Jatuh Cinta Dalam Semalam

Jatuh Cinta Dalam Semalam
Bab 67


__ADS_3

Meskipun ia hanya duduk di rumah, tapi tau dengan kabar dari luar, termasuk keadaan perusahaan dan ia sangat paham itu, hal tentang Fred merayakan sebuah perayaan untuk membuktikan Diana bersih, ia juga tau.


Ia memandang Fred sebagai anaknya yang tumbuh dewasa, yang dia tidak paham lagi, bahwa ia pergi melindungi seorang wanita, hal ini adalah pertama kalinya.


Dan ketika sedang makan bersama tadi, dia melihat keduanya itu berinteraksi, ia juga bisa menebak, bahwa Fred diam diam melindungi Diana, tidak membiarkannya minum banyak bir, dan mereka berdua sering bertatapan mata, komunikasi lewat mata, gerakan kecil ini seperti ada makna.


Kalaupun hubungan keduanya itu hanya sebatas atasan dan bawahan, ia masih tetap tidak percaya.


Fred juga tidak ingin berbicara bohong, sempat ragu-ragu sejenak, melihat ayahnya, lalu berkata, "Aku hanya merasa Diana adalah pasangan yang cocok untuk dinikahi."


Ayahnya hanya mendengarkan, ujung alisnya berkerut, berhenti sejenak, lalu berkata dengan tenang, "Diana memang wanita yang baik, berlatar belakang bagus, meskipun keluarganya mengalami kesulitan, tapi prilakunya tetap sopan, sangat terbuka, pemikirannya lincah, juga berkemampuan, tapi kalau dibilang sebagai pasangan mempelaimu ia tidak cocok."


Ujung alis Fred tiba-tiba berkerut, mengangkat mata menatap ayahnya dan tidak berkata apa-apa lagi.


Ayahnya berbicara lagi, bersuara lirih dengan penekanan, "Kamu juga tau, dia dulu pernah bersama Jeff, saat itu siapa yang tidak tau hubungan mereka berdua di kota H? Jika kamu ada hal yang kacau dengan dia, saat itu orang orang di luar akan bicara apa? Pasti orang orang tidak hanya berkomentar tentang kamu saja, tapi juga seluruh keluarga kita."


Fred hanya mendengarkan, berpikir sejenak, lalu bersuara dengan lantang, "Ayah, sekarang terlalu awal untuk mendiskusikan masalah ini, aku percaya, aku juga bisa mengatur ini baik baik."


Ayahnya tidak menanggapinya, dan mengubah topik pembicaraan, "Kalau aku bilang, Yolana itu juga bagus, dan pamammu berkata kepadaku, kalau keluarga kita benar benar bisa--"


"Ayah, aku tidak ada hubungan apa apa dengan Yolana" Fred memotong ucapan ayahnya.


Muka ayahnya menjadi serius, nada suaranya menjadi keras, "Yolana adalah gadis yang baik, aku dengan pamanmu itu teman seperjuangan, kalau kamu mau menolak Yolana, kau bisa menyakiti hatinya!."


Tatapan Fred menuju ke bawa, "Ayah, aku tau, aku bisa atur masalah masalah ini."


Ayahnya melihat Fred secara mendalam, mengayun-ayunkan tangannya, "sudahlah, apa yang ingin aku katakan sudah kukatakan, kamu atur sendiri."


Fred keluar dari ruangan buku, kembali ke ruang tamu, dan melihat Diana duduk disofa membolak-balikkan koran sendirian.


Diana mendengar suara langkah kaki, cepat cepat berdiri, melangkah ke Fred, setelah mendekat, ia baru menyadari raut wajahnya terlihat lesu.


Diana bertanya, "kenapa? Ayahmu bilang apa?"

__ADS_1


"Tidak ada, Hanya mengatur pekerjaan."


Bawah mata Fred berkedip kedip, dan berbicara basa basi, "Yuk pergi."


"Oke." Diana merespon, berjalan mengikuti langkah Fred.


Saat baru duduk di dalam mobil, Fred melihat Diana, tiba tiba bertanya, "Malam ini pergi ke tempatku apa pulang?"


Diana tercengang sebentar, dalam pikirannya terus memikirkan, "pergi ke tempatnya?" Itu maksudnya apa, ucapan Fred tiba tiba membuatnya terpikirkan dengan beberapa momen yang hangat, dalam sekejap, pipi diwajahnya memanas.


Diana merasa agak malu, setelah menatap matanya yang gelap, lalu cepat cepat bergerak, Diana menghela napas dalam-dalam, dan masih belum sempat menjawab, langsung terdengar suara Fred yang di sebelahnya menyuruh supir.


"Kembali ke villa."


Pikiran Diana menjadi kosong, terdiam beberapa detik, bukannya Diana belum memutuskan? Kenapa....


Diana merespon, mengulurkan tangan secara refleks, menangkap sudut baju Fred, "Tidak, aku pulang"


Suara Fred lembut dan dalam, terbawanya pesona yang tidak bisa dijelaskan, Diana menatapnya, merasa matanya seperti pusaran yang kuat, membuat Diana hanyut kedalam.


Melihat ekspresi Diana yang melongo, mata Fred seperti tertaw, saat Fred mau mulai bicara, Diana tiba tiba merespon, dengan cepat menundukkan kepala, karena malu, tapi siapa sangk, jarak mereka sangat dekat, sehingga Diana saat menundukkan kepalanya ke dada Fred.


Diana langsung ingin menegakkan tubuhnya untuk menjaga jarak mereka, detik berikutnya, satu lengan mengalungkan ke pundak Diana dengan erat, lalu berkata seperti main main, "Di mulut bilang tidak mau, tapi sikapmu tidak bisa berbohong."


Kalimat yang jelas maksudnya, membuat Diana lebih malu, ia tergesa-gesa menengadahkan kepalanya dan menjelaskan, "Bukan itu maksudku..."


Mata bawah Fred seperti tertawa, bertanya dengan tenang, "Terus maksudmu apa?"


"Aku--" tenggorokan Diana seperti tercekik, Setengah kalimat juga belum dikeluarkan.


Maksud Diana yang mana? Maksudnya biasa saja! Tapi kalau dia menjelaskan, malah merasa sesuatu yang ditutup-tutupi menjadi terucapkan...


Fred melihat semua ekspresi malu Diana, ia pelan pelan melepaskanya, melirik ke sopir, dan berkata, "Antar dia pulang dulu."

__ADS_1


"Baik."


Diana menjadi lega, tapi dadanya malah berdegup kencang.


Beberapa saat kemudian, Diana baru menyadari, tadi Fred sengaja memainkannya?


Tidak lama, mobil sudah sampai di depan gerbang vila keluarga Tanoe, mobil berhenti dengan stabil, Diana mengulurkan tangan untuk mendorong pintu untuk turun, tiba tiba berhenti sejenak, menengok ke Fred.


Fred melihat ekspresi Diana yang ingin mengatakan sesuatu, "ada apa?"


Diana mengigit bibirnya, lalu tersenyum ke Fred, "Tidak apa-apa, sampai jumpa."


Diana berbicara, sambil mendorong pintu untuk turun, Fred yang duduk dalam mobil menjadi terdiam, senyumannya tadi sangat memukau, membuat hatinya seperti tertarik sangat erat.


Fred mengangkat matanya, melihat dari jendela mobil, menatap bayangan belakang Diana, tanpa sadar ia merasa senang.


Sampai dirumah, Diana mengganti sepatu, dan melihat ibunya yang keluar dari dapur.


"Anakku sudah pulang?"


Diana merasa agak ragu, "ibu, kenapa kamu di dapur? Belum makan?"


"Bukan, malam ini bubur yang dimasak belum habis, di buang sayang, jadi aku tadi memanaskan nya sebentar."


Diana mendengarnya, alisnya berkerut, melangkah ke arahnya, mengulurkan tangan dan menggenggam tangan ibunya, "ibu, kenapa kamu setiap hari makan bubur? Aku merasa kamu kurus sekali setelah aku pulang dari perjalanan bisnis."


Ibu Tanoe tersenyum, "Tidak apa apa, lebih praktis masak bubur, aku juga tidak bisa membuat lainnya."


Diana mendengarkan bicaranya yang seperti itu, agak sedih, dulu ibu Tanoe di rumah tidak perlu melakukan semuanya sendiri, ada koki dan pembantu yang memasak dan membersihkan rumah, karena sekarang terjadi masalah di keluarga Tanoe, ia hanya bisa masak bubur dirumahnya.


Diana prihatin dan menggenggam erat tangan ibunya, lalu berkata, "Ibu, bukannya aku sudah kasih kamu uang? Dan uang untuk perlengkapan rumah tangga juga ada di kamu, kenapa tidak dipakai? Meskipun kita sekarang tidak ada uang, tapi setidaknya masih bisa makan kenyang dan berpakaian bagus, jangan terlalu menekan diri sendiri.."


"Tidak perlu! Kondisi keluarga yang seperti ini, mana bisa sembarangan mengeluarkan uang."

__ADS_1


__ADS_2