Jatuh Cinta Dalam Semalam

Jatuh Cinta Dalam Semalam
Bab 34


__ADS_3

Awalnya Diana berfikir bahwa mereka akan membawanya ke lantai atas hotel tersebut, sehingga selama dia melewati tempat ramai, Diana bisa mengambil kesempatan untuk meminta bantuan, tetapi laki-laki berjas hitam tersebut malah berjalan ke arah bawah dan tidak melewati lobby.


Yang mengejutkannya, hotel ini juga memiliki lantai dasar, koridor nya panjang dan sempit, dan kedua sisi dipenuhi dengan ruangan kotak, beberapa orang masuk dan keluar dari ruangan, Diana mengambil kesempatan untuk melirik-lirik, tempat ini merupakan tempat minum dan bersenang-senang.


Diana mengambil napas dalam-dalam, mencoba membuka handphone nya, tapi baru membuka kunci dan log telepon, tiba-tiba sebuah tangan besar menjulur dan menghentikan tangannya dengan menjepit nya.


Kekuatan tangan itu hampir bisa menghancurkan tulang pergelangan tangannya, Diana menjerit kesakitan, dan tiba-tiba terdengar suara dari samping nya, "Biarkan saja".


Pria berbadan besar melepaskan tangannya, Diana merasa kesakitan, melihat tanda merah di pergelangan tangannya, wajahnya menjadi biru.


Laki-laki berjas hitam itu menatanya, "Nona Diana, saya sarankan anda untuk tidak macam-macam, jika anda menurut, kami akan memperlakukan anda dengan baik, jika anda kembali melakukan hal-hal seperti tadi, jangan salahkan kami jika melukai anda".


Dalam nada mengancam yang khas, Diana sudah melihat cara ini selama lebih dari dua dekade sejak dia lahir, Dia menggertakan giginya, lalu menarik kembali ponselnya ke dalam tasnya, dan tidak bersuara.


Pria berjas hitam itu melihat bahwa dia tidak memiliki gerakan lain, jadi dia berbalik dan berjalan ke depan untuk memimpin jalan, dan ada seorang lelaki berbadan besar lainnnya yang berdiri di samping dan satu dibelakang nya.


Sekarang dia tidak bisa melarikan diri bahkan jika dia menggunakan sayap.


Berjalan ke pintu sebuah ruangan di ujung koridor, pria berjas hitam mendorong pintu dan menyuruh Diana untuk masuk.


Diana menggertakan gigi dan berjalan masuk, yang dilihatnya pada pertama kali adalah sebuah ruangan besar, di dekorasi dengan mewah, dan sofa-sofa semuanya terbuat dari kulit asli, meja kopi di depan sofa hampir penuh dengan berbagai macam minuman, di sisi lain ada permainan lempar panah ke dinding.


Diana terdiam, tatapannya akhirnya tertuju pada pria yang sedang duduk di sofa, dan pria berjas hitam maju melaporkan kepadanya dengan hormat, "Tuan Ryan, orang yang kau suruh bawa, sudah kami bawa".


Diana pernah melihat pria itu, ini adalah pria yang sedang makan di ruang tunggu barusan, yang tiada henti menatapnya terus.


Tetapi dia bahkan tidak mengenal pria itu.... Siapa dia?.

__ADS_1


Dengan berbagai pertanyaan di kepalanya, Diana sudah tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara, dia di undang untuk duduk di sofa selain pria bernama Tuan Ryan tersebut, masih ada tiga pria di sebelahnya, masing-masing Sambil memegang wanita cantik disebelahnya, dan mereka terus menerus memperhatikannya.


"Nona Diana, aku tidak membuat kamu takut kan?" Tuan Ryan berkata dengan lembut, dan kemudian memberi isyarat kepada orang disebelah nya untuk menuangkan segelas anggur untuk diana.


"Tuan Ryan, aku tidak tau mengapa kau memintaku untuk kemari, jika aku tak salah ingat, ini harusnya adalah pertemuan pertama kita". Diana berusaha untuk tetap berbicara dengan tenang.


"Kamu tidak perlu bersikap sopan, panggil saja aku Ryan, aku mengundang kamu untuk datang karena aku ingin mengenalmu, karena aku ingin berteman denganmu".


Setelah Diana mendengar kata-kata itu, matanya bersinar, dia tak percaya apa yang dikatakan barusan, sungguh sangat aneh.


Diana tersenyum sambil melihat anggur yang dibawa oleh pelayan di samping nya, lalu ia menatap Ryan, "Tentu saja kita bisa berteman, tetapi tuan Ryan maaf, aku tidak minum".


"Benarkah?" Ryan menyipitkan matanya sambil bermain dengan panah di tangannya dan tersenyum seperti rubah, "Tetapi barusan aku melihat dengan jelas nona Diana dan direktur Michael sedang minum bersama".


Hari Diana berdegup kencang, dan dia menatap Ryan, dan punya perasaan difensif dalam hatinya.


"Jangan gugup, mari kita minum", kata Ryan sambil mengangkat gelas, kemudian dia berdiri dan berjalan menuju ke arah Diana.


Diana mengepalkan tangannya, dan kemudian saat ingin menolak, ia mendengar seorang pria di sebelahnya berkata, "Tuan Ryan, gadis ini sama sekali tidak asik, membosankan!"


Ketika seseorang itu berbicara seperti itu, ada gelak tawa dari Ryan, matanya bersinar dan dia menatap Diana sambil tersenyum, "Nona Diana, kesabaran saya terbatas".


Diana menatap wajah didepannya, timbul rasa menjijikkan dihatinya, pria di hadapannya itu, berpakaian dengan rapih dari ujung rambut sampai ujung kaki, nada bicaranya juga tidak kasar, tetapi entah mengapa membuat Diana tak nyaman.


Diana menatap gelas anggur yang diberikan oleh Ryan, sambil bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.


Orang-orang di ruangan itu secara bersamaan melihat dari mana suara itu datang, Diana mendongak dan melihat sosok tinggi di ambang pintu, dan ternyata itu adalah Fred.

__ADS_1


Diana menarik napas dalam-dalam, berdiri Dengan cepat, lalu berkata dengan penuh semangat, "Pak Fred".


Fred melirik ruangan itu, hatinya langsung mengerti apa yang telah terjadi, dia melangkah maju, mengulurkan tangan dan dengan lembut memeluk Diana, pandangannya tertuju pada Ryan, dan dia berbicara perlahan, "Tuan Ryan, aku tidak tau untuk apa kau mengundang sekretarisku".


Ryan menatapnya selama beberapa detik, lalu meletakkan gelas anggur yang di pegang tangannya, sambil tersenyum dia berkata, "Hanya ingin berteman saja, Pak Fred harusnya kamu tidak keberatan kan?"


Pegangan Fred yang berada di bahu Diana semakin erat, Fred memeluk Diana lalu melangkah maju, "jika hanya ingin berteman tentu tidak masalah, namun jika ingin yang lain, tidak boleh".


Ryan menatap Fred selama beberapa detik, lalu tertawa terbahak-bahak, "pak Fred aku mengerti, mari kita minum bersama".


Ryan berbicara sambil memberi isyarat kepada pelayan untuk menuangkan anggur, lalu datanglah dua gelas anggur, kemudian ia menyerahkan kepada Fred.


"Sudah lama ingin bertemu denganmu pak Fred, ini pertemuan pertama kita, sudah pasti harus minum".


Diana yang berada dalam pelukan Fred mendengar kata-kata itu menjadi sedikit terkejut, ini adalah pertama kali mereka bertemu, namun mengapa keduanya terlihat seperti musuh lama.


Fred menyambut gelas anggur tersebut, lalu bersulang dengan Ryan, dan kemudian meminumnya, setelah itu Fred berkata, "Tuan Ryan, aku sudah meminum anggur nya, kita juga sudah mengenal satu sama lain, saya masih mempunyai pekerjaan, maaf tidak bisa lama-lama".


Begitu Fred mulai melangkah, Ryan melangkah maju dan menghentikan langkahnya, "Pak Fred, kenapa kamu terburu-buru, setau saya kali ini kamu datang kesini untuk tanah itu kan, hari ini kita bertemu mengapa kita tidak membicarakan nya dulu?"


Fred melangkah maju, menatap Ryan, matanya dingin dan tegas, "Tuan Ryan, kamu ingin bagaimana?"


Ryan tersenyum dan berbalik untuk melihat meja di sebelahnya, "Mari kita bermain-main dulu."


Tiba-tiba Diana teringat dengan ucapan Fred ketiak mereka sedang di balkon, dia mengatakan bahwa tanah itu di tekan karena keponakan dari wakil walikota, dan mereka bermaksud mengambil tanah itu.


Diana melirik Ryan, dan setelah banyak asumsi, akhirnya dia yakin bahwa Ryan adalah keponakan wakil walikota B, karena relasinya, dia bisa menjaga tanah dengan alasan perselisihan, selama Fred meninggal kan tanah itu, maka Ryan bisa mendapatkan tanah itu dengan harga yang lebih baik.

__ADS_1


Butuh Waktu begitu lama baginya untuk memahaminya, namun Fred dari awal pasti sudah mengerti.


__ADS_2