
Diana tertegun, kemudian bereaksi kembali, dan langsung menolaknya, "Tidak mungkin."
Dia dan Jeff sudah lama putus, apalagi Jeff sekarang punya Cessie. Kalau benar-benar makan bersama, nanti dia akan dianggap apa?
Diana dengan tegas sama sekali tidak peduli dengan Jeff yang sudah hampir meledak marah. Dia langsung menekan tombol lantai lobby di lift.
Jeff menekan emosinya di hatinya. "Diana, Kamu yakin?"
Jeff rela menunggu sendirian di ruangannya selama 20 menit. Dia juga menolak makan malam dengan Cessie, tapi justru Diana malah menolaknya mentah-mentah.
Diana melihat ke arah lain, melihat angka di lift yang sedang menurun, dengan dingin berkata, "Jeff, kita sudah tidak ada hubungan. Aku harap kamu bisa mengert."
Mengerti?...
Jeff marah tapi dia berusaha tersenyum. Lalu bertanya balik, "Kamu menggoda Fred itu yang dimaksud mengerti?"
Diana mengigit bibir bawahnya. Satu kata pun tak terucap.
Dengan cepat liftnya sudah sampai di lantai lobby. Setelah pintu terbuka, Diana dengan cepat melangkah keluar dari lift.
Jeff tidak putus asa. Dengan cepat bertanya, "Diana, kamu bilang di antara kita berdua siapa yang sebenarnya masih belum mengerti?"
Diana tidak mendengarkannya. Dia melihat keluar, dan ternyata, diluar langit gelap gulita.
Hujan? Tapi dia tidak membawa payung.
Saat yang sama, Fred duduk di mobil sambil melihat dokumen di tabletnya.
Supir sudah tidak bisa menahannya, dia menyahut, "Pak Fred, kita sudah menunggu sekitar setengah jam lebih."
Fred dengan santai menjawab, "Saya tidak buru-buru kok."
__ADS_1
Setelah selesai berbicara, Fred langsung melihat ke arah pintu lobby utama. Tadi dia keluar dari kantor, di luar sudah hujan. Seketika kepikiran oleh Diana yang masih lembur, jadi dia berencana menunggu di luar dan ingin mengantar pulang Diana. Tapi ini sudah setengah jam dia menunggu dan Diana masih belum keluar.
Fred baru saja mau mengalihkan pandangannya, tapi di depan lobby tiba-tiba muncul dua orang. Ketika tatapannya menatap kesana, alisnya langsung berkerut.
Diana sedang berdiri di depan lobby, melihat sekeliling, dan pria yang berdiri di samping dia ternyata adalah Jeff.
Diana di kantor seharusnya tidak satu lantai dengan Jeff, tapi mengapa mereka bisa bersama? Tatapan Fred menjadi sedikit dingin. Dia menatap ke dua orang disana dan tidak bergerak sama sekali.
Diana berdiri di depan lobby dan ragu sejenak. Tiba-tiba dia berjalan balik ke dalam. Celakanya, belum lama Diana kelihatan, dia muncul lagi dengan sebuah payung di tangannya, Jeff juga mengikuti dia, tangannya juga memegang satu payung. Diana memakai payung lalu menuruni anak tangga, Jeff langsung mengikutinya...
Supir yang duduk di bagian depan juga melihatnya, lalu dia berkata, "Itu kan Nona Diana dan Tuan Muda kedua Jeff, Pak Fred. Kamu lihat?"
Fred menarik pandangannya, dengan tatapan dan ekspresi dingin memerintah supirnya. "Kamu pergi untuk menjemput Diana, bilang kalau aku menunggu di mobil."
Supir mengiyakan, langsung membawa satu payung lalu turun dari mobil. Dia dengan cepat berjalan ke arah Diana, dengan cepat dia menghalangi dia. Diana melihat si supir, tiba-tiba dia pun sedikit panik, tapi supir langsung berkata, "Nona Diana, Pak Fred sedang menunggumu di mobil."
Diana berbalik. Dia melihat mobil yang begitu ia kenal, alisnya tiba-tiba mengerut. Tangan yang menggenggam payung semakin erat, lalu mengikuti supir ke arah mobilnya.
Diana bahkan tidak berhenti sedikitpun. Dia meneruskan langkahnya ke depan. Dia tidak mempedulikan kondisi Jeff, karena sekarang sudah tidak ada hubungan dengannya lagi. Dan sekarang yang bisa mengambil hatinya itu hanya pria yang ada di dalam mobil tersebut.
Diana mengikuti supir ke mobilnya. Dia membuka pintu, kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah menutup payungnya, dia membalikkan pandangannya. Dan dia melihat ekspresi dingin Fred.
Diana menarik nafas dalam-dalam. Belum sempat berkata apapun, pria itu langsung bertanya, "Ini yang kamu maksud dengan lembur, hah, Diana?"
Diana kaget, menoleh ke arah Fred. "Aku...aku dan Jeff ada urusan yang harus diselesaikan, jadi aku pergi mencarinya."
Setelah Fred mendengarnya, dia langsung tersenyum dingin. "Diana, kamu dan Jeff masih ada hal apa yang harus diselesaikan di belakang ku?"
Walaupun mukanya tersenyum, tetapi tatapannya masih begitu dingin. Diana merasa begitu dingin ketika ditatapnya terus. Dalam waktu singkat, dia juga tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.
"Hari ini kamu melanggar dua hal yang sangat kubenci," pria ini mengeluarkan aura yang begitu dingin sehingga seluruh mobil terasa sangat dingin dan tegang. Dia menatap tajam ke arah Diana. "Pertama, aku benci bohong, yang kedua aku benci kalau barangku disentuh oleh orang lain."
__ADS_1
Sambil berbicara, tatapannya sekilas terbersit air mata. Detik berikutnya dia langsung memegang dagu Diana dengan kuat. "Kamu seharusnya mengerti. Aku bisa membantumu, dan juga bisa menghancurkanmu. Jadi jangan menguji kesabaran ku, dan jangan pernah ada pikiran lain. Mengerti?"
Suaranya terdengar santai, tetapi setiap katanya terasa begitu menusuk, membuat Diana semakin gemetar dan tidak punya tenaga melawannya.
Diana menatap langsung ke Fred. Tidak tahu karena dingin atau ketakutan, bibirnya terlihat gemetaran. Detik selanjutnya kuku panjang pria itu menggores bibirnya, seperti sebuah hukuman, barulah kemudian dia melepaskan tangannya.
Fred membalikkan kepalanya, lalu memerintahkan supirnya, "Berhentikan mobilnya, biarkan dia turun."
Diana menarik nafas dalam-dalam. Ketika supir menghentikan mobilnya di tepi jalan, dia dengan tubuh gemetar membuka pintunya. Lalu dia membuka payungnya dan berdiri di tengah hujan. Sekilas melihat ujung jas pria yang duduk di belakang, hatinya jadi sedih. Lalu mobil tersebut dengan cepat bergerak menjauh.
Hati Diana menjadi dingin. Hatinya sangat kacau sekarang. Fred lebih dingin dan kejam dari yang dia bayangkan.
Jika suatu saat Fred merasa bosan dengannya, Diana tahu Fred akan dengan cepat memutuskan hubungan mereka. Bagaimanapun, Fred adalah seorang pengusaha dan hubungan mereka didasari oleh keuntungan semata. Karena itu, Diana tidak boleh menaruh perasaan pada Fred.
Saat hujan turun, Diana membawa payungnya dan berjalan di tengah-tengah guyuran air. Namun, tiba-tiba dia merasakan cipratan air di kakinya. Dia menyadari keadaannya dan segera memesan taksi untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, ibunya melihat Diana yang basah, "Kenapa kamu kehujanan? Cepatlah ganti baju, nanti kamu sakit."
Diana meletakkan payungnya sambil berkata, "Tidak apa-apa, Ma."
Saat Diana sedang mengganti sepatunya di depan pintu, dia melihat beberapa perabot yang berantakan di ruang tamu, dan beberapa kotak gelembung di lantai. "Ma, kamu sedang apa?" Diana merasa pusing melihat perabot mahoni yang berantakan tersebut.
Ibu Diana memandangnya dengan ekspresi yang tidak alami, "Ini perabot mahoni di ruang kerja ayahmu. Aku pikir kita tidak akan pernah menggunakannya lagi. Lebih baik kita jual saja."
Diana mengerutkan alisnya, "Tapi satu set perabot mahoni itu merupakan kesukaan Ayah. Kalau Ayah kembali...."
Namun, sebelum Diana selesai berbicara, ibunya langsung memotong ucapannya, "Ayahmu tidak akan kembali dalam waktu dekat. Tetapi kita harus tetap hidup, Nak. Daripada dibiarkan di sana, lebih baik kita jual. Fikirkanlah, menurutmu, perabot ini atau kehidupan kita yang lebih penting?"
Ucapan ibunya membuat Diana terdiam. Dia menggigit bibirnya sambil memandang set perabot mahoni itu. Tiba-tiba, dia menoleh ke arah ibunya, "Ma, kalau kita jual perabot ini dan menggunakan uangnya untuk membantu Ayah di sana?"
Namun, mata ibunya terlihat suram. Dia ingin berbicara, tapi akhirnya memilih untuk memendam kata-katanya ketika melihat Diana yang sedang terpaku pada perabot mahoni tersebut.
__ADS_1