Jatuh Cinta Dalam Semalam

Jatuh Cinta Dalam Semalam
Bab 24


__ADS_3

Sekitar dua jam kemudian, Kusuma telah bertemu kembali dengan perwakilan dari Perancis. Setelah mereka selesai berbicara, Louis pamitan dan pergi. Kemudian Fred datang dan mengetuk pintu lalu masuk. Kusuma duduk di kursi kerjanya. Ketika melihat seseorang yang datang, dia tidak terkejut. Dia membalikkan badannya dan menyuruh Audrey untuk menyediakan 2 gelas kopi. "Jarang-jarang pak Fred datang ke sini, pakai biji kopi yang terenak," ucap Kusuma.


Meskipun Fred lebih muda, jabatannya lebih tinggi selevel darinya. Kusuma menganggap dirinya berjasa untuk perusahaan Pratama Jaya Group. Namun, dia harus melakukan sedikit pencitraan. Fred tersenyum, berjalan ke arah sofa dan duduk. "Paman Kusuma terlalu sungkan, saya hanya datang untuk tanya-tanya kondisi saja, setelah itu langsung pergi," ujarnya.


Kusuma mengerti bahwa Fred adalah tangan kanan ayahnya. Fred, sebagai orang pribadi, juga harus menghargai Kusuma. Kusuma menanyakan, "Apa yang ingin kamu tanyakan?" Fred sedikit mengangkat alisnya dan berkata dengan suara tenang, "Apakah harganya sudah disetujui dengan pihak Perancis? Tadi ketika saya datang, saya melihat mereka baru pergi."


Di kantor pembagian proyek, Kusuma, dia, dan Jeff tidak akan ikut campur proyek orang lain. Jika tidak, pasti akan membuat proyek itu kacau dan membuat kedua belah pihak tidak senang. Hal tersebut merupakan peraturan perusahaan. Fred lebih tahu tentang hal tersebut. Biasanya, jika bukan proyeknya dia tidak akan menanyakan hal tersebut, dia hanya mengecek hasil akhirnya saja. Namun, kali ini Fred tidak hanya menanyakan saja tetapi langsung datang ke ruangan Kusuma.


Kusuma menoleh ke arah Fred, "Harganya sudah fix, tinggal tanda tangan kontrak saja. Setelah kita menyiapkan kontraknya, seharusnya tidak ada masalah lagi." "Baiklah kalau begitu," kata Fred dengan santai ketika Audrey membawa kopinya masuk dan meletakkannya di depan dia.


Setelah Audrey meninggalkan ruangan, Kusuma melihat ke Fred lagi sambil tersenyum lalu berkata, "Fred, kamu sengaja datang kesini, kayaknya bukan hanya mau tahu proses proyek saja kan?"


Fred tersenyum ringan dan menempatkan kopi di tangannya, "Saya ingin tahu harga deal finalnya. Paman Kusuma puas atau tidak? Bagaimanapun, sekretaris saya yang bodoh itu mengacaukannya bukan?"


Kusuma berdiri sambil mengambil dokumen di meja, berjalan ke arah sofa, dan memberikannya kepada Fred. "Ini harga final dari mereka. Harga satuan lebih tinggi 0,06% dari perkiraan saya."

__ADS_1


Kusuma tidak melanjutkan ucapannya, tetapi terdengar ada rasa tidak puas dalam ucapannya sebelumnya. Harga tersebut dapat menjadikan harga final pasaran naik, dan tentunya akan memengaruhi kompetisi dan jumlah penjualan nantinya. Fred sekilas melihat data di dokumen tersebut dan sedikit tersenyum, "Paman Kusuma, kita bukan hanya punya satu cara ini untuk belajar teknologi. Saat ini, tim teknologi kita semakin baik. Jika bisa memproduksi sendiri di dalam negeri tanpa mempengaruhi penjualan mereka di luar negeri, kita harusnya dapat memperkirakan kandungan dasarnya dengan mudah."


Sambil berbincang, dia meletakkan dokumennya di meja, sambil berdiri, "Jadi, kalau sudah fix, harga tidak bisa dirubah. Namun, kita harus lebih optimis ketika ada perubahan."


Ekspresi Kusuma menjadi serius, "kamu mungkin gampang berbicara saja. 0,06 ini harusnya bisa lebih tinggi jika bukan karena sekretaris kamu."


Kusuma berbicara setengah saja karena dia sadar sepertinya dia sudah terlalu jauh. Dia langsung berhenti dan membalikkan badannya untuk melihat ekspresi Fred. Namun, Fred bersikap santai dan tidak marah. "Apa pun yang terjadi, telah terjadi. Paman Kusuma, jika saya benar-benar memecat dia sekarang, itu tidak akan bisa membalikkan kenyataan."


Kusuma tidak berkata apa-apa lagi, dia malah bertanya dengan badan kurus ke arah Fred, "Fred, jangan-jangan kamu menyukai wanita itu? Saya tidak pernah melihat kamu membela bawahanmu."


Fred tersenyum, "Paman Kusuma terlalu banyak berpikir. Saya membela dia karena memang ada satu alasan tertentu. Beberapa hari yang lalu, ketika paman pergi ke kota B, saya dan Jeff melakukan serah terima proyek. Diana melakukan kesalahan fatal sebelum pergi bersama saya ke kota B. Dia tidak boleh dipecat. Paman Kusuma tidak mungkin merendahkan harga diriku dengan memecatnya, kan?"


Tatapan Fred sedikit redup, "itu adalah urusan pribadiku. Paman Kusuma tidak perlu khawatir."


"Baiklah kalau begitu. Nanti saya akan menyuruh Audrey untuk memberitahu Diana bahwa dia tidak perlu menjalani hukuman lagi," kata Kusuma.

__ADS_1


"Tidak perlu. Kesalahan harus tetap dihukum. Jika dia tidak dihukum, bagaimana dia bisa belajar? Dia juga perlu memahami bahwa ada beberapa hal yang bukan dia bisa langsung mengambil keputusannya. Selain itu, di dunia bisnis, setiap saat harus sangat berhati-hati. Sudah seharusnya memberikan dia sedikit pelajaran atas kesalahannya."


Kusuma sedikit kaget dan melihat Fred ketika pria tersebut berjalan ke arah pintu keluar, "Paman Kusuma, kamu sibuk dulu. Saya tidak akan mengganggumu lagi," ujarnya.


Sementara itu, di kantin karyawan, Diana dengan serius menyapu debu dan abu rokok. Dia memakai jas dan sepatu hak tinggi. Badannya tidak terlalu bungkuk saat menyapu lantai.


Sudah waktunya pulang kantor. Saat jam makan malam tiba, banyak karyawan yang lebih memilih makan di kantin karena lembur sepanjang hari sehingga mereka malas memasak di rumah. Belakangan, kantin menjadi sangat ramai. Semakin banyak orang yang datang dan semakin banyak pula yang menggunakan toilet sehingga semuanya terlihat ketika Diana membersihkan lantai mengenakan pakaian formalnya. Meski bukan sebagai pembantu, dia dipandang sebelah mata karena telah tersiar kabar bahwa dia melakukan kesalahan. Diana sering mendengar suara ketawa dan bisikan orang-orang yang membicarakan tentangnya sambil menyapu lantai.


“Lihat, itu sekretaris baru Pak Fred! Katanya dia membuat kesalahan dan dihukum Pak Kusuma!”


“Dia punya keluarga Indo Sukses Tanoe, kok bisa jadi begini ya?”


“Siapa yang tahu nasibnya...”


Diana menggigit bibirnya dan terus melakukan pekerjaannya sambil mencium bau toilet dan menahan tatapan orang-orang seolah-olah dirinya sedang dihadapkan pada penghakiman umum. Harga dirinya seakan hancur.

__ADS_1


Tiba-tiba, terdengar suara keributan dari pintu, “Pak Fred datang! Pak Fred akan makan di sini!”


Diana menggenggam sapunya erat dan menoleh ke arah pintu masuk...


__ADS_2