Jatuh Cinta Dalam Semalam

Jatuh Cinta Dalam Semalam
Bab 33


__ADS_3

Michael sebenarnya memikirkan sesuatu, sebelum pergi, dia menghela nafas dan merendahkan suaranya lalu berkata, "pak Fred, terkait tanah yang anda inginkan itu, pada kenyataannya semua bukan berdasarkan keputusan saya, jika anda benar-benar ingin mendapatkan nya, anda boleh mencari wakil walikota untuk sementara waktu, memang benar keponakannya adalah pesaing tanah yang anda inginkan, saya hanya bisa membantu sampai disini, selebihnya kamu boleh berusaha sendiri."


Setelah mengatakan itu, dia melambaikan tangan nya ke Fred, dan kemudian sambil tersenyum dan berjalan ke sisi yang lain dan berbicara pada mereka.


Fred memandang sosok yang meninggalkannya, dan hatinya langsung mengerti apa maksud dari ucapan nya.


Diana yang berdiri di samping, tidak mendengar kata-kata dari Michael dan menatap Fred dengan ragu.


Fred duduk kembali ke sofa, kakinya bersilang, dia tidak mengatakan apapun, tapi dia minum anggur merah di gelas dengan elegan, lalu mengangkat matanya dengan penuh perhatian menatap Diana.


Menanggapi tatapan Fred yang dingin, Diana menghela nafas lalu berkata, "Apa kata di rektur Michael tadi?"


"Apakah kamu tidak tau apa yang dia katakan?" Fred berkata, berdiri dan berjalan ke arah lain, "ini bukan tempat untuk berbicara, ikut denganku."


Diana mendengar kata-kata itu, dan dengan cepat melangkah maju untuk mengikutinya.


Melewati aula, Fred berjalan menuju balkon, cahaya di balkon agak redup, tapi sudut pandangnya bagus, mereka berada di Lantai dua dan bisa melihat kolam renang di halaman belakang.


Lorong itu sangat panjang, terlihat ada beberapa pasangan pria dan wanita berdiri di sisi lain, dan juga ada beberapa pria yang keluar untuk merokok, agak jauh dari mereka.


Suaranya sangat rendah, tapi itu sudah cukup bagi Fred yang berada di sampingnya untuk mendengar dengan jelas, "jadi, siapa pesaing kita?"


Fred berbalik dan melirik wanita di sebelah nya, "di rektur Michael mengatakan bahwa dia adalah keponakan dari wakil walikota, harusnya tak salah."


Diana tidak berbicara untuk waktu yang lama, dia berfikir bahwa jika bisa berhubungan baik dengan di rekrut Michael, maka semuanya akan berhasil, tetapi ia tak pernah berfikir bahwa hubungan di belakangnya sangat rumit.


Tidak heran jika proyek fiesta memakan waktu lama, setelah bekerja dengan beberapa orang, terakhir juga tak bisa di menangkan, karena terbentur dengan hubungan di sini, oleh karena itu menjadi tidak lancar.


Tiba-tiba mata Diana bersinar, dan kemudian dia merasa bahunya tenggelam, dia mengangkat kepalanya, hanya untuk menemukan bahwa Fred sedang berdiri dan menahannya tetap di antara pagar dan dirinya.


Dihadapan pria itu, hati nya menegang, saat wanita itu akan berbicara, tiba-tiba, dia mendengar suaranya yang rendah, "Diana, katakan kepadaku, apa yang kau bicarakan dengan direktur Michael tadi? Apa topik yang menarik itu?"


Fred sangat paham, pada awalnya, dia berinisiatif untuk berbicara tentang proyek itu, tetapi bapak tua itu tidak berhasil di gosok dan akhirnya menolak secara langsung, namun setelah dia menjawab telepon, sikap Michael banyak berubah, pada akhirnya di rektur Michael memberinya informasi penting, dan hal itu benar-benar mengejutkannya.


Dan ketika dia kembali, dia baru saja melihat Michael yang menyerahkan kartu nama kepada Diana, keduanya berbicara dengan baik, tetapi mereka misterius dan tertutup, dia tidak bisa berpikir tidak tentang hal itu.


Diana ragu-ragu sejenak, melihat kedinginan di mata pria itu, dan segera mengerti arti kata-kata nya.


Dia tidak punya waktu untuk menjelaskan, dan dia bergerak lebih dekat padanya, dan dagunya tepat di telinga nya, "coba katakan, siapa tau aku juga tertarik".


"Sulaman, apakah kamu juga tertarik?".


Jantung Diana berdegup kencang, dia mengulurkan tangan nya dan langsung mencapai dada Fred.


Fred tertegun, lalu berdiri tegak dan menatap diana.


Diana tau bahwa dia tidak mempercayainya dan merasa sangat aneh.


Diana mengangkat alisnya dan dengan cepat menjelaskan, "saya membaca semua dokumen proyek fiesta sebelum datang kesini, aku sudah belajar bahwa aku harus pergi ke direktur Michael untuk memperbaiki hubungan, jadi aku sudah memeriksa background nya, dan aku melihat bahwa dia sangat tertarik dengan kerajinan seni sulaman, untuk menundanya pergi saat kau menjawab telepon aku membicarakan sulaman yang ada di lengan kemejanya."


Setelah Diana menjelaskan kepada nya, tentang sebab dan akibat masalah ini, dia mengulurkan tangan lalu mendorong Fred dengan ringan.


Lalu Diana berkata lagi, "tidak semua nya kotor seperti yang kamu pikirkan."


Dia bekerja sangat keras untuk mempertahankan Michael untuk tidak pergi, tetapi tak di sangka Fred akan salah paham apa yang terjadi di antara dia dan Michael.


Diana mengigit bibirnya lalu dia berjalan menuju aula.


Fred terdiam sejenak, dan dia bergegas maju untuk segera meraih pinggang Diana.


Dia tidak mengira bahwa ini adalah masalahnya, dia juga tidak sengaja salah paham, hanya saja ia melihatnya tertawa dan mengambil kartu nama Michael, serta kata-kata Michael membuat perasaan Fred menduga yang tidak-tidak.


"Lepaskan aku!" Wajah Diana merah, sambil berjuang untuk melepaskan tangannya.

__ADS_1


Fred memandangi wanita itu, dan perasaan nya sedikit berantakan, dia mengulurkan tangannya dan mencoba menangkap tangan-tangan yang sedang berjuang tersebut, suaranya seakan berguling-guling di tenggorokan nya, tetapi dia sengaja menekan emosinya, "Diana...."


"Apa lagi yang ingin kau katakan?"


Fred merasa susah untuk berbicara, tenggorokan nya bergerak naik turun dan akhirnya dia mengucapkan kalimat, "Aku salah paham Kepadamu..."


Diana melihat tampilan yang berbeda dari pria itu, kemudian dia merasakan pipi yang hangat, dan bibir Fred dengan lembut membelai, seolah-olah secara tidak sengaja, dan seperti ciuman yang sangat menenangkan.


"Hari ini aku berterima kasih kepadamu, jika tidak direktur Michael juga tidak akan memberi tau kompetitor kita ini."


Diana sedikit tenang, dan amarah nya hilang begitu saja, bagian pipi yang di sentuh agak panas, dia mencoba melepaskan diri dari telapak tangan pria itu, mundur selangkah, dan dengan sengaja memberi jarak di antara mereka.


Diana mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata gelap pria itu, dan sebelum dia berbicara, Fred melangkah maju setengah jalan, menghalangi jalan di depannya, seolah dia takut kalau Diana akan pergi.


Fred tampak tersenyum, dengan senyum ia melangkah sambil berkata, "Diana, tindakan kamu hari ini sungguh di luar dugaanku."


Menghadapi pujian pria itu, Diana merasa panik, tetapi wajahnya tetap tenang seperti biasa, "itu hanya memahami pihak lain dan memeriksa apa hobi nya."


Fred mendengar kata-kata itu dia tertawa pelan, "kalau begitu, kau tidak mengenalku, apakah kau tau apa yang aku sukai?"


Kata-katanya tidak lagi serius, dan ketika Diana mendengar nya, perasaan nya masih sangat kacau.


Diana sengaja menghindari matanya dan mengambil napas dalam-dalam, "Aku baru ketemu denganmu dalam waktu satu bulan, jadi aku tidak bisa menebak apa yang kau pikirkan."


Sudut bibi Fred naik sedikit, "Tenang saja, cepat atau lambat kamu pasti mengetahuinya."


Sebuah kalimat yang tampaknya sederhana namun berisi begitu banyak makna yang tidak dapat dijelaskan.


Diana berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak banyak berfikir, ketika ia mendongak dia melihat bayangan yang muncul di pintu balkon yang tidak jauh dari lobby.


Ternyata itu adalah Yolana, dia melihat mereka datang dari kejauhan, Diana tidak bisa melihat dengan jelas emosi di matanya, tapi dia tidak perlu berpikir, dia tau dengan jelas bahwa wanita itu datang kesini untuk mencari Fred.


Namun, pria yang membalikan punggungnya itu, bahkan tidak menyadari nya.


Yolana mengejar Fred dari Kota H ke kota B, dan berpura-pura bertemu secara kebetulan, dan berulang kali berusaha untuk muncul di sekitar Fred.


Semangat gigih nya itu bisa di bilang sangat mengagumkan.


Fred tidak mengerti arti dari kata-kata Diana, dia mengangkat alisnya dan ketika hendak berbicara, Fred menyadari tatapan Diana, ia pun mengikuti garis pandangan nya, lalu berbalik dan dia pun melihat Yolana yang berdiri tidak jauh dari sana.


Jantung nya berdebar, perasaan dingin yang baru saja mencair sepertinya membeku lagi, dan menutupi seluruh tubuhnya.


Yolana mendekat dan berhenti berjalan setengah meter darinya, "Fred, kamu seharusnya tidak sibuk sekarang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu."


Fred mengangkat alisnya, dan menatap dingin ke arah Yolana, "Hanya karena kau ingin mengatakan sesuatu kepada ku, jadi kau menelpon ayahku? Yolana, kamu terlalu kekanak-kanakan."


Diana yang mendengar kata-kata itu Langsung menyadari nya, ternyata panggilan yang baru saja fred terima tadi berasal dari ayahnya, pantas saja dia terlihat sangat muram ketika dia kembali tadi.


Jika di lihat, Yolana ini sangat di sukai oleh ayahnya, setelah di abaikan oleh Fred ternyata dia mengadukan nya kepada ayah Fred, dan kemudian ayahnya menelpon untuk mengajari Fred.


Diana berdiri di samping dan tampak seperti sedang menonton pertunjukan.


Yolana melangkah maju, secara spontan mengulurkan tangannya dan memegang salah satu tangan Fred, suaranya lembut dan terdengar tak ada cara lain, "Aku hanya khawatir kamu akan terganggu..."


Saat berbicara dia memandang Diana yang berada disebelahnya sambil memberi kode untuk Diana Pergi.


Dan Diana merasa bahwa dirinya tak cocok berada di situ, sebelum Fred membuka mulutnya, dia mengambil inisiatif untuk berkata, "Pak Fred, silahkan ngobrol saja dulu, saya akan pergi ke kamar mandi."


Selesai berbicara Diana segera berjalan dan pergi dengan cepat.


Identitas orang yang bisa di pandang oleh ayah Fred jelas tidak sederhana, dia juga tidak bisa bertengkar dengan Yolana, tidak ingin berada di tengah keduanya, lebih baik di mundur terlebih dahulu.


Meninggalkan balkon dan melewati lobby, dia berjalan ke meja tempat makanan prasmanan di sajikan, ia mengambil bermacam-macam kue dan seafood.

__ADS_1


Diana belum makan sejak selesai makan siang tadi, dan perutnya sudah sangat lapar sekali, dia mengambil minuman dan duduk di sofa di area lounge, setelah minum, dia merasa ada seseorang yang sedang menatap nya.


Dia mengangkat kepalanya lalu melihat ke sekeliling, ia melihat seorang pria yang duduk tidak jauh darinya, pria itu mengenakan setelan putih sambil tersenyum menatap nya.


Menemukannya sedang memandang tidak membuat orang tersebut malu, justru orang itu malah tertawa lepas terhadap nya.


Diana merasa tidak nyaman dilihat seperti itu, tetapi dia dengan sopan tersenyum kembali kepadanya, dan kemudian Diana berusaha untuk memalingkan wajahnya dan terus makan seperti tidak terjadi apapun.


Bagian Fla kue tumpah, rasa lapar yang tadi ia rasakan lenyap, dia melirik waktu dan jam sudah menunjukan sembilan lewat, tetapi aula masih penuh dengan orang yang sedang tertawa, tidak ada tanda-tanda pesta akan berakhir.


Pesta ini adalah kesempatan terbaik untuk mencari koneksi, bukan hanya bisa mendapatkan banyak kartu nama bisnis, tetapi juga bisa berjumpa dengan banyak pembisnis yang sukses.


Sebelum nya Diana juga telah berpartisipasi dalam banyak acara seperti ini, tetapi dia tidak tertarik pada acara seperti ini.


Fred belum kembali, Diana tidak tau harus melakukan apa, yang bisa ia lakukan hanya berputar-putar di sekitar lobby.


Setelah berputar satu putaran, Diana melihat tangga menuju lantai pertama, jantungnya berdegup dan dia memutuskan untuk ke bawah.


Dari balkon bisa terlihat taman yang sangat indah dan tenang, oleh karena itu ia ingin berjalan-jalan di sana.


Baru beberapa langkah tiba di halaman, Diana mendengar langkah kaki di belakangnya, tiba-tiba di hatinya timbul rasa gelisah, ia pun mempercepat langkahnya dan memutari kolam renang, saat berbalik dia Melihat seorang pria asing menggunakan setelan kemeja hitam.


Terlihat denga jelas kalau laki-laki itu sedang memandangi nya, jantung nya berdegup kencang, setelah mengelilingi kolam renang ia langsung mengarah ke tempat semula.


Tiba-tiba, sebuah suara terdengar, "Nona Diana, tolong berhenti."


Diana tampaknya ragu-ragu sejenak, sambil berjalan ke arah kolam renang sambil menatap pria itu lalu berkata, "siapa kamu?"


Pria itu dengan cepat berjalan ke arahnya, sambil tersenyum, "Nona Diana, tuan Ryan ingin mengajak anda untuk minum, apakah anda----"


Sebelum orang itu selesai berbicara, Diana langsung memotong ucapannya, "Maaf, saya tidak bisa, saya masih banyak urusan yang harus di kerjakan."


Lelaki itu sangat aneh, tidak tau sudah berapa lama orang itu mengikuti nya, dan dia tau siapa namanya sudah pasti ada tujuan tertentu.


Diana dengan cepat berjalan menuju pintu, tetapi belum sempat ia melangkah, tiba-tiba 3 pria berbadan tinggi dan besar muncul dihadapan nya, mereka langsung menghalangi jalan Diana.


Diana terkejut, ia menatap pria berbadan besar dengan wajah galak tersebut.


"Nona Diana, tuan Ryan memberi pesan khusus agar kami tidak membuat kamu susah, jika kamu mau ikut bersama kami dengan patuh, kami berjanji tidak akan menyentuhmu sedikit pun."


Pria berjas hitam itu, membuat Diana ketakutan.


Pria yang menyuruh ketiga ajudannya itu, sudah jelas bahwa ia memaksanya untuk menurut, karena dia tidak terbiasa dengan kehidupan nya di sini, dia bahkan tidak tau siapa orang tersebut, namun orang tersebut terus menghalangi jalannya.


Diana menggertakan giginya, menatap pria berjas hitam, dan berpura-pura tenang lalu dia berkata dengan pelan, "Apakah kamu ingin menunjukkan kepadaku jalan? Dan aku harus memberitahu temanku, kalau tidak dia tidak bisa menemukanku, sudah pasti dia akan memanggil polisi."


Diana sengaja mengatakan hal itu, untuk memberitahu mereka bahwa dia masih memiliki teman yang bersama nya, supaya mereka tidak boleh bertindak sembarangan, tetapi pria berjaket hitam itu tidak menggubris perkataan nya.


Pria berbadan besar itu tertawa dua kali, lalu berbicara, "Nona Diana, apakah teman yang kamu maksud itu adalah tuan Fred?"


Diana tiba-tiba gemetar, ia menatap pria itu dengan terkejut, tetapi tidak tau harus berkata apa lagi.


Orang ini bahkan mengenal Fred, artinya mereka memang berniat untuk mencari dia dan Fred.


Melihat Diana tidak berbicara, pria itu melanjutkan perkataannya, "Nona Diana kamu tidak perlu khawatir, kami juga akan meminta tuan Fred untuk datang nanti."


Diana mengepalkan tangan dan tidak mengatakan apa-apa, tetapi dia hampir yakin bahwa orang-orang ini memang dari awal bertujuan untuk mencari mereka, namun apa tujuannya itu? Diana sama sekali tidak mengerti.


Ada beberapa lelaki di sisi seberang nya, masing-masing terlihat sangat tinggi dan kekar, tentu saja ia bukan lawan mereka.


Diam-diam Diana sedang berfikir, mengetahui bahwa tidak mungkin untuk menolak lagi pada saat ini, Diana mengambil nafas dalam-dalam menatap pria itu lalu berkata, "Baik, aku akan pergi denganmu."


Dia berkata sambil meraba-raba ponsel di tas nya secara diam-diam, di dalam otak nya sedang mencari jalan keluar untuk melarikan diri.

__ADS_1


__ADS_2