
Fred melihat ekspresi wanita itu, dia sudah mengerti sekarang.
Dia itu sengaja! Sengaja mengajaknya ke sini, sengaja menarik dia ke tengah, dan sengaja mengacaukannya!. Lahan untuk pengembangan proyek itu, karena kecerobohan Ryan membuat keluarga Handoko merugi, Linda sebagai keluarga Handoko pasti akan mengganggunya!
Bagaimanapun lahan itu begitu berarti. Semua orang mau mendapatkannya. Fred bisa mendapatkannya, yang lain tentunya tidak akan senang.
Fred melangkah ke depan, mendekati Linda, suaranya begitu dingin, "Dimana Diana?".
Linda langsung menatapnya balik, tetap tersenyum lebar, tapi sama sekali tidak berbicara apa-apa.
"Katakan, dimana dia!", Suara Fred begitu keras dan sedikit serak.
Linda menegakkan tubuhnya, dan tersenyum, mencoba tidak panik, lalu berkata, "aku dengar dari Ryan, sekretaris ini wanitanya pak Fred, jangan-jangan pak Fred---".
Belum selesai berbicara, Linda merasa pergelangan tangannya seperti dijepit, rasa sakit membuat ekspresinya langsung berubah.
"Fred... lepas... lepaskan tanganku!" Linda sambil marah dan mencoba melepaskan tangannya.
Fred melihat ke arahnya, tanpa sedikit rasa kasihan, dia malah menguatkan genggamannya, "Beritahu aku dulu dimana diana!"
Linda merasa tulang pergelangannya seperti akan retak. Dia tidak menyangka kalau Fred sama sekali tidak peduli akan statusnya.
Linda merasa kesakitan, akhirnya dia berkata, "Aku.. aku bawa kamu ke sana!"
Setelah mendengarnya, Fred kemudian melepaskan tangannya.
Linda mengernyit dan memegang pergelangannya yang sakit, ekspresinya tidak enak, pria di samping tetap menatapnya, dia mau tidak mau harus berjalan ke depan.
Setelah pergi dari lobbi bar, suara masuk sudah tidak sekeras tadi. Mereka melewati lorong, dan berjalan ke kamar paling ujung. Linda mendorong pintu masuk, di dalam ruangan gelap, dia kemudian menghidupkan lampunya.
Di dalam kamar itu sangat sepi, hanya ada Diana yang berbaring disana. Fred mengernyit, langsung berjalan ke sana.
Diana sepertinya tertidur, bajunya tidak kacau, Fred membalikan badannya, dengan tatapan amarah menatap ke arah Linda, "Apa yang kamu lakukan kepadanya!?"
Linda menjawab dengan sedikit tidak senang, "hanya obat tidur saja, paling satu atau dua jam lagi dia bangun".
Suaranya yang tidak acuh, seperti tidak terjadi apa-apa, membuat ekspresi Fred semakin marah.
__ADS_1
Fred membungkuk badannya, langsung membawa Diana yang disofa, kemudian berbalik.
"Linda, aku tidak tau kamu punya tujuan apa. Kalau kamu punya masalah, langsung saja cari aku, tidak perlu melakukan hal seperti ini!".
Tidak peduli Linda karena tidak puas dengan peraturan papanya, atau demi adik sepupunya Ryan, sikap seperti ini, sangat licik dan jahat. Menggangu orangnya, Fred tidak mungkin bersabar.
Linda tertawa, "Pak Fred! Aku hanya melakukan permainan kecil saja sama kamu, lagian Diana juga tidak di apa-apain, kenapa kamu begitu marah?".
"Permainan kecil?" Fred tersenyum dingin, "Ryan kalah dalam taruhannya, yang setuju menyerahkan lahannya juga Handoko. Mengenai masalahnya lahah itu kamu tidak ada urusannya denganku. Kalau kamu berbuat onar lagi demi lahan itu, sebaiknya kamu hilangkan saja pikiran itu. Kamu sama sekali tidak punya kesempatan untuk menyentuh orangku!".
Selesai berbicara, Fred langsung mengendong Diana keluar, baru sampai depan pintu, dia berhenti dan berkata, "Aku tidak sanggup melakukan hal yang diminta oleh papamu, alasannya kamu yang jelaskan sendiri".
Setelah itu Fred tidak berbicara apa-apa lagi dan langsung membawa Diana keluar.
Linda membalikkan badannya dan melihat bayangan Fred yang semakin menjauh, senyumannya kembali melebar.
Awalnya dia hanya membalaskan dendam untuk Ryan saja, dia tidak menyangka Fred semarah itu.
Saat pagi tadi bertemu di cafe, dia melihat Fred begitu kamu. Selain wajah yang tampan, tidak ada kelebihan lain lagi. Tapi sekarang Linda mulai merasa, kalau Fred yang marah begini terlihat lebih menarik.
Fred mengendong Diana, meninggalkan tempat yang begitu berinsik itu, ketika keluar, telinganya masih berdengung.
Sebelum Fred datang, dia sudah tau kalau Linda pasti akan berbuat aneh. Karena keluarga Handoko tidak ada yang benar orangnya. Dia sudah menyiapkan mental, dia berpikir bahwa Linda akan mempermainkan dan mempersulitnya. Tetapi ternyata Linda malah menyerang Diana.
**
Sesampainya di hotel, Fred langsung menghubungi dokter swasta di kota untuk mengecek Diana.
Setelah pengecekan sederhana, dokternya berkata, "pak Fred, wanita ini hanya terkena obat tidur, mungkin akan tertidur untuk beberapa jam kemudian. Tidak ada hal yang lain lagi, jadi pak Fred tidak perlu khawatir".
Fred dengan muka serius bertanya, "adakah efek samping dari obat ini?"
"Mungkin saat bangun dia akan pusing dan merasa mual, dan obat ini akan memberikan halusinasi singkat, tapi bukan masalah besar. Beri dia air putih yang banyak ketika dia bangun nanti."
Fred hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi.
Lalu Fred menyuruh supirnya untuk mengantar dokternya Pergi. Setelah itu Fred kembali ke kamar, dia berbaring di atas ranjang wanita itu. Hatinya ada sebuah perasaan yang aneh.
__ADS_1
Emosi dia belakangan ini, kenapa semakin gampang berubah karena wanita ini?
Alis Fred sedikit mengencang, belum sempat berpikir, handphone nya berbunyi dua kali.
Dia mengeluarkan hp dan melihat nya, ternyata ada sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Pak Fred, besok kita harus ketemu ~"
Kemudian diakhiri dengan sebuah nama yaitu, "Linda."
Fred menggenggam handphone nya dengan kuat, muncul rasa amarah didalam dirinya.
Fred tidak mengerti apa yang Linda inginkan. Malam ini hanya cobaan kecil saja. dan dia tidak tau wanita ini akan melakukan apa lagi, bisa jadi ada sesuatu yang lebih parah lagi.
Tapi dia tidak punya waktu untuk bermain-main dengannya, sekarang pilihan yang baik adalah Jujur. Fred ingin terus terang ke Handoko, bahwa lahan itu, dia harus mendapatkannya. Mereka mengeluarkan trik apapun juga tidak ada gunanya.
Handoko ternyata sangat licik. Fred tau kalau dari ucapannya dia sudah menyetujui lahan itu, tapi disisi lain dia mengunakan Linda untuk mengganggu Fred sampai tidak berkutik.
Sebuah strategi yang bagus.
Fred tidak bisa menunggu lama lagi, dan dia tidak mungkin menyeret Diana terus menerus karena itu sangat membahayakan kondisinya. Jalan satu-satunya dia harus menyelesaikannya secepat mungkin, ini merupakan pilihan terbaik dia sekarang.
Fred menyimpan ponsel nya, kepalanya terus berpikir mau bagaimana. Namun tiba-tiba terdengar suara sedikit tercekik dari tempat tidur di sebelahnya.
Fred menoleh ke arah suara itu, dengan lampu dinging yang tidak terlalu terang dia melihat Diana yang tertidur itu, bersuara Kecil, dia pun mendekatinya, dan duduk disamping ranjang. Melihat mata Diana yang tertutup itu, sepertinya Diana lagi mimpi.
Fred mengerutkan keningnya, kemudian pelan-pelan menepuk pundak Diana.
"Jangan pergi..."
Diana tiba-tiba bersuara, tangannya di ulurkan, meronta-ronta beberapa kali, kemudian menarik lengan Fred.
Fred yang merasakan tangannya di tarik, mencoba melepaskan nya, namun wanita ini tidak mau melepaskannya.
"Papa... Jangan pergi... Aku Percaya dengan papa---".
Suara yang Kecil itu, Fred baru sadar, ternyata Diana sedang bermimpi tentang lesson Tanoe.
__ADS_1
Sebelum lesson Tanoe ditangkap, dia sangat sayang sekali kepada Diana, dan dia juga senang bermanja dengan papanya itu.