang lumayan berat, apakah lebih baik anda membahasnya dengan pak Jeff dulu, sebelum dia menandatangani......"
"Tidak perlu", Fred langsung memotong pembicaraannya.
"Tetapi jika kita membeli lahan itu, akan menjadi kerugian untuk perusahaan kita".
Fred dengan nada tegas, "Tidak perlu, biarkan dia yang memutuskan nya, jangan mencampuri gerak-geriknya, semua hal Tunggu aku pulang baru kita bahas".
"Saya mengerti pak, memangnya kapan anda pulang ke kota H?"
"Beberapa hari lagi, waktunya belum di tentukan, Kamu hanya perlu melaporkan hal yang terjadi di kantor kepadaku saja sudah cukup, yang lainnya tidak perlu kamu pikirkan, karena itu saya yang akan mengurusnya".
"Baik pak".
Diana mendengarkan dengan seksama, hatinya merasa sedikit takut.
Perusahaan besar seperti ini, hanya Masalah hubungan antar di reksi saja sudah begitu rumit dan membuat sakit kepala, seperti drama dalam kerajaan, sangat memakan hati. Bukan orang biasa yang sanggup bertahan dengan semua ini.
Sambil mengeringkan rambutnya, pikiran Diana sudah melayang entah kemana.
Karena posisi dalam menunduk, dia sama sekali tidak memperhatikan pria yang telah berdiri di depan pintu teras.
Dia pun melanjutkan mengeringkan rambutnya, sambil memikirkan apakah dia sanggup hidup dalam episode drama di kerjaan ini. tiba-tiba dia merasa tidak nyaman dan seluruh badannya gelisah.
Diana menegakan badannya dan seketika terkejut melihat Fred yang berdiri di depan pintu.
Fred memandang nya dengan tersenyum, dari mata nya terlihat ada rasa senang ketika melihat ekspresi Diana yang panik, tetapi tetap sengaja memasang ekspresi dingin dan menanyakan, "Tadi sudah dengar apa saja?"
Diana memalingkan tatapan nya, "Tidak dengar apa-apa".
"Tidak ada?" Fred melangkah ke depan, sedikit demi sedikit mendekatnya, "Beneran Tidak ada?".
"Iyaa Tidak ada", Diana dengan wajah memerah tidak mau mengakuinya, dia ingin segera menjauh dari Fred.
Namun tiba-tiba tangan Fred menangkapnya dan sedikit menahan kepalanya juga, ekspresi Diana tiba-tiba berubah, dia tau tidak bisa kabur lagi sekarang dan terpaksa dengan pelan membalikkan badannya, "Aku hanya mendengar sedikit saja".
Dia menatap ke bola mata Fred, dengan suara pelan berkata, "Kamu.... Kamu takut kalau aku akan membocorkan semua yang telah aku dengar ya?".
Baru saja dia mau berjanji untuk dirinya pasti tidak akan membocorkannya, siapa sangka Fred tiba-tiba tertawa, "coba saja bocorkan".
"....."
Walaupun di berikan nyali, Diana juga tidak berani berkata sepatah kata pun.
Fred sepertinya sengaja, dia mengacak rambut Diana, rambut yang Setengah basah, sekarang jadi sangat kacau.
Diana mengerutkan dahinya, belum sempat berbicara, dia sudah mendengar suara pria, "cepat keringkan rambutmu".
Satu perintah yang tidak bisa di lawan, Diana menarik nafas dalam-dalam, dia mengambil handuk lalu berjalan balik ke dalam kamar mandi.
Setelah dia mengeringkan rambut dan berjalan keluar, Fred telah berpakaian rapi, tidak menunggu Diana bertanya, Fred sudah lebih dulu berbicara, "Ganti bajumu, dan bersiap untuk bertemu dengan Handoko".
Fred menghadap ke arah cermin sambil mengancingkan kemeja nya, sepertinya suasana hatinya lagi baik, tatapan matanya begitu lembut.
"Apakah Handoko sudah menghubungimu?"
Fred mengancingkan kancing paling atasnya, dan sambil mengambil salah satu dasi disampingnya, "Asistennya barusan menelpon, mau mengajak makan siang".
Diana melihat dasi warna abu perak tua di tangan Fred, dia mengerutkan dahinya, langsung berjalan ke arah sana, dan memilih satu dasi bercorak biru tua, lalu mencocokkan nya ke arah Fred.
"Yang ini lebih bagus bukan?".
Corak air abu-abu perak memang terlihat mewah, tapi jika dibandingkan biru tua terlihat lebih cocok.
Fred terdiam melihat tindakan Diana yang alami dan spontan.
Dia melihat dasi biru tua yang ada di tangan Diana, kemudian menaruh dasi abu perak itu, kemudian menoleh ke arah wanita itu, "Kamu ke sini".
Diana terdiam, kemudian dia melihat muka Fred yang datar, dan dia tersenyum melihat Ekspresi Fred seperti tuan putri yang manja.
Diana di buat lucu oleh pikiran dia sendiri, dan dia sambil tersenyum sambil merapikan dasi.
Fred melihat ke arah Diana yang diam-diam tersenyum itu. Dia mengerutkan dahinya dan berjalan ke depan mendekat ke arahnya, dengan dingin berkata, "tertawa soal apa?".
"Tidak apa-apa".
Diana berusaha menenangkan ekspresi nya, dia berjinjit sedikit dan mengalungkan dasi melewati leher belakang Fred.
Diana tidak berkata dan membuat Fred semakin merasa tidak nyaman. Suaranya semakin tegas, memaksa untuk menanyakan, "Diana".
Fred dengan jelas memanggil namanya, Diana sengaja menarik pelan dasinya, ketika pria itu menundukkan sedikit badannya, dia dengan segera merapikan dan menyimpulkan dasinya.
Ditarik, dimasukan, hanya perlu 2 sampai 3 gerakan saja membuat simpul yang begitu rapi. Kemudian dua mengulurkan tangan saat merapikan dasinya, Beberapa jemarinya dengan pelan mengelus mengikuti dasinya, sambil tertawa berkata, "Beneran tidak ada apa-apa, hanya merasa Fred kamu tampan dan tegas saja".
Kalau bilang Fred mirip tuan putri yang manja, mana mungkin Fred mau melepaskannya.
Jadi dia nggak sengaja berbohong beberapa kata agar dia melepaskan nya, dan sekalian memang memujinya.
Detik selanjutnya, tangan yang belum sempat di tarik itu kemudian di pegang langsung oleh pria itu, dia kaget, dan mengangkat kepalanya kemudian tatapan mereka saling bertemu lagi.
Fred mengerutkan alisnya, rasanya dia ingin memakannya, "Diana, kamu sedang mempermainkan aku?"
__ADS_1
Diana tiba-tiba panik, dua tangannya tanpa sadar berada di dadanya.
"Aku... Aku tidak".
Sekarang bagaimana Fred mau percaya dengan perkataan dia? Tapi tiba-tiba dia tertawa dan pelan-pelan mendekati nya, "Kenapa? Memang nya semalam tidak cukup?"
Semalam... Sewaktu kata semalam terlontarkan, wajah Diana langsung memerah. Malam itu Fred seperti binatang buas, begitu liar, dia serasa tersiksa sampai tidak ada tenaga. Ingin berhenti, bagaimana mungkin tidak cukup.
"Cukup, Fred, Kita mau pergi bertemu wakil walikota, kalau tidak berangkat sekarang mungkin kita akan telat".
Setelah mendengarkannya, ekspresi Fred menjadi serius, dia melepaskan tangannya, dan mundur ke belakang, kemudian dia menoleh ke arah cermin sambil merapikan sudut bajunya.
Diana akhirnya bisa lolos dan menghela nafas, baru saja menepuk dadanya, pria yang berdiri di sampingnya langsung bersuara, "Tidak perlu terburu-buru, setelah urusan ini selesai, baru kita urusi hal pribadi itu".
Diana tiba-tiba jadi panik, dia menoleh ke atas, kemudian tatapan mereka bertemu, Fred hanya tersenyum, tapi wanita ini malah begitu terkejut.
Diana merasa gelisah, dan diam-diam mengigit bibirnya.
Sepertinya untuk selanjutnya tidak boleh mengganggu nya lagi.
Mereka berangkat sekitar jam satuan. Ketika sampai di tempat pertemuan dengan Handoko, ada yang menjemput dan mengarahkan mereka ke lift, untuk naik ke ruangan atas.
Diana dan supir Rudi mengikuti di belakangnya Fred. Ketika memasuki hotel, ekspresi mereka sudah berubah menjadi sangat serius.
Handoko adalah seorang wakil walikota kota B, bisa berdiri di posisi ini membuktikan bahwa dia bukan orang biasa, dia pasti lebih sulit lagi dari pada Ryan.
Pelayan itu membawa mereka sampai di depan pintu ruangan, di depan pintu itu ada dua orang pengawal yang berada di kiri dan kanan, mukanya terlihat sangat garang.
Salah satu pengawal nya melihat Rudi, dan langsung berkata ke Fred, "maaf, dia tidak boleh masuk".
Seorang yang terlatih dapat melihat sekilas status orang, mereka hanya melihat sekilas, sudah tau rudi itu berada di posisi apa.
Rudi langsung menjawab, "Aku ini supir, mengapa tidak boleh menemani?"
Pengawalnya tanpa sungkan membalas, "Di dalam ruangan tidak perlu menyetir, supir di perlukan untuk apa?".
Ekspresi Rudi langsung berubah, sebelum dia sempat menjawab, Fred langsung berkata, "sudah, kamu tunggu di luar saja".
Rudi terpaksa mengiyakan, dia langsung berdiri ke samping, pengawal baru membukakan pintu untuk Fred dan Diana masuk ke dalam.
Di dalam ruangan itu terlihat begitu mewah, di tengah-tengahnya terdapat satu meja bulat besar yang muat sepuluh orang, makanannya telah tersedia rapih di atas meja, hanya ada satu orang yang menghadap ke jendela dan membelakangi mereka, dia adalah Handoko.
Ketika mendengar ada suara, dia dengan pelan membalikkan badannya, orang ini tidak tinggi, rambutnya terlihat beberapa warna putih, berumur sekitar 40 an, terlihat sangat segar, tatapan matanya begitu tajam dan cerah.
Tatapannya dengan cepat menyapu melewati badan Fred dan Diana, kemudian berhenti di Fred, belum sempat berbicara, dia pun mengeluarkan tawa.
Handoko berjalan ke depan dan langsung menyambut nya, "Pak bos Fred, memang kita harus bertemu baru saling kenal haha!"
Fred tersenyum, dia melangkah ke depan dan menjabat tangannya, sambil berkata, "Pak wakil walikota, apa kabarmu?".
Setelah basa basi formal, Handoko mempersilahkan mereka untuk duduk, "Silahkan duduk, jangan terlalu kaku ya, saya sudah ingin bertemu pak Fred sedari lama, setelah tau anda ke Kota B, langsung mencoba untuk menghubungi anda".
Fred duduk sambil tersenyum, sikapnya tidak ramah dan juga tidak terlalu kaku, "Sebagai seorang junior seharusnya saya yang menghubungi anda terlebih dahulu, bukannya malah anda yang menghubungi saya, sungguh mohon maaf sekali".
Fred sambil berbicara, dia mengambil gelas di mejanya, langsung menghadap ke arah Handoko, "Sebagai permohonan maaf, saya akan menghabiskan nya".
Setelah Fred selesai berbicara, dia langsung menghabiskan minumannya.
Handoko tersenyum sambil melambaikan tangan, "Jangan sungkan, tidak perlu banyak tata Krama, kalau ada waktu luang, mau ketemu kapan pun juga bisa".
Sambil berbicara, dia juga mengangkat gelasnya, "Pak Fred, saya juga ingin bersulang dengan anda, kemarin malam saya dengar ada keponakan saya yang mengacaukan anda?".
Fred mengambil botol anggur di samping, dan menuangkan untuk dirinya.
Handoko melihat gerak-gerik Fred, sengaja bersikap serius, sambil berkata, "Saya tau orang itu pasti berbuat sesuatu! Pak Fred, jangan khawatir, saya pasti akan memarahinya, lain kali saya akan menyuruh nya minta maaf langsung ke anda!".
"Minta maaf ataupun tidak, bukan jadi masalah, tapi semalam saya dan Ryan sudah Bertaruh".
Fred meletakkan botol anggur di samping, botol kaca yang mengenai meja kaca itu, terdengar suara "Pong" sedikit menusuk telinga.
Handoko menaikan alisnya, melihat ke arah Fred, pura-pura penasaran, "bertaruh? Bertaruh tentang apa? Mungkin pak Fred ingin menceritakan nya?".
Diana duduk di samping, memperhatikan dua orang ini, tanpa sadar dia juga mulai tegang. Sejak masuk ke dalam ruangan, dia seperti transparan, sekarang udaranya lebih mencekam dan dia seperti susah bernapas di dalam sana.
Hal yang sama terjadi semalam, tidak mungkin Handoko tidak tau, sekarang dia bertanya, mungkin hanya ingin mengetes Fred.
Fred tidak mungkin tidak mengerti, dia melihat ke arah Handoko, sambil tersenyum menjawab, "kalau isi taruhannya, saya tidak mau mengulangi nya lagi".
Fred melihat ke arah Diana, sambil memerintahkan nya, "Keluarkan recorder dari dalam tas".
Setelah mendengar nya, Diana melihat ke arah tas dan membuka tasnya, dia melihat ada satu recorder di dalam tas itu.
Kapan dia menaruhnya? Diana bahkan tidak tau.
Walaupun Diana kaget, tapi dia tau ini bukan saatnya untuk bertanya, dan dia mengeluarkan recordernya sambil menunggu arahan dari Fred.
Fred melihat ke arahnya dan mengangguk, Diana kemudian menekan tombol recordernya.
Kemudian, terdengar lah suara dari recorder itu.
"Aku tidak ada waktu bermain lagi dengan Pratama jaya, mari kita putuskan hari ini, kalau aku kalah, aku akan menyerah kan lahan itu, tapi kalau kamu kalah, kamu yang harus menyerah--".
"Selain lahan itu, kamu harus menyerahkan Diana untuk menemaniku satu malam".
"...."
Itu merupakan percakapan mereka dengan Ryan di dalam ruangan semalam, suaranya tidak kencang tidak pelan, tapi pas untuk di dengar oleh semua orang di ruangan ini.
Kemudian, suaranya berlanjut, "Aku tidak peduli orang baik atau bukan, aku jelaskan di sini, kamu tidak akan mendapatkan lahan itu dan wanita itu juga, karena kamu harus tinggal kan disini."
Inilah yang Ryan katakan kemudian. Walaupun rekaman ini sudah di edit, tetapi hasil editan nya adalah kata-kata yang begitu jelas, yang memulai taruhan adalah Ryan, dia juga yang memilih taruhannya, yang tidak mau mengakuinya juga dia, ini menandakan apa, sepertinya tidak perlu di jelaskan lagi.
Diana yang memegang recorder itu, dari awal dia sudah terkejut duluan.
Dia sama sekali tidak tau ada rekaman ini, Fred ternyata begitu detail merekamnya, dan juga sengaja mengedit satu bagian untuk di simpan, sekarang bukti sudah di tangan, dan Ryan tidak mau mengakuinya juga tidak bisa lagi.
Diana sekarang mengerti apa itu artinya, "kuat tanpa ada celah sedikitpun".
Fred melakukan sesuatu hal yang sampai sedetail mungkin.
Diana menoleh ke arah pria itu, dari hati yang terdalamnya dia salut kepada pria ini.
Setelah Handoko mendengarkan rekamannya, ekspresi mukanya seketika berubah. Fred melihat ke arah Diana, dan memberikan sedikit kode ke Diana, dan Diana segera menyimpan rekaman itu.
Dia sedikit tersenyum, tanpa terburu-buru dia melihat ke arah Handoko yang duduk di seberangnya, "Pak wakil walikota, anda sudah dengar kan?"
Handoko memukul meja dengan keras, mukanya kelihatan sangat marah, "Anak durhaka ini, Beneran mau membangkang!"
__ADS_1
Fred tersenyum, diam menunggu emosi nya turun, kemudian mengangkat gelasnya. Sambil tersenyum berkata, "Anda jangan, karena di kehidupan itu kalah menang itu hal biasa, jalan ke depannya masih panjang bukan?".
Ada arti di dalam ucapan Fred, Handoko pasti mengerti.
Handoko menenangkan emosi nya dan mengangguk ke arah Fred, "kamu benar, kalah menang itu biasa, tapi yang membuat aku marah itu karena Ryan yang tidak bisa dewasa, jika saja ia ada setengah dewasa dari kamu, saya sudah tidak perlu khawatir begini".
Fred tersenyum, dia tidak berbicara apa-apa.
Handoko berbicara panjang lebar, tapi tidak membahas lahan itu, sepertinya dia juga tidak ingin mengakuinya, pantas saja dia pamannya Ryan, ternyata sama saka kelakuannya.
Fred terdiam, kemudian dia melihat ke arah Handoko, sambil berkata, "Anda harusnya paham, keluarga Pratama kami ini mengembangkan proyek di kota B, sudah bolak balik beberapa orang kami ke sini, tapi tetap saja ada satu bidang lahan yang tidak bisa kami dapatkan. Lahan ini adalah lahan yang dikatakan oleh Ryan, pak wakil walikota mungkin tidak begitu tau, tapi sekarang menang kalah sudah dipastikan, anda lihat kalau Ryan masih memegang erat-erat lahan itu...."
Fred sengaja tidak menyelesaikan ucapannya, tidak mau mempermalukan Handoko, kalau mau cari akarnya, lahan itu kalau bukan di tahan oleh Handoko, pasti sudah di ambil oleh keluarga Pratama, tapi Fred sengaja mengatakan yang menahan nya adalah Ryan, agar Handoko tidak merasa malu.
Sekarang di tangan Fred ada bukti, jika dia telepon, bisa segera mendatangkan masalah ke Handoko, dia pun mengerti kondisinya, dan juga tidak bisa kalau mundur.
Handoko tertawa sambil mengangkat gelasnya, "Pak Fred jangan khawatir, Ryan tidak mengakuinya, tapi saya pasti tidak akan begitu, masalah lahan itu pasti akan saya aturkan".
"Kalau begitu mesti merepotkan pak wakil walikota". Fred tersenyum dan mengangkat gelas ke arahnya.
Handoko hanya bisa mengakuinya, lahan itu bisa di bilang sudah diputuskan.
Diana mendengar Handoko berbicara begitu, akhirnya bisa menghela nafas lega.
Kemudian Fred dan Handoko mengobrol santai sambil minum, mengobrolkan tentang perkembangan beberapa tahun di kota B, dua orang ini terlihat begitu akrab.
"Sebuah kota bisa berkembang hanya karena perlu anak muda seperti anda untuk menggerakkan nya, ada ide, ada rencana, ada uang, tidak sampai 3 atau 5 tahun, pasti sudah bisa menggerakkan satu kota, satu industri. Pak Fred, saya sangat salut kepada anda. Anda bisa mengembangkan bisnis di kota B, saya juga sangat terharu".
Pembicaraan Handoko semakin semangat, dia mengangkat gelasnya untuk bersulang kepada Fred.
"Kota bisa berkembang ataupun tidak, paling penting adalah pimpinan seperti anda ini, kalau arahnya dapat berjalan dengan baik, bisa mengayomi, dan tentunya masa depan di kota ini akan semakin cerah, harusnya orang-orang seperti kami ini yang bersulang kepada anda".
Fred berkata demikian sambil berdiri dan bersulang ke Handoko.
Selama proses pembicaraan, Diana melihat mereka saling memuji, kata-kata Fred ini, membuat Handoko terbang tinggi, dan tidak bisa turun lagi.
Tapi tentunya semua orang suka mendengar kata-kata seperti itu, Handoko juga tanpa terkecuali, dia tertawa keras, dengan senang berkata ke Fred, "pak Fred kamu terlalu memuji saya, mari makan, mari makan!".
Setelah saling memuji, suasananya menjadi lebih hidup. Makanan penutup dan buah pun sudah di sajikan, acara makan ini sepertinya akan selesai.
Handoko sudah minum banyak, mukanya memerah, tapi dia masih terlihat sadar.
"Pak Fred, harusnya kita bertemu lebih awal lagi, saya bisa lihat, kamu ini anak muda yang baik, ada satu hal yang mau saya minta tolong, apakah anda bisa membantu saya?"
"Pak wakil walikota anda bilang saja apa yang bisa saya bantu untuk anda, itu juga merupakan kehormatan untuk saya".
Handoko bertanya, "berapa lama anda untuk tinggal di kota B?"
"Belum pasti, kalau kantor sudah sibuk sepertinya saya akan pulang lebih awal".
"Eii!" Handoko menghela nafas panjang, menundukkan kepala, dan terdiam.
Fred melanjutkan bertanya, "pak wakil walikota apa yang anda butuhkan dari saya? Saya akan bantu sebisanya".
"Begini, anak perempuan saya kuliah jurusan bisnis di Inggris, sekarang sudah lulusan S2, setelah pulang ke sini, belum menemukan pekerjaan yang cocok. Dia punya kemampuan seperti apa aku jelas mengetahuinya, dan juga tidak mau memperkenalkan ke teman-teman bisnis saya. Saya ingin dia belajar sesuatu, tapi setelah berpikir panjang, saya juga belum menemukan idenya".
Diana mendengar ucapan Handoko, intuisi wanita ini bilang, kalau Handoko ingin menyerahkan anak perempuannya ke Fred.
Handok melihat ke arah Fred, dan melanjutkan perkataannya, "Pak Fred, saya lihat umur anda juga tidak besar, tidak beda jauh dengan anak perempuan saya, bisnis karir anda begitu sukses, kenapa anda tidak mengajari putriku saja, setidaknya biarkan dia tau dasar-dasar tentan suatu perusahaan"
Tatapan Fred sedikit dingin, tapi wajahnya tetap tersenyum, "pak walikota, setahu saya, Ryan juga mempunyai perusahaan sendiri. Mengapa anda tidak biarkan anak perempuan anda belajar di sana? Mereka juga saling kenal, bukankah bisa lebih baik?"
Handoko melambaikan tangan, dia menghela nafas, "Tidak bisa! Tidak bisa! Anda juga pernah bertemu Ryan, dia sama sekali tidak dewasa, menitipkan anak perempuan saya ke dia, membuat saya merasa tidak aman!"
"Pak Fred saya tau anda sibuk, saya jamin anak saya tidak akan mengacaukan anda. Dia hanya mengikuti anda untuk belajar saja, walaupun jadi sekretaris ataupun asisten saya juga tidak masalah, bagaimana menurut anda?".
Handoko sudah bilang begitu, Fred kalau menolak lagi, dia akan tampak tidak ramah.
Tapi mau bagaimanapun, jika dia setuju, maka hanya akan jadi masalah untuknya.
Handoko ini, beneran rubah tua, dia mundur di masalah lahan, tetapi justru di hal lain, dia menekan Fred tanpa bisa menolaknya.
Handoko melihat Fred tidak berkata apa-apa, dia langsung berdiri dan mengangkat gelasnya, "pak Fred, kalau menurut anda bisa, saya sangat berterima kasih, tapi kalau anda beneran tidak bisa, anggap saya tidak ngomong, kita tetap tetap teman!"
Bicaranya sangat sopan, tapi tentunya tidak memberikan Fred pilihan, dia hanya bisa setuju atau menolaknya, tetapi sekarang lahan itu ada di tangan Handoko, dia juga tidak bisa menolaknya mentah-mentah.
Setelah berfikir panjang, Fred mengangguk, dia melihat ke arah Handoko, "kalau pak wakil walikota sudah berbicara begitu, saya juga tidak punya alasan untuk menolaknya, tapi saya harus memberitahu di awal, saya tidak bisa menjamin hasilnya, soalnya pekerjaan saya juga sudah sangat sibuk".
Handoko mengangguk lalu mengulurkan tangan ke arahnya, "sudah pasti itu, saya mengerti, pak Fred, sini kita minum lagi".
Fred mengangkat gelasnya, dia meminum anggur itu, setelah itu dia meletakkan gelasnya, baru mau duduk, tatapannya menyapu wanita yang ada di samping, dia bengong sebentar.
Apakah dia salah lihat? Diana sepertinya tidak senang.
Setelah keluar dari ruangan, Diana diam seribu bahasa, Handoko dan Fred masih mengobrol, sama sekali tidak menganggap nya.
Sekarang Handoko tiba-tiba ingin Fred mengajari anaknya, mau jadi sekretaris atau asisten nggak masalah, jelas-jelas sedang ingin merebut kerjaannya?
Tetapi yang membuat Diana lebih kaget lagi, Fred ternyata setuju, hatinya sedikit kecewa.
Dia mengangkat gelasnya, tanpa sadar dia meminum habis wine di gelas itu.
Setelah itu dia sama sekali tidak ingin mendengar pembicaraan Fred dan Handoko. Dia mengintip, gelasnya sudah kosong, dia mengulurkan tangan untuk mengambil botol di sampingnya, merasa ada tatapan dingin tajam menusuk ke arahnya, Diana Menoleh dan ternyata Fred melihat gerak-gerik nya, tangan yang ingin mengambil botol itu pun tidak jadi.
Sebelum itu, Fred pamit ke Handoko.
"Wakil walikota, hari ini sangat senang bisa bertemu, kalau tidak ada hal lain lagi, kami pergi dulu"
"Baik, hari ini saya pulang akan saya sampaikan ke anak saya, nanti biar dia mencari anda langsung ke hotel. Beberapa hari ini di kota B, biarkan dia membawa anda berkeliling, pas untuk kesempatan ini untuk salin berkenalan".
Fred tersenyum, tidak menolak, "baik silahkan atur".
Setelah berpisah dari ruangan itu, Diana dan Rudi mengikuti Fred di belakang, lalu berjalan keluar hotel.
Saat perjalanan pulang, Diana hanya terdiam.
Fred melihat gerak-gerik nya, kemudian berkata, "sore ini tidak ada jadwal, kamu boleh libur"
Diana tidak bereaksi, hanya mengangguk dan melanjutkan pandangan nya keluar jendela.
Apakah karena tadi dia setuju untuk mengajari anaknya Handoko, Diana cemburu?
Fred menegakkan tubuhnya, dia melihat ke arah Diana, tetapi mobil bergoyang, dia mencoba beberapa kali, baru bisa melihat ekspresi nya.
Diana menutup matanya, mukanya tidak ada ekspresi apa-apa, sepertinya sedang mengantuk?
Fred mengerutkan alisnya, kemudian bersandar kembali.
__ADS_1
Awalnya dia mengira kalau Diana tidak senang karena urusan anaknya Handoko, tenyata dia hanya lagi ngantuk, dia terlalu banyak mikir.