
"Sekretaris Diana, kamu bisa kembali dan seterusnya berada diprofinsi. Kamu bisa langsung pergi ke ruang computer denganku. Aku bertanya kepada staffnya untuk mencetak keluar versi pertama sesuai dengan syaratmu. Setelah kamu setuju kalau itu benar, aku akan menyusun daftarnya untuk bergabung dengan tim."
Diana mengangguk dan berjanji, "Direktur Endi yang baik, aku akan mendengarkanmu."
Sebagai direktur Diana berjalan menuju toko mesin yang cukup terkenal, bau tinta yang menyengat itu membuat dia cemberut dan berjalan menuju ruangan mesin, dan rasanya berkurang.
Pekerja yang ada di ruang cumputer bersikap ceroboh, dan akan di cetak versi pertama brosur sesuai pada kebutuhan. Diana melihat itu dan menemukan format awal dan akhir yang tidak benar. Kejenuhan dari beranda terlalu tinggi. Setelah pekerja membuat tambahan dua atau tiga edisi, dicetak, lalu keluarlah satu dan lainnya, itu dianggap sebagai kepuasan.
Setelah melakukan semua ini, Diana berencana untuk mengikuti direktur Endi kembali ke kantor untuk membawa deposit tagihan. Setelah dia keluar dari ruangan komputer, dia tiba-tiba mengingat waktu.
Saat Diana menyimpan hapenya, tiba tiba dia kakinya tergelincir, dan kakinya yang menggunakan higheels memberinya hempasan angin yang kuat, dan dia langsung terjatuh.
Direktur Endi memutarkan kepalanya, melihat Diana jatuh, wajahnya langsung berubah, dan dengan cepat membantu Diana.
Diana duduk, melihat betisnya, dan dia terdiam sejenak.
"Sekarang Diana! Ini!"
Direktur Endi juga melihat luka yang ada dikakinya, wajahnya berubah, dan melihat bagian ujung besi mesin yang tajam, dan langsung mengerti.
"Sekretaris Diana, lukamu ini masih belum begitu dalam! Aku antar kamu kerumah sakit dahulu!"
"Direktur Endi, saya tidak apa apa, saya ingin membayar bank dulu, saya tidak akan merepotkanmu lagi."
Direktur Endi melihat Diana bergerak dengan halus lewat cara geraknya, dan dengan perasaan tercengang, dia akhirnya bertanya lagi, "Serius kamu tidak apa-apa?"
Diana melambaikan tangannya, dan langsung berdiri, lalu tersenyum, "iya, aku tidak apa-apa."
Setelah membayar tagihan, Diana dengan cepat pergi ke gerbang perusahaan, tapi ada Luka dikakinya. Dia mengambil langkah dengan luka dan memberengut dalam kesakitan.
Sebelum dia masuk ke dalam perusahaan, agar dapat menghemat waktu, mengingat bahwa tempat ini sudah untuk memanggil taksi, dia dengan sengaja memberikan supirnya uang lebih, agar taxi tersebut menunggunya, tapi saat dia pergi keluar, tadi tersebut tidak ada.
Diana Melihat satpam, lalu bertanya, "Pak, dimana taxi yang saya gunakan tadi? Apa kamu melihatnya?"
"Dari awal sudah pergi, dan kamu pergi dari sini dalam 10 menit."
Raut wajah Diana berubah, dia sudah memberikan uang tambahan kepada supir taxi tersebut, tapi supir tersebut malah pergi.
__ADS_1
Sekarang bagaimana dia bisa cepat kembali ke kantornya?
Diana menunggu dalam jangka waktu yang lama tanpa melihat sebuah mobil taxi yang lewat.
Mungkin melihat Diana yang sendirian dan tak berdaya. Satpamnya merasa kasihan dan memanggilnya.
"Hey kamu! Kamu bisa menunggu didepan, disana ada beberapa orang datang kesini untuk mengambil barang, kamu bisa meminta tumpangan kepada mereka."
Ini juga merupakan salah satu cara, Diana menunggu didepan pintu pada waktu yang lama, dan sebuah truk keluar dari pabrik.
Pak satpam memberi sebuah isyarat dan memberhentikan mobilnya.
Seorang pria tua berjenggot membuka jendela mobilnya dan mengeluarkan kepalanya, lalu berbicara, "Ada apa?"
Disaat Diana maju kedepan, mata orang itu bergerak dari pak satpam ke Diana, dan mata orang itu langsung berbinar-binar, matanya dengan rakus melihat Diana terus menerus.
Diana tiba-tiba merinding didalam hatinya.
Pria tua itu tersenyum kepada Diana, "sangat cantik!"
Laki-laki itu merasa aneh saat dia mendengar Diana berkata seperti itu
Dia tidak dapat membantu, tapi terus melihat Diana dan satpam berkali-kali, dan setelah melihat mereka berhenti berbicara, pria tersebut pergi.
Diana melihat mobil itu pergi, lalu dia merasa lega. Jika dia benar-benar masuk kedalam mobil itu, entah apa yang akan terjadi.
Akan lebih baik untuk keluar dan mencari taxi.
Diana mengambil keputusan, untuk pergi meninggalkan pabri itu, dan berjalan dengan pelan ke sisi samping jalan.
Sudah hampir jam 5, dan sekarang cuaca sedikit gelap.
Jika Diana tidak bisa mendapatkan mobil, dia takut akan lebih susah untuk mencari mobil taxi saat gelap, tapi sudah menunggu 10 menitan, taksi satupun tak terlihat.
Diana mencoba untuk memberhentikan kendaraan yang lewat.
Hal ini tidak mengambil waktu yang lama untuk hari menggelap. Semua mobil dijalan terpenuhi oleh truk. Walaupun dia mencoba untuk memberhentikan mereka, tidak ada dari mereka yang mau berhenti.
__ADS_1
Luka di kakinya terus berdarah, di saat dua berjalan kedepan dan belakang, sedikit darah merembes keluar dari kainnya.
Rasa sakit dari waktu ke waktu membuat Diana hampir pingsan. Dia menggertakan giginya dan tidak dapat menahannya lagi. Dia meletakkan satu tangan ke lutut disisi kaki yang lain dan mengalihkan fokusnya kepada sisi kaki lainnya.
Diana mencoba beristirahat sejenak, melihat kendaraan Menuju kemari, jika dia terus memaksa untuk mencari taxi, dia pasti bisa pingsan.
Diana menggeluarkan hapenya, lalu membuka kontak nomor, dan melihat tidak ada satupun yang dihubungi dari awal sampai akhir. Namun pada akhirnya, matanya jatuh di nomor milik Fred.
Hubungi dia? Haruskah dia tidak menghiraukannya?
Diana menggertakan giginya dan menekan teleponnya.
Teleponnya berdering pada waktu yang lama. Pada akhirnya seseorang mengangkat. Diana seperti menemukan seorang penolong hidup.
Ada harapan, tenggorokannya sangat erat dan dia ingin memanggil nama laki-laki itu. Tapi dia sadar karena membuat banyak masalah, dan masih berestimasi bahwa dia masih marah.
"Pak Fred, saya berada di tempat percetakan sekarang, Dan disini sulit mendapatkan taxi, jadi--"
Sebelum Diana selesai berbicara, terdapat sebuah suara perempuan, "Jadi apa?"
Diana membeku, bagaimana bisa ada suara Bella?
Diana dengan cepat mengecek nomor yang ia telepon, dan disitu ia melihat kalau dia benar sedang menelpon Fred.
Terdapat suara yang tidak sopan dari Bella, "Sekretaris Diana, sudah jam lima lewat tiga puluh menit, dan tugas yang dipercayakan kepadamu belum selesain. Kenapa? Kamu mau membiarkan pak Fred mengendari mobil untuk menjemput kamu?"
Alis Diana mengencang, suaranya terdengar dingin, "kenapa kamu menjawab telepon Fred?"
Hari Diana semakin erat, dan dingin dari dalam hatinya.
"Berhenti untuk berbicara, saudara saya dan saya harus makan setelah berbelanja. Masalahmu itu tergantung pada dirimu sendiri!"
Bella mengeluarkan kalimat itu dan tidak ragu untuk menutup teleponnya.
Diana mendengar suara dari telepon itu, dan moodnya tiba-tiba berubah.
Dari sisi ini, hubungan antara Fred dan Bella sangat baik dalam privasi, belanja dan makan? Dia masih belum melihat petunjuk setelah bekerja di Pratama Jaya Group untuk beberapa hari.
__ADS_1